Reinkarnasi Putri Cacat

Reinkarnasi Putri Cacat
Bab 55 Reuni Singkat


__ADS_3

Sore hari Aslan berpamitan untuk pergi lagi, Winnie yang mengantar sampai bandara bisa melihat ekspresi sedih yang jelas terlihat di wajah Aslan.


Bahkan beberapa kali Aslan menghembuskan nafas tanda tak rela pergi dari sampaing Winnie, dengan mesra Winnie menggenggam tangan Aslan dan sesekali menciumnya.


"Saat kau pulang nanti kita sudah menyelesaikan kuliah kita dan siap untuk bekerja, bukankah setelah itu waktu berjalan dengan sangat cepat?" tanya Winnie.


"Mungkin ya bagimu tapi untuk ku tidak," sahut Aslan.


"Berhentilah merajuk," perintah Winnie.


Waktu kebersamaan mereka menipis, dengan berat hati mau tak mau Aslan harus melepaskan ratunya. Lambaian tangan dan kecup jauh dari Winnie mengiringi kepergian Aslan hingga hilang di balik tembok pembatas.


Sejujurnya Winnie pun sedih akan perpisahan mereka, tapi inilah salah satu takdir yang harus mereka jalani.


Ingin mendapat suasana hati yang membaik Winnie memilih pulang ke kediaman Martius, ini adalah hari ulangtahunnya maka bisa di pastikan kedua orang tua angkatnya akan mengadakan pesta kecil seperti biasa.


Tak ingin datang begitu saja Winnie membeli beberapa minuman dan cemilan, kini dia sudah boleh minum bir dan akan ia lakukan bersama kedua orang tuanya.


Kedatangan Winnie tentu di sambut suka cita, Jeny yang sudah membuat kue tart segera menghidangkannya di atas meja lengkap dengan lilin yang menyala.


Diiringi lagu selamat ulang tahun Fabio mengarahkan Winnie untuk duduk dan segera membuat permohonan, tak ingin berlama-lama Winnie cepat memejamkan mata dan mengulang doa yang ia panjatkan saat bersama Aslan kemudian meniup lilin.


"Aku membeli ini, hari ini mari kita rayakan pesta orang dewasa," ujar Winnie menyerahkan barang belanjaannya kepada Jeny.


"Yah.. waktu memang cepat berlalu, tak terasa kini kau sudah menjadi gadis dewasa."


"Apanya yang dewasa? kau tetap gadis kecil yang tidak tahu apa-apa," bantah Fabio menolak pertumbuhan Winnie.


"Ayolah ayah... harusnya hari ini aku merayakan ulang tahun bersama keluarga ku, tapi pak Brian belum pulang. Karena itu biarkan aku menikmati malam ini bersama kalian," ujar Winnie.


"Ayahmu tidak pulang? bagaimana bisa dia melewatkan ulangtahun putrinya?" tanya Fabio kaget sebab merasa Winnie terabaikan.


"Aku yang menyuruhnya, tadinya dia mau menunda pekerjaannya demi ulangtahun ku dan berencana membuat pesta. Kalian juga di undang dalam pesta itu tapi aku menolaknya, aku tidak suka kecanggungan yang pasti hadir sebab aku masih asing di keluarga itu," jelasnya.


Jeny dan Fabio tahu sebenarnya Winnie memikirkan mereka, jika pesta itu di adakan merekalah yang merasa canggung hadir di tengah-tengah orang kaya. Pada akhirnya mereka pasti akan mempermalukan diri mereka sendiri bahkan mempermalukan Winnie, sudah di pastikan mereka akan menolak hadir dan itu akan membuat Winnie sedih.

__ADS_1


"Kalau begitu mari buat pesta yang kau inginkan," ujar Jeny menahan tangis sebab sedih karena dia masih saja menjadi beban bagi putrinya.


"Ya, buka birnya!" perintah Fabio.


......................


Winnie mengerti saat Deborah mengatakan tempat itu berbahaya setelah datang langsung, rupanya kediaman perawat Iren memang bukan tempat yang bisa di masuki dengan mudah.


Jika begini ia harus mencari orang lain untuk menyelesaikan tugasnya, dari sekian banyak orang yang ia kenal pilihannya jatuh pada Jimmy.


Teman satu SMU sekaligus anak buah Aslan, mereka sudah cukup dekat dari semenjak jaman kejayaan Adnan. Jimmy cukup kaya namun lingkup pergaulannya tidak terbatas, meski tidak terlalu pandai berkelahi tapi ia cukup pandai bernegosiasi.


Ini karena Jimmy pecandu sejak kelas satu SMU, dia selalu mendapatkan barang dari preman pasar hingga bandar kelas teri.


Mengajak bertemu di sebuah kedai Jimmy nampak bahagia akan reuni bersama Winnie, setelah sekian lama tak bertemu nampak Jimmy senang dapat bertemu sang Ratu yang terhormat.


"Bagaimana kabar Aslan?" tanya Jimmy.


"Dia baik, baru saja dia berangkat lagi ke luar negri kemarin. Andai dia punya waktu lebih banyak dia juga ingin bertemu dengan mu," sahut Winnie.


Winnie tersenyum, meski sering berurusan dengan berandalan tapi Jimmy memang bernyali ciut sehingga tak tahan jika harus dekat dengan orang berkharisma seperti Aslan.


"Kalau begitu lupakan tentang Aslan, bagaimana dengan kau sendiri?" tanyanya.


"Sekarang aku seorang seniman tato, um... ini alamat tempat ku bekerja. Mampirlah jika kau ada waktu," jawabnya seraya menyerahkan kartu nama.


Winnie menerimanya dengan senang hati, dengan begini akan lebih mudah menjumpai Jimmy.


"Kelihatannya kau tidak berubah, sekarang aku jadi leluasa minta batuanmu," ujarnya mulai pada tujuan.


"Apa itu?" tanya Jimmy penasaran.


"Aku ingin kau mendapatkan wanita ini untuk ku, meski sulit bagimu tapi aku yakin kau punya banyak teman yang bisa di andalkan. Bayarannya akan ku kirim setelah pekerjaan mu selesai," sahut Winnie sembari menyerahkan amplop berisi foto dan biodata Iren.


Jimmy menatap tak percaya pada apa yang ia terima.

__ADS_1


"Kau masih menjalankan bisnis seperti ini?" tanyanya.


"Semakin berkembang, aku butuh uang lebih untuk biaya kuliahku," sahut Winnie santai.


Mudah untuk meminta bantuan seperti ini karena jelas mereka saling kenal dengan baik, di tambah tak ada yang tahu bahwa Winnie ternyata anak orang kaya yang hilang.


"Aku mengerti, tapi... apa Aslan tidak masalah?" tanya Jimmy cemas.


"Kau tidak perlu khawatir tentang Aslan," sahutnya tanpa ingin menjanjikan apa pun atau berdusta lebih jauh lagi.


"Baiklah, setelah berhasil aku akan menghubungi mu," ucap Jimmy setuju.


Setelah reuni itu berakhir Winnie memilih pulang sebab Brian mengirim pesan ia dalam perjalanan pulang, saat Brian kembali dari pekerjaannya ia harus menjadi anak baik yang menyambut kepulangan ayahnya.


Sampai di rumah Winnie lekas mandi dan mengganti pakaian, beberapa menit kemudian Brian sampai di rumah. Winnie segera bergabung dengan Camila dan Nicki untuk menyambut, meski datang belakangan tapi dia menjadi orang pertama yang Brian rangkul.


Tentu itu menimbulkan kecemburuan bagi Camila dan Nicki, tapi mereka menahannya dan bersikap santai seperti biasa.


"Winnie ayah benar-benar tidak bisa fokus bekerja kemarin, ayah telah melakukan kesalahan besar padamu. Ayah melewatkan hari ulang tahun mu," ujar Brian yang ternyata mengingatnya.


"Tidak masalah ayah, kemarin aku sudah merayakannya bersama orangtua angkat ku," sahut Winnie.


"Apa? jadi kemarin Winnie ulang tahun? oh sayang... kenapa kau tidak bilang? kau pasti sedih karena tak ada yang memberimu ucapan selamat kemarin di rumah ini, karena itu kau pergi seharian," timpal Camila yang baru mengetahui hal ini.


"Winnie kenapa kau tidak bilang kalau kemarin kau ulang tahun?" tanya pula Nicki.


"Sudahlah, untuk menebus kesalahan kita bahagia jika kita buat pesta untuk Winnie?" saran Camila.


Brian setuju dengan cepat begitu juga dengan Nicki, entah apa tujuan Camila bersikap baik sekarang tapi Winnie tahu ada maksud tersembunyi di dalamnya.


Mengikuti alur yang di buat Camila Winnie bersandiwara sebagai anak yang tidak ingin merepotkan tapi akhirnya ia terima dengan alasan tidak ingin menyakiti hati Camila yang sudah berniat baik.


"Masalah tempat dan segala sesuatunya kau serahkan saja padaku, aku akan mengatur pesta yang meriah untuk Winnie," ujar Camila kepada Brian.


"Aku percayakan padamu," sahut Brian setuju.

__ADS_1


__ADS_2