
Meredakan emosi dengan mandi air hangat setelahnya Winnie pergi ke luar, mengendarai mobilnya untuk mengunjungi teman lama. Rumahnya cukup dekat dengan kediaman Martius, karena itu Winnie sekalian menjenguk orangtua angkatnya.
"Sore paman Robert!" seru Winnie menyapa seorang pria yang tengah sibuk dengan perangkap tikus.
"Winnie! astaga... aku hampir tak mengenalimu, bagaimana kabarmu?" tanyanya langsung menghampiri.
"Aku baik, apa paman sibuk?" balasnya.
"Kau tahu bagaimana pekerjaan ku," jawabnya.
"Aku butuh bantuan paman, bisakah paman menjual beberapa ekor padaku?" tanya Winnie langsung pada intinya.
"Kau membutuhkan tikus? untuk apa?" tanya Robert kaget sebab tikus bukan hewan yang lazim di perjualbelikan.
"Untuk kelinci percobaan, paman tahu tikus selalu di butuhkan untuk itu."
"Aku mengerti, kapan kau membutuhkannya?" tanyanya tanpa rasa curiga.
"Besok pagi," jawabnya.
"Baiklah, akan ku siapkan."
Mencapai kesepakatan Winnie pun pamit, kembali menjalankan mobilnya ia pulang ke rumah lamanya.
Kedatangan Winnie yang tanpa pemberitahuan tentu saja membuat Jeny dan Fabio senang, apalagi Winnie berkata akan makan malam bersama mereka.
Saat itu juga Jeny segera pergi membeli daging untuk membuat hidangan yang mewah, tak ingin merusak kebahagiaan orangtua angkatnya Winnie membiarkan mereka melakukan apa pun untuk menyenangkannya meskipun itu hal yang justru merepotkan.
"Bagaimana dengan kuliahmu?" tanya Fabio di sela makan malam.
"Ayah tahu aku tidak pernah bermasalah dalam menuntut ilmu," jawabnya.
"Kau makan malam bersama kami, apa ayahmu tidak masalah?" tanya pula Jeny yang merasa tak enak.
"Ayah pergi ke luar kota untuk bisnisnya, mungkin dia akan pulang dua atau tiga hari lagi. Karena itu aku kemari karena selain aku rindu masakan ibu aku juga tidak mau menghabiskan makan malam sendirian," jawabnya.
"Ah syukurlah kalau begitu," ucap Jeny.
Mereka melanjutkan makan malam, hanya beberapa minggu tak bertemu Fabio dan Jeny tak bisa berhenti memanjakannya. Apalagi saat Winnie mengatakan akan menginap, mereka sampai mengeluarkan selimut khusus untuk tamu yang bersih dan harum.
__ADS_1
Seperti biasa Winnie tak bisa menolak, ia membiarkan dirinya di manjakan begitu saja. Saat waktu menunjukkan pukul sepuluh malam mereka memaksa Winnie untuk segera pergi tidur agar tak sakit, meski belum mengantuk Winnie terpaksa masuk ke dalam kamar.
Drrrrrrrtttt
Baru saja berbaring tiba-tiba ponselnya berbunyi, menatap nama di layar ponsel rupanya itu sang kekasih yang sudah beberapa hari tak memberi kabar.
"Halo," ujar Winnie mengangkat telpon tersebut.
"Kau sogok Deborah dengan apa sampai dia tak mau mengangkat telpon dariku?" tanya Aslan sekonyong-konyong.
"Mungkin dia sibuk, memangnya kau perlu apa dengannya?" sahut Winnie santai.
"Apalagi kalau bukan tentang mu," jawab Aslan ketus.
"Astaga Aslan... apa kau benar-benar tidak mempercayai kesetiaan ku?" tanya Winnie sedikit kecewa.
"Aku percaya padamu tapi tidak dengan pria di sekitar mu, andai aku bisa menjadi egois aku tidak akan pernah pergi ke luar negri. Di sini sangat tidak nyaman," keluhnya.
Winnie tak bisa menahan tawa, ia bisa membayangkan bagaimana ekspresi Aslan yang lucu saat sedang kesal dan cemburu.
"Mulai sekarang jangan terlalu mengganggu Deborah, dia sedang kencan dengan seorang pria. Jika kau menelpon di waktu yang tidak tepat aku khawatir semuanya tidak berjalan mulus," ucap Winnie memperingatkan.
"Baiklah aku mengerti, kalau begitu aku tutup dulu telponnya. Bye!" lanjutnya.
"Bye," balas Winnie.
Percakapan singkat itu berakhir begitu saja, tak ada pertanyaan tentang kabar atau hal lainnya. Terlihat membosankan tapi itulah ciri khas Aslan, dia tidak suka membuang-buang waktu untuk hal yang tidak perlu.
Sudah mendengar suara masing-masing saja membuat mereka senang, setidaknya keharmonisan hubungan mereka tetap terjaga di tengah jarak yang memisahkan.
................
Bangun pagi Winnie sudah di siapkan sarapan, setelah mencuci muka ia habiskan sarapan itu bersama kedua orangtua angkatnya.
Karena hari itu ia ada kelas maka Winnie cepat berpamitan, sebelum pergi ke kampus sesuai janji ia menagih tikus dari Robert. Dalam satu keranjang berisi setidaknya sepuluh ekor tikus hitam, tersenyum senang mendapatkan tikus itu Winnie membayar lebih kepada Robert dan membawanya pergi.
Sampai di kampus kelas berakhir dengan cepat, hari itu ia tak ada janji dengan siapa pun maka ia langsung pulang.
Kali ini Winnie tak mencari Camila untuk di sapa, ia sama sekali sudah tak peduli pada ibu tirinya itu.
__ADS_1
Ia langsung masuk ke kamar untuk ganti pakaian dan membenahi taman bunganya yang rusak, dengan sabar ia mengumpulkan setiap tanaman yang mati dan kembali membenahi tanahnya.
"Aku pikir malam ini kau tidak akan pulang lagi," ujar Nicki dari pintu kaca.
"Ini juga rumah ku, aku bisa pulang pergi sesuka ku," sahut Winnie santai tanpa berpaling.
"Ah Winnie kau benar-benar tidak belajar dari kesalahan," cemooh Nicki.
"Aku tidak membuat kesalahan," tegas Winnie
Selesai mengumpulkan semua tanaman yang rusak tanpa memperdulikan Nicki ia berjalan melewatinya, satu kaki Nicki terjulur dengan niatan agar Winnie tersandung dan jatuh.
Namun Winnie melewati kaki Nicki dengan aman, malah ia menendangnya sampai Nicki meringis kesakitan.
Tiba waktu makan malam Winnie yang sudah kelaparan segera mengambil lauk dan melahapnya, tentu itu mengundang amarah Camila yang baru datang ke ruang makan.
"Sungguh tidak punya sopan santun! beginikah yang di ajarkan orangtua angkatmu? tak hanya miskin harta ternyata kalian juga miskin tata krama!" hardik Camila.
Prang
Aaaaaaaa..
Winnie yang tiba-tiba melempar gelas hingga pecah membuat semua orang kaget termasuk Camila, mengambil garpu dan menggenggamnya dengan kuat Winnie kemudian menodongkannya tepat di leher Camila.
"Aku hanya bersikap sopan pada orang yang pantas, heh. Kau bahkan bukan manusia jadi jangan mengharapkan lebih dari ku," sahutnya.
Melempar garpu itu ke meja Winnie kemudian pergi meninggalkan ruang makan begitu saja.
"Ah.."
"Ibu! ibu baik-baik saja?" tanya Nicki cemas sebab Camila langsung terhuyung lemas setelah Winnie pergi.
"Akan ku balas anak itu, akan ku buat dia menjilat kaki ku," sumpah Camila dalam gemetar bibirnya.
Sementara Winnie pergi ke garasi untuk mengambil hewan yang baru saja ia beli, menatap hewan pengerat yang aktif itu senyumnya mengembang riang.
"Apa kalian lapar? tenang saja, malam ini kalian akan makan mewah. Bahkan jika kalian sanggup kalian bisa makan berlian," ujar Winnie menyapa.
Tikus-tikus mencicit, seakan menjawab pertanyaan Winnie.
__ADS_1