
Memeriksa hasil pekerjaan Nagisa Winnie cukup puas, semua fotonya jelas meski diambil dari jarak jauh. Sejauh ini belum ada yang mencurigakan, setiap tempat dan orang-orang yang di temui Sara tidak berhubungan dengan kecelakaan itu.
Tapi tentu Winnie tak akan melepaskan Sara begitu saja, dia adalah juri dan mudah melakukan sabotase dalam ajang pencarian bakat itu.
Agar memudahkan dalam pengerjaan misi Winnie menyewa sebuah apartemen yang jaraknya cukup dekat dengan kediaman Sara, harga sewanya cukup murah dan masih banyak kamar yang kosong sehingga Winnie setuju untuk mengambilnya.
Setelah mencapai kesepakatan Winnie mengeluarkan semua foto hasil Nagisa dan menempelkannya di mading, ia memberi judul Sara dan akan terus menempelkan foto yang dirasa penting.
Memandang foto-foto itu dalam kebisuan tiba-tiba ia menerima pesan dari Deborah, rupanya ia mengajak bertemu karena ada sesuatu yang harus di berikan.
Winnie segera mengirimkan alamat apartemennya dan menyuruhnya datang, karena jarak yang cukup jauh Deborah membutuhkan waktu setidaknya satu setengah jam dalam kecepatan tinggi untuk sampai.
Tok Tok Tok
Sampai di depan pintu Deborah mengetuk pintu yang segera di buka oleh Winnie.
"Kenapa kau mengajak bertemu di tempat yang jauh seperti ini?" keluh Deborah menatap Winnie dengan pandangan sinis.
"Maaf, ayo masuk!" ajaknya.
Begitu masuk hal pertama yang membuat Deborah kaget tentu foto-foto Sara yang di pajang.
"Astaga... aku merasa sedang menonton drama," ujarnya.
"Ini memudahkan ku dalam bekerja," ujar Winnie.
"Jadi kau sengaja menyewa apartemen ini?" tanya Deborah.
Winnie mengangguk sebagai jawaban.
"Setidaknya belilah kursi atau kasur lipat, bahkan kau tidak punya minuman," keluhnya.
"Akan ku beli nanti, aku baru menyewanya beberapa jam yang lalu. Jadi apa yang ingin kau berikan?" tanya Winnie langsung pada topik utama.
Dari dalam tasnya Deborah mengeluarkan sebuah berkas, dengan penasaran Winnie mengambilnya dan segera membacanya. Saat ia mengerti apa isi berkas itu alangkah terkejutnya ia sampai tak bisa berkata-kata.
"Dengan ini kau bisa memenjarakan ibu tirimu," ujar Deborah.
"Apakah ini nyata?" tanya Winnie tak percaya.
"Aku menghabiskan banyak waktu untuk hal ini mana mungkin ini palsu!," ujar Deborah kesal.
"Maaf, hanya saja aku tak percaya Camila melakukan perawatan ini."
"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, lalu bagaimana? kau akan melaporkannya?" tanya Deborah.
"Tidak sekarang, kasus kematian Miya masih belum terpecahkan."
__ADS_1
"Aku mengerti," sahut Deborah.
Menatap semua foto Sara hanya dalam waktu beberapa detik Deborah sadar semua foto itu di ambil hanya dalam waktu satu hari sampai pukul lima sore, itu membuatnya heran sebab ia tahu Winnie memiliki pekerjaan lain.
"Kau yang mengambil semua foto ini?" tanyanya.
"Tidak, aku menyewa jasa seorang murid SMU."
"Pantas saja fotonya komplit," gumamnya.
"Maksudnya?" tanya Winnie.
"Aku pernah membututinya seharian, semua yang ada di foto ini sama dengan foto yang ku ambil. Heh bahkan pelayan ini pun juga sama," ujarnya sambil menunjuk satu gambar dimana Sara terlihat bicara dengan pelayan kafe.
Winnie segera menatap foto itu dan bertanya "Berapa lama kau membututinya?".
"Dua hari,"
"Dan setiap hari dia melakukan semua ini?" tanyanya lagi.
"Ya," sahutnya dengan nada ragu.
"Ini aneh, mungkin ini rutinitasnya tapi apakah pergi ke kafe bisa menjadi rutinitas?" ujarnya merasa ada yang janggal.
"Oh sial! aku tidak menyadarinya," gumam Deborah.
Ia segera mengeluarkan kamera dan memeriksa semua foto Sara yang dia ambil, yang paling utama adalah saat Sara pergi ke kafe. Dari sekian banyak foto yang Deborah ambil akhirnya ada satu foto yang menunjukkan Sara sedang bicara dengan seorang pria, Deborah mencoba memperjelas wajah pria itu sampai Winnie dapat melihatnya.
"Kau mengenalnya?" tanya Deborah.
"Baru kenal, dia seorang produser dan mencoba membujuk ku untuk bekerja padanya. Perusahaannya adalah investor dalam ajang kecantikan yang di ikuti Miya," jelasnya.
"Itu artinya orang-orang yang kemungkinan berhubungan dengan kasus kematian Miya masih berkomunikasi hingga sekarang," ujar Deborah.
"Kau ingat polisi yang menangani kasus kematian Miya? aku ingin kau memeriksa orang itu sementara aku akan masuk ke perusahaan Will," ujarnya.
Deborah jelas tahu dimana tugasnya, ia pun berpamitan pergi untuk memulainya.
"Deborah," panggil Winnie sebelum temannya itu menutup pintu.
"Ya?" sahutnya.
"Setelah semua ini selesai aku akan mengabulkan satu permintaan apa pun yang kau ajukan, jadi pikirkan dari sekarang apa yang kau mau," ujarnya.
Deborah tersenyum dan menyahut "Akan ku pikirkan dengan cepat."
......................
__ADS_1
Di tengah udara yang dingin nafasnya mengeluarkan asap putih, meski dalam kondisi kedinginan tapi ia fokusnya masih bagus.
Saat melihat Deborah keluar dari apartemen itu ia segera bersembunyi, akan menjadi kacau jika ia sampai ketahuan.
"Ternyata instingnya memang kuat, aku tak percaya gadis itu menyembunyikan hal besar seperti ini," gumamnya mengawasi pintu apartemen Winnie.
......................
Hari ini Winnie sudah mengirim pesan kepada Nagisa untuk jangan dulu pergi bekerja sampai ia datang, setelah menunggu beberapa lama Winnie datang dan menjelaskan pekerjaannya berubah.
Hari ini Nagisa harus berperan sebagai pelayannya, karena itu ia membawa Nagisa ke toko pakaian terlebih dahulu untuk merubah penampilannya.
Seorang asisten calon artis pun harus berpenampilan bagus terlebih dia adalah gadis yang masih belia, melihat banyak baju bagus dan memakainya membuat Nagisa merasa ia sedang berada dalam mimpi.
Terlebih pakaian yang di pilihkan Winnie sangat cocok dengannya, saat berkaca ia sampai tak bisa mengenali siapa pantulan di kaca itu.
"Kau terlihat manis," puji Winnie.
"Terimakasih," ujarnya penuh syukur bahkan sampai hampir menangis.
Selesai berbelanja mereka segera pergi ke kantor Will, sebelumnya tentu saja Winnie sudah memberitahu bahwa dia akan datang.
"Ingat, kau tidak perlu bicara. Hanya tetap berada di sampingku dan ikuti perintah ku," ujar Winnie saat mereka sudah sampai.
Nagisa mengangguk, mereka pun keluar dan menerima sambutan hangat dari Will. Saat melihat Nagisa mata pria itu jelas menunjukkan ketertarikan, Winnie sudah menduga hal ini dan memang ia sengaja mengajak Nagisa agar fokus Will teralihkan darinya.
"Siapa gadis manis ini?" tanya Will.
"Hanya asisten ku, dia tidak penting jadi mari kita masuk," sahutnya.
Will mengangguk dan berjalan tepat di samping Winnie sementara Nagisa mengikuti di belakang, Will memperkenalkan seorang sutradara kepadanya dan mengajak bicara seputar akting.
Winnie memperlihatkan ketertarikan dan meminta mereka untuk menilainya, sutradara menberikan sebuah dialog dan menjelaskan apa yang harus Winnie lakukan.
Sangat sederhana, Winnie hanya pergi berakting menangis dengan satu kata yaitu 'ibu'. Ceritanya adalah Winnie merindukan ibunya yang telah tiada, bagi Winnie yang sering bersandiwara tentu saja itu hal yang mudah.
Terlebih ia memang kehilangan ibunya, saat mulai berakting semua mata terpukau akan kehebatannya bahkan ikut tersentuh.
"Bravo! kau memang memiliki bakat akting yang luar biasa," ujar sutradara antusias.
"Terimakasih," sahut Winnie.
"Ada proyek sedang kami kerjakan, aku yakin kau mampu memerankan tokoh utama. Bagaimana? kau mau?" tanya Sutradara.
"Sungguh? apa aku akan langsung bermain film?' tanya Winnie.
" Tentu saja," sahutnya.
__ADS_1
"Baiklah, kapan kita bisa mulai?" tanyanya.
Mereka mulai membicarakan waktu yang telat untuk memperkenalkan Winnie dengan para pemain lainnya, sementara Nagisa mulai merasa tak nyaman akan tatapan Will kepadanya.