
Ia melongo memandangi kendaraan yang sudah parkir tepat di depannya.
Tangannya mendadak berhenti memotong rumput.
Jantungnya seketika melorot ke perut.
Oh tidak, jangan sekarang!
Waktunya sangat tidak tepat.
Aku tidak mau sekarang.
Tidak mau!
Mama tolong aku Ma.
Ia bahkan memanggil nama Ibunya yang sudah meninggal dunia saat seorang pria turun dari mobil Audy R8 Grey, menutup pintu mobil lalu bersandar dengan santai pada pintu mobil sembari mengulum senyum padanya yang sedang berjongkok di atas rumput, memegang gunting dengan tangan yang mendadak lemas.
Terlambat untuk bersembunyi. Terlambat. Makhluk itu datang dalam waktu dan dari arah yang tidak terduga
Kakinya kehilangan tenaga, begitu berat untuk berdiri.
Bagaimana tidak, keadaannya sangat menggelisahkan. Mengapa pria itu selalu datang tiba-tiba tanpa berkabar terlebih dahulu?.
Pria itu datang pada saat terburuknya untuk menerima tamu. Ia pun harus rela, pria itu melihat dirinya dalam tampilan yang paling mengenaskan.
"Berkebun Nadia?" sapa Bimasena yang nampaknya habis berolahraga, terlihat dari pakaian yang ia gunakan. Mengenakan compression leggings dan baju olah raga berbahan lycra yang memamerkan otot lengannya.
Sesaat Nadia lumpuh memandangi pesona Bimasena.
Bukannya menjawab ataupun membalas senyum, Nadia berdiri dari jongkoknya dengan perlahan lalu bertanya dengan gugup,
“Bima, nyari aku atau Tristan?” ia harus memastikan, jangan sampai ia sudah besar kepala duluan.
“Kalau aku nyari Tristan, gak mungkin aku ke sini. Bukannya Tristan di Jambi?” jawab Bimasena tertawa kecil.
“Bagaimana kamu tahu Tristan di Jambi?”
“Aku ketemu di Bandara, Nadia. Kami ke Jambi pada hari yang sama, hanya beda pesawat.”
Jadi kedatangan Bimasena betul-betul untuk menemui dirinya. Apa ini tidak mengkhawatirkan?
“Kenapa nggak bilang-bilang mau datang?” sekarang ia melayangkan protes setelah memastikan Bimasena mencari dirinya, sambil memandangi tubuhnya sendiri yang sangat lusuh.
“Apa tamu harus minta izin dulu ya bila ingin berkunjung?” Jawaban Bimasena malah dalam bentuk pertanyaan.
Namun Bimasena bisa mengerti kegelisahan hati Nadia, sehingga ia kembali tersenyum. “Nadia, kamu memiliki kecantikan alami, dalam keadaan apapun dan tanpa riasan pun tetap juga cantik.”
Nadia mendesah. Bimasena memujinya, namun tetap tidak berhasil membangunkan rasa percaya dirinya dalam kondisi badan yang sudah kumal dibalut pakaian yang lusuh, agak basah pula oleh keringat dan air saat ia membersihkan kamar mandi.
"Bima masuk dulu ke dalam, bisa tunggu sebentar, aku mandi dulu ya?" ucapnya dengan tangan menunjuk ke ruang tamu mempersilahkan Bimasena masuk ke dalam rumah.
“Nggak usah mandi Nadia, kamu cuci tangan aja. Aku nggak lama kok, sebentar lagi harus ke Karawang.”
Ke Karawang? Ada apa di sana? Jangan-jangan Bimasena memiliki kekasih di sana. Ini kan hari libur?.
“Ke Karawang? Ada apa di sana?” Nadia ternyata tidak mampu menyembunyikan rasa penasarannya. Sangat tidak elegan.
“Ada anjungan minyak lepas pantai Karawang yang ingin saya tinjau.”
Jawaban yang membuat hatinya plong. Loh mengapa ia harus plong?
“Hari libur juga kamu bekerja?” seru Nadia tidak percaya.
“Iya, seperti itulah pekerjaanku Nadia,” gumam Bimasena menatap Nadia, seolah merupakan informasi penting yang perlu Nadia ketahui.
Nadia berdiri mematung dengan tangan masih menggenggam gunting rumput menatap Bimasena yang bersandar pada mobilnya. Ia tidak tahu harus ngomong apalagi.
“Kamu mau ikut lihat anjungan minyak bumi? di tengah laut. Kamu belum pernah lihat bukan?”
__ADS_1
Apa ia tidak salah dengar? Bimasena mengajaknya? Mengapa hatinya tiba-tiba senang. Tetapi ia berusaha menyembunyikan senyum senangnya.
“Anjungan minyak bumi? Di tengah laut? Ke sana naik kapal?”
Bimasena menggeleng. “Kita naik helikopter.”
Naik helikopter? bersama Bimasena? Entah bagaimana rasanya. Tentu saja akan sangat menyenangkan. Ia ingin sekali. Apalagi ia belum pernah naik helikopter sebelumnya.
Mungkin rasanya akan menegangkan dan seromantis Anastasia saat naik helikopter bersama Christian di dalam film Fifty Shades Of Grey.
Tapi bersama Bimasena? Apa jadinya dengan jantungnya sebentar bila sepanjang waktu bersama Bimasena? Ia mengambil nafas dalam-dalam. Keinginan dirinya sangat mengkhawatirkan.
“Bagaimana?” tanya Bimasena lagi, karena hanya melihat Nadia berdiri terpaku seolah sulit mengambil keputusan.
Sadarlah Nadia. Nadia berdiri agak gemetar mencoba menekan gugup dan hasrat agar bisa berangkat bersama dengan Bimasena.
Nadia menggeleng. “Maaf!”
Ia mengkhianati dirinya yang sangat ingin pergi naik helikopter bersama Bimasena. Atau kemanapun bersama Bimasena.
Namun akal sehatnya masih berfungsi. Ia tidak bisa mengkhianati Tristan.
Meskipun kecewa dengan keputusannya sendiri, Nadia bisa bernafas lega. Karena ia sudah berhasil melewati satu ujian rumah tangganya. Ujian yang dahsyat, karena yang menjadi pengujinya adalah Bimasena.
Tidak nampak sama sekali gurat kecewa dalam ekspresi wajah Bimasena. Ia malah tersenyum bangga pada Nadia.
“Oke, nggak apa-apa. Saya bisa mengerti kok.”
“Maaf!” sekali lagi Nadia mengulanginya, ia sangat khawatir bila Bimasena kecewa dengan penolakannya.
Lalu mengapa ia justru takut bila Bimasena kecewa?
“Nggak apa-apa,” Bimasena meyakinkan bahwa ia tidak kecewa mendapat penolakan dari Nadia.
Nadia baru menyadari bahwa ia harus mempersilahkan tamunya yang sedari tadi masih berdiri di pinggir jalan di samping mobilnya, masuk ke dalam ruang tamu serta menjamunya. Dengan teh hangat mungkin.
“Bima, masuk dulu yuk, aku buat teh untukmu,” ajak Nadia sambil melangkah dari taman ke atas teras.
Entah rasa gugup atau ia sama sekali tidak menguasai medan di rumahnya sendiri, sehingga ia bisa seceroboh itu. Ia merasa semakin norak dalam pandangan Bimasena. Di depan Bimasena, ia kehilangan keanggunan sama sekali. Tidak ada yang bersisa keanggunannya sebagai mantan model.
“Aduh,” pekik Nadia dalam posisi merangkak dan hendak bangun. Sakitnya tidak seberapa, bisa ia tahan. Namun malunya luar biasa. Tak ubahnya anak kecil yang begitu mudahnya terjatuh.
Sebuah tangan terulur untuk membantunya.
“Kamu tidak apa-apa Nadia?” tanya Bimasena dengan nada khawatir.
Namun justru membuat Nadia semakin malu dan canggung. Ia bahkan tidak kuat untuk melirik ke atas ke pemilik tangan.
Butuh beberapa waktu bagi Nadia agar bisa bersuara.”Terimakasih, aku bisa sendiri.”
Nadia berusaha bangun tanpa bantuan Bimasena. Tidak mungkin ia meraih tangan Bimasena dengan tangan kotornya. Tetapi sesungguhnya bukan karena itu.
Namun yang ada malah Bimasena membantunya berdiri dengan meraih lengannya.
Sentuhan tangan Bimasena pada lengannya membuat Nadia seperti tersengat listrik, dan hampir jatuh kembali seandainya Bimasena tidak memegangnya dengan erat.
Ia merasakan getaran aneh yang menyenangkan karena sentuhan itu, menjalar melalui susunan saraf tubuhnya, membuat jantungnya berpacu dengan cepat.
“Ada yang sakit?” tanya Bimasena kembali saat Nadia sudah berhasil berdiri pada jarak yang sangat dekat.
Membuat Nadia merasa wajahnya memanas, ia yakin bila wajahnya sudah memerah. Ia pun segera menggeleng.
Karena Nadia tidak menjawab, Bimasena malah memeriksa tangan dan sikunya, lalu berjongkok untuk memeriksa lututnya, memastikan betul ia tidak apa-apa.
Perlakuan Bimasena semakin membuat ia semakin gugup.
"Tampaknya lututmu sebentar lagi akan memar, kamu punya salep?"
Nadia kembali menggeleng.
__ADS_1
"Tunggu sebentar, aku ke apotek dulu mencari salep untukmu."
Nadia bahkan tidak bisa mengiyakan atau menolak, ia hanya termangu menatap Bimasena berjalan ke mobilnya.
Ia bisa sedikit bernafas lega saat Bimasena melajukan mobilnya.
Dengan secepat kilat ia berlari ke kamar mandi, membasuh semua yang perlu dibasuh. Lalu masuk ke kamar mengganti pakaian yang ia kenakan dengan T Shirt Putih dan Pleated Pants berwarna peach.
Ia sempat menyisir rambutnya saat mendengar suara ketukan pintu. Pasti Bimasena sudah kembali. Akhirnya ia memasrahkan dirinya yang tidak sempat berdandan, setidak-tidaknya tampilannya tidak seburuk tadi.
Begitu keluar ke ruang tamu ia mendapati Bimasena masih berdiri di ambang pintu. Rupanya pria itu cukup sopan, tidak masuk bila belum dipersilahkan.
"Duduk Bim,"
Ia melihat Bimasena mengulum senyum. Jelas pria itu menertawakan dirinya yang menyempatkan diri berganti pakaian saat ia sedang ke apotek.
"Mana lututmu?" tanya Bimasena mengambil posisi duduk di samping Nadia. Tentu saja ia tahu dimana lututnya, namun tidak mungkin menyingkap celananya sekarang yang sudah menutupi lutut.
"Biar aku saja," jawab Nadia. Tidak mungkin ia menyerahkan lututnya untuh disentuh Bimasena.
Ia lalu meraih salep yang diberikan Bimasena kepadanya namun hanya menggenggamnya.
"Kenapa belum diobati?"
"Biar sebentar saja." Ia merasa canggung untuk menyingkap celananya di depan Bimasena.
"Jangan menunggu sampai lututmu bengkak Nadia," ucap Bimasena lantas mengambil kembali salep itu dari tangan Nadia, laku membuka tutupnya.
"Mana lututmu?" lanjut Bimasena
Oh tidak. Apa ia yang akan mengobatiku?
Dengan menahan malu, Nadia menyingkap sedikit celananya melewati lutut, dan membiarkan Bimasena mengoles salep itu dilututnya. Bergantian, lutut kiri dan kanan yang mulai membiru seperti kata Bimasena.
Nadia menyeretkan perhatian pada wajah Bimasena saat mengoleskan salep ke lututnya.
Ada sensasi tersendiri saat tangan Bimasena menyentuh kulitnya dengan lembut. Nadia menarik nafas panjang dan berusaha duduk lebih tegak untuk menetralisir ketegangan dan darah yang terus berdesir.
"Sakit?" tanya Bimasena menatap matanya.
"Sedikit." jawab Nadia kikuk.
"Sebentar habis mandi kamu oleskan lagi ya?"
Nadia mengangguk sambil menatap Bimasena, dan ternyata Bimasena balas menatapnya tanpa ekspresi, membuat jantungnya berdetak semakin cepat dan wajahnya kembali memerah.
Nafas Nadia berhenti. Pria itu betul-betul tampan. Bagaimana ia bisa melewatkannya pada masa lalu.
Segera ia menunduk menghindari beradu pandang dengan Bimasena, dengan pura-pura mengipas-ngipas lututnya. Karena tatapan mata Bimasena bisa merobek jantungnya.
"Kamu nggak takut sendirian di rumah ini?" tanya Bimasena, masih menatap lekat matanya.
Mengapa bertanya demikian, apa kamu mau menemani aku? Aku rela kamu temani.
"Nggak takut, aku sudah biasa sendiri kok bila Tristan sedang keluar kota." Entahlah mengapa Nadia selalu mengatakan yang bertentangan dengan hatinya. Padahal hatinya berkata, aku sangat takut, datanglah temani aku.
Bimasena mengangguk, lalu berkata,
"Aku harus pulang, sebentar lagi berangkat ke Karawang. Jangan lupa mengoleskan salepnya."
Bimasena berdiri dari sofa, lalu melanjutkan lagi.
"Kalau ada apa-apa denganmu, atau ada yang kamu butuhkan hubungi aku. Permisi Nadia."
Nadia mengangguk, "Hati-hati!" hanya kata itu yang bisa keluar dari mulutnya. Namun sangat tulus. Dan sesungguhnya ia mengkhawatirkan Bimasena yang akan berangkat sebentar dengan helikopter ke anjungan lepas pantai.
Nadia mengantar Bimasena keluar. Pada ambang pintu Bimasena berhenti. Lalu berbalik ke arahnya dan berucap,
"Aku tidak mengerti mengapa sepagi ini sudah nyasar ke rumahmu. Aku hanya mengikuti apa yang diinginkan hati." Bimasena mendesah, lalu melanjutkan lagi.
__ADS_1
"Dulu saat kita sekelas aku pernah mengagumi dan mengharapkanmu. Namun tidak memiliki keberanian dan kepercayaan diri untuk mengungkapkan." Bimasena berhenti sejenak.
"Dan yang aku khawatirkan adalah, bila rasa itu kembali. Karena waktunya sudah tidak tepat. Dan akan menjadi rumit bila dipaksakan."