
Bimasena sudah memilih dokter kandungan terbaik di Toronto untuk istrinya. Dari hasil test USG, dokter kandungan tersebut memprediksi Nadia akan bersalin minggu depan dengan persalinan normal.
Sehingga ia masih menyempatkan diri terbang berjam-jam mengunjungi Lembah Athabasca, lokasi perusahaannya mengekstraksi setiap barel minyak dari tambang permukaan.
Proses produksi minyak mentah di Kanada berbeda dengan negara lain yang pernah dikunjunginya. Bila di negara lain minyak bumi ditambang melalui sumur minyak, di Kanada minyak diperoleh dari lapisan pasir minyak.
Di negara itu, minyak didapatkan dengan menggali pasir yang mengandung bitumen dari dalam tanah dengan sekop listrik setinggi gedung lima lantai. Lalu bitumen dipisahkan dari pasir dengan air panas dan terkadang menggunakan soda kaustik.
Di sebelah tambang, lidah api menyembur dari cerobong peningkat mutu, menghancurkan bitumen yang bercampur ter, lalu mengubahnya menjadi Syncrude Sweet Blend, minyak mentah sintetis yang dialirkan melalui pipa ke penyulingan.
Janjinya pada Nadia hanya semalam berada di Athabasca. Karena ia tidak ingin berlama-lama meninggalkan Nadia menjelang persalinan.
Tetapi baru beberapa jam ia berada di lokasi ekstraksi pasir minyak, ia sudah menerima panggilan telepon dari Nadia. Seketika itu juga ia panik mendengar di seberang sana Nadia menangis dan berucap padanya,
Nadia : Dad, sakiiit. Muleees. Sakitnya sama dengan dulu saat melahirkan Glor.
Ia pun segera meminta helikopter menjemputnya di lembah Athabasca dan membawanya ke Bandara Athabasca. Di Bandara Athabasca jet pribadi Glor yang disewa oleh FreddCo Energy Kanada telah menunggunya.
Apa semua pria yang istrinya hendak melahirkan merasakan hal yang sama dengan dirinya?
Ia sangat resah dan tegang. Menyesal, mengapa berani meninggalkan Nadia padahal hari persalinan sudah dekat. Juga kesal pada dokter Kanada yang dibayar mahal tapi prediksi waktu melahirkan tidak akurat. Bergeser seminggu lebih cepat.
Ia selalu mampu bersikap tenang dalam menghadapi sesuatu. Tapi kali ini, ketenangannya raib entah kemana.
Bimasena : Sabar sayang, Daddy segera kembali. Ini sudah mau naik di helikopter. Daddy sudah menghubungi Aurel untuk membawamu ke rumah sakit dan mengurus semuanya.
Seandainya ia memiliki keahlian mengemudikan helikopter, ia ingin menendang pilotnya keluar dan menggantinya. Karena baginya pilot itu begitu lambat mengemudikan helikopter. Padahal ia ingin meluncur seperti rudal dengan kecepatan hipersonik.
Saat ia tiba di Bandara Athabasca, ia menghubungi nomor Aurel sebelum naik pesawat. Sebab Nadia tidak kunjung menjawab panggilannya lagi.
Melalui panggilan video call, Aurel memperlihatkan kepadanya, Nadia yang sedang berbaring di atas bed hospital, menangis tanpa suara menahan rasa sakit.
"Dad, sakit Dad. Tolong aku Dad. Pulanglah cepat!" keluh Nadia yang disertai isakan tangis. Peluh dan air mata menjadi satu. Ia kehilangan kata, tidak tahu bagaimana harus menjawab istrinya.
Merasa menjadi manusia tidak berdaya dan tidak berguna. Harusnya saat ini ia berada di samping istrinya. Tidak membiarkan Nadia sendirian menahan sakit. Seperti janjinya, mendampingi Nadia saat persalinan. Tetapi ternyata Nadia mengalami kontraksi lebih awal dari perkiraan dokter sementara dirinya terlanjur berada dalam jarak yang cukup jauh dari Nadia.
"Daddy sudah naik pesawat Mi. Sabar ya," ujarnya.
__ADS_1
Bagaimana orang kesakitan bisa bersabar? Bahkan dirinyapun tidak bisa bersabar untuk segera sampai ke Toronto.
Ia telah berbicara dengan dokter yang menangani persalinan Nadia, untuk memberikan pelayanan terbaik bagi istrinya. Dokter meyakinkan padanya bahwa istrinya dalam kondisi yang baik untuk melahirkan normal dan sudah masuk dalam fase aktif. Barulah ia sedikit lebih tenang dan segera naik ke pesawat.
Sepotong cheese cake strawberry dan majalah baru yang diletakkan pramugari di hadapannya, bahkan tidak menarik perhatiannya.
Di atas pesawat ia hanya merenung. Merenungkan Nadia yang berjuang sendiri untuk melahirkan buah hati mereka.
Matanya menyipit melihat ke arah bawah melalui jendela pesawat, di mana gumpalan awan putih menyembunyikan Nadia dari jangkauan netranya. Bahkan tidak ada sedikit celahpun untuk mengintip ke bawah. Tidak bisa berkomunikasi dalam keadaan genting seperti ini membuat hatinya gelisah tidak menentu.
Dua kali Nadia melahirkan puteranya, tanpa dirinya yang menemani. Nadia selalu melaluinya sendirian. Bahkan kali ini, saat mereka telah menikah.
Ketika jet-nya mendarat di Bandar Udara Pearson, hal pertama yang dilakukannya adalah segera mengaktifkan telepon genggamnya. Bahkan saking tergesa-gesanya ia hendak membantu pramugari membuka pintu pesawat. Namun dicegah oleh cabin crew tersebut.
Sejak kapan ia menjadi manusia tidak tegaan seperti ini. Bahkan hatinya tidak mampu melihat Nadia yang menangis menahan sakit melalui panggilan video call lewat ponsel Aurel.
"Cukup Aurel," lontarnya.
Bahkan ia tidak mempercayai kemapuan sopir untuk mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi. Sehingga ia mengambil alih posisi sopir dan mengemudikan sendiri kendaraanya.
Aurel sudah menunggunya di tempat parkir.
"Selamat, Mbak Nadia sudah melahirkan. Bayi anda laki-laki Pak." Kalimat sambutan untuknya dari Aurel.
Membuat langkahnya terhenti sejenak.
"Bagaimana keadaan istriku?" tanyanya, menunggu jawaban dari Aurel dengan hati berdebar.
"Mbak Nadia sekarang sedang menjalani prosedur jahitan pasca melahirkan."
Ia pun sedikit lega mendengar jawaban dari Aurel. Berarti istrinya sudah selamat. Sesuatu yang yang paling sangat dicemaskannya bila hal buruk terjadi.
"Bagaimana bayiku?"
"Sekarang dalam perawatan dokter anak di ruang bayi," jawab Aurel.
"Bagaimana keadaan mereka berdua? Mereka sehatkan?" Informasi yang diberikan Aurel belum lengkap baginya. Sehingga ia terus mencecar Aurel dengan pertanyaan.
__ADS_1
"Mereka berdua sehat, Pak."
Barulah jalan bernafasnya terasa longgar sehingga ia bisa bernafas dengan lega setelah kegelisahan menghimpit hatinya.
Seperti biasa, ia berjalan di depan mendahului Aurel. Tetapi baru beberapa langkah ia bingung hendak berbelok ke arah mana.
"Mau ketemu Mbak Nadia atau bayinya dulu Pak?" tanya Aurel kembali.
"Istriku dulu," sahutnya. Meminta Aurel berjalan di depannya dan ia mengekor di belakang.
Ia mengikuti Aurel memasuki sebuah ruangan, mendapati Nadia yang tengah meringis, berbaring di atas hospital bed. Seorang dokter dan dua orang perawat tampak berada di tubuh bagian bawah Nadia melakukan prosedur jahitan.
"Dad !" seru Nadia mengulurkan satu tangannya begitu melihatnya memasuki ruangan.
Ia pun segera menghampiri Nadia, mengecup kening, pipi dan bibir istrinya tersebut.
"Sayangku. Maafkan Daddy ya tidak bisa menemani kamu."
"Kamu sehat, Mi?" tanyanya, menggenggam salah satu tangan Nadia.
Nadia mengangguk tersenyum padanya, lalu meringis menahan nyeri yang diakibatkan jahitan yang dilakukan oleh dokter.
Kalaupun tidak bisa menemani Nadia melahirkan, setidak-tidaknya ia bisa menemani Nadia menjalani prosedur jahitan pasca melahirkan. Karena ternyata jahitan juga menyebabkan rasa sakit yang mengerikan bagi istrinya.
Begitu prosedur jahitan Nadia selesai, seorang perawat membawa bayi mereka kepada Nadia untuk diberi asupan ASI.
Ia mendekatkan kepala ke wajah bayinya yang ditidurkan di samping Nadia, seraya berbisik,
"Selamat datang anak lelaki perkasanya, Daddy," sapanya pada putera keduanya.
"Frey Adelio Bimasena. Pangeran mulia yang diagungkan, putera Bimasena," gumamnya, mencium tangan mungil puteranya.
"Dad, look at his eyes ! (lihat matanya!)" celetuk Nadia.
Ia menatap bangga pada puteranya, kebahagiaan barunya.
Seorang lagi hadir di antara mereka, Brown Eyed Handsome Man (pria tampan bermata cokelat).
__ADS_1