REUNI INDAHNYA MENDUA

REUNI INDAHNYA MENDUA
14. Kamu Menghibur Jiwaku


__ADS_3

Memberi hadiah secara tiba-tiba pada Hakimah merupakan langkah tergesa tanpa perhitungan yang matang. Hasilnya, malah membuat Hakimah menjaga jarak dari dirinya.


Saat pulang dari Jambi, Hakimah sudah tidak ingin diantar ke tempat kostnya. Begitupun sehari-hari di kantor, Hakimah enggan berdekatan lagi dengan Tristan diluar urusan pekerjaan.


Tristan menghela nafas panjang. Ia telah salah mengambil langkah, sangat gegabah. Namun ia bisa memahami sikap Hakimah yang menjaga jarak itu disebabkan karena dirinya merupakan pria yang sudah berkeluarga.


Hakimah bukan wanita mudahan, yang segampang itu tertarik pada pria, apalagi pria yang sudah berkeluarga seperti dirinya.


Hakimah merupakan wanita cerdas, dan wanita cerdas tahu apa yang mereka inginkan.


"Imah ingin punya suami yang pintar seperti Kak Tristan." Hakimah pernah mengucapkan itu pada Tristan, dan Tristan menganggap itu adalah sebuah peluang untuknya.


Bukan karena Hakimah menjaga jarak, lantas ia akan mundur untuk mendekati Hakimah. Malah Tristan semakin bersemangat.


Hakimah berbeda dengan Nadia. Nadia dengan mudah ia taklukan, hanya dalam satu kedipan mata.


Sementara Hakimah seperti mutiara indah yang tersimpan di dasar laut. Tidak mudah mengambilnya. Ia harus menyelam jauh ke dasar lautan, menghadang arus bawah laut, untuk menemukannya. Karena menemukan yang terbaik haruslah membutuhkan perjuangan.


Hakimah memang tidak secantik Nadia. Namun Hakimah memiliki sisi terindah yang sama sekali tidak dimiliki Nadia. Sisi terindah itulah yang membuat Tristan jatuh hati.


********


"Kenapa datang? Tristan ada di dalam," bisik Nadia dengan sangat panik pada Bimasena. Ekspresi ketakutan jelas-jelas terpancar dari wajahnya.


"Aku tahu Tristan ada di dalam," jawab Bimasena tenang. Mengulum senyum pula.


Mungkin bumi sudah kehilangan oksigennya karena Nadia tidak mampu bernafas lagi. Ataukah ini yang namanya sekarat? dimana tubuh sudah mempersiapkan diri untuk berhenti?


Pria itu betul-betul akan membuatnya mati muda.


"Kamu nggak usah tegang seperti itu Nadia. Aku tidak mungkin ingin mencelakakan kamu," bisik Bimasena masih sambil tersenyum. Seolah menikmati kepanikan dan kegelisahan dalam wajah Nadia.


"Tapi Tristan ada di dalam Bima. Pulanglah cepat. Kumohon!" Nadia mulai merengek dengan suara serak yang teramat pelan, berharap belas kasihan dari Bimasena yang nampaknya sangat menikmati kegelisahannya. Buktinya, Bimasena malah asyik senyum-senyum sendiri.


"Bim, kumohon pulanglah sebelum Tristan selesai makan!" Tangan kanan Nadia mulai mendorong dada Bimasena pelan dengan wajah penuh pengharapan, kiranya Bimasena menuruti perintahnya.


Mendorong dada Bimasena merupakan kesalahan yang Nadia lakukan. Karena tangannya dapat merasakan salah satu daya tarik pria itu, dada yang berotot. Mengacaukan sejenak akalnya. Pipinya memerah begitu saja dibawah tatapan lekat Bimasena.


Dengan segera ia menarik tangannya meskipun ada sesuatu yang mendorong agar tangannya berlama-lama di sana. Ia menyembunyikan tangan kanannya yang didakwa bersalah di belakang tubuhnya.


Bimasena malah tertawa tertahan melihat tingkahnya.


"Nadia, aku ingin menemui Tristan," ucap Bimasena untuk mereduksi kegelisahan Nadia.


"Untuk apa?" Diluar dugaan, Nadia malah semakin ketakutan dibuatnya. Ia sudah berpikir macam-macam mengapa Bimasena tiba-tiba ingin menemui Tristan.


"Kami sudah janjian bermain catur malam ini," jawab Bimasena tenang, dengan pandangan yang terus menghujam ke jantung Nadia.


Nadia akhirnya mengambil nafas dalam-dalam untuk meredakan kepanikannya. Kepanikan sudah membuatnya kehilangan akal. Nadia lalu menggoyangkan kepala untuk mengumpulkan akalnya.


"Betul?" Nadia bertanya sekali lagi.


Bimasena mengangguk mantap. "Kamu jangan takut padaku Nadia. Percayalah padaku. Aku tidak akan membuatmu susah," bisik Bimasena.


Nadia akhirnya mengangguk pelan. Lalu menyilahkan Bimasena masuk ke ruang tamu.


"Masuklah, silahkan duduk."


Nadia segera beranjak ke dalam.


"Di luar ada Bimasena mencarimu," serunya pada Tristan yang sementara makan malam.


Tanpa menunggu jawaban Tristan Nadia segera masuk ke dalam kamar dan berdiri di depan cermin.

__ADS_1


Bimasena sudah membuatnya shock dan ia butuh waktu untuk menormalkan kembali dirinya.


Setelah beberapa lama fungsi kognitifnya yang tadi terserak berfungsi kembali. Ia baru sadar, hanya karena kepanikan ia berprasangka buruk kepada Bimasena. Ia menjadi malu sendiri. Tapi alam bawah sadarnya berbisik, Bimasena ingin bertemu kamu.


Ia lalu memandangi tangan kanannya. Tangan yang baru menyentuh sesuatu yang membuat kepalanya berpikir sedikit menyimpang.


Bagaimana rasanya bersandar di dada itu?


Bagaimana rasanya menyembunyikan wajah di dada itu?


Sungguh sangat nyaman rasanya bila....


Nadia segera menepuk kepalanya yang semakin jauh menyimpang, untuk membuyarkan semua pikiran bodohnya, karena membuatnya malu sendiri dengan imajinasi sesatnya. Ia berimajinasi kalau....ah sudah, terlalu malu untuk diteruskan.


Pintu kamar terbuka dan Tristan masuk mengambil papan caturnya.


"Buat kopi untuk saya dan Bimasena," perintah Tristan padanya.


Keluar dan bertemu Bimasena lagi? Betapa sulit menghindari pria itu.


Nadia bingung sendiri dengan dirinya. Ada bagian diri yang selalu menginginkan bertemu Bimasena. Namun bila Bimasena berada di dekatnya, malah jantungnya hendak meloncat keluar. Sangat kontradiktif. Organ tubuhnya sudah gagal bekerja sama dengan baik.


Tangannya gemetar saat membawa nampan keluar ke ruang tamu, dimana Tristan dan Bimasena sedang bermain catur, karena ia menyadari dirinya sedang dalam tatapan panas Bimasena.


Semakin gemetar lagi saat meletakkan cangkir di meja tamu, merasa ada yang memperhatikan tangannya. Dan ups! sebuah kejutan listrik ia rasakan saat tanpa sengaja tangannya bersentuhan dengan tangan Bimasena ketika meletakkan cangkir. Membuat Nadia refleks menarik tangannya dan memandang khawatir pada Tristan.


Ia bisa bernafas lega karena Tristan sedang berkonsentrasi pada papan catur. Ia lalu melirik pada Bimasena yang nampaknya menahan tawa karena kejadian itu, dengan pandangan tetap ke papan catur.


Nadia kembali ke dapur tanpa mempersilahkan tamunya untuk minum. Ia sudah lupa. Lupa segala-galanya bila berdekatan dengan Bimasena. Apalagi tangannya sempat bersentuhan.


Nadia kembali mengamati tangan kanannya, tangan yang dari tadi selalu menyentuh Bimasena. Entah tangan itu sedang beruntung atau bagaimana.


Tapi teriakan Tristan membuyarkan lamunannya.


Dengan tergesa ia segera ke ruang tamu.


"Kopi ini terlalu manis, mau bikin aku diabetes ya? kamu tuh kayak nggak tahu selera aku saja. Sudah bertahun-tahun jadi istri, bikin kopi saja nggak pernah benar," sungut Tristan.


Mungkin bila mereka berdua saja, tidak akan ada masalah dengan ucapan itu. Tetapi diucapkan di depan orang lain, tak urung menggoreskan luka di hati Nadia.


Apalagi Bimasena memandang khawatir padanya.


"Biar aku ganti." Nadia lalu mengambil cangkir milik Tristan. Ia juga hendak mengambil cangkir milik Bimasena, namun Bimasena mencegahnya.


"Nggak usah Nadia. Kalau kopi aku, rasanya sudah pas. Kopi buatanmu mantap. Terima kasih ya," ujar Bimasena tersenyum kecil padanya.


Nadia tidak tahu harus tersanjung atau bagaimana dengan pujian Bimasena. Tapi hatinya sudah terlanjur teriris. Boleh jadi kopi yang ia buat untuk Bimasena rasanya sama seperti kopi untuk Tristan. Mungkin Bimasena memuji hanya untuk menjaga perasaannya saja.


Tanpa sadar matanya berkaca-kaca dan ia segera kembali ke dalam untuk membuat kopi yang baru


Dari ruang makan dengan jelas ia bisa mendengar percakapan Tristan dan Bimasena.


"Kamu nggak suka yang manis-manis ya?" terdengar suara Bimasena.


"Aku suka yang cerdas dan pintar," terdengar suara Tristan sambil terkekeh.


Nadia kembali menggigit bibir menahan getir demi mendengar ucapan Tristan dari balik dinding.


"Do you have a new dream? (Kamu memiliki mimpi baru?)." Suara Bimasena dipelankan tetapi tetap terdengar oleh Nadia.


Hanya disambut gelak tawa oleh Tristan.


"Keep love for your wife in your heart! (Jagalah cinta untuk istrimu di hatimu!). You're lucky in having found the perfect partner, to spend your life with (Kamu beruntung, telah memiliki pasangan yang sempurna, untuk menghabiskan hidupmu bersama)." Suara lirih Bimasena kembali terdengar olehnya.

__ADS_1


Meskipun pengetahuan bahasa inggris Nadia minim, ia masih bisa memahami ucapan Bimasena.


Tidak terdengar jawaban dari Tristan. Hanya hening.


"One step in the wrong direction will cause you a thousand years of regret (Satu langkah ke arah yang salah akan memberikanmu seribu tahun penyesalan)." Lanjut Bimasena dengan suara pelan.


Tidak pernah ditanggapi oleh Tristan. Atau mungkin tidak terdengar olehnya.


"Skakmat!" Terdengar suara girang Tristan. Mungkin ia sudah mengalahkan Bimasena.


Setelah membawa kembali cangkir kopi baru untuk Tristan, Nadia buru-buru masuk ke kamar. Merenungkan kembali semua ucapan Bimasena pada Tristan.


Apa Bimasena tahu sikap Tristan selalu seperti itu padanya, sehingga ia mengeluarkan nasihat seperti itu?


Apa maksud 'new dream'?


Beruntung Nadia tidak mengerti maksud 'new dream' itu. Karena bila ia tahu, akan menjadi luka baru untuknya.


Ia membaringkan tubuh di atas tempat tidur berusaha melupakan ucapan Tristan di depan Bimasena yang sudah membuatnya malu.


Bunyi pesan masuk membuatnya segera meraih ponsel, membuka aplikasi dan membacanya.


Ia lalu tersenyum melihat siapa pengirimnya. Pesan pertama untuknya.


Bimasena:


Entah mengapa aku merasa nyaman berada dalam jarak yang dekat denganmu, meskipun kamu memilih bersembunyi di dalam kamar. Kamu tahu aku datang ke rumah ini, hanya demi melihat kamu?


Seperti tetes embun di pagi hari, pesan itu memberikan kesejukan jiwa yang baru saja dicederai Tristan. Nadia terus membaca pesan itu berulang-ulang dengan senyum yang merekah lebar. Ia merasa ada bunga-bunga yang mekar di taman hatinya, menghiasi jiwanya.


Satu lagi pesan Bimasena.


Bimasena:


Kamu tidak perlu terbebani dengan ucapanku kemarin di depan toilet. Bila kamu masih ragu, biarlah waktu yang menjawabnya. Istirahatlah Nadia. Aku menjagamu dari luar sini.


Ah Bimasena, kamu menghibur jiwaku.


Senyum melengkung sempurna di wajahnya.


Tanpa sadar Nadia bersenandung.


Burung-burung pun bernyanyi


Bunga pun tersenyum


Melihat kau hibur hatiku


Hatiku mekar kembali


Terhibur symphony


Pasti hidupku kan bahagia


(Symphoni yang indah, dinyanyikan oleh Once)


*********


Readersku tersayang,


Yang mendukung Pebinor angkat tangan ☝


Terimakasih untuk segala dukungannya dalam bentuk like, vote, comment dan tips.

__ADS_1


😘😘😘


__ADS_2