REUNI INDAHNYA MENDUA

REUNI INDAHNYA MENDUA
118. Aku Tanpamu


__ADS_3

Jangankan mencapai target penjualan, satu rumah type terendahpun tidak ada yang bisa dipasarkan oleh Nadia dalam satu bulan terakhir.


Danindra sudah mengajarkan kepadanya bagaimana melihat peluang-peluang pasar yang ada. Danindra juga telah mengajarinya beberapa strategi pemasaran.


Tidak ada yang salah dengan semua teori yang dikemukakan Danindra kepadanya. Hanya saja ia memiliki keterbatasan, tidak mampu melaksanakannya.


Ia belum bisa bekerja secara profesional karena masih memprioritaskan mengurus Glor daripada bekerja. Seperti pesan Bimasena kepadanya.


Berkali-kali ia bertemu dengan calon pembeli, namun tidak ada yang berhasil. Malah rasanya hanya modus om-om genit yang ingin mengajaknya makan siang yang ujung-ujungnya menggodanya atau mengajaknya kencan.


Begitulah bila menjadi seorang janda, terlebih lagi memiliki anak. Asumsi yang berkembang selama ini adalah perempuan dinilai lemah, butuh perlindungan, dan kasih sayang. Sehingga janda dinilai lebih mudah menggoda dan lebih gampang digaet. Asumsi negatif terhadap seorang janda yang telah merebak sejak lama.


Ternyata tidak mudah menjadi seorang Marketing Properti Independen. Awal perjalanan karirnya sebagai seorang marketing, semua lancar. Ia mendapat banyak komisi. Namun apa yang diperolehnya semua berhubungan dengan Bimasena.


Bimasena yang membeli penthouse lewat dirinya. Begitupun sewa apartemen untuk TKA (Tenaga Kerja Asing) FreddCo Energy itupun campur tangan Bimasena. Menghasilkan banyak pundi-pundi dan menebalkan rekeningnya dalam sekejap.


Tetapi begitu Bimasena ditahan di Venezuela, semua jadi serba berat. Ia pun menyadari, bukan hanya hatinya yang direbut pria itu. Begitupun dengan dayanya.


Kini ia mengemudi menuju salah satu perumahan baru milik developer Danindra. Ia memiliki janji bertemu dengan Pak James. Ia sudah pernah bertemu sekali dengan Pak James. Berberapa hari ini juga berbicara melalui sambungan telepon. Pak James berencana meng-indent rumah di salah satu perumahan tersebut. Berharap perjalanannya kali ini membuahkan hasil.


Ia menunggu Pak James di depan rumah contoh.


Beberapa menit kemudian sebuah mobil Honda CRV berhenti di depan rumah contoh, dan pria yang ditunggu turun dari mobil.


Dari perawakan dan gurat wajah, ia menebak Pak James berusia sekitar lima puluh tahunan.


Setelah menyapa Pak James dengan ramah, ia mengajak Pak James masuk ke dalam rumah contoh, berkeliling dan menjelaskan rumah tersebut.


"Konsep rumahnya minimalis modern Pak James. Tatanannya simpel dan efisien. Ukuran bangunan enam puluh meter bujur sangkar. Lumayan untuk keluarga kecil."


Ia merasa kurang nyaman saat menjelaskan, karena Pak James memberi tatapan misterius kepadanya. Melihatnya dari atas ke bawah.


Ia segera berbalik membelakangi Pak James karena merasa risih. Berjalan di depan Pak James dan lanjut menjelaskan.


"Yang menarik di perumahan ini adalah karena mengusung konsep hunian yang grand, green dan beautiful. Dekat dengan akses jalan tol, mall dan kawasan bisnis."


Namun sebuah tangan yang melingkari pinggangnya dari belakang teramat mengagetkannya.


"Lepas!" ia berusaha melepaskan tangan Pak James di pinggangnya yang memeluk dengan begitu erat. Kepanikan memuncak di dadanya saat merasakan bibir pria itu menyentuh leher bagian belakangnya, terasa membakar kulit.


Entah dorongan dari mana kakinya bergerak menginjak kaki Pak James dengan keras, sehingga Pak James mengerang dan melonggarkan pelukan.


Kesempatan itu digunakan olehnya untuk melepaskan diri dari Pak James.


"Tolong perlakukan orang dengan sopan, Pak," hardiknya kepada Pak James dengan nafas memburu. Ia mengambil jarak beberapa langkah dari Pak James.


"Nadia, tenanglah. Kita buat kesepakatan." Pak James membuka tas clutch pria yang dipegang dan mengeluarkan setumpuk uang berwarna merah.


"Temani aku malam ini, dan ini untuk kamu," tawar Pak James menunjukkan setumpuk uang yang berada di genggaman, sambil melangkah mendekatinya.


Membuat darahnya mendidih.

__ADS_1


Untuk pertama kalinya seorang pria merendahkan harga dirinya jatuh ke titik nadir.


"Anda kira aku pe la cur? Aku disini ingin menjual rumah bukan menjual diri? Paham!" suaranya mulai meninggi, kedua tangannya membentuk kepalan.


Entah sejak kapan ia memiliki keberanian melawan laki-laki. Bahkan saat bertengkar dengan Tristan dulu pun ia lebih banyak diam daripada mengeluarkan kata-kata. Dipuncak kemarahan ia hanya bisa menangis.


Ia segera beranjak meninggalkan Pak James. Namun lengannya keburu dicegat.


"Jangan munafik Nadia, kamu butuh uang dan butuh kehangatan," gumam Pak James, menariknya dan berusaha menciumnya.


Sehingga tangannya bergerak refleks melayang ke pipi pria tua itu.


Pak James menghentikan aksinya dan menatapnya tajam. Tanpa ia duga tangan Pak James memberi balasan, melayang ke pipinya, menyebarkan rasa panas dan sakit pada pipi juga pada hatinya.


Sambil menangis ia berlari keluar dari rumah itu memegangi pipinya. Begitu mencapai mobilnya yang terparkir di pinggir jalan, tangannya membuka tas. Dengan gemetar dan terus menangis ia meraba-raba isi tas mencari kunci mobilnya.


Seorang pria yang berdiri tidak jauh darinya menghampirinya.


"Ada apa, Mbak?" tanya pria tersebut.


Sambil tersedu ia menunjuk ke rumah contoh, "Pria di dalam rumah itu kurang ajar," jawabnya.


Begitu mendapat kunci mobilnya ia segera naik ke atas mobil. Matanya sempat melihat pria yang mendekatinya masuk ke dalam rumah contoh sebelum ia mengemudikan kendaraannya meninggalkan perumahan tersebut.


******


Nadia menatap puteranya yang tertidur nyenyak dengan mata nanar. Rasa sakit pada pipi bekas tamparan Pak James tadi siang sudah tidak membekas. Namun rasa perih pada hatinya belum juga hilang akibat tindakan pecehan yang dialami.


Kejadian tadi siang membawa rasa takut baginya. Membuatnya trauma untuk memasarkan rumah dan bertemu dengan calon pembeli. Namun ia memilih diam dan memendam kejadian yang memilukan itu sendiri. Memang kepada siapa ia bisa mengadu?


Hanya pada Bimasena.


Tetapi sudah tiga bulan sejak ia kembali dari Venezuela, belum juga ada kabar dari Bimasena. Ia tetap berada dalam penantian tanpa kepastian.


Isi perutnya berputar perasaan ingin muntah setiap mengingat perilaku menjijikkan Pak James.


Pelecehan itu sangat tajam melukai jiwanya.


Saat ia sedang menyeka air mata yang kembali menetes, bel rumahnya berbunyi.


Siapa yang datang malam-malam begini?


Bahkan untuk membuka pintu pun ia terbawa rasa takut. Ia mengintip terlebih dahulu di jendela sebelum membuka pintunya. Saat mengetahui siapa yang mengetuk pintu, barulah ia membukanya.


"Mas Indra? Silahkan masuk!"


Ia merasa heran dengan kehadiran Danindra yang tiba-tiba tanpa kabar terlebih dahulu.


"Ada apa, Mas? Kenapa datang malam-malam?" tanyanya saat Danindra duduk di sofa.


"Lu nggak apa-apa?" Danindra malah bertanya kepadanya dengan ekspresi khawatir.

__ADS_1


"Maksud Mas Indra ... ?" Ia masih bingung atas pertanyaan Danindra.


"Karena James keparat itu," gerutu Danindra, membuatnya terkejut sekaligus merasa malu.


"Bagaimana Mas Indra tahu?"


Namun jawaban Danindra membuatnya lebih terkejut lagi.


"Lu nggak usah sakit hati, gua udah kirim pria tua itu ke rumah sakit. Untung saja gua masih punya hati, bila tidak, bangsat itu udah masuk tanah malam ini."


Bagaimana Danindra tahu? Apa pria yang tiba-tiba mendekatinya saat keluar dari rumah contoh adalah karyawan Danindra?


"Bagaimana Mas Indra bisa tahu?" ia kembali melontarkan pertanyaan yang sama.


Danindra tidak menjawab, hanya menunjukkan foto-foto pada handphone yang membuatnya membelalak.


Meskipun wajah pria di dalam foto bengkak dan berdarah, ia masih bisa mengenali pria tersebut.


Pak James.


"Mas, kenapa Mas Indra melakukan itu pada Pak James? Nanti Mas Indra ditangkap dan ditahan polisi seperti Bimasena," resahnya. Tentu saja ia tidak ingin kejadian yang menimpa Bimasena terjadi pada Danindra.


"Nadia, bedanya Bimasena dengan gua, Bimasena itu pemain otot. Makanya dia bisa menang melawan El Maro, tetapi berakhir di penjara. Kalau gua, pemain otak."


"Bila ingin memberi pelajaran pada seseorang, gak perlu mengotori tangan. Pemain otak itu pandai mencari celah untuk lolos dari jebakan hukum. Jadi tidak mungkin dijebloskan ke penjara seperti Bimasena," tukas Danindra membandingkan diri dari Bimasena.


Tapi ia tak lantas terpengaruh dengan ucapan Danindra yang mengandung kebanggaan. Ia hanya ingin mengungkapkan apa yang dirasakan hatinya kepada Danindra.


"Mas Indra, aku sudah takut menjadi marketing property, " ungkapnya kepada Danindra. Kejadian tadi siang membawa rasa trauma bagi jiwanya. Bukan tidak mungkin akan terjadi kembali karena ia bekerja sendiri. Belum memiliki team work seperti yang diusul Danindra.


Danindra mengangguk tanda mengerti. "Gua sih juga heran. Ngapain lu kerja kalau ngantongin black card dari Bimasena? Tapi bila lu tetep mau kerja karena ingin menjadi perempuan mandiri, kamu kerja di perusahaanku saja," tawar Danindra.


"Mungkin lu bisa masuk di FreddCo Energy, tapi gua jamin lu nggak bakal betah di sana. Di sana menerapkan high performance culture (budaya kinerja tinggi). Standar Kinerja Karyawan di freddCo Energy sangat tinggi."


Tawaran Danindra menjadi angin segar baginya, dikala ia mulai merasa lelah mencari konsumen serta tiba-tiba mengalami pelecehan.


Tetapi ada satu hal lagi yang ingin ia ungkapkan lagi pada Danindra.


"Mas Indra!"


"Ya Nadia. Kenapa?"


"Aku kangen Bima. Bagaimana kabarnya dia di sana?" ungkapnya dengan getir.


Danindra tersenyum kepadanya lalu memaparkan,


"Minggu depan Bimasena menjalani sidang terakhir. Bila ia bisa menghubungimu dan kembali ke Indonesia berarti ia divonis bebas. Tetapi bila ia tidak kembali setelah minggu depan, berarti ia divonis bersalah dan harus dijatuhi hukuman."


Tetapi pengakuan Danindra selanjutnya membuatnya terhenyak.


"Oh ya, pria yang menghampirimu di rumah contoh bukan orangku. Tetapi orangnya Bimasena. Yang ditugaskan khusus untuk menjaga keamananmu dan Glor."

__ADS_1


"Kamu pasti tidak pernah menyadari bila kemana-mana selalu dikutit kan?"


__ADS_2