REUNI INDAHNYA MENDUA

REUNI INDAHNYA MENDUA
119. Me and Reunion


__ADS_3

Reuni


Adalah hal yang paling dibenci dan dihindari Nadia saat ini.


Ia tidak ingin bertemu dengan teman-teman seangkatan. Karena ia merasa menjadi bahan bisik-bisikan dan gunjingan teman-temannya. Akibat dari skandal perselingkuhannya dengan teman alumni sendiri, Bimasena.


Tetapi mengapa ada saja sesuatu membuatnya sulit berkelit untuk menghindari perjumpaan dengan teman-teman angkatan?


Reyna, datang khusus ke rumahnya. Mengundangnya secara lisan untuk menghadiri acara pertunangan Reyna, yang dirangkaikan dengan acara reuni angkatan SMA mereka.


Dresscode, busana warna putih.


Mengapa harus dirangkaikan dengan reuni segala? Sesuatu yang sangat dihindarinya.


Seharian ia sudah memikirkan berbagai alasan untuk tidak hadir dalam acara pertunangan Reyna. Mulai dari sakit perut, sakit gigi, terjebak macet, ataupun sedang berada di luar kota.


Tapi ucapan Lily cukup menohok baginya.


"Tega banget sih kamu. Reyna udah datang khusus ke rumah buat ngundang kamu, eh kamu malah memikirkan alasan untuk tidak datang. Malu bertemu dengan teman-teman adalah konsekuensi dari perbuatan di masa lalu yang harus bisa dihadapi. Sampai kapan kamu akan bersembunyi dari teman-teman kamu?"


Akhirnya sebelum malam tiba, ia membuka lemarinya. Mencari baju berwarna putih sesuai dengan dresscode.


Tiba-tiba matanya tertuju pada satu gaun rancangan Mr. HT, yang rencana dikenakan untuk pertunangannya dengan Bimasena.


Hatinya seketika kembali porak-poranda mengingat pertunangan dan pernikahannya dengan Bimasena yang gagal.


Sudah sebulan berlalu sejak sidang putusan, Bimasena tidak kunjung datang. Mungkinkah ini berarti kekasihnya divonis bersalah dan harus menjalani hukuman kurungan? Tapi berapa lama?


Ia tidak tahu dimana harus mencari informasi mengenai Bimasena. Ia tidak bisa menghubungi keluarga Bimasena di Amerika.


Tidak mungkin bertanya pada FreedCo Energy, karena kasus Bimasena dirahasiakan.


Danindra juga memgangkat bahu, tidak mengetahui informasi perkembangan kasus Bimasena.


Membuatnya kehilangan harapan.


Apa gaun putih itu masih bisa ia gunakan?


Rasanya mustahil. Ia terperangkap di dalam bayang-bayang ketidak pastian. Mungkin ia harus menunggu bertahun-tahun untuk mewujudkan mimpinya bersama Bimasena, bila hati pria itu tidak berubah.


Rasanya ingin terbang jauh kembali ke Venezuela, menemui kekasih hati tercinta. Membawa rindu yang begitu menyesakkan. Keinginan untuk bertemu semakin menguat.


Apa gaun itu ia gunakan saja untuk menghadiri pertunangan Reyna? Karena ia tidak tahu kapan bisa menggunakan gaun itu untuk pertunangannya dengan Bimasena. Tidak jelas sampai kapan penantiannya.


Ia pun mengenakan gaun itu dan mematut dirinya di dalam cermin. Namun melihat bayangannya mengenakan gaun tersebut, malah membuat air matanya berderai oleh rasa perih mendera hati.


Ia tidak tahu kapan impian itu menjadi nyata. Atau mungkin semua hanya mimpi yang merupakan isapan jempol semata. Asa yang tak pernah tercapai.


Menunggu seperti pohon mati. Bersama rindu yang tertahan dalam buncah, serta janji setia yang ia jadikan pondasi agar tidak goyah.


Akhirnya ia melepas gaun itu. Karena gaun itu tak akan pernah meredakan tangisnya. Menggantinya dengan blouse putih dan rok senada. Berhias seadanya tanpa semangat.


"Mami mau menghadiri pesta pertunangan tante Reyna dulu ya. Glor sama Mama Nana dulu. Nggak boleh nakal ya!" pesannya pada Glor yang hendak ia tinggal di rumah bersama Mpok Nana.


"Mamiiiii." Seperti biasa, Glor akan menarik tangannya setiap kali ia hendak keluar rumah. Mencegahnya untuk pergi, enggan berpisah dengannya.


Sehingga Ia harus mengalihkan perhatian Glor terlebih dahulu. Lalu keluar rumah secara diam-diam dan dengan langkah yang senyap.


Ia mengemudikan kendaraannya menuju salah satu hotel termahal di Indonesia di Jalan Asia Afrika Senayan. Mungkin Reyna hendak bertunangan dengan seorang putera konglomerat. Karena bukan sembarang orang yang bisa menyelenggarakan wedding di hotel tersebut.


Ia sedikit terlambat tiba di acara Reyna. Begitu masuk ke dalam room, ia menemui wajah-wajah familiar teman-teman SMAnya, yang semua mengenakan pakaian serba putih.


Alfredo bersama isteri menjadi orang pertama yang menyapanya. Selanjutnya Glen, Janah, dan Mithalia. Semua menyapanya dengan ramah.


Reyna datang menyambutnya, mengulum senyum lebar padanya. "Makasih udah datang, Nadia."


"Selamat ya Reyna. Maaf terlambat," katanya, saling berciuman dengan pipi kanan dan kiri.


"Nggak terlambat kok, calonnya juga belum datang," sahut Reyna. "Kamu gabung dengan teman-teman ya!" sambung Reyna kembali.


Mungkin selera fashionnya dengan Reyna berbeda. Tetapi baginya gaun yang dikenakan Reyna terlalu sederhana untuk acara pertunangan di ruangan yang semewah ini.


Saat matanya sibuk memperhatikan penampilan Reyna, Pasangan Tristan dan Triyasih menghampirinya.


"Apa kabar Nadia?" tanya Tristan.


"Baik Tris, kalian bagaimana kabar?" jawabnya dengan ringkih. Ia yakin Tristan tahu bila ia sedang tidak baik-baik saja. Bahkan untuk berpura-pura baik-baik saja pun ia sudah tidak mampu. Dirinya terlampau rapuh.


"Seperti yang kamu lihat." Tristan saling berpandangan dengan Triyasih. Aura kebahagiaan pengantin baru terpancar pada wajah Tristan dan Triyasih.


Sebenarnya ia ingin bertanya kepada mereka, apakah mereka telah memiliki calon momongan. Tapi khawatir bila belum akan menyinggung perasaan Tristan. Sehingga ia mengurungkan niatnya.

__ADS_1


"Glor sehat?" tanya Triyasih kepadanya.


"Iya Glor sehat Mbak," jawabnya ramah kepada Triyasih.


Entah mengapa Tristan selalu memandangnya penuh senyum. Senyum misteri yang tidak bisa ia artikan.


Ternyata ia tidak terlambat. Karena Reyna masih menunggu calonnya yang masih dalam perjalanan menuju hotel.


Tetapi ia jengah, karena merasa mata teman-temannya banyak tertuju kepadanya. Melihatnya lalu saling berbisik-bisik. Tentu saja orang-orang sedang menggunjing dirinya. Membuat ia gerah berada di dalam ruangan yang begitu sejuk itu.


Kesalahan yang ia lakukan adalah mengenakan pakaian seasalnya saja. Padahal ia menghadiri sebuah acara pertunangan di sebuah hotel mewah. Pakaian yang ia kenakan lebih tepat digunakan sebagai pakaian kerja.


Belum lagi dandanannya yang seadanya saja. Rambut digerai begitu saja tanpa ditata. Semakin meruntuhkan tingkat kepercayaan dirinya. Menampakkan dirinya sebagai wanita muram ditengah-tengah orang yang berbahagia.


Karena mulai merasa risih sering menjadi bahan gunjingan teman-temannya, ia berjalan mendekati Janah. Memilih berdiri di dekat Janah sambil mengamati dekorasi gedung yang sangat memukai dengan konsep white elegant wedding.


Dekorasinya simpel namun sangat romantis. Ruangan dipenuhi dengan bunga mawar putih. Panggung dilapisi dengan karpet rose petals berwarna putih pula.


Di atas panggung yang berbeda, seorang penyanyi pria menyanyikan lagu Rhythm and Blues yang diiringi oleh sebuah band. Penyanyi dengan wajah yang begitu familiar karena sering muncul di layar TV.


"Calon Reyna kerja dimana?" tanyanya kepada Janah. Karena begitu terpukau melihat mewahnya lampu-lampu kristal yang tergantung di dalam ruangan. Juga sangat kagum dengan kemampuan calon suami Reyna yang mendatangkan artis papan atas yang tentu saja berhonor tinggi.


"Husss! Calon Reyna pengusaha tajir. Tapi sudah tua. Sudah memiliki cucu," bisik Janah yang membuatnya melongo.


"Umurnya berapa?" Ia turut memelankan suaranya.


"Enam puluh tahun."


"Hah?"


Apa Reyna sudah putus asa mencari pasangan? Sehingga memilih melabuhkan hati pada seseorang yang telah berumur hampir dua kali lipat dari usia mereka?


Atau Reyna silau oleh harta?


Tiba-tiba Mithalia datang menegurnya, membuat percaya dirinya semakin terdegradasi ke titik minus. Ingin menghilang saja dari ruangan tersebut.


"Idih Nad, kok kamu pakai baju begini sih untuk acara pertunangan. Sejak kapan penampilanmu asal-asalan seperti ini. Kamu nggak nyadar beda sendiri dari yang lain?"


Ia mengamati pakaian yang dikenakan oleh para undangan. Berwarna putih tetapi berbahan brokat, silk, lace, organza ataupun tulle. Tidak ada yang berpakaian kerja seperti dirinya. Begitupun para pria, mengenakan celana panjang dan kemeja putih.


Ia menyesal, mengapa tidak menggunakan pakaian rancangan Mr. HT itu saja. Tentu saja ia akan jauh lebih cantik dari Reyna ataupun Mithalia. Dan Mithalia tidak akan mengerdilkannya seperti ini.


Pandangannya yang tertuju pada MC teralih ke arah bawah, karena merasa roknya ditarik-tarik dari bawah. Melihat siapa yang menarik-narik roknya membuatnya membelalak.


"Glor?" Ia tidak percaya melihat makhluk kecil yang memeluk kakinya.


Ia pun berjongkok untuk menyesuaikan tinggi dengan Glor.


"Glor datang dengan siapa, Nak?" Ia mencium Glor lalu mengedarkan pandangan mencari Mpok Nana atau Bang Herial.


Mengapa Mpok Nana membawa Glor kemari?


Tapi kemudian ia heran dan bertanya-tanya karena,


"Mammiii," seru Glor menyodorkan sesuatu dari tangan mungil.


Tangan mungil Glor menggenggam sebuah bucket bunga kecil yang berisi bunga.


Bunga baby breath.


Bunga yang menjadi bagian perjalanan kisahnya dengan Bimasena.


Ia menerima bucket bunga tersebut dari Glor dengan mulut menganga dan hati yang diliputi tanda tanya.


"Ini bunga dari mana Glor?" tanyanya pada puteranya. Meskipun ia tahu, Glor belum bisa menjawabnya.


"Mamiii." Glor malah mengulurkan kedua tangannya, meminta untuk digendong.


Ia pun berdiri menggendong Glor. Saat matanya mencari-cari keberadaan Mpok Nana, ia melihat semua mata tertuju kepadanya. Tentu saja karena kehadiran Glor. Bukti perselingkuhannya dengan Bimasena.


Belum juga ia menemukan keberadaan Mpok Nana, MC sudah membuka acara, sehingga perhatiannya kembali tertuju ke atas panggung.


Selamat malam,


Hal-hal baik akan selalu terjadi pada orang-orang baik. Momen terbaik dalam hidup adalah ketika kekasih mengajak untuk menikah. Memiliki hidup yang baik adalah ketika hidup bersama dengan kekasih yang baik dalam cinta yang baik.


Sungguh hari yang menyenangkan bagi kita semua, bisa berkumpul di ruangan ini, untuk menyaksikan momen yang sangat berharga. Fase penting menunggu jenjang lebih tinggi.


Mengikuti acara pertunangan saudara kita ...


Nadia Humeerah dan Bimasena.

__ADS_1


Lalu pada layar proyektor yang berukuran besar sebuah tulisan muncul.


...Happy Engagement,...


...NADIA HUMEERAH DAN BIMASENA....


Membuat otot-otot jantung bereaksi dengan berdenyut lebih cepat. Aliran darahnya seakan berhenti mendadak.


Tunggu dulu ... apa ia tidak sedang tidur dan bermimpi?


Atau air putih yang ia minum tadi mengandung alkohol sehingga ia mabuk dan berhalusinasi?


Ataukah pikirannya sudah tidak normal lagi?


Dengan kening mengerut dan wajah bodoh tidak mengerti apa yang terjadi, ia kembali mengedarkan pandangan.


Hingga pandangannya berhenti pada dua sosok pria menawan nan rupawan berpakaian putih-putih.


Dua sosok pria yang mampu membuat wanita terpukau bila memandang mereka.


Danindra.


Danindra dan ...


Oh tidak.


Pria di sebelah Danindra yang menggunakan setelan jas putih tulang tersenyum penuh arti padanya. Pria itu ... Ia kenal pria itu. Bahkan ia lebih mengenal pria itu daripada Danindra.


Sambil menggendong Glor dengan satu tangan, ia menutup mulutnya dengan tangan yang lainnya, tidak tahu harus menangis atau tertawa.


Ia mengerti sekarang.


Tubuhnya mendadak menggigil.


Momen ini adalah mimpinya. Waktu yang ditunggu-tunggu. Ia tiba pada masa yang telah ditetapkan.


Tapi tolonglah dirinya ...


Bajunya ... riasannya ... rambutnya ... sepatunya ... sangat tidak pantas bersanding dengan pria bermata cokelat berpenampilan elegant yang berdiri di samping Danindra.


Apa yang harus ia lakukan?


Tolong dirinya ...


*********


Readersku tersayang,


Apa kabarnya hari ini? Semoga selalu diberikan limpahan kesehatan dan rezeki dari Sang Pencipta.


Selamat menunaikan ibadah puasa untuk umat Muslim beserta orang-orang tercinta. 


Sebagai ucapan terimakasih kepada dukungan readers, author akan memberikan gift berupa bunga artificial cantik kepada sepuluh readers dengan dukungan tertinggi yang dilihat pada episode terakhir.


Terima kasih atas segala dukungannya terhadap novel ini. Hanya Tuhan yang bisa membalas kebaikan readers.


Terus dukung author dengan vote, like dan komen.


Salam sayang pada kesempatan yang baik ini, bulan Ramadhan ini, untuk readers dari,


Author Ina AS


😘😘😘


FB: ina as


ig : inaas.author


**********


Bacaan baru untuk kalian (free coin)


,




Dan satu lagi novel romantis untuk kalian.


__ADS_1


__ADS_2