
Setiap sore sebelum pulang kantor, Tristan sekali-kali menyempatkan diri untuk bergabung bersama teman-temannya di smooking area yang terletak di dekat tempat parkir kendaraan.
Sambil berbincang dengan teman sesama auditor, Tristan meneguk Caramel Macchiato, minuman yang dipesan online dari sebuah kafe kekinian, kafe yang menawarkan berbagai jenis kopi.
Minuman Caramel Macchiato menjadi salah satu minuman favoritnya karena rasanya pas di lidah, tidak terlalu pahit dan tidak terlalu manis. Dibuat dari campuran caramel, espresso dan vanilla syrup.
Di smooking area itu juga terdapat beberapa teman wanita, meskipun mereka bukan perokok. Hanya bergabung untuk mengobrol. Salah satunya Hakimah.
Matanya sekali kali melirik Hakimah yang duduk di meja seberang menikmati green tea.
Hakimah baru saja masuk kantor setelah libur cuti menikah dan bulan madu.
Wajah Hakimah nampak berseri-seri, memancarkan aura kebahagiaan pengantin baru.
Hakimah tampak sangat segar dan penuh semangat. Tertawa renyah bercanda bersama teman-teman.
Wajarlah bila Hakimah nampak seperti itu, wanita itu baru menjalani kehidupan sebagai pengantin baru. Baru melihat yang indah-indahnya saja.
Berbeda dengan dirinya yang telah bertahun-tahun menjalani rumah tangga, kini rumah tangganya dilanda kemelut. Biduk rumah tangganya setelah dihantam badai memang tidak karam. Tetapi telah kehilangan arah.
Bila mengamati wajah teman-temannya satu persatu, mungkin hatinya iri dan cemburu. Tidak ada bias masalah besar yang terpancar dari wajah mereka. Apa hanya dirinya sendiri yang mengalami susah hati seperti ini?
Kebahagiaan memang tidak bisa dipaksakan dalam sebuah hubungan. Meskipun kembali menjalani hidup bersama Nadia, bukan berarti kemelut telah ia lewati. Karena saat ini Nadia menjadi orang yang berbeda. Mungkin Nadia bersama dirinya sekarang. Tetapi istrinya itu ternyata mengharapkan dan merindukan pria lain di luar sana.
Pilihannya hanya dua, bertahan di atas kapal yang kehilangan roda kemudi, atau melompat berenang ke tepian mencari asa baru.
Tetapi ada Yang Maha Mengatur, yang mengatur suka duka manusia. Ia tidak boleh berkata bahwa hidup tidak adil, karena tiap orang memiliki masalah sendiri.
Baru saja ia memandang iri dan cemburu kepada wajah bahagia Hakimah, dalam sekejap semua berubah.
__ADS_1
Seorang wanita berperut buncit seperti Nadia mendekati Hakimah, meminta waktu untuk berbicara. Sehingga dua wanita itu pun memisahkan diri, namun tidak jauh dan bisa terlihat dari smooking area.
Rasa penasaran membuat matanya mengawasi interaksi kedua wanita tersebut. Awalnya tampaknya pembicaraan keduanya sangat serius. Tidak lama kemudian terdengar teriakan histeris dari perempuan yang sedang hamil itu, yang berakhir dengan Hakimah yang setengah berlari sambil menangis meninggalkan wanita tersebut.
Apa yang terjadi?
Mungkin teriakan histeris wanita itu bisa menjawab rasa penasarannya.
"Perempuan tidak tahu malu itu menikah dengan suamiku," teriak wanita yang sedang hamil tersebut dengan penuh emosi sambil menunjuk Hakimah yang sudah berlari meninggalkan wanita itu.
Wanita itu sepertinya sengaja meninggikan nada suara, untuk memberitahu mereka informasi yang hendak disampaikan. Tujuannya hanya satu, mempermalukan Hakimah.
Sejak sore itu, dua hari berturut turut Hakimah tidak muncul di kantor. Baru muncul pada hari ketiga. Namun wajah wanita itu sudah kelabu, tidak menunjukkan binar bahagia lagi.
Ia sudah bisa menebak apa yang terjadi pada Hakimah. Tentu saja bila hal yang dituduhkan wanita itu benar, maka Hakimah sedang mendapat ujian yang luar biasa.
Saat ruang kantor menjadi sunyi karena beberapa pegawai sedang beristirahat siang, ia mendekati Hakimah di dalam kubikelnya. Wanita itu memandang hampa ke layar laptop di depannya.
Hakimah mengangguk dan tersenyum sendu kepadanya.
"Kamu kenapa Imah?" tanyanya pelan pada Hakimah.
Hakimah tersenyum getir, lalu menggigit bibir. Seolah menahan sesuatu yang bergejolak di dalam dada.
"Kak Agus membohongiku Kak. Dia bukan cuma membohongiku, dia sudah mempermalukan aku pada keluarga dan teman-teman." Satu kalimat terlontar dari mulut wanita itu langsung disertai dengan isakan tertahan.
"Membohongi bagaimana Imah?" Meskipun sudah bisa menebak, rasanya ia ingin memperjelas masalah yang sedang menimpa Hakimah.
"Kak Agus, ternyata sudah menikah sebelum menikahi aku. Tetapi mengakunya masih single padaku dan keluargaku. Bahkan mertuaku sendiri tidak tahu bila anaknya itu pernah menikah wanita lain sebelum aku."
__ADS_1
"Wanita hamil yang datang kemarin itu istrinya, Kak. Yang dinikahi lima bulan sebelum aku. Mereka menikah secara rahasia karena hubungan mereka ditentang keluarga Kak Agus. Semua diakui Kak Agus. Kak Agus menikahi wanita itu dengan terpaksa karena hamil, dan wanita itu mengancam akan merusak karir Kak Agus," lanjut Hakimah.
"Aku sakit, Kak. Aku malu," rintih wanita itu dengan suara yang mulai parau.
Hakimah, sungguh malang nasibmu.
Kadang-kadang ia tidak habis pikir. Banyak orang-orang cerdas tetapi begitu mudahnya diperdaya atau dibohongi oleh pasangan.
Salah satu contohnya, ya wanita yang ada di depannya sekarang. Hakimah.
Juga mungkin ... dirinya.
Ia dan Hakimah yang yang telah diakui memiliki keunggulan dalam tingkat kecerdasan, dengan segudang prestasi akademik dan beberapa penghargaan yang diterima, ternyata tidak lebih dari dua manusia bodoh. Manusia yang diperdaya oleh pasangan masing-masing.
Sialnya Hakimah baru kemarin menikah. Berbeda dengan dirinya yang menjadi korban dan mendapat simpati, Hakimah ditempatkan dalam situasi sebagai pihak yang bersalah karena telah menjadi orang ketiga.
"Lantas apa yang akan kamu lakukan?" tanyanya dengan nada suara yang rendah.
"Aku akan menunggu beberapa waktu, bila aku tidak hamil, aku akan mengajukan gugatan cerai pada Kak Agus," sahut Hakimah dengan suara yang lirih.
"Secepat itu Imah? Kamu sudah pikirkan dengan matang? Kamu sudah diskusikan dengan suamimu dan keluargamu? Jangan terburu-buru mengambil langkah seperti itu. Perceraian belum tentu menjadi solusi terbaik. Apalagi kalian menikah karena saling menyukai kan bukan dijodohkan?" Jelas ia tidak bisa menjadi penasihat pernikahan, karena ia menjalani kehidupan rumah tangganya saat ini dengan tertatih-tatih juga.
"Kak, wanita itu sudah hampir melahirkan. Tidak lama lagi ia memiliki anak yang butuh biaya hidup. Sementara dia nggak punya pekerjaan, nggak seperti aku Kak yang mampu membiayai hidupku sendiri. Dalam hal ini, aku yang jadi orang ketiga Kak meskipun tanpa aku sengaja. Aku yang berada pada posisi yang salah. Karena itu, aku yang harus mengalah."
"Aku nggak boleh marah pada wanita itu Kak meskipun dia sudah mempermalukan aku di kantor ini. Tindakannya itu hanya reaksi atas masalah yang menimpanya. Yang salah di sini adalah Kak Agus yang telah mendustai kami berdua," sambung Hakimah dengan mata berkaca-kaca.
"Aku tidak ingin berlama-lama menghabiskan waktu bersama orang yang salah, Kak. Aku harus melanjutkan hidup lagi," ujar Hakimah mantap meskipun air masih menggenang di mata wanita itu.
Satu kata yang ia berikan untuk Hakimah. Bijaksana. Ya, wanita itu sangat bijaksana. Juga memiliki empati yang tinggi. Mampu merasakan keadaan emosional istri pertama Agustiawan, meskipun wanita itu telah mempermalukannya di kantor ini. Membuat Hakimah menjadi buah bibir seketika.
__ADS_1
Bukan hanya cerdas, bijaksana dan memiliki empati yang tinggi. Dengat sangat cepat Hakimah bisa mengambil keputusan dan langkah yang berani atas masalah yang dihadapinya. Tidak seperti dirinya, yang menghanyutkan diri dalam pusaran masalah. Sulit untuk keluar karena telah terjebak dalam pusaran tersebut.
Maka sangat wajar, bila ia semakin mengagumi wanita di depannya. Hakimah.