REUNI INDAHNYA MENDUA

REUNI INDAHNYA MENDUA
92. Lautan Kekecewaan


__ADS_3

Bagai cacing kepanasan. Seperti itulah yang dirasakan oleh Tristan. Ia sangat gelisah dan tidak tenang dengan kehadiran rekan-rekan alumninya menjenguk Nadia dan bayi yang dilahirkan.


Segala pujian rekan-rekannya akan ketampanan, hidung mancung dan mata cokelat bayi itu semakin membuatnya nelangsa. Karena ia merasa pujian itu merupakan sindiran dan ejekan bagi dirinya, bila bayi itu bukan darah dagingnya.


"Duh Nadia, lucu banget bayinya. Mirip siapa ya? Mirip Tristan atau mirip kamu?" cakap Rahmania, menatap Nadia bergantian dengan dirinya.


"Mirip siapa ya? Hidung nggak mirip Nadia. Nggak mirip Tristan juga. Matanya cokelat, beda dengan mata Nadia dan Tristan," beber Mithalia, seperti sengaja mengolok-olok, mempermainkan perasaannya.


Sementara dirinya hanya bisa tersenyum simpul, dimana kedua bibir menutup rapat dan membentuk garis lurus di wajah, menyiratkan rasa malu yang teramat besar.


Ia tidak tahu bagaimana caranya bersandiwara agar terlihat baik-baik saja. Ia tidak pandai berakting. Luka yang belum mengering kembali menganga dan berdarah. Selamanya rasa malu karena aib rumah tangganya akan terus mengendap di dalam dirinya. Tidak akan terlupakan dan akan terus mempengaruhi dirinya.


Atas nama cinta, ia sudah mencoba berdamai dengan skandal istrinya. Tapi kehadiran bayi itu membuatnya jatuh kembali ke titik terendah. Ia tidak yakin bisa memperbaiki rumah tangganya. Karena setiap melihat bayi itu, maka wajah orang itu akan terbayang. Musuh yang disangka teman setia.


"Wajahnya perpaduan antara Tristan dan Nadia," tutur Janah, sekedar untuk menghibur hatinya, karena sangat jelas bayi itu mirip pengkhianat itu.


Kehadiran bayi itu kembali membuat jiwanya terguncang. Perasaan sedih, kesal, sakit hati, dan kecewa yang mendalam menumpuk membebani pikiran.


Batinnya sudah sakit menampung rasa malu dan perasaan terhina. Mungkin seperti itulah nasibnya, kemalangan terus menaungi dirinya. Dan saat ini, kata cinta dan kata maaf saja sudah tidak cukup untuk menjadi pondasi rumah tangga yang kokoh. Karena perselingkuhan merupakan bom atom dengan ledakan yang hebat, gelombang ledakannya merapuhkan landasan rumah tangga yang telah terbangun.


******


Nadia sangat iba dan kasihan melihat Tristan yang terpukul dengan kehadiran teman-teman alumni SMAnya. Suaminya menjadi lebih banyak diam dan duduk merenung sendiri. Namun Tristan tetap menemaninya di rumah sakit sampai ia dan Baby Glor keluar dari rumah sakit.


Ia tidak ingin terus menerus menyiksa Tristan dengan situasi seperti ini. Sehingga begitu pulang ke rumah, ia memindahkan box bayi ke kamar depan. Ia dan Baby Glor tidur di kamar depan. Ia berdalih pada mertuanya menjadikan kamar depan sebagai kamar bayi, agar mertuanya tidak mengkhawatirkan hubungannya dengan Tristan.


Kini ia menikmati hari-harinya dengan kesibukan menjadi seorang ibu dari bayi yang tumbuh semakin menggemaskan. Mungil dan lucu. Pipi semakin montok.


Setiap selesai memandikan baby Glor, ia akan mendandani bayi itu. Lalu mengambil foto dan mengunggahnya ke sosial media. Setiap foto atau video yang ia upload, panen komentar yang berisi pujian dan doa kebaikan untuk bayi tampannya yang bermata cokelat terang.

__ADS_1


Apakah pemilik mata cokelat yang di jauh di sana bisa melihat foto baby Glor?


Ataukah dirinya mengharapkan dia melihatnya?


*Apa Bimasena tahu kalau ia sudah melahirkan?


Entahlah*.


Ia masih menunaikan tugasnya, mengurus rumah dan menyiapkan makanan untuk Tristan. Tetapi ia sudah tidur terpisah dengan Tristan. Hampir setiap hari, Tristan pulang malam hari, sehingga waktu untuk berkomunikasi dengan Tristan sangat terbatas.


Ia tahu, Tristan sering pulang malam bukan karena banyak pekerjaan. Namun Tristan tidak betah lagi tinggal di rumah sendiri karena kehadiran baby Glor. Apalagi perhatiannya saat ini tertuju pada baby Glor.


Ia tidak ingin melewatkan masa-masa cuti melahirkan. Ia habiskan dengan mengamati perkembangan baby Glor. Mengamati bagaimana baby Glor saat menangis meminta ASI, bagaimana kaki dan tangan baby Glor yang bergerak seirama. Atau baby Glor yang tertawa saat sedang terlelap.


Mimpi yang indah anakku.


Sebuah keajaiban yang sangat disyukurinya. Namun kadang hatinya menangis melihat bayinya. Karena baby Glor penuh limpahan kasih dari seorang ibu, namun tidak merasakan buaian seorang ayah. Padahal bayinya sesungguhnya masih memiliki seorang ayah di dunia ini.


Tidak.


Ia tidak boleh mengganggu kehidupan pria itu lagi. Biarlah dia di sana meraih kebahagiaannya sendiri. Mungkin dia sudah bahagia dengan mantan Miss Venezuela ataupun wanita cantik berkelas lainnya. Ia yakin, bisa menjalani hidup meskipun hanya berdua dengan baby Glor.


Begitu juga dengan Tristan. Suaminya harus meraih kebahagiaan sendiri. Karena hidup bersama dengan dirinya sudah tidak menentramkan buat Tristan.


Sehingga begitu ada kesempatan yang menurutnya merupakan waktu yang baik untuk berbicara dengan Tristan, ia pun duduk di samping Tristan di sofa ruang tamu.


Saat ia duduk di samping Tristan, ia bisa melihat Tristan sedang membalas pesan melalui handphone.


"Glor sudah tidur," tanya Tristan, meliriknya sejenak, lalu kembali lagi antusias dengan handphone-nya.

__ADS_1


"Sudah," jawabnya singkat. Matanya terus memandang wajah Tristan.


"Aku mau minta maaf, kehadiran baby Glor membuat kamu merasa tidak nyaman," sambungnya.


Tristan meletakkan handphone yang ia pegang di atas meja, lalu tersenyum getir dengam pandangan ke arah handphone di atas meja.


"Ternyata tidak mudah. Bukannya aku tidak bisa menerima Glor, Nadia. Namun wajahnya selalu mengingatkanku pada wajah Bimasena." Tristan menatapnya, lalu melanjutkan, "Aku bisa memaafkanmu karena cinta dan ikatan pernikahan. Tetapi sampai saat ini aku belum bisa memaafkan orang itu. Luka di sini belum sembuh. Dan terasa perih setiap mengingat wajahnya." Tristan memegang dada.


Nadia turut tertawa getir, lalu menunduk dan berujar,


"Kita sudah berusaha memperbaiki hubungan kita yang pernah retak. Kita juga sudah berusaha mempertahankan rumah tangga kita."


"Aku berterima kasih karena kamu mau memaafkan dan menerima aku kembali. Karena tidak banyak suami yang bisa memaafkan istri yang tidak setia dan menorehkan rasa malu."


"Tetapi kesalahan yang aku perbuat teramat fatal. Mungkin kamu sudah berusaha keras untuk memaafkan dan memperbaiki hubungan kita. Kamu berjuang untuk ikhlas menerima aibku. Namun yang ada malah kamu tertekan oleh rasa sakit hati."


"Kamu tidak boleh terus menerus berpelukan dengan rasa kecewa dan sakit hati Tris. Kamu harus melepas duka lara karena dosa yang pernah kuperbuat dan bangkit menggapai kebahagiaanmu. Kebahagiaanmu tidak akan pernah sempurna bila aku dan baby Glor masih berada di dekatmu."


"Oleh karena itu, mulai esok kita lebih baik melangkah sendiri-sendiri. Sebaiknya kita ikhlas untuk saling melepaskan. Mungkin langit sudah memutuskan, kita harus berhenti sampai disini." Nadia berhenti berucap, karena ia mulai terisak.


Melihatnya menangis, Tristan membuka suara.


"Aku sudah mencoba bertahan terhadap terpaan badai cobaan, namun ternyata aku tidak mampu untu melewati masa-masa kelam. Sakit hati sudah merasuk ke dalam hati dan sulit untuk sembuh. "


"Aku terus terbenam dalam lautan kekecewaan dan kesedihan. Dan keadaanku yang seperti ini, tidak akan menentramkan jiwamu. Jadi seperti yang kamu ucakan, perpisahan lebih baik bagi kita. Lalu kita mencari kebahagiaan hidup masing-masing," lanjut Tristan.


Tristan diam beberapa saat.


"Kamu sudah siap?" tanya Tristan lirih padanya.

__ADS_1


Ia menyeka air matanya menggunakan jemari. Lalu menatap Tristan lekat-lekat dan menjawab,


"Ya, aku sudah siap," jawabnya mantap meskipun dengan suara yang serak.


__ADS_2