
Handphone-nya, hadiah dari Tristan itu juga ikut jatuh ke lantai, hingga layarnya retak seribu. Disusul tubuhnya yang ikut melorot ke lantai.
"Bima!" desah Nadia.
Ia menutup matanya, tidak sanggup memikirkan apa yang akan terjadi pada Bimasena. Ia bisa melihat melalui video bagaimana motor yang dikendarai Bimasena jumping, melayang, kemudian terhempas keras di tanah. Lalu Bimasena jatuh berguling-guling di tanah, meluncur dengan sangat cepat ke bawah tanjakan.
Bunyi notifikasi pesan group SMA mulai ramai. Tentu saja membicarakan insiden yang dialami Bimasena. Ia hanya duduk terpaku di lantai. Jiwanya tidak kuat untuk membaca pesan-pesan di group alumni. Belum siap, bila harus mendengar hal buruk.
Begitu melihat Tristan yang tiba-tiba masuk ke kamar, ia segera menghapus air matanya.
"Kamu kenapa? Kenapa menangis?" Tristan yang berdiri di depannya mengernyit.
Untung saja ia memiliki alasan yang bagus.
"Handphone hadiah dari kamu jatuh. Pecah," jawabnya dengan nada pelan.
Nadia menunjukkan ponselnya kepada Tristan.
"Nangis hanya karena itu? Cengeng banget sih. Tinggal dibawa ke service center-nya saja, selesai persoalan."
"Tapi biaya service-nya mahal Tristan."
"Biar mahal tetap harus diperbaiki kan? Kamu pakai handphone lama saja dulu. Biar aku yang bawa ke service handphone kamu."
Tristan berjalan menjauhinya.
"Tris, tadi Bimasena jatuh, kamu mau membesuk Bima?" Dadanya berdebar begitu menyebut nama Bimasena pada Tristan.
"Alfredo bilang Bima sudah dibawa ambulance ke Jakarta. Nanti kita besuk Bima di rumah sakit."
Kali ini ia bersyukur Tristan begitu manis padanya. Sangat jarang pria tersebut semanis itu. .
Karena penasaran atas kondisi Bimasena, Nadia membuka group alumninya pada sebuah aplikasi pesan dan membaca puluhan pesan yang membahas Bimasena.
Alfredo:
Bima sudah dibawa ambulance ke Jakarta. Belum tahu juga ke rumah sakit mana. Saya mengurus kendaraan Bimasena di sini. Sebentar juga kembali ke Jakarta.
Mithalia:
Semoga Bima nggak kenapa-kenapa ðŸ˜. Tapi Bima sadar kan?
Alfredo:
Sehabis jatuh Bima masih sadar. Cuman sekarang kurang tahu, karena Danindra yang menemaninya ke rumah sakit.
Angga:
Siapa yang bisa dihubungi untuk mengetahui di mana Bima dirawat?
Tristan:
Danindra. Ada yang punya nomornya?
Reyna:
Semoga tidak terjadi apa-apa pada Bima
Alfredo:
Saya sudah hubungi Danindra, katanya Bima dirawat di Rumah Sakit MRCCC Siloam. Sementara melakukan tes pencitraan CT scan untuk memeriksa pendarahan otak dan foto rontgen untuk mengetahui kondisi tulang.
Separah itukah Bimasena sampai harus menjalani CT scan dan foto rontgen?
Resah meruntun jiwa Nadia. Ia yang meminta Bimasena meninggalkannya, berhenti menemui Bimasena. Tetapi sekarang ia sangat ingin terbang menemui Bimasena. Menemaninya menjalani pengobatan.
Tentu ia tidak akan pernah lupa. Saat ia diserang cacar air, Bimasena lah yang membawanya ke dokter. Manakala Tristan memilih meninggalkannya ke rumah orang tua karena begiti takutnya tertular.
Bimasena bahkan tidak takut tertular ataupun merasa jijik. Tidak berhenti sampai disitu, Bimasena mendatangkan dokter ke hotel untuk memeriksanya padahal cacar airnya sudah sembuh.
Lalu apa ia sampai hati membiarkan Bimasena sendiri?
Mungkin banyak yang merawat Bimasena. Bisa jadi ibunya datang ke Indonesia. Ada Aurel sekretarisnya. Atau banyak wanita yang sukarela merawatnya.
Tetapi ia sangat ingin melihat keadaan Bimasena secara langsung.
Namun sebuah pesan yang dikirim Aurel, sekretaris Bimasena menggunakan handphone Bimasena, membuatnya nyaris menangis karena tidak bisa melihat Bimasena.
Bimasena:
Mohon maaf, saya Aurel sekretaris Pak Bimasena. Terima kasih atas perhatiannya semua kepada Pak Bima. Tetapi mohon maaf Pak Bima sedang beristirahat, belum bisa menerima kunjungan.
Mithalia:
Bagaimana kondisinya?
Tidak ada jawaban dari Aurel hingga berjam-jam atas peryanyaan Mithalia.
Membuatnya gelisah tidak bisa tidur.
Kali ini bukan hanya rindu yang merasuk kalbunya. Tetapi kecemasan turut menyempurnakan deraan penyiksaan padanya.
Keinginan menemui Bimasena begitu menghentak-hentak di dada. Tetapi ia hanya wanita yang tak memiliki daya. Untuk mewujudkan apa yang diinginkan jiwa.
Saat Tristan sudah tidur di sampingnya, ia berjinjit pelan keluar dari kamar. Keluar dari rumah. Berdiri di teras dengan gelisah. Sambil mengamati kondisi di dalam rumah, jangan sampai Tristan mendapatinya.
Ia membuka blokir nomor telepon Bimasena di handphone-nya lalu menghubungi nomor Bimasena.
Ia sendiri yang mengingkari ucapannya kemarin kepada Bimasena. Meminta Bimasena jangan menghubunginya lagi. Tetapi malah ia yang lebih dahulu menghubungi Bimasena. Mungkin inilah yang namanya lidah tidak bertulang.
Ia tidak memikirkan soal kesetiaan atau rasa gengsi lagi. Sekarang ia hanya ingin memastikan keadaan Bimasena.
__ADS_1
Tetapi ia hanya bisa menelan ludah. Karena nomor telepon Bimasena tidak aktif. Sehingga ia hanya mengirim pesan kepada Bimasena.
Nadia:
Bim, bagaimana keadaanmu?
Sepanjang malam ia hanya menunggu Bimasena membaca pesannya. Tetapi pesan itu baru terbaca saat pagi tiba, namun tidak terbalas.
Apa Bimasena sudah marah padanya?
Ia pun mengirim pesan lagi.
Ia menyadari sikapnya sudah sangat memalukan sebagai seorang wanita yang sudah bersuami. Hanya saja kekhawatirannya kepada Bimasena mengalahkan segalanya.
Nadia:
Maafkan aku Bim. Tolong katakan bagaimana keadaanmu? Bolehkah aku membesukmu?
Sama seperti sebelumnya, pesan itu dibaca tetapi tidak dibalas.
Sehingga akhirnya ia menitikkan air mata.
Benar, Bimasena sudah marah padanya. Ia dapat mengingat bagaimana ekspresi kecewa Bimasena malam itu.
Sekarang ia hanya bisa berdoa, semoga tidak ada cedera yang begitu serius setelah kecelakaan tersebut. Meskipun Bimasena sudah marah kepadanya.
Nadia:
Saya doakan kamu baik-baik saja Bim. Maafkan aku Bim.
Beruntung Tristan tidak berada di rumah pagi itu. Sehingga ia tidak perlu menyembunyikan linangan air matanya yang akhirnya jatuh satu persatu.
Ia tidak akan lupa bagaimana Bimasena selalu menghiburnya dikala lara. Saat sepi mendekap dengan hati yang tercabik. Bimasena datang seperti embun yang menyejukkan pagi.
Malang bagi mereka, semesta tidak berpihak. Karena di atas buku merah dan hijau, sudah lebih dahulu namanya bersanding dengan nama Tristan.
Bunyi dering handphone membuyarkan lamunannya. Harapannya untuk melihat Bimasena tumbuh kembali. Karena Mithalia menelponnya, mengajak membesuk Bimasena. Meskipun Aurel sudah terang-terangan mengatakan Bimasena tidak menerima kunjungan.
Tentu saja hanya mereka berdua yang nekat menemui Bimasena. Karena mereka memiliki rasa yang sama terhadap Bimasena. Mithalia menjadi penolongnya. Menjadi alasan kepada Tristan, menemani Mithalia membesuk Bimasena.
Begitu lincah Mithalia berburu informasi tentang Bimasena. Ia bisa tahu Bimasena dirawat di kelas perawatan Presidential Suite Rumah Sakit MRCCC Siloam Semanggi.
"Maaf bisa sebutkan namanya Mbak? Kami akan konfirmasi kepada pasien dulu," tanya perawat yang bertugas, dari balik meja resepsionis.
"Mithalia dan Nadia," jawab Mithalia singkat. Sangat tidak sabar hendak bertemu Bimasena.
Nadia mengamati gerak-gerik perawat yang sedang berbicara lewat intercom itu. Beberapa saat kemudian perawat itu berucap,
"Maaf Mbak, Pak Bimasena sedang istirahat. Hari ini tidak bisa menerima kunjungan."
Ia dan Mithalia hanya bisa saling menatap dengan penuh rasa kecewa.
"Bagaimana keadaan Bimasena sust?" tanya Nadia penuh rasa penasaran.
Apakah sesulit itu untuk mengetahui keadaan Bimasena?
Dengan langkah lunglai ia meninggalkan rumah sakit bersama Mithalia. Pulang tanpa temu, tidak ubahnya mendidihkan rindu. Membuat rindu semakin meletup-letup.
Ya, sekarang sudah sangat jelas, Bimasena tidak ingin bertemu dengannya. Nadia yakin, Bimasena tidak menolak kedatangan Mithalia. Tetapi menolak kedatangannya.
Ingin rasanya menangis, tetapi ia berusaha sekuat mungkin menahannya agar tidak terlihat oleh Mithalia. Agar percik rindunya pada Bimasena tidak terbaca oleh Mithalia.
Tidak adakah ruang dan waktu untuk melihat Bimasena? Meskipun hanya sesaat saja. Demi membunuh rindu. Dan memastikan bahwa Bimasena baik-baik saja.
*******
Hari ini Nadia tidak punya semangat untuk berangkat ke salon. Namun bekerja adalah pilihan yang paling tepat, demi meredam semburat keinginan bertemu pria itu yang terus mengusik.
Sesal tidak berhenti membahana di dalam jiwa. Ia telah mengecewakan pria yang sudah datang dengan tembang manis, menyiram bunga-bunga yang telah layu di taman hatinya. Sampai bunga itu mekar, merekah dengan sempurna.
Dan sekarang begitu keinginan bertemu menguasai diri, menenggelamkan semua ego dan janji hatinya untuk menjaga ikrar suci pernikahan, Bimasena sudah tidak ingin menemuinya lagi.
Kepalanya pusing tujuh keliling.
Jiwanya hancur berkeping-keping.
Meskipun demikian, ia harus menerima kenyataan hidup.
Dirinya hanya sosok rapuh yang mudah terombang-ambing.Yang melangkahkan kaki dengan penuh bimbang. Tidak mampu membedakan mana kanan mana kiri.
Saat ia berlari menuju Bimasena, Bimasena telah berpaling dan pergi.
Keadaan memang tidak pernah berpihak padanya.
"Anriani tidak datang?" tanya Nadia pada salah seorang karyawannya.
"Anriani demam Mbak. Tadi menelpon minta izin," jawab karyawannya itu.
Terjun lansung melayani pelanggan Facial sambil mengobrol dengan pelanggan sedikit bisa mengalihkan perhatiannya pada Bimasena.
"Dik, ada nggak di tempat kuliahnya yang kuliah S1 seumuranku?" tanya Nadia pada pelanggannya yang merupakan mahasiswa S1 di sebuah perguruan tinggi swasta.
"Banyak Mbak. Bahkan ada yang jauh lebih tua lagi. Mereka mengambil program non reguler."
Ia bertanya bukan sekedar basa-basi. Tetapi ia memiliki keinginan untuk berkuliah. Agar Tristan tidak melulu menyindir dirinya yang hanya memiliki tiga ijazah. SD, SLTP dan SLTA.
"Mbak, handphone-nya bunyi," seru seorang karyawannya.
Dari tadi ia mendengar handphone yang ia letakkan di atas meja di ruang kerjanya berdering, tetapi ia begitu bersemangat membicarakan perihal kuliah dengan pelanggannya sehingga ia mengabaikannya.
"Nanti saya telpon kembali! Coba lihat dari mana!" Tangannya melakukan pijatan memutar di pipi pelanggannya.
__ADS_1
"Bimasena!" seru Agustina.
Seruan Agustina tidak urung membuatnya melonjak.
"Tina, lanjutkan. Pijat wajah." Tanpa mengucapkan maaf pada pelanggangnya ia melesat masuk ke ruang kerja menyambar handphone dan segera menggeser tombol hijaunya. Seraya merutuki kebodohannya dalam hati yang membiarkan handphone-nya berdering dari tadi. Ia sungguh tidak menyangka Bimasena akan menelponnya.
Nadia : Bima, bagaimana keadaanmu?
Nadia tidak mampu membendung air matanya, begitu terharu Bimasena masih ingin menelponnya.
Bimasena : Ya beginilah. Maaf kemarin tidak menemui kamu.
Nadia : Tidak masalah. Tapi kamu nggak apa-apa kan?
Bimasena : Nggak apa-apa. Hanya Badan masih terasa sakit dan patah ..."
Belum selesai Bima berbicara Nadia langsung menyela. Nadia histeris setengah berteriak
Nadia : Kaki kamu patah? Jadi kamu nggak bisa jalan Bim?"
Ia membayangkan kaki Bimasena berbalut perban, menggunakan tongkat penyanggah untuk menopang tubuhnya ataupun kursi roda.
Bimasena tidak menjawab. Hanya terdengar desahan di seberang sana.
Dengan hati-hati Nadia berucap,
Nadia : Bim, boleh aku membesuk kamu?
Bimasena : Kamu masih ingin menemuiku Nadia?
Nadia : Nggak boleh ya?"
Bimasena : Apa aku pernah melarang? Bukankah kamu yang tidak ingin bertemu denganku?
Nadia : Jadiii?
Suara Nadia lirih dan penuh keraguan.
Bimasena : Datanglah, tapi datang sendiri. Jangan bersama siapapun. Baik itu Tristan maupun Mithalia. Di apartemenku.
********
Matanya menatap kagum pada apartemen yang menjulang dengan sangat megah di depannya. Yang keluar masuk dari apartemen itu kebanyakan warga negara asing. Yang jelas WNA itu merupakan ekspatriat, warga negara asing yang tinggal sementara di Indonesia karena suatu tugas negara ataupun profesional. Bukan imigran ataupun pengungsi.
Kesan pertama begitu ia masuk ke lobby adalah mewah dan menyenangkan. Lobby apartemen diperindah dengan sentuhan seni, menciptakan ruangan yang estetik melalui penambahan benda-benda seni. Benda seni yang dipajang berupa lukisan, ukiran dan pahatan.
Susunan kursi juga tidak begitu berhimpitan, sehingga pengunjung tidak perlu merasa risih bila lama menunggu.
Apartemen di daerah Casablanca ini memiliki sistem keamanan tingkat tinggi. Untuk mengakses unit apartemen, digunakan Card access system.
Nadia dijemput seorang wanita yang ia pikir maid Bimasena di lobby.
Begitu masuk ke unit Bimasena, ia hanya mendapati sofa yang kosong dan sepi.
"Pak Bima menunggu di kamar. Mari Bu, saya antar ke kamar," ucap wanita yang menjemputnya di lobby.
Di kamar?
Tiba-tiba hatinya merasa sungkan melangkah masuk ke kamar Bimasena. Sangat tidak sopan bila seorang wanita masuk ke kamar pria, meskipun ia sudah pernah melakukan ... dengan Bimasena.
Begitu ia masuk ke dalam kamar Bimasena, ia semakin risih karena pintu secara otomatis terkunci.
Kunci pintu kamar Bimasena merupakan jenis kunci pintu elektronik yang memakai sistem pengamanan canggih. Hanya dapat diakses dengan sidik jari, atau keypad memakai PIN yang dapat diubah sesuai keinginan. Bahkan bisa dikendalikan dari jarak jauh untuk memberikan akses kepada tamu.
Nadia mendapati Bimasena sedang berbaring di atas tempat tidur king size, lux minimalis.
Dadanya berdebar melihat pria itu hanya mengenakan kaos singlet. Separuh tubuhnya ke bawah tertutup selimut.
Bimasena mempersilahkan Nadia duduk di sisi tempat tidur.
Tetapi Nadia memilih menarik kursi dan duduk di atas kursi tersebut. Ia heran sendiri dengan sikapnya yang sangat kaku. Padahal sebelumnya ia bahkan ingin langsung memeluk Bimasena dan bertanya, yang mana sakit sayang?
Berada di dalam kamar Bimasena saja sudah membuatnya risih apalagi harus duduk di dekat Bimasena.
Beberapa saat mereka hanya saling menatap tanpa berbicara.
Kondisi itu membuat Nadia kebingungan hendak berkata apa, karena tatapan Bimasena sangat menghujam. Ia menyadari bila ia sudah salah tingkah dibawah tatapan mematikan itu.
Terlebih lagi Bimasena tidak seperti biasanya. Tidak ada senyum yang terurai dari bibir pria itu. Tatapan Bimasena menikam jantungnya. Seperti hendak menerkamnya. Membuat bulu kuduknya meremang.
Mungkinkah pria itu marah kepadanya?
******
Readersku tersayang,
Mohon maaf atas jadwal update novel yang tidak menentu. Semata-mata karena kesibukan author di dunia nyata. Dan kecepatan author dalam menyiapkan naskah yang sangat terbatas. Semoga novel ini menghibur.
Yang ingin membuka ruang komunikasi dengan author bisa mengunjungi
Facebook: Ina AS
Instagram: inaas.author
Salam sayang dari Author Ina AS
😘😘😘
Jangan lupa baca karya lain dari author.
__ADS_1