
Nadia mondar-mandir keluar kamar dengan gelisah. Sudah pukul sembilan malam Bang Herial masih duduk di ruang tamu merokok.
Apa Bimasena akan menunggunya sampai larut malam?
Saat ia mendengar pintu kamar Bang Herial terbuka lalu tertutup, ia memastikan bahwa Bang Herial sudah masuk ke dalam kamarnya. Namun ia tetap harus sabar menunggu, sampai Bang Herial dan semua penghuni rumah sudah terlelap, barulah ia beraksi.
Tidak ubahnya maling, menunggu yang punya rumah lengah, lalu beraksi. Jantungnya berdebar tak karuan. Bukan hanya karena belum pernah melakukan hal seperti ini. Ketakutan menyelimuti hatinya. Bila Bang Herial mengetahui ia hendak kabur dari rumah, pasti pipinya akan dibuat lebam lagi oleh Bang Herial.
Alam menolongnya dengan menjatuhkan hujan dari langit. Sehingga suara berisik air hujan yang jatuh di atas seng, bisa menyamarkan langkah kakinya keluar dari kamar menuju ruang tamu.
Lampu yang sudah dimatikan oleh Bang Herial membuatnya tidak leluasa melangkah, khawatir menabrak sesuatu. Ia tertolong oleh cahaya dari kamar Bang Herial dan Maurika, serta cahaya lampu rumah tetangga yang masuk melalui jendela.
Begitu langkahnya sampai di pintu rumah, tangannya meraba-raba mencari kunci rumah. Tetapi ternyata kunci rumah dicabut oleh Bang Herial dan ia tidak tahu Bang Herial meletakkannya di mana.
Rasanya ingin menangis karena tidak berhasil menemukan kunci rumah.
Tetapi ia belum kehilangan akal. Jendela ruang tamu tidak dilengkapi dengan besi pengaman.
Ia pun bergerak perlahan menuju jendela, membuka kuncinya dengan perlahan. Tetapi saat ia membuka jendela menimbulkan bunyi derit, yang disusul bunyi batuk Bang Herial dari dalam kamar.
Jantungnya serasa hampir copot. Nafasnya tidak beraturan. Sehingga ia melorotkan tubuhnya ke lantai untuk menenangkan diri terlebih dahulu.
Setelah kembali bisa bernafas dengan normal, ia berdiri. Membuka jendela, lalu mengeluarkan satu kakinya ke luar jendela disusul kaki yang lainnya.
Ia belum bisa bernafas lega meskipun berhasil keluar dari jendela.
Dengan pelan, ia menutup jendela. Tidak begitu rapat agar tidak menimbulkan bunyi derit.
Ia berjalan mengendap-endap menuju pintu pagar. Dan ia kembali terhalang dengan pintu pagar yang digembok.
Dari dalan pagar, matanya mengamati rumah tetangga, mudah-mudahan tidak ada yang melihatnya. Karena ia akan memanjat pagar.
Mungkin karena hujan deras, membuat suasana gang cepat sepi. Para penghuni telah masuk ke dalam rumah masing-masing.
Ia pun berusaha memanjat pagar tanpa alas kaki.
Seumur hidup untuk pertama kalinya ia memanjat pagar. Ternyata bukan hal yang mudah.
Jantungnya juga tidak bisa diajak berkompromi. Bertalu-talu sejak ia mencoba keluar dari kamar.
Begitu sampai di puncak pagar, ia pun turun perlahan-lahan. Ia tidak boleh melompat, karena harus menjaga kandungannya.
Dan begitu berhasil turun dari pagar, ia melangkah tergesa menyusuri gang. Secepat-cepatnya meninggalkan rumah Bang Herial. Tidak peduli tubuhnya basah kuyup karena derasnya air hujan.
Semoga Bimasena masih menunggunya di luar sana. Karena ia sama sekali tidak memiliki uang satu rupiah pun dan juga alat komunikasi. Bagaimana bisa menemui Bimasena bila ternyata pria itu sudah pulang?
Langkahnya semakin dipercepat begitu ia mendekati mulut gang.
Tetapi sebuah suara laki-laki mengejutkannya.
"Mbak Nadia mau kemana?"
Suara yang berasal dari teras sebuah rumah, tempat ngumpul Bang Herial dengan para tetangga untuk bermain domino.
"Ke depan," ia menjawab seadanya tanpa melihat ke pemilik suara, serta semakin mempercepat langkah kakinya.
Tetapi begitu ia mencapai mulut gang, sebuah teriakan kembali mengejutkannya.
"Mbak Nadia, tunggu!"
Jantungnya semakin tidak terkendali.
Tanpa menoleh ke belakang ia pun segera berlari menuju minimarket.
Beberapa mobil terparkir di depan minimarket 24 jam itu. Dengan tergesa ia menghampiri sebuah sedan berwarna hitam dan mengetuk jendela depan sekuat-kuatnya.
Semoga saja yang berada di dalam adalah Bimasena.
******
Bimasena sudah pesimis, Nadia akan datang menemuinya. Tidak mungkin Nadia bisa melalui Bang Herial. Terlebih lagi hujan turun dengan sangat derasnya.
Namun ia akan tetap menunggu. Ia akan menunggu sampai hampir pagi. Sambil menyusun strategi.
Bila tiga hari menunggu dan Nadia tidak kunjung datang, maka ia akan mendatangi kembali rumah Bang Herial. Lalu membawa Nadia pergi dari rumah itu, dengan cara apapun.
Tapi ia baru memikirkan bagaimana cara membawa Nadia keluar dari rumah Bang Herial, sebuah ketukan yang sangat keras di jendela mengagetkannya.
Saat ia memandang ke arah jendela, tampaklah seorang wanita yang sedang basah kuyup dan panik di luar mobil. Ia pun segera keluar dari mobil, setengah berlari menyambut Nadia.
"Cepat pergi Bim! Mereka melihat aku keluar gang."
Ia pun membuka pintu untuk Nadia, membantu wanita itu masuk ke dalam mobil, lalu menyusul masuk ke belakang kemudi."
"Buruan Bim. Tetangga akan melapor ke Bang Herial."
Nadia sangat ketakutan dan panik. Padahal ia bermaksud untuk memeluk Nadia, meredakan ketegangan wanita itu.
Ia pun mengurungkan diri memeluk Nadia dan segera mengemudikan kendaraannya, keluar dari parkiran minimarket.
"Lebih cepat Bim! Jangan sampai ada yang mengejar kita."
Nadia menggigil, entah karena kedinginan atau karena ketakutan.
Satu tangannya meraih tangan Nadia, menggenggamnya dengan erat lalu menciumnya.
"Jangan takut sayang, kamu bersamaku sekarang. Tidak ada yang akan mengganggumu."
Ia berusaha menenangkan Nadia. Jelas ia khawatir melihat kepanikan Nadia, karena Nadia sedang mengandung.
Ia mengambil botol air minumnya. Lalu disodorkan kepada Nadia.
__ADS_1
"Minum dulu sayang."
Nadia menerima botol itu. Tetapi tidak meminumnya, hanya memangkunya.
Nadia semakin panik. Karena dua orang yang berboncengan sepeda motor memepet mereka. Meminta mereka untuk berhenti.
"Jangan berhenti Bim. Itu tetangga Bang Herial. Mereka itu preman, kalau kamu berhenti mereka akan mengeroyokmu." Suara Nadia penuh kegelisahan, semakin menyayat, disertai tangisan pula.
Ia sama sekali tidak takut pada pengendara yang mengikuti mereka. Ia lebih takut melihat kepanikan yang melanda Nadia. Khawatir dampaknya terhadap kandungan Nadia
*******
Nadia merasakan keram pada perutnya. Ia tidak pernah setegang ini. Terlebih lagi pengendara sepeda motor yang mengikuti mereka, memukul jendela mobil di sisi Bimasena menggunakan potongan kayu.
Ia semakin ketakutan melihat Bimasena geram dan mengumpat, "Keparat," lalu pria itu menepikan kendaraan.
"Jangan Bim, jangan keluar!" Ia menahan tangan Bimasena demi mencegah Bimasena keluar dari kendaraan.
"Kunci pintu dari dalam," pesan Bimasena sebelum keluar dari mobil. Ia tidak dapat mencegah lagi, karena wajah Bimasena diliputi amarah.
Pengendara sepeda motor itu menghentikan kendaraannya tepat di depan kendaraan mereka, lalu keduanya turun dari sepeda motor berjalan ke arah Bimasena.
Ia semakin panik. Adakah orang yang akan menolong mereka?
Nadia menuruti perintah Bimasena mengunci semua pintu mobil dari dalam.
Ia hanya bisa menangis, melihat Bimasena di luar berdebat dengan dua pria yang ia kenal sebagai tetangga Bang Herial. Sementara hujan semakin deras mengguyur tubuh ketiga pria di depan mobil.
Nadia menjerit histeris manakala melihat salah satu dari pria itu mengayunkan potongan kayu kepada Bimasena. Tetapi Bimasena ternyata mampu berkelit lalu membalas dengan mengayunkan tendangan melingkar. Pria yang memegang tongkat itu pun terhempas ke jalan.
Nadia kembali menjerit melihat Bimasena mendatangi satu pria lagi dan menyerangnya dengan satu pukulan, membuat pria itu jatuh tersungkur.
"Cukup Bim," ia berteriak dari dalam mobil melihat Bimasena menendang pria yang sudah tersungkur itu.
Tidak cukup sampai disitu, ia melihat Bimasena menarik kerah baju pria yang tadi memegang potongan kayu, lalu mengancamnya. Pria itu menangkupkan kedua tangan, mungkin memohon maaf kepada Bimasena. Barulah Bimasena melepaskan tangannya.
Mungkin Bimasena meminta kedua pria itu untuk segera pergi, karena dengan susah payah keduanya bangun, segera naik ke atas sepeda motornya, lalu melajukan sepeda motor dengan kecepatan tinggi.
******
Bimasena kembali naik ke atas mobilnya, setelah menyelesaikan urusan dengan dua pria yang membuntuti mereka.
Tetapi ia mendapati Nadia sudah terkulai lemas di atas kursinya. Tampaknya wanita itu sangat shock melihat secara langsung adegan perkelahian tadi.
"Nadia, kamu kenapa sayang?"
Ia pun membuka tutup botol air mineral, lalu membantu Nadia untuk meminumnya. Setelah meminum air itu, barulah Nadia terisak.
"Apa Bang Herial yang meminta mereka mengikuti kita?" tanya wanita itu dengan wajah yang begitu memilukan.
"Iya, begitu melihat kamu lewat, orang itu menelepon Bang Herial. Dan Bang Herial meminta mereka mengikuti kita." Ia menutup botol air mineral dan meletakkan botol itu di sampingnya.
"Tidak akan terjadi apa-apa Nadia, kamu jangan takut."
Begitu tiba, ia menggandeng tangan Nadia masuk ke dalam Apartemen, lalu naik ke unitnya.
Mereka berdua sama-sama basah kuyup.
Begitu memasuki unitnya, ia menggandeng tangan Nadia ke dalam kamar. Mengambil handuk untuk Nadia, dan baju kaosnya dengan size terkecil.
"Kamu pakai bajuku dulu, besok aku minta Aurel membawa pakaian perempuan untukmu."
Tanpa kata Nadia menerima handuk dan kaos yang ia berikan lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Begitu Nadia masuk ke dalam kamar mandi, ia pun segera mengganti pakaian basahnya.
Kemudian ia meminta maid-nya membuat soup untuk Nadia, karena melihat wanita itu menggigil kedinginan juga ketakutan.
Nadia mungkin masih shock dengan kejadian tadi, sama sekali belum pernah bersuara sampai sekarang. Hanya mengangguk dan menggeleng bila ia menanyakan sesuatu.
******
Nadia membilas tubuhnya dengan air hangat. Ketegangan yang ia rasakan sedikit meluruh bersama air yang jatuh dari atas shower menyiram tubuhnya.
Ia tidak percaya dengan apa yang baru dilaluinya. Kabur dari rumah Bang Herial lewat jendela dan memanjat pagar. Berjalan di tengah derasnya hujan tanpa alas kaki demi menemui sang kekasih hati.
Berkejaran-kejaran dengan pengendara sepeda motor. Lalu melihat Bimasena mengeroyok dua orang sekaligus.
Dan sekarang ia telah berada di apartemen Bimasena. Tentu bukan hal yang bijak bila mereka tinggal seatap sementara belum terikat pernikahan. Lalu langkah apa yang paling tepat yang harus ia lakukan selanjutnya?
Sudah terlalu lama ia berdiri merenung di bawah shower. Guyuran air mampu menyegarkan kembali pikirannya dan meredakan ketegangannya. Ia pun mematikan shower dengan teknologi canggih itu, yang menggunakan peranti digital untuk mengatur sistem dan penggunaannya.
Sebelum mengenakan baju kaos yang diberikan oleh Bimasena, ia menyadari masalah besarnya malam ini. Ia tidak memiliki pakaian dalam cadangan, sementara pakaian dalamnya tadi sudah basah oleh air hujan.
Ia mengamati bayangan tubuhnya di dalam cermin. Yang mengenakan baju kaos putih milik Bimasena.
Apa Bimasena sengaja memberikan kaos yang tipis seperti ini? Sangat jelas bila ia tidak menggunakan bra.
Hanya kaos tanpa bawahan pula. Sehingga ia begitu risih keluar dari kamar mandi tanpa pakaian dalam dan hanya menggunakan handuk sebagai bawahan.
Rupanya Bimasena sudah mengganti pakaian basahnya. Pria itu mengenakan kaos dan celana pendek.
Begitu melihatnya keluar dari kamar mandi, Bimasena berdiri, membawa selimut untuknya dan melilitkan selimut itu pada tubuhnya. Sehingga ia tidak perlu merasa risih lagi dengan pakaian yang ia kenakan.
"Kamu pasti kedinginan," ucap pria itu.
Tubuhnya menghangat seketika. Bukan hanya karena selimut yang melilit tubuhnya. Tapi karena perlakuan Bimasena.
Terlebih lagi Bimasena menciumnya dengan penuh kelembutan, menggendongnya dan membawanya ke tempat tidur. Membuatnya seketika lupa dengan situasi menakutkan yang baru saja dialaminya.
Ia duduk bersandar pada headboard tempat tidur Bimasena. Sementara Bimasena duduk menghadap ke arahnya.
__ADS_1
Mengapa situasi yang dialaminya kembali menegangkan?
Bila berada jauh dari pria itu rasa rindunya bukan main, ingin segera memeluk pria itu. Tetapi ketika berada dalam tatapan mata cokelat tegas itu, ia berubah menjadi boneka kayu yang pemalu. Diam melongo menatap wajah anggun di depannya.
Saat pintu kamar diketuk dari luar, Bimasena berdiri membuka pintu, dan kembali membawa semangkuk soup asparagus kepiting yang tampaknya sangat lezat.
Bimasena mencoba soup itu dulu untuk mengukur panasnya, sebelum disuapkan kepadanya.
"Enak, pas panasnya. Kamu makan soup ini dulu ya?" suara pria itu melembut, lalu suapan pertama diberikan Bimasena kepadanya.
Ia bahkan tidak tahu membahasakan bagaimana rasa soup itu, yang ia tahu hanyalah bagaimana rasanya disuapi oleh Bimasena. Rasa soup itu biasa-biasa saja. Tapi disuapi Bimasena lah yang membawa rasa yang luar biasa.
Kehangatan yang sempurna. Selimut, soup panas dan wajah yang menawan. Ia menarik selimut hingga ke dagunya.
"Bagaimana kamu bisa keluar dari rumah Bang Herial?" sambil menyuapi, Bimasena mulai menginterogasi.
"Lewat jendela lalu memanjat pagar."
Untuk pertama kalinya ia melihat mata cokelat itu membulat. Mungkin Bimasena tidak percaya dengan aksi nekat yang dilakukannya.
Pria itu mendesah menyesali diri, lalu berguman, "Ini kesalahanku. Harusnya aku yang datang menjemputmu di rumah itu, bukan menunggumu dan membiarkan kamu lewat jendela dan melompati pagar."
"Kamu tidak akan bisa melewati Bang Herial Bim," suaranya begitu lirih.
"Kamu masih meragukan kemampuanku Nadia?" pria itu tersenyum, kembali menyuapinya.
Ia pun ikut tersenyum, lalu menyadari bila sedari tadi ia makan sendiri. Tidak ada perhatiannya sama sekali pada Bimasena. Calon istri macam apa dirinya?
"Bim, kok aku terus yang disuapin, kamu nggak makan soup-nya?"
Tetapi Bimasena malah menjawab lain.
"Kamu pernah dengar dongeng raksasa yang baik hati nggak?"
Apa Bimasena akan berdongeng untuknya?
Ia sudah beberapa kali membaca dongeng raksasa. Tetapi ia ingin mendengar Bimasena berdongeng untuknya. Sehingga ia menggeleng, agar Bimasena bercerita untuknya.
Mengapa ia kembali seperti anak kecil yang manja? Entahlah. Salahkah bila ia bermanja pada Bimasena?
Bimasena mulai bercerita.
"Raksasa baik hati itu tinggal di sebuah gua di balik gunung. Suatu hari seorang manusia yang mencari paku sayur di hutan, tersesat dan nyasar ke guanya. Raksasa yang baik hati itu menyambut, melayani tamunya dengan baik. Memberi air dan makanan berupa buah-buahan dari persediaannya. Manusia itu memakan dengan lahap karena kelaparan."
Sambil tersenyum ia mendengarkan Bimasena bercerita untuknya. Lihatlah! Betapa pandai pria itu menghibur jiwa. Bagaimana ia tidak luluh lantak dibuatnya. Nekat kabur lewat jendela dan melompat pagar demi bertemu pria ini.
Bimasena kembali menyuapinya sebelum lanjut bercerita.
"Setelah manusia itu kekenyangan, raksasa yang baik hati masih membuatkan soup ayam untuk manusia itu. Lalu menyuapinya pula. Bukankah ia raksasa yang baik?"
Ia tersenyum dan mengangguk. Merasa geli sendiri. Mengapa ia laksana anak kecil yang mendengar dongeng dari orang tuanya. Sekarang ia akui, Bimasena merupakan calon ayah yang baik. Melihat begitu sabarnya pria itu menyuapinya sambil bercerita untuknya.
"Manusia itu kembali memakan soup buatan Raksasa, bukan karena kelaparan lagi, tapi karena soup itu sangat lezat." Bimasena kembali melanjutkan.
Mungkin dongeng pria itu mengandung sihir. Padahal hanya dongeng pasaran. Atau mungkin suara pria itu mampu menghipnotis. Membuat ia terpukau, matanya lekat-lekat menatap wajah mengagumkan itu. Tidak ingin mengalihkan pandangan dari sana.
"Anggap saja, aku raksasanya dan kamu manusianya. Haruskah manusia itu berterima kasih kepada raksasa?" tanya pria itu.
Ia pun tertawa mendengar bualan Bimasena. Ternyata dongeng itu hanya karangan Bimasena, bukan dongeng rakyat.
"Terima kasih Pak Raksasa yang baik hati," ucapnya sambil tersenyum, tanpa sadar arah dongeng Bimasena ke mana.
Malah berharap mendapat ciuman kembali dari Bimasena. Mengapa otaknya jadi mesum begini?
"Kamu salah, bukan manusia yang harus berterima kasih, tetapi raksasanya yang harus berterima kasih kepada manusia." Bimasena memberi suapan terakhir untuknya karena soup-nya telah habis.
Dengan perasaan tersanjung ia bertanya dengan polosnya, "Mengapa?"
Bimasena tersenyum licik lalu berujar, "Karena setelah soup-nya habis, dan manusia itu sudah kekenyangan, raksasa akan menyantap manusia."
Nadia bergidik seketika, bulu kuduknya berdiri. Ia tidak dapat lagi menelan soup terakhir, begitu mengerti maksud dongeng tersebut dan kemana arah Bimasena.
Tetapi terlambat, sekarang ia telah terkurung di dalam gua tempat tinggal raksasa.
Berhadapan dengan raksasanya pula.
Soup-nya telah habis dan ia sudah kekenyangan.
Oh tidak ...
Masih bisakah manusia itu lolos dari raksasa di depannya? Atau akan menjadi santapan raksasa malam ini?
******
Readersku tersayang,
Bagaimana kabarnya hari ini?
Semoga tetap dalam curahan kesehatan dan kebahagiaan.
Tidak berhenti Author mengingatkan, jangan menanam bibit selingkuh, jangan sampai tumbuh tidak terkendali. Novel ini sekedar hiburan semata. Bukan untuk ditiru. Mudah-mudahan ada nilai positif yang bisa dipetik meskipun seujung kuku.
Terima kasih atas segala apresiasi dan dukungannya.
Salam sayang dari Author Ina AS
๐๐๐
Facebook: INA AS
IG : inaas.author
__ADS_1
GC: Ina As