
Nadia memejamkan mata, berusaha menikmati, bagaimana rasanya duduk di pangkuan Bimasena. Bagaimana rasanya sentuhan bibir lembut pria itu di lehernya, serta tangan Bimasena yang menggelitik perut dan pinggangnya.
Selalu saja, dengan mudah Bimasena menenggelamkannya. Hanyut dalam cumbuan lembut berirama. Membuat otaknya tidak mampu berpikir.
Berbagai rasa bercampur aduk menjadi satu. Kehangatan merayap mengikuti aliran darahnya. Tulangnya lemah tak berdaya, karena sentuhan tangan Bimasena. Ia melayang-layang di atas pangkuan Bimasena, merasakan berbagai sensasi.
Dengan mata yang berkabut, ia menatap bibir pria itu. Perlahan bibir sexy pria itu merekah membentuk sebuah senyuman. Ia hanya terdiam, karena melihat senyum itu, membuat sesuatu di dalam dirinya meleleh.
Tetapi bunyi deru mesin kendaraan Tristan suaminya, membuatnya tersentak. Dengan segera melompat dari pangkuan Bimasena dan berlari secepat cheetah masuk ke dalam kamar. Meninggalkan Bimasena sendiri di ruang tamu tanpa permisi.
Dengan nafas memburu ia bersandar pada pintu kamar.
Apa yang baru dilakukannya?
Membiarkan Bimasena mencumbuinya di tepi jurang? Bagaimana bisa seberani itu melakukannya dalam ruang dan waktu yang penuh dengan risiko. Ia menjadi ngeri sendiri memikirkan apa yang baru saja ia lakukan tadi dan dampaknya bila Tristan memergoki mereka.
Ia kemudian berdiri di depan cermin untuk melihat seperti apa dirinya saat itu. Dan ia terkesiap manakala melihat Bimasena meninggalkan jejak samar pada lehernya. Apa Bimasena sengaja? Dengan segera ia menutupinya menggunakan rambut. Dan berharap Tristan tidak pernah memperhatikan kissmark itu.
******
Bimasena hanya bisa diam terpana, lalu tertawa sendiri, saat wanita yang sedang ia pangku tersentak kaget, melompat dari pangkuannya dan melesat ke dalam kamar tanpa kata. Hanya karena mendengar suara mobil Tristan yang kembali dari minimarket membeli rokok.
Padahal Nadia tidak perlu sepanik itu. Mungkin mereka masih bisa berciuman beberapa detik, lalu turun pelan-pelan dari pangkuannya dan berjalan santai masuk ke dalam kamar. Bukan berlari secepat peluru seperti dikejar hantu.
Sekarang ia hanya bisa mengumpat kesal, karena jarak minimarket teramat dekat. Tetapi ia menyadari kebodohannya, sudah tahu waktunya kritis, malah bermain-main mendidihkan hasratnya sendiri di atas kompor. Dan tidak memiliki jalan untuk menyelesaikan.
Sekarang dirinya ibarat musafir kehausan, melihat minuman menyejukkan tersaji di depannya, tetapi tidak bisa meneguknya. Ia hampir memaki kala Tristan dengan senyum manis, datang menyodorkan rokok kepadanya.
Bukan rokok yang aku mau Tristan, aku butuh istrimu.
*********
Hari ini Nadia membawa pakaian ganti ke salon. Karena ia sudah janji bertemu Bimasena sebentar malam. Memenuhi keinginan pria itu bertemu di luar adalah pilihan yang lebih baik, ketimbang setuju atau tidak setuju Bimasena tetap datang ke rumahnya.
Bimasena : Ketemu di mana sebentar?
Tanya pria itu saat menghubunginya lewat sambungan telepon.
Nadia : Di tempat yang nggak ramai.
Bimasena : Hotel?
Hotel? Oh tidak. Ia sangat yakin Bimasena akan mengulangi kembali kejadian malam itu di rumahnya bila mereka bertemu di hotel, berduaan di dalam kamar hotel. Jelas ia tidak akan mampu menghalangi Bimasena. Sehingga lebih baik ia mencegahnya lebih awal.
Nadia : Jangan Bim, jangan di hotel.
Bimasena : Mall?
Nadia : Apalagi mall, bisa jadi ada yang mengenali kita.
Bimasena : Oke, kalau begitu kamu yang tentukan kita bertemu di mana. Aku ikut.
Sekarang ia jadi bingung harus bertemu Bimasena di mana. Mengapa Jakarta yang begitu luas terasa jadi sempit? Dimana-mana ia takut ada mata yang memergoki mereka jalan berdua.
Nadia : Aku bingung Bim mesti ketemu di mana.
Jawabnya dengan suara lirih.
Bimasena : Kalau begitu aku yang tentukan tempatnya. Kamu ikut saja.
Dan sore setelah Nadia mandi di salonnya, ia masuk ke dalam ruang kerjanya untuk berpakaian dan berhias. Ia harus tampil maksimal karena ia akan berkencan dengan Bimasena. Kencan? Menyebut kata itu mendadak ia dihujani rasa bersalah pada Tristan.
Ia merasa geli pada dirinya sendiri. Membeli busana baru demi terlihat menarik dalam pandangan Bimasena.
Dan yang lebih menggelikan, ia membeli pakaian dalam baru dan mahal pula, hanya karena hendak bertemu Bimasena. Padahal jelas-jelas ia tidak boleh membiarkan Bimasena melihat pakaian dalamnya, terlebih melakukannya lagi.
Lalu mengapa ia mesti menggunakan pakaian dalam dengan harga tidak masuk akal baginya? Cukup menguras isi dompetnya. Jangan tanya, ia juga tidak tahu apa jawabannya. Atau ia malu untuk menjawabnya.
Ia hanya ingin berjaga-jaga. Jangan sampai busananya tersingkap dan Bimasena melihat ia mengenakan pakaian dalam murah, yang ia beli dengan harga discount, seperti yang ia kenakan malam itu.
Ah alasan!
Mengapa otaknya jadi tidak senonoh seperti ini? Efek Bimasena sudah membuat otaknya tidak waras.
Rasanya ingin melihat kembali rambut basah pria itu karena keringat. Hanya pria yang rutin berolahraga bisa melakukannya selama itu.
__ADS_1
Cukup Nadia, apa yang kamu pikirkan?
Nadia ingin membenturkan saja kepalanya yang selalu berpikiran erotis bila mengingat pria yang penuh daya tarik itu.
Dan sekarang Nadia sudah menggunakan pakaian dalam baru, bra dan underware berenda dengan warna pastel yang senada.
Ia juga menggunakan dress selutut, draped neck, potongan leher dengan aksen lipit yang berpotongan lebih rendah.
Bimasena bermaksud menjemputnya, tetapi ia memilih menggunakan taxi online untuk menghemat waktu karena mereka tidak searah. Ia seperti cinderella, memiliki jam pulang. Bahkan ia harus pulang sebelum jam 10 malam untuk menghindari murka Tristan.
Mereka akan bertemu dan makan malam di sebuah restoran ala Eropa yang menyajikan makanan khas Perancis, di Senopati, Kebayoran Baru.
Dan saat ia tiba di tempat tersebut, ia melihat pria penuh pesona tersebut sudah menunggu di depan pintu restoran. Dalam setelan jas lengkap dengan dasi. Ia yakin Bimasena masih menggunakan pakaian kerjanya tadi siang. Tetapi pria itu terlihat sangat segar.
Nadia memilih bersembunyi dari pandangan Bimasena terlebih dahulu, untuk mengatur nafas dan jantungnya yang refleks berdebar-debar begitu melihat lelaki yang telah meracuninya.
Sekaligus untuk memastikan kembali riasan wajah dan penampilannya melalui cermin kecil di dalam tasnya. Untuk menghalau perasaan tidak percaya diri yang selalu menghinggapi. Karena menganggap dirinya tidak seimbang dengan Bimasena. Tidak pantas untuk Bimasena.
Ia mencoba mengingat-ngingat bagaimana teknik berjalannya dulu di atas catwalk. Karena ia harus berjalan dengan anggun ala peragawati ke arah Bimasena yang telah menunggunya di depan resto.
Dan setelah manarik nafas beberapa kali untuk menormalkan degup jantung ...
tiga, dua, satu ...
Ia pun berjalan dengan langkah teranggunnya menuju Bimasena.
Pria itu mengurai senyum begitu menyadari kedatangannya. Memandangnya berjalan dengan tatapan terpukau.
Lihat, ia berhasil memukau Bimasena bukan?
Tetapi kesombongannya hanya bersifat sementara. Karena terlalu sibuk ingin mempesonakan Bimasena, ia gagal melihat anak tangga di depannya. High heels yang ia gunakan terpeleset. Beruntung ia tidak sampai terjatuh. Bayangkan bagaimana malunya bila ia harus terjatuh untuk kedua kalinya di depan Bimasena.
"Kamu nggak apa-apa Nadia?" Dengan sigap Bimasena sudah meraih tangannya seraya memandangnya dengan raut penuh kekhawatiran.
"Nggak," jawabnya tersenyum malu-malu. Jelas ia berbohong. Mungkin kakinya sudah terkilir karena terasa sakit saat melangkah. Sehingga ia bergelayut pada lengan Bimasena saat melangkah masuk ke restoran.
Restoran ini rupanya memiliki ruangan pribadi. Sehingga ia tidak perlu resah dan gelisah bila ada mata yang mengenali mereka. Bimasena memang sangat mengerti apa yang diinginkannya.
Ia baru pertama kalinya masuk ke restoran mewah ini. Interior dari restoran ini kental dengan suasana Eropanya, dengan furniture kayu yang disusun secara cantik, lampu gantung chandilier mini yang bergantung di setiap meja. Hingga suasananya yang sedikit temaram membuat makan malam di restoran ini seperti layaknya makan malam di Perancis.
Romantis bukan? Kalian pasti iri.
"Kok menu pilihannya kebanyakan salmon? Suka salmon ya?" tanya Bimasena sambil memotong daging steak-nya.
"Lagi pengen aja." Jawaban yang kurang jujur, karena sesungguhnya ia memilih makanan yang bisa membuatnya makan dengan elegan di depan Bimasena. Tentu ia tidak ingin mengulangi insiden kepiting saat dinner pertama kali mereka.
"Coba steak ini deh, empuk banget dagingnya." Bimasena memindahkan beberapa potongan daging steak ke dalam piringnya. Pria itu tidak menyuapainya seperti waktu lalu, karena meja lumayan lebar, sehingga mereka agak berjarak.
Tetapi saat mereka menikmati apple tart, Bimasena berdiri, pindah duduk di samping kirinya. Menggeser kursi demikian rapat, sehingga lengannya dan lengan Bimasena tidak berjarak.
Genderang pun kembali berbunyi, bertalu-talu di dadanya.
Terlebih dengan santai pria itu melingkarkan tangan kanan di bahunya dan menyilangkan kaki. Sehingga sebahagian kaki kanan Bimasena berada di atas paha Nadia.
Seketika tubuhnya kaku seperti kayu. Tart apel yang ia kunyah berubah menjadi batu, betapa sulit untuk ditelan.
Matanya jelalatan mencari pengatur suhu ruangan. Karena tangan dan kakinya mendadak menggigil begitu dirangkul Bimasena. Juga karena lutut dan sebahagian paha Bimasena yang berada di atas pahanya.
Ia bisa merasakan bagaimana hangatnya tubuh pria di sampingnya. Ia juga bisa mencium wangi yang berkelas itu. Semua itu sangat manis, tapi menyiksa.
Sekarang ia tidak tahu bagaimana meletakkan tangannya. Apakah ia meletakkan tangannya di atas paha Bimasena? Ingin rasanya tangannya membelai paha pria itu. Tetapi tidak mungkin ia melakukan hal yang memalukan tersebut.
Bimasena mungkin menyadari kerikuhan dirinya. Sehingga tangan kiri Bimasena yang bebas, meraih tangan kirinya dan meletakkan di atas paha Bimasena. Tetapi ia tersentak dan menarik kembali tangannya, karena Bimasena meletakkanya secara asal sehingga terlalu dekat dengan pangkal paha pria itu.
Bimasena pun tertawa seketika.
"Nadia, kamu tuh kayak anak kemarin sore aja."
Anak kemarin sore? Bukankah Bimasena yang terlalu mahir bagi seorang pria yang masih bujangan? Jelas ia sangat berpengalaman. Salah satu hal yang ia harus tanyakan nanti bila memiliki kesempatan.
Bimasena mempererat rangkulannya, lalu tangan kiri pria menggenggam tangan kirinya dengan erat. Membawanya kembali ke tempat yang sama dengan tadi, dan mengunci tangannya di sana.
Membuat wajah dan dadanya terbakar. Ia sadar bahwa rona kemerahan sudah menyebar di seluruh pipinya.
Sempurnah lah penyiksaan yang dilakukan Bimasena kepadanya. Mengapa tidak sekalian pria itu membunuhnya saja?
__ADS_1
"Biiiiiim," rengeknya berusaha menarik tangannya, karena tangan kirinya berada didekat sesuatu yang berbahaya.
Tetapi pria itu tidak peduli. Semakin erat menggenggam tangannya dan tidak melepaskannya. Mata cokelat itu bercahaya penuh gairah.
Mengapa terhadapnya Bimasena menjadi pria yang tidak berprikemanusiaan? Begitu senang melihatnya tersiksa seperti ini.
********
"Nadia, aku ingin menanyakan sesuatu kepada kamu. Kamu jangan tersinggung ya?" tanya Bimasena dengan hati-hati. Sudah saatnya ia membicarakan hal ini kepada Nadia.
"Tanya apa?" jawab Nadia ragu. Mungkin hati wanita itu bertanya-tanya apa yang hendak ditanyakan olehnya.
"Kamu janji akan menjawab dengan jujur dan terbuka?" Ia harus memastikannya sebelum bertanya.
Nadia pun mengangguk dengan ragu. Kepala Nadia mendongak menatap wajahnya dengan raut wajah penasaran.
"Kamu punya masalah? Masalah keluarga misalnya?"
"Maksudnya?" tanya Nadia, tidak mengerti. Beberapa detik wanita itu menatapnya dengan bingung.
"Maaf, kamu punya kakak dan kakakmu memiliki masalah yang berdampak terhadap kamu?" Ia menatap wanita itu dalam-dalam.
Nadia terhenyak. Mulut wanita itu membulat mendengar pertanyaannya.
"Kamu tahu dari mana Bim? Tristan yang cerita ke kamu ya?" Nadia malah balik bertanya kepadanya.
"Kamu tidak perlu tahu, aku tahu dari mana." jawabnya lagi.
"Nadia begini, berapa sisa utang kakak kamu di bank? aku akan menutupnya agar tidak membebani kamu lagi."
Tetapi ternyata Nadia tidak semudah yang ia kira.
Nadia menggeleng, "Tidak Bim, utang kakakku tanggung jawabku, bukan tanggung jawab kamu."
"Aku hanya ingin membantu agar kamu tidak terbebani setiap bulannya Nadia. Niatku baik kok. Kamu jangan menanggapinya buruk. Dan jangan anggap aku orang lain."
"Aku nggak menanggapinya buruk, tapi aku masih mampu kok Bim. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan itu." Jawab Nadia mantap. Suasana hati wanita itu tiba-tiba berubah.
Bimasena akhirnya hanya bisa menghembuskan nafasnya dan tersenyum kecut atas penolakan yang ia dapat dari Nadia.
Berbeda dengan kebanyakan orang. Ingin dibantu malah menolak. Niat baik tidak diterima
"Oke baiklah. Tetapi kalau kamu ada masalah, beritahu aku ya. Terbukalah kepadaku. Jangan menutup-nutupi sesuatu." Tangannya kirinya yang menggenggam tangan Nadia kini mengelus-elus pipi halus Nadia menggunakan punggung jari.
"Kamu mengerti sayang?" lanjutnya dengan lembut. Tetapi penuh penekanan dan intervensi.
Nadia hanya tersenyum dan mengangguk. Tetapi ia kurang yakin, Nadia akan terbuka kepadanya. Karena ia sudah mulai mengenal pribadi Nadia.
********
Sekarang kesempatannya untuk bertanya kepada Bimasena dua hal yang selalu mengganjal pikirannya.
"Bim, aku mau tanya sesuatu. Kamu jangan tersinggung ya? Dan jawab terbuka."
Bimasena tertawa karena ia membalikkan ucapannya tadi.
"Kamu mau tanya apa? Tanya saja. Saya akan mengatakan apa adanya."
Ia berpikir sejenak, mencoba merangkai kata yang paling sopan. Tetapi begitu pertanyaannya terlontar, ia menyadari, bahwa kalimatnya sama sekali tidak sopan.
"Bim, sebelum aku, kamu menjalin hubungan dekat dengan wanita yang sudah bersuami juga?"
Bimasena terperangah dengan pertanyaannya, memperhatikannya sejenak, namun akhirnya tertawa.
**********
Hi readersku tersayang,
Apa kabarnya? Semoga tetap dalam limpahan kesehatan dan kebahagiaan.
Mohon maaf karena UP novelnya kelamaan. Semata-mata karena berupaya memberikan yang terbaik bagi readers, sehingga author tidak pernah memaksakan diri untuk update lebih cepat bila tulisannya masih mengganjal di hati author sendiri.
Terima kasih karena sudah menunggu UP novel ini.
Hal-hal yang kurang baik jangan ditiru. Readers cukup melihat sisi positif novel ini saja.
__ADS_1
Salam sayang dari Author INA AS
๐๐๐