
Nadia berpikir sejenak, mencoba merangkai kata yang paling sopan. Tetapi begitu pertanyaannya terlontar, ia menyadari, bahwa kalimatnya sama sekali tidak sopan.
"Bim, sebelum aku, kamu menjalin hubungan dekat dengan wanita yang sudah bersuami juga?"
Bimasena terperangah dengan pertanyaannya, memperhatikannya sejenak, namun akhirnya tertawa.
"Nadia, kalau sebelumnya aku berhubungan dengan wanita yang sudah bersuami juga, berarti aku menderita kelainan jiwa. Apa kamu berpikir aku suka merusak rumah tangga orang? Nggak sama sekali Nadia. Awalnya aku sudah berusaha mencegah diriku, tetapi ternyata aku tidak mampu membendung perasaan dan keinginanku memiliki kamu."
"Jadi belum pernah sebelumnya?" Nadia ingin memperjelas.
Bimasena kembali tertawa, lalu menggeleng-gelengkan kepala atas rasa penasarannya yang tidak masuk akal.
"Ini pengalaman pertamaku tersesat."
Entah mengapa Nadia kurang senang mendengar kata 'tersesat ' keluar dari mulut Bimasena.
"Kalau tahu tersesat mengapa diteruskan?" protesnya.
Sekarang Bimasena menatapnya dalam-dalam. Menyapukan ibu jari tangan kiri pada bibirnya.
"Nadia, karena keadaan, kita mesti tersesat dahulu sebelum mencapai jalan yang benar. Mungkin jalan yang akan kita tempuh berliku dan penuh kerikil tajam. Tetapi tetaplah bersamaku, karena langkahku akan menuntunmu ke jalan yang benar."
Darahnya berdesir mendengar ucapan Bimasena. Meskipun ia tidak tahu pria di depannya berkata jujur atau tidak, tetapi semakin membuatnya terpikat pada pemilik mata cokelat itu.
"Lalu mengapa kamu begitu tenang dan santai, tidak ada takut-takutnya sama sekali meskipun Tristan ada di dekatmu?"
Bimasena tersenyum, masih memandanginya lekat-lekat.
"Nadia, itu tergantung kemampuan seseorang untuk besikap tenang dan menguasai keadaan. Kita harus mampu menguasai berbagai keadaan dan menjadi pengendali keadaan tersebut," jawab pria itu.
Tetapi sekarang Bimasena tidak sekedar menyapukan ibu jari pada bibirnya, tetapi memasukkan ibu jari melewati bibirnya.
Tubuhnya pun menegang dibuatnya.
Apa yang harus ia lakukan?
Menggigit ibu jari Bimasena?
Atau mengisapnya?
Mengapa hanya karena ibu jari yang melewati bibir saja ia jadi panas dingin?
Entahlah, ia tidak mengerti.
Pria di depannya begitu terlatih.
Terlatih?
Oh tidak, ia baru ingat satu hal lagi. Satu pertanyaan lagi.
Dengan pelan ia menepis jari Bimasena dari mulutnya.
"Masih ada yang hendak aku tanyakan Bim," ucapnya lirih dengan nada ragu.
"Tanyakanlah apa yang ingin kamu tanyakan. Jangan mengendapkannya di hatimu."
Ia diam sejenak, menatap Bimasena. Sambil menimbang-nimbang kalimat yang akan dilontarkan. Apakah tidak akan membuat Bimasena tersinggung?
"Malam itu ... saat ... " Nadia terhenti, karena begitu berat mengucapkannya.
"Saat apa Nadia? Teruskan, jangan ragu." Bimasena menatap wajahnya lekat-lekat.
"Malam saat reuni, dan kamu mengantar aku pulang, itu bukan yang pertama bagi kamu kan?"
Ia yakin, Bimasena sudah mengerti apa yang ia maksud, tetapi pria itu malah meledeknya.
"Bukan pertama kali mengantar kamu pulang? Memang bukan pertama kali, sebelumnya kan sudah beberapa kali mengantar kamu pulang ke rumah."
"Biiim, bukan itu maksudku." Nadia merengek. "Kamu nggak usah pura-pura nggak ngerti deh."
Bimasena akhirnya tergelak, lalu berucap, "Makanya perjelas sayang. Ngomong aja susah. Yang di belakang pintu dan yang di atas sofa maksud kamu?" Bimasena mengucapkannya tanpa risih sama sekali.
Seketika wajahnya memanas mengingat kejadian memalukan itu. Saat memasrahkan tubuhnya dijelajahi Bimasena, dan membiarkan pria itu melakukan apapun yang diinginkan.
"Iya, itu," jawabnya malu-malu dengan wajah merona.
"Mengapa kamu tanyakan itu?" Bimasena malah balik bertanya padanya.
"Karena kamu sangat ahli, sangat berpengalaman. Padahal masih ... lajang."
Tawa Bimasena meledak. Terbahak-bahak. Membuatnya memasang wajah cemberut pada Bimasena.
__ADS_1
"Itu naluriah Nadia, tidak butuh pengalaman," ucap Bimasena setelah tawanya berhenti.
"Tetapi itu bukan yang pertama, sudah pernah sebelumnya."
"Sudah berapa kali?" Nadia langsung memotong.
Bimasena kembali tertawa mendengar pertanyaan bodohnya.
"Sering kali, gak pernah menghitungnya."
Matanya membelalak. Kali ini ia sangat percaya, Bimasena tidak mungkin berbohong. Tetapi pengakuan Bimasena membuatnya merinding.
"Kenapa kaget begitu?"
"Biiiim, kamu belum menikah," ucap Nadia dengan mata membulat.
"Nadia. Aku sudah tiga belas tahun di Amerika. Pacarku, kalau bukan American, ya European. Kamu tahu kan, dalam hal itu mereka sangat bebas." Bimasena mengucapkannya tanpa rasa bersalah, membuat ia memandang wajah pria itu tak percaya.
"Makanya, aku mau menikah, tetapi bagaimana caranya? Kamu masih terikat dengan Tristan?"
"Berapa wanita?" tanya Nadia kembali.
Bimasena mengernyit, lalu kembali tertawa.
"Berapa wanita?" tanya Nadia mengulanginya.
"Nggak usah tahu, jangan sampai kamu shock."
Bimasena tidak ingin terbuka sehingga pikirannya berkelana. Pasti pria di sampingnya sudah tidur dengan banyak wanita. Lantas ia wanita keberapa?
"Lebih dari dua orang?"
Bimasena tertawa, "Kamu tidak perlu tahu yang itu Nadia. Nggak penting."
Memang benar kata Bimasena. Ia menanyakan hal yang tidak penting. Karena seandainya Bimasena pernah tidur dengan ratusan wanita pun, ia sudah terlanjur terpikat.
"Ih kamu casanova deh."
"Bukan, aku bukan typical casanova. Aku pria yang setia. Pacar terakhirku, Margareth, tiga tahun lebih baru kami putus."
"Kenapa putus?"
"Dia nggak mau aku pindah ke Indonesia. Tetapi saat aku ke Amerika kemarin, ia datang. Minta balik. Ternyata ia tidak bisa melupakan aku."
"Trus kalian balikan?" Nadia melemparkan pertanyaan tetapi seolah menerkam.
"Nggak mungkinlah Nad. Yang aku inginkan sekarang hanya kamu."
Ia ibarat gadis 17 tahun, yang baru mengenal cinta. Baru dirayu satu kalimat, bunga-bunga sudah mekar dimana-mana. Segalanya menjadi berseri.
"Oh ya, kamu suka nggak yang di sofa itu?" Dengan tatapan nakal Bimasena mulai menggoda dirinya. Membuat wajahnya menjadi merah padam. Ia pun melayangkan tangannya ke dada Bimasena.
"Kalau kamu suka, aku akan memberi yang lebih spesial lagi malam ini." Bimasena tidak berhenti menggodanya.
Tidak ingin menjadi bulan-bulanan Bimasena, Nadia mengeluarkan ancaman. "Kalau kamu godain aku terus, aku pulang."
Bimasena tertawa penuh kemenangan lalu menciumnya dengan sangat manis.
"Aku suka, melihat pipimu jadi berwarna," bisik pria itu lalu melanjutkan ciumannya. Tetapi saat ia sudah nyaris terhanyut, dan mulai membalas, Bimasena menghentikan ciuman dan menertawainya. Manusia brengsek bukan?
"Kamu bisa kan ikut aku ke Australia?" tanya Bimasena sangat bersemangat dan penuh harap.
Baru saja ia berbunga-bunga, sekarang ia harus menggeleng. "Maaf, aku nggak bisa Bim. Gak ada alasan yang bisa aku ajukan pada Tristan."
"Tristan nggak ngizinin kamu liburan?"
"Paling juga Tristan bilang tidak usah buang-buang duit," jawabnya sambil tersenyum. "Mending duit dipakai buat nutupin utang. Seperti itu ucapan Tristan waktu aku minta ikut Tristan ke Jepang saat itu."
Pria di sampingnya mendesah kecewa. Rupanya Bimasena sangat berharap ia bisa ikut ke Australia.
"Bilang aja, berangkat dengan Bima, semuanya ditanggung Bima," akhirnya Bimasena mengeluarkan candaan, untuk menjaga situasi tetap hangat.
"Kamu mau Tristan memenggal kepalaku?" Nadia ikut tersenyum.
"Tristan orang cerdas. Tidak mungkin melakukan hal yang akan membuatnya tersangkut masalah hukum. Paling juga Tristan menceraikan kamu."
"Kamu mau Tristan menceraikan aku?"
"Ya jelas mau lah Nad. Dengan begitu aku bisa menikahi kamu kan?"
"Cuman kamunya pasti tidak ingin bercerai dengan Tristan." Bimasena tertawa sumbang. Membuat ia merasa kurang nyaman.
__ADS_1
Karena memang benar apa yang dikatakan Bimasena, sampai saat ini ia belum memiliki keinginan meninggalkan Tristan, meskipun takut kehilangan Bimasena.
"Nggak apa-apa, kalau kamu masih memilih bersama Tristan. Aku akan bersabar menunggu sampai saatnya tiba, kamu akan memberikan hati dan dirimu seutuhnya kepadaku," ucap pria itu bersungguh-sungguh.
Rasa haru menyeruak di dalam dadanya, meresapi kata-kata pria itu. Getar itu makin terasa. Mengapa Bimasena mau melakukan hal itu padanya? Tanpa terasa ia menitikkan air mata.
"Kenapa kamu mau membuang waktu untukku Bim? Aku sama sekali tidak pantas untukmu." ucapnya dengan suara serak.
Bimasena menyapukan ibu jari pada sudut matanya, lalu berkata,
"Aku kan sudah bilang, jangan tanya kenapa."
"Aku sayang kamu Nadia, sangat sayang." Sangat jelas dari ekspresi pria itu, sangat memuja dirinya.
"Rasa yang kumiliki mampu membuatku melakukan sesuatu yang diluar batas kewajaran. Tidak peduli seberapa berat rintangan yang harus dilalui." Suara Bimasena sangat meyakinkan.
Sekarang hanya hening yang ada diantara mereka berdua. Nadia menyembunyikan wajahnya pada dada pria itu. Satu tangan Bimasena melingkar di tubuhnya dan satu lagi mengelus rambutnya.
Jangan tanya bagaimana rasanya berada dalam pelukan Bimasena. Rasanya tidak ingin lekas berlalu. Terbang tinggi bersama pujaan hati. Bahkan sampai pagi pun ia sanggup berada dalam posisi seperti ini.
Tetapi Lonceng Cinderella sudah berbunyi, pertanda ia harus segera pulang. Agar bisa tiba di rumah sebelum pukul 10 malam. Atau ia akan mendengar kicauan yang kurang menyenangkan dari Tristan.
Saat berjalan keluar dari restoran, Nadia mengambil jarak dari Bimasena. Demi menghindari kemungkinan seseorang mengenali mereka. Namun ia dibuat terkejut oleh Bimasena yang secara tiba-tiba melingkarkan tangan ke pinggangnya. Membuatnya melotot kepada Bimasena, tetapi selalu saja, Bimasena tidak peduli.
Lihatlah kelakuan Bimasena! Sepertinya pria itu tidak ingin sembunyi-sembunyi. Tetapi terang-terangan. Apa Bimasena ingin melihatnya mati dicekik Tristan?
Dan begitu tiba di parkiran mobil, Bimasena membukakan pintu mobil untuknya. Tetapi bukan pintu depan, melainkan pintu belakang.
"Aku duduk di belakang?" tanya Nadia tidak percaya. Apa Bimasena tidak ingin duduk di sampingnya? Sehingga ia duduk di belakang sementara Bimasena mengemudi di depan.
Tetapi Bimasena tidak menjawabnya, sehingga ia akhirnya menurut. Masuk ke jok belakang mobil Mercedes itu. Tetapi yang membuatnya terkejut, karena Bimasena hanya menyalakan mesin kendaraan dan menghidupkan pendingin udara. Setelah itu Bimasena juga ternyata ikut duduk di jok belakang.
"Kamu bawa sopir?"
"Nggak." Jawab Bimasena membuka jasnya dan menggantungnya di sandaran jok depan.
"Lantas kenapa kamu duduk di belakang? Siapa yang akan mengemudi?" Nadia semakin bingung.
"Nadia, aku butuh sekarang. Kita pulang setelah selesai." Bimasena membuka dasinya dan meletakkan di atas jas nya.
"Butuh apa?" Tiba-tiba ia meremang, dadanya berdegup kencang. Apa yang hendak dilakukan Bimasena?
"Kamu jangan terlalu lugu Nadia." Bimasena penuh gairah, menariknya ke dalam pelukan pria tersebut.
"Kamu mau ngapain Bim?" tanyanya terengah-engah. Sangat gelisah. Khawatir Bimasena berbuat hal tidak senonoh di dalam mobil.
"Mau mengulang yang di sofa itu," sahut pria itu enteng. "Tetapi kali ini aku akan memberikan yang lebih ganas untukmu."
"Jangan Bim, dosaaa," Nadia berusaha mencegah tangan Bimasena bergerak ke tempat yang tidak seharusnya.
"Bim, sadar, kita sedang diparkiran. Nanti kepergok sama orang," seru Nadia panik, saat gaunnya mulai dibuat melorot oleh Bimasena.
Apa makhluk yang melilit tubuhnya saat ini, menggunakan otaknya untuk berpikir? Mereka berada di parkiran yang begitu ramai dan terang.
"Masa bodoh." Hanya itu jawaban pria itu.
Nadia masih berusaha menepis tangan Bimasena sebelum Bimasena berbisik mengancam.
"Nadia, jangan halangi aku."
Ya, Bimasena sangat berkuasa dan dirinya begitu tidak berdaya.
Paduan sempurna.
**********
Hi readersku tersayang,
Mohon maaf karena lama menunggu UP nya novel ini. Karena Author sedang menulis beberapa novel yang on going.
Author tidak berhenti mengingatkan,
Jangan mendekati selingkuh, karena selingkuh adalah bencana besar yang menimpa rumah tangga.
Selingkuh membawa banyak maksiat seperti khianat, dusta, zina dan rusaknya bahtera rumah tangga.
Jadi, di belakang selingkuh adalah dosa.
Terima kasih atas segala dukungannya.
Salam sayang dari Author Ina AS
__ADS_1
๐๐๐