REUNI INDAHNYA MENDUA

REUNI INDAHNYA MENDUA
56. Baby Breath


__ADS_3

"Di mana alamat rumah abangmu? Aku ingin menemuinya," tanya Bimasena kepada Nadia.


Nadia terkejut mendengar pertanyaannya.


"Untuk apa?" Nadia malah balik bertanya padanya.


"Ya untuk membicarakan hubungan kita Nadia."


Belum juga apa-apa, Nadia sudah panik.


"Jangan Bim. Abangku bisa membunuhmu. Dia itu tidak ubahnya seorang preman."


"Jangan khawatir, aku punya sembilan nyawa kok. Hanya saja delapan sudah digunakan."


Ternyata guyonannya sama sekali tidak membuat Nadia tertawa. Sehingga ia kembali berkata dengan lebih serius.


"Kita harus berusaha Nadia. Jangan hanya membiarkan waktu terus bergulir lantas hanya duduk diam berharap waktu akan berpihak kepada kita. Hasil yang terbaik itu hanya diperoleh dari usaha yang maksimal."


Nadia terdiam. Seperti biasa, bila membahas langkah apa yang hendak dilakukannya, Nadia selalu terlihat tertekan. Namun karena kondisi Nadia yang sedang hamil, sehingga ia tidak terlalu mendesak Nadia.


"Kapan kamu ingin menemui abangku?" ucap Nadia dengan wajah yang syarat beban.


"Nanti malam," selanya mantap. Ia sudah siap dengan segala risiko bila bertemu dengan abang dari Nadia. Karena ia yakin, tidak ada yang akan berpihak kepada mereka. Namun ia tetap harus mengupayakan jalan terbaik.


"Jangan malam Bim," Nadia mengiba kepadanya.


Bagaimanapun kesalnya dengan sifat penakut Nadia, tidak mampu mencegah hatinya untuk tidak trenyuh melihat mata Nadia yang kembali berkaca-kaca.


Memang untuk mendapatkan Nadia, butuh perjuangan yang berat. Bukan karena harus menghadapi siapa dan menempuh jalan seperti apa. Tapi tantangan terbesar itu, ada pada diri Nadia sendiri.


Nadia memiliki sifat penakut, mudah tertekan dan mudah goyah, serta tidak tegaan. Wanita seperti Nadia kurang mampu mengolah masalah, sehingga selalu akan dibebani pikiran bila menghadapi masalah yang berat.


"Baiklah, setelah aku pulang dari Blok Mandar dan Maluku, aku temui abangmu."


Nadia hanya mengangguk lemah, dengan pandangan mata yang kosong. Wanita yang rapuh. Membuat hatinya iba melihat Nadia yang tertekan seperti itu. Justru sifat Nadia yang seperti itulah membuatnya makin sayang kepada Nadia.


Ia tahu, Nadia menjalani pernikahan yang kurang bahagia dengan Tristan. Namun tidak sekalipun Nadia mengeluhkan Tristan padanya. Nadia tidak pernah mengumbar kehidupan rumah tangga pada orang lain. Pada dirinya sekalipun. Hal yang membuatnya bangga pada Nadia.


Sifat materialistispun tidak dimiliki Nadia. Keinginannya untuk melunasi hutang Nadia di bank, ditolak mentah-mentah oleh Nadia. Tawarannya untuk membuatkan Nadia sebuah klinik kecantikan profesional tidak direspon oleh Nadia. Juga hadiah yang dianggap mahal, akan dikembalikan oleh Nadia.


Satu tangannya bergerak mengelus rambut wanita itu.


"Kamu tidak perlu pikirkan itu Nadia, kalau itu akan menjadi beban bagimu. Sekarang kamu cukup menjaga kesehatan kandunganmu saja. Aku yang akan mengurus semuanya."


Nadia melihatnya sekilas, lalu menunduk seraya bergumam.


"Tadi malam aku sudah minta Tristan menceraikanku."


Ia menoleh arah Nadia. "Trus Tristan jawab apa?" tanyanya penasaran.


"Tristan terkejut, semakin kecewa, dia nggak jawab apa-apa, langsung masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu kamar dari dalam."


"Nadia, Tristan tidak akan menceraikanmu. Aku bisa menebak bagaimana cara berpikirnya. Makanya, kamu yang harus mengajukan cerai terhadap Tristan. Jangan menunggu Tristan yang menceraikanmu."


Tapi jawaban Nadia membuatnya kesal.


"Aku kasihan pada Tristan, Bim."


Nadia kembali pada sikap tidak tegaannya, yang membuatnya gemas. Tanpa sadar ia melontarkan ucapan dengan nada yang meninggi, membuat Nadia terkejut.


"Sebenarnya apa yang kamu inginkan Nadia? Kamu pilih Tristan atau aku. Jawab sekarang! Kalau kamu pilih Tristan, mulai sekarang aku akan berhenti menghubungi dan menemui kamu."


Namun sesaat kemudian ia menyadari kesalahannya telah membentak Nadia. Tetapi sudah terlambat, Nadia laksana orang sesak nafas, memegang dada dan mulai terisak.


Nadia menangis.


Sial.


Apa bedanya ia dengan Tristan yang sering melakukan kekerasan verbal pada Nadia? Yang telah mengubah sifat Nadia dengan begitu drastis.


Saat SMA Nadia merupakan gadis periang dan penuh percaya diri. Sekarang berubah menjadi wanita yang sering termenung, jarang bicara dan kehilangan percaya diri.


Bimasena pun segera menepikan kendaraannya, masuk ke sebuah parkiran minimarket, lalu memarkir kendaraannya.


Ia berusaha merengkuh tubuh Nadia dan meminta maaf, meskipun Nadia menolak


"Maafkan aku sayang, maafkan aku." Ia berkali-kali mencium rambut Nadia, karena Nadia menyembunyikan wajah darinya.

__ADS_1


"Aku salah," ucapnya, tangannya meraih tangan Nadia lalu menciumnya.


Mungkin ia lebih kejam dari Tristan. Berkali-kali Tristan membentak Nadia di depan matanya, tetapi Nadia tidak pernah menangis seperti ini. Bahu wanita itu berguncang hebat, dan tetap menyembunyikan wajah darinya.


Karena Nadia terus menolak dan menghindarinya, ia melepas rengkuhannya dari Nadia. Jarak antara kursi membuatnya kesulitan memeluk Nadia. Ia lalu keluar dari mobil, dan berpindah ke jok belakang.


Dari jok belakang ia menarik Nadia ke belakang. Meskipun memberontak, cukup mudah memindahkan tubuh Nadia yang lumayan ringan baginya ke belakang.


Begitu tubuh Nadia sudah berada di pangkuannya, ia pun memeluk dengan sangat erat, sehingga Nadia tidak dapat bergerak dan berontak lagi. Ia mencium Nadia tanpa jeda, hingga wanita itu lemas kehabisan nafas, dan berhenti terisak lagi.


"Maafkan aku," bisiknya saat wanita itu memandangnya dengan air mata yang masih menggenang pada sudut mata.


Kalian tahu bagaimana rasanya mendengar kalimat mahal terlontar dari mulut wanita yang tidak pandai merayu dan tidak tahu berbohong itu?


"Aku ingin bersama kamu Bim."


Rasanya bagaikan semua ladang minyak di dunia dihadiahkan untuknya.


*******


Bimasena tersenyum kepada Danindra. Sekali lagi Danindra mampu membuktikan ucapannya.


Begitu mereka melihat artis yang penuh sensasi Alesya Julia di sebuah party, Danindra bergumam, "Mau taruhan? Suatu saat gua taklukan cewek itu."


Dan kini artis glamour itu sudah berada di samping Danindra, saat mereka bertemu di sebuah cafe. Wajar bila seorang Danindra mampu menaklukan artis papan atas Alesya Julia, selain memiliki wajah yang mampu mengimbangi Julia, Danindra memiliki kemampuan keuangan untuk membiayai gaya hidup Alesya.


"Gimana? Gua hebat kan?" Danindra membanggakan dirinya yang mampu menggaet Alesya padanya, saat wanita itu pamit ke toilet.


"Biasa aja, yang kayak gitu, sepuluhpun aku bisa dapat. Mau taruhan? Besok, aku bisa mengirimkan kamu foto Alesya tanpa pakaian di atas ranjangku." Tentu saja ia tidak boleh kalah sombong dari Danindra.


"Keparat Lu!" desis Danindra, lalu mereka terbahak bersama.


Mereka berteman, sangat dekat. Namun penuh persaingan, serta tidak pernah mengakui kehebatan masing-masing. Bila Bimasena menjadi raja, Danindra pun harus menjadi raja. Mereka selalu berusaha untuk saling mengungguli satu sama lain.


Seperti saat mengikuti Asia Touring Sport Car Championship, dimana Bimasena berhasil finish pada posisi ke dua, sementara Danindra tidak berhasil naik ke podium.


Kesenangan yang didapatkan oleh Bimasena, selain karena bisa mendapat juara, namun yang paling penting adalah mengalahkan Danindra.


Tapi selanjutnya Bimasena malah menjadi bulan-bulanan Danindra, karena menolak naik ke atas podium. Bukan karena tidak mensyukuri gelar juara kedua. tetapi yang berdiri di podium tertinggi merupakan seorang pembalap wanita. Tentu saja ia malu bila foto dan beritanya tersebar, bila ia dikalahkan seorang pembalap wanita di atas sirkuit.


"Makanya gua milih ngalah, begitu tahu ada cewek ikut balapan. Cewek dilawan. Kalah pula," Danindra tertawa senang kala itu. Pria itu tidak pernah ingin mengakui kemenangannya.


"Mau cari teman sealiran? Cukup Lu aja yang tersesat. Gua nggak mau. Emang enak ditonjok di muka sama suaminya?" Danindra tertawa sambil menunjuk lebam pada pelipis kirinya.


"Disinilah tantangannya Bro. Bukannya kamu nggak mau, emang kamunya yang nggak akan mampu menaklukkan Adinda. Takut sama suaminya kan? Anak Wapres aja dihantam."


Danindra hendak membalas ucapannya. Namun Alesya kembali bergabung bersama mereka, sehingga mereka segera mengganti topik pembicaraan.


"Bro, ikutlah berinvestasi property di Rencana Ibu Kota Negara baru. Kami akan membangun hotel bintang lima, apartemen dan perumahan kelas premium di sana," ajak Danindra.


"Sampai sekarang aku masih lebih menyenangi investasi di sektor energi. Terutama energi terbarukan. Hitung-hitunganku, investasi energi terbarukan akan menghasilkan tingkat pengembalian yang tinggi," ujar Bimasena.


Mereka memiliki bidang bisnis yang berbeda. Bimasena di bidang energi, sementara Danindra di bidang properti.


"Dunia sedang dalam proses peralihan investasi dari bahan bakar fosil yang menghasilkan polusi ke energi terbarukan. Kami sudah menyusun skenario transformasi energi di FreddCo Energy," lanjutnya lagi.


"Di Indonesia banyak potensi sumber energi terbarukan yang bisa dikembangkan. Surya, air dan mikrohidro, angin, panas bumi, gelombang laut dan biomassa. Mending kamu ikut investasi energi," ujarnya.


"Ah, bisnis Energi Baru Terbarukan kurang diminati. Nggak seperti bisnis properti, hampir diminati semua kalangan." Danindra jelas tidak ingin kalah darinya.


"Karena mereka nggak tahu aja bisnis energi. Bisnis properti sekarang mengalami penurunan yang signifikan." Dan ia tetap harus memenangkan perdebatan dengan Danindra.


"Kalau kamu hendak beralih ke EBT, ngapain masih menggali sumur minyak aja sekarang kerjamu?"


"Sampai sekarang kan energi fosil masih bahan bakar utama. Makanya tetap jadi bisnis utama."


Tetapi Alesya mengalihkan topik pembicaraan mereka.


"Mas Bima, Mas Bima udah punya pacar ya? Kalau belum aku kenalin sama Beatrix. Tahu kan Beatrix, bintang iklan sabun mandi l*x itu?"


Tawaran yang sangat menarik dari Alesya. Siapa yang tidak ingin kenal dengan model papan atas itu. Tapi ia menjawab,


"Jangan tanya pacar, Alesya. Aku sudah hampir jadi ayah sekarang. Beberapa bulan lagi anakku lahir," jawabnya dengan bangga, sambil mengurai senyum karena mengingat bagaimana rasanya mengelus perut Nadia, meskipun perut wanita itu belum berubah secara signifikan.


"Jadi Mas Bima udah punya istri? Loh kok Mas Indra tadi bilang masih lajang." Alesya menatap wajah Danindra dengan kening berkerut.


"Iya, aku sudah punya istri, Alesya," jawabnya. Tidak tertarik sama sekali untuk berkenalan dengan Beatrix.

__ADS_1


Namun kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Danindra untuk menyerangnya.


"Iya, Bima udah punya istri. Istri orang ha ha ha." Danindra tergelak, sangat bahagia berhasil menjatuhkannya di depan Alesya.


********


Seperti kemarin, Tristan kembali berangkat ke kantor tanpa menyentuh sarapan yang ia siapkan. Sepanjang malam Tristan mendiamkannya. Menatapnya dengan pandangan benci.


Mereka pun tidur di kamar yang berbeda.


Membuatnya bingung, Tristan hendak menceraikannya atau tidak?


Saat ia menyapu lantai, dari luar muncul Lily tetangga barunya. Memegang dua buah kotak.


"Tadi ada kurir, bawa paket untuk kamu Nadia. Tapi pintu rumah tertutup. Jadi dititip ke aku." Lily menyerahkan dua kotak itu padanya.


"Terima kasih Ly." Ia mengantar Lily ke teras, lalu kembali masuk ke dalam rumah, membuka dua kotak yang membuatnya penasaran.


Ia membuka kotak pertama, kotak polos tanpa nama pengirim. Berisi paket sarapan pagi, lengkap dengan potongan buahnya. Terdapat sebuah greeting card yang bertulis


...For my pregnant woman....


...Mr. B...


Nadia pun tersenyum riang melihat nama dengan inisial itu. Baru melihat namanya saja sudah membuatnya bahagia. Apalagi melihat orangnya.


Ia lalu membuka kotak kedua. Kotak kedua berisi sebuah bunga yang berwarna putih bersih dan berukuran kecil-kecil, yang ditanam pada sebuah pot kecil. Sangat indah. Namun ia tidak tahu nama bunga itu.



...Baby Breath...


...Yang memiliki makna cinta abadi...


...Untuk wanita cantikku yang sedang hamil....


...Mr. B...


Senyumnya semakin lebar membaca greeting card-nya. Ia baru tahu nama bunga itu adalah Baby Breath dan ia pun ikut berbunga-bunga.


Nadia meletakkan bunga itu di dekat jendela, agar terkena cahaya matahari.


Tetapi sebuah amplop yang juga berada di dalam kotak kedua itu menarik perhatiannya. Dengan segera, dibukanya amplop itu.


Ia tercengang manakala melihat isinya. Sebuah Kartu Kredit Visa Infinite berwarna hitam dan sebuah kartu debit platinum dari sebuah bank.


Tapi ia lebih tercengang lagi ketika membaca tulisan pada sebuah kertas yang berada di dalam amplop tersebut.


Aku hanya belajar untuk menjadi seorang ayah yang bertanggung jawab. Tolong jangan ditolak. PIN nya : tanggal, bulan dan tahun, malam saat kita di sofa.


*******


Readers kesayangan,


Apa kabarnya? Semoga tetap selalu diberikan kesehatan dan kebahagiaan oleh Tuhan.


Terima kasih tetap setia menunggu novel ini. Mohon maaf karena UP nya yang kelamaan.


Jangan mendekati selingkuh!


Jangan mendekati zina!


Semoga novel ini dapat menghibur, meskipun nilai-nilai yang bisa dipetik mungkin teramat sedikit, atau bahkan tidak ada sama sekali.


Terima kasih atas segala dukungannya pada author.


Yang ingin berkomunikasi dengan author, silahkan mengunjungi,


Facebook : INA AS


Instagram : inaas.author


GC : Ina AS


WAG : https://chat.whatsapp.com/JB9i40xRo5i4lMIXnkG8lC


Salam sayang dari

__ADS_1


Author Ina AS


๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2