REUNI INDAHNYA MENDUA

REUNI INDAHNYA MENDUA
85. Reunion: The Wedding Guest


__ADS_3

Nadia dan Tristan harus berdamai dengan rasa malu yang masih menghinggapi kala menghadiri resepsi pernikahan teman SMA mereka, Alfredo.


Terlebih bagi Nadia, rasa malunya jauh lebih besar dari Tristan. Karena semua bersumber dari perbuatannya yang sudah menyalahi moral dan melanggar norma sosial.


Rasa malu yang tidak mampu dicegah manakala harus membaur bersama teman-temannya yang sudah terlebih dahulu hadir di dalam salah satu ballroom sebuah gedung.


Alfredo menyelenggarakan pernikahannya di Toraja ballroom yang terletak di lantai dua gedung Abra Global.


Dekorasi pesta Alfredo sangat simpel ala garden party, tetapi tetap terlihat elegan. Warna hijau cukup dominan. Warna hijau dari tanaman dan daun-daun hijau artificial yang digunakan sebagai dekorasinya.


Sangat mudah mengenali teman-teman alumni, karena perempuan menggunakan seragam brokat biru elektrik dan laki-laki menggunakan seragam batik dengan warna senada.


Mereka duduk berkumpul pada tiga baris kursi di salah satu sisi ruangan. Acara seperti ini selalu dimanfaatkan sebagai ajang reuni.


Sebelum bergabung dengan teman-teman, mereka berdua naik ke atas panggung terlebih dahulu untuk memberi ucapan selamat pada Alfredo.


"Selamat Bro, semoga kalian berdua tetap teguh menjalani pasang surutnya kehidupan rumah tangga," tutur Tristan saat bersalaman dengan Alfredo.


Ucapan yang sangat wajar dan doa yang terbaik dari seorang tamu undangan. Tapi mengapa ucapan suaminya kepada Alfredo justru membuat telinganya memanas?


Ya, karena ia pernah melanggar janji suci pernikahan.


Ia turut memberi selamat kepada Alfredo, lalu kepada istri Alfredo yang berprofesi sebagai seorang polisi wanita.


Setelah memberi ucapan selamat kepada Alfredo dan pasangannya, mereka turun dari panggung menuju meja prasmanan untuk mengambil makanan.


Setelah mengambil makanan, ia berjalan di samping Tristan dengan langkah yang berat menuju kawan-kawannya. Langkahnya berat seolah kakinya menyeret bongkahan batu besar.


Terlebih lagi begitu mereka berdua mendekat, ia bisa melihat beberapa teman wanita saling berbisik-bisik. Menyebabkan ia menjadi kikuk dan salah tingkah.


"Hi Nadia!" sapa Mithalia, "Wouw perutnya, udah gembung," lanjut Mithalia membuat lingkaran besar dengan kedua tangan di depan perut. "Jadi pengen, sayang belum punya pasangan," seru Mitha dengan suara manja.


Ia tidak menyangka Mithalia kembali ramah kepadanya. Karena sejak Mithalia mengetahui ia memiliki hubungan khusus dengan Bimasena, hubungan persahabatan keduanya menjadi renggang.


Bahkan sejak insiden Kaliurang, Mithalia tidak pernah menghubunginya lagi.


"Pengen hamil juga Mitha? Aku bisa bantu kok dengan sukarela, tulus dan ikhlas, kalau kamu pengen dihamilin," kelakar Angga. Membuat Mithalia melempar souvenir pernikahan yang dipegang ke wajah Angga.


"Ih Najis," gerutu Mithalia sambil bergidik.


Teman-teman menertawai aksi Angga yang menggoda Mithalia.


"Kali aja kamu butuh donor sper** ," balas Angga, menyebabkan Mithalia tidak sekedar melempar sesuatu lagi, tetapi berdiri menghadiahi Angga dengan cubitan.


Sebenarnya terdapat kursi kosong diantara Mithalia dan Angga, tidak ada yang menempati. Namun ia memilih melewati kursi itu dan duduk pada baris ke dua di antara Janah dan Rahmania, tepat di belakang Mithalia.


Ia menghindari Mithalia menanyakan hal-hal yang bersifat sensitif, baik mengenai kehamilannya maupun kelanjutan rumah tangganya pasca insiden memalukan tersebut. Sehingga ia memilih duduk pada kursi barisan belakang. Sementara Tristan duduk di kursi barisan depan paling ujung, disamping Glen.


"Kapan?" Rahmania mengusap perutnya. Ia mengerti maksud pertanyaan Rahmania meskipun terdengar ambigu.


"Sekitar dua minggu lagi menurut dokter, Nia," jawabnya sambil mendudukkan tubuhnya di atas kursi.


"Bimasena nggak pernah mengganggu kamu lagi?" bisik Janah kepadanya. Salah seorang yang menjadi saksi tragedi Kaliurang.


Ia hanya menggeleng sambil tersenyum. Karena tidak ingin membahas lebih panjang lagi mengenai pria tersebut.


Sebab mendengar atau menyebut nama itu, seperti mengalirkan sesuatu di dalam dirinya. Berpadu dengan rasa nyeri yang menggigit-gigit jiwa.


Ia sudah berusaha keras untuk mengalihkan pikirannya dari pria tersebut, namun Janah mengarahkan pikirannya kembali kepada pria itu.


Sekarang ia tengah berjuang, untuk menenggelamkan biduk cintanya yang telah patah kemudi terhadap putra tersayang Ibu Imelda. Karena sampai sekarang biduk itu masih terapung-apung. Terhempas ombak kesana-kemari tanpa tujuan.

__ADS_1


Meskipun sudah turut berkumpul bersama teman-temannya, ia lebih banyak diam. Hanya sekali-kali tersenyum mendengar senda gurau mereka. Bagaimanapun ia masih risih berada diantara teman alumninya. Akibat dari skandal cinta segitiga yang pernah ia bangun.


Ia melihat hal yang sama terjadi pada Tristan. Lebih banyak diam tidak banyak bicara. Hanya sekali-kali menanggapi obrolan teman-temannya. Tristan tampaknya lebih banyak bermain handphone.


Mereka berdua ibarat orang yang baru bergabung di group alumni tersebut. Baru belajar beradaptasi. Beberapa kali ia bergabung dengan teman-temannya untuk berfoto. Mereka belum berfoto bersama pengantin karena pasangan pengantin tersebut masih sibuk melayani tamu.


Setelah tamu undangan mulai berkurang, mereka pun dipanggil oleh MC untuk berfoto bersama. Mereka semua serentak berjalan ke atas panggung mengambil posisi.


Fotografer mengatur posisi dan gaya mereka agar hasil foto bisa memuaskan.


Ternyata tidak mudah melakukan foto bareng dengan hasil yang maksimal. Tidak semua teman-temannya luwes untuk berpose. Tidak seperti dirinya, sebagai mantan model, berpose merupakan keahliannya.


Berbeda dengan suaminya yang berdiri di ujung kanan. Tristan berdiri dengan sangat kaku, sehingga berapa kali fotografer mengarahkan gaya Tristan.


Tapi teriakan Mithalia yang berdiri di samping kanannya membuatnya terkejut.


"Bimaaaaaa," Mithalia yang berdiri tepat di sampingnya melambaikan tangan pada seseorang di pintu masuk ballroom.


Baru mendengar nama itu saja jantungnya seakan dihujam peluru.


Begitu mengarahkan pandangannya ke pintu masuk ballroom dan melihat sosok tinggi berbadan atletis berjalan ke arah panggung, darah seakan berhenti mengalir di dalam tubuhnya.


Ia kembali lupa bagaimana cara bernafas, karena merasakan nafasnya tidak berirama. Apalagi melihat senyum pria itu yang dilemparkan ke arah mereka. Membuatnya merasakan sesak nafas, lemas yang hebat, dan keringat dingin tiba-tiba membanjiri dahi, leher dan kedua telapak tangannya.


Mengapa dia datang?


"Tunggu teman kami yang itu dulu Mas." Alfredo meminta fotografer menunda sejenak sesi fotonya untuk menunggu Bimasena bergabung bersama mereka.


Hatinya menjerit. Segala rasa bercampur aduk di dalam rongga dada. Bintang bersinar yang ia tatap saat ini membuat kakinya ingin berlari. Satu sisi dirinya serasa ingin berlari menyambut, pada sisi yang lain memintanya berlari segera bersembunyi.


Ia diam termenung dengan kaki yang melemas. Semakin lemas tatkala pria berkemeja warna navy yang begitu pas di tubuh itu melangkah penuh wibawa dan percaya diri, semakin mendekat ke panggung. Lalu naik ke atas panggung.


Apa yang harus ia lakukan?


Bagaimana bisa tenang bila jantungnya berdegup kencang dan tubuhnya gemetar?


Saat telapak kaki dan tangan dingin, justru kedua matanya menghangat. Sehingga ia berusaha sebisa mungkin agar matanya tidak meneteskan air.


Kamu bisa Nadia.


Ia menyemangati dirinya agar tetap berdiri tenang. Karena sesungguhnya ia ingin segera berlari pergi. Tidak mampu untuk bertemu dengan pria itu lagi.


Orang pertama yang dihadapi oleh Bimasena begitu naik ke atas panggung adalah Tristan yang berdiri di sisi paling kanan.


Bimasena mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Tristan, tetap disambut oleh Tristan. Namun penuh kecanggungan.


"Di sini Bima, berdiri di sampingku," seru Alfredo memanggil Bimasena. Karena Bimasena hendak mengambil posisi berfoto di ujung kanan, di samping Tristan.


Bimasena pun berjalan menuju Alfredo melewati beberapa temannya. Tentu saja akan melewatinya.


Begitu Bimasena mendekat, ia menoleh ke arah kiri. Agar tidak bertemu mata dengan pria itu. Karena bila bertemu mata, ia tidak bisa menjamin apakah ia masih bisa membendung air matanya.


"Kapan datang Bima?" sapa Mithalia, yang membuat Bimasena berhenti sesaat di depan Mithalia.


Meskipun menoleh ke arah lain, mata sendunya sempat menangkap Bimasena menjawab pertanyaan Mithalia, tetapi dengan pandangan yang mengarah kepadanya.


"Aku baru saja Tiba dari Caracas. Dari bandara langsung kemari," sahut Bimasena. Lalu pria itu melanjutkan langkah. Begitu Bimasena melangkah di depannya, buru-buru ia menundukkan wajah. Untuk menghindari tatapan tajam yang bisa meruntuhkan benteng pertahanannya seketika.


Ia hanya melihat kaki pria itu yang dibungkus dengan sepatu yang berwarna hitam mengkilat. Ia bisa melihat, begitu lewat di depannya, kaki itu memelankan langkah, nyaris berhenti. Tetapi begitu melewatinya, langkah kaki itu dipercepat.


Setelah Bimasena tiba di samping Alfredo, fotografer kembali mengambil foto mereka dengan berbagai gaya pemotretan.

__ADS_1


Ketika pemotretan telah selesai, ia menunggu Bimasena terlebih dahulu turun dari panggung, barulah ia juga turun dari panggung. Demi menghindari bertemu.


Begitu turun dari panggung, ia menarik Janah untuk menemaninya berdiri di depan panggung. Ia tidak ingin lagi bergabung bersama teman-temannya di sisi ballroom. Karena di sana, Bimasena tampak berbincang-bincang bersama teman-temannya.


Setelah sesi pemotretan selesai, acara dilanjutkan dengan tradisi lempar bucket bunga pengantin.


MC memanggil undangan yang tersisa, yang masih berstatus lajang. Diarahkan untuk berdiri tepat di depan panggung.


Ia dan Janah pun mundur beberapa langkah ke belakang, memisahkan diri dari para lajang yang akan berebut bunga nantinya.


Pada sisi ruangan ia melihat Mithalia dengan manjanya menarik tangan Bimasena agar turut bergabung dengan para lajang di depan panggung. Namun Bimasena menolak dengan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


Bucket bunga yang dibawa oleh pengantin wanita dilambangkan dengan keindahan dan kesuburan. Bucket bunga itu diharapkan membawa harapan, segera menyusul sang pengantin untuk menikah dengan mendapatkan pasangan yang tepat, lalu hidup bahagia.


Siapa yang mendapatkan bucket bunga tersebut, konon akan mendapat jodoh dalam waktu dekat. Dan segera melangsungkan pernikahan seperti yang diidamkan.


Tradisi lempar bucket bunga pun dimulai, diarahkan oleh MC. Beberapa wanita dan pria lajang berdiri di depan panggung. Mithalia dan Reyna juga turut bergabung.


Pasangan pengantin berdiri dengan posisi membelakangi tamu undangan. Lalu dengan beberapa hitungan oleh MC, bucket bungapun dilempar oleh pengantin, yang disambut oleh para lajang yang berlompatan berebutan bunga.


Tetapi sebuah benda menghantam wajahnya dengan ringan membuatnya tersentak. Tangannya refleks menangkap benda itu itu sebelum terjatuh ke lantai.


Betapa terkejutnya ia begitu melihat benda yang berada di tangannya adalah bucket bunga pengantin.


Bagaimana bisa bucket bunga itu terbang begitu jauh ke belakang melewati para lajang?


Seketika wajahnya panas membara. Sungguh memalukan. Tidak selayaknya perempuan yang sudah berkeluarga mendapat lemparan bucket bunga pengantin. Dalam keadaan hamil besar pula.


Terlebih lagi ia yang masih berdiri terpaku dengan wajah bengong memegang bucket bunga pengantin, sekarang menjadi bahan tertawaan para tamu undangan. Juga menjadi bahan olok-olokan teman-temannya.


Bukan hanya dirinya, Tristan pun turut menjadi bahan olokan.


"Jaga istrimu baik-baik Bro, jangan sampai mitos bunga pengantin itu benar," salah seorang temannya menggoda Tristan.


Wajah Tristan pun berubah merah padam seperti wajahnya.


Disaat ia menjadi bahan tertawaan dan olok-olokan teman-temannya, matanya sempat melirik ke sisi ruangan. Ke arah pria berkemeja Navy.


Darahnya berdesir, manakala melihat pria itu tersenyum penuh arti padanya.


*********


Readersku tersayang,


Apa kabarnya hari ini? Semoga kalian tetap dalam keadaan sehat dan selalu di berikan kebahagiaan oleh Sang Pemilik Hidup.


Terima kasih atas kesabarannya menunggu UPnya novel ini.


Sekali lagi diingatkan, jangan mendekati selingkuh ya? 😁


Terima kasih atas segala apresiasinya.


Terima kasih telah bergabung dalam WAG dan Group Chat.


Terima kasih untuk readers kesayangan yang selalu memberi dukungan.


Semoga Tuhan memberi segala kebaikan untuk kalian.


Tetap dalam lindungan-Nya.


Salam sayang dari

__ADS_1


Author Ina AS


😘😘😘


__ADS_2