
Bimasena menghembuskan nafas panjang. Sesekali bersenandung mengikuti alunan musik yang diperdengarkan di dalam mobil. Malam ini ia sudah lega bisa melihat Nadia, rasa penasaran terbayar sudah.
Ada hal yang lucu saat Nadia membuka pintu. Nadia memekik saking terkejutnya dengan dirinya yang tiba-tiba berdiri di depan pintu. Nadia bagai melihat hantu, atau dirinya semenakutkan itu?
Malam ini Bimasena sudah mengikuti tuntutan naluri dengan mengabaikan akal sehatnya. Akal sehatnya yang tidak berhenti mengingatkan agar ia tidak bermain-main dengan istri orang. Namun ternyata naluri lebih mendominasi.
Tapi keputusannya mengunjungi rumah Nadia malah membawa masalah baru. Kenapa?
Nadia menemuinya hanya menggunakan pakaian tidur yang ..... yang membuat kepalanya pening seketika.
Beruntung ia bisa menjaga dirinya agar tetap terlihat tenang di hadapan Nadia, padahal denyut jantungnya sudah meningkat dan darahnya mengalir dengan cepat.
Seperti patung wanita yang terpahat sempurna, menampilkan lekukan-lekukan indah, ditutupi kain satin berwarna putih.
Mengacaukan otak siapapun yang memandangnya. Semua kata-kata yang sudah dirangkai menghilang begitu saja di kepalanya.
Apa ia pria yang beruntung melihat pemandangan indah malam ini?
Tidak. Yang beruntung hanyalah Tristan suaminya. Yang dianugerahi mahakarya yang sempurna.
Sementara dirinya, hanya pria menyedihkan yang silau milik orang lain. Like the worst missed the moon (Bagai pungguk merindukan bulan). Someone who imagine or imagine something that is not possible (Seseorang yang membayangkan atau menghayalkan hal yang tidak mungkin). Mengenaskan memang.
Pikiran sehatnya sudah tidak bekerja. Malam ini ia kembali gagal mengendalikan dirinya agar tetap berada pada jalur norma yang berlaku.
Setelah bertemu Nadia malam ini, hasrat memiliki milik orang kembali menggebu. Sungguh sangat mencemaskan.
*********
Seperti sebelum-sebelumnya, begitu Bimasena datang menemui Nadia, maka hari-hari berikutnya tidak akan ada kabar lagi darinya lagi. Entah apa maksudnya.
Apa ia ingin mengendalikan dirinya agar tidak terus menerus menemui Nadia, atau Bimasena hanya ingin bermain perasaan padanya.
Bimasena mengatakan padanya, bila pria itu dalam masalah. Karena selalu memikirkan dirinya.
Iya Bimasena dalam masalah. Tapi Nadia dalam masalah besar, bukan hanya sekedar masalah. Karena sejak malam itu, ia tidak pernah berhenti memikirkan pria itu lagi. Selalu berharap pria itu menghubunginya ataupun datang menemuinya.
Tak malu lagi untuk mengakui bila ....dirinya rindu.
Rindu kepada Bimasena.
Tetapi Bimasena betul-betul menyiksanya. Tidak pernah menghubunginya. Tidak pernah menemuinya. Serindu-rindunya dirinya, Nadia tetap akan menjaga martabatnya sebagai seorang perempuan, terlebih lagi sebagai istri orang, yang pantang menghubung lelaki untuk urusan yang tidak perlu.
Nadia betul-betul tidak mengerti apa yang diinginkan Bimasena padanya. Lelaki itu mengatakan bahwa ia selalu memikirkan dirinya. Tetapi pada saat yang sama ia mengatakan akan mengendalikan pemikiran irasionalnya itu. Lalu lelaki itu meminta dirinya untuk memperkuat benteng pertahanan.
Lalu apa maunya? Apa yang diinginkan Bimasena terhadapnya? hanya untuk bermain hati padanya?
Celakanya, Nadia sudah terjerat. Ia sudah terjatuh pada perangkap hati Bimasena. Di sini, hatinya sudah gelisah. Ingin mendengar suara Bimasena. Ingin melihat wajah Bimasena. Ingin mendapat perhatian-perhagian kecil Bimasena lagi.
Tapi pria itu....kembali menghilang ditelan bumi.
Bimasena, pria itu begitu misterius. Memaksa otak Nadia bekerja 10 kali lipat untuk menerjemahkan semua keinginan pria itu. Bahasanya terlalu sulit untuk dimengerti.
Dan malam ini, rindu bergejolak di hati, begitu sulit membendungnya. Rindu itu mengambil alih dan merajai dirinya.
Bagaimana mengobati diri? Bagaiamana caranya melepas rindu? Menghubungi Bimasena? Nadia sama sekali tidak punya kekuatan, keberanian dan percaya diri untuk itu. Dirinya nol besar dibanding Bimasena.
Mengapa di usia sekarang, saat ia sudah terikat dengan seseorang, ia harus kembali merasakan rasa seperti ini?
Mengapa harus kembali ..... kasmaran? (sungguh malu mengatakannya)
Rasa ini teramat menyiksa.
Saat Nadia tergeletak tidak berdaya di atas tempat tidur, baru saja dihempaskan oleh rindu, tiba-tiba ia melonjak bangun saat bel rumahnya berbunyi.
Siapa lagi yang datang malam-malam begini bila bukan pria yang mendatanginya malam itu? mendadak tubuhnya full energi. Betapa besar pengaruh pria itu.
Ia melompat dengan cepat ke depan meja rias, memperbaiki penampilannya sebaik mungkin. Pakaian? ia sudah siap setiap saat bila Bimasena tiba-tiba datang. Hal memalukan tidak boleh terulang kembali.
Nadia lalu melesat secepat kilat menuju ruang tamu. Lalu dengan hati berdebar dan senyum yang dibuat semanis mungkin ia membuka pintu.
Dan...
Tristan berdiri di depan pintu.
Apakah Nadia harus kecewa? Tidak boleh, bisa berdosa.
Tapi ia sungguh kecewa. Bukan karena Tristan datang, tapi karena Bimasena tidak datang.
"Kok nggak bilang kalau mau pulang malam ini?" protes Nadia pada Tristan.
"Apa aku harus minta izin pulang ke rumah sendiri?" jawab Tristan sambil berjalan melewatinya masuk ke dalam rumah.
Mood Tristan terlihat sangat buruk. Mungkin suaminya sedang memiliki masalah.
"Tapi aku nggak nyiapin makan malam karena nggak tahu kamu mau pulang," seru Nadia. "Tunggu sebentar, aku masak dulu ya?" lanjut Nadia.
"Aku sudah makan," ketus Tristan
*****
Nadia berbaring gelisah di belakang Tristan yang tidur memunggunginya. Sebentar-bentar berbalik, tidur miring ke kiri atau ke kanan. Bukan Tristan yang membuatnya gelisah, tapi Bimasena.
Sampai akhirnya ia tersenyum saat ia membaca sebuah pesan yang dikirim oleh Mithalia pada group alumninya.
Mithalia:
Tanpa mengurangi rasa hormat, Mitha mau ngundang kalian, datang ke pesta ulang tahun Mitha, di rumah Mitha besok malam ya. Jangan lupa. Kehadiran kalian sangat Mitha harapkan.
Ya, ulang tahun Mitha adalah momen untuk bertemu dengan ..... si dia lagi. Setidak-tidaknya melihatnya bisa mengobati rasa rindu yang terus bercokol di dada. Sungguh Mithalia menjadi pengobat kegelisahannya malam ini.
Tapi kemudian Nadia merasa ada yang janggal dalam undangan Mithalia. Ia pun mengirim pesan pribadi kepada Mithalia.
Nadia:
__ADS_1
Mit, bukannya ulang tahun kamu tanggal 20? besok kan baru tanggal 15?
Mithalia:
Ingat juga kamu ya π. Minggu depan Bima mau ke Amrik jadi pestanya dipercepat.
Mitha tau Bima mau ke Amrik? sejauh itukah komunikasi mereka berdua? dan karena Bima Mithalia mempercepat pesta ulang tahunnya?
Tiba-tiba Nadia merasa ada perasaan kurang nyaman menyergah dirinya.
Nadia:
Bagaimana kemajuan hubungan kalian?
Nadia berdebar menunggu jawaban dari Mithalia.
Mithalia:
Komunikasi kami akhir-akhir ini lumayan sudah lancar say.
Tanpa sadar Nadia mendesah kecewa.
Nadia:
Sudah sering ngedate sama-sama?
Mithalia:
Pernah dong, makan siang bareng, tapi baru sekali π. Mudah-mudahan kebelakang lebih lancar lagi. Doain say.
Nadia:
Selalu untukmu say π
Nadia meletakkan ponsel di sampingnya dengan tangan lemas. Ternyata Bimasena juga membuka ruang komunikasi mendalam dengan Mithalia. Mithalia memang jauh lebih tepat untuk Bimasena. Mereka sama-sama single dan berasal dari keluarga berada.
Lalu bagaimana dirinya? Jelas ia kecewa. Sangat kecewa.
Mungkin Bimasena hanya ingin bermain hati.
**********
Hal pertama yang dilakukan Nadia begitu Tristan menepikan kendaraannya di jalan, depan pagar kokoh rumah Mithalia adalah mengamati semua mobil yang terparkir. Begitu melihat Audy R8 grey terparkir dengan manis, seketika itu juga perasaan kecewa menyergapnya. Begitu cepatnya pria itu hadir di acara Mithalia.
Begitu masuk ke dalam rumah mewah Mithalia seorang pelayan mengarahkan ke taman samping. Acara di laksanakan di samping kolam renang. Di sana sudah ada Mithalia yang menyambutnya.
Gadis itu nampak cantik dan sexy sekali malam ini. Mithalia mengenakan dress soft pink color. Riasannya jelas merupakan sentuhan seorang Make Up Artist profesional.
Nadia langsung mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru untuk mencari keberadaan satu sosok itu. Karena ia harus menghindari bertemu dengannya. Pria yang sudah mempermainkan hatinya.
Rupanya Nadia sudah lebih dahulu tertangkap radar Bimasena. Begitu melihat posisi Bimasena, ia sudah mendapati pria itu duluan menatapnya dengan senyum yang terkulum.
Buru-buru Nadia membuang muka dengan gugup. Ia tidak membalas senyum Bimasena. Bahkan sama sekali tidak ingin membalasnya.
Nadia menjadi rikuh karena merasa sepasang mata terus mengawasinya. Namun Nadia terus membuang muka, setiap kali bertemu pandang dengan mata itu. Tidak ada senyum manis untuk Bimasena malam ini.
Yang ia lakukan sekarang adalah menghindari Bimasena sebisa mungkin. Ia lalu bergabung bersama Reyna yang tampak menyendiri pada salah satu sisi kolam renang.
"Kamu lihat gaya Mithalia, aku rasa ia terlalu kecentilan pada Bimasena," gumam Reyna.
Ya ternyata ia dan Reyna menyimpulkan hal yang sama. Ia baru ingat, Reyna dan Mithalia bersaing mendapatkan Bimasena. Lalu ia bagaimana? apa ia juga ikut bersaing? Tentu saja tidak boleh. Tidak bisa. Belum lagi semalam ia sudah kecewa dengan Bimasena. Tambah lagi sekarang ia melihat Bimasena sangat akrab denga keluarga Mithalia.
"Kamu dan Bimasena bagaimana?" tanpa basa-basi Nadia menanyakan itu pada Reyna. Ia penasaran, apakah Bimasena juga menjalin komunikasi yang mendalam pada Reyna.
"Sama seperti Bimasena pada Mithalia," jawab Reyna dengan pandangan ke arah Bimasena.
Jadi kesimpulannya Bimasena sekarang bemain hati pada Mithalia, Reyna dan .....juga dirinya, sungguh malu mengatakannya.
Sekarang Mithalia, Reyna dan juga dirinya jatuh dan terjerat dalam perangkap pesona Bimasena.
Untung belum terlalu jauh melangkah dan ia segera menyadarinya. Agar tidak terus terhanyut dalam lautan asmara Bimasena.
Nadia terperanjat ketika melihat sosok Bimasena melangkah ke arah ia dan Reyna berdiri. Jantungnya kembali berdegup kencang. Entah siapa yang ingin ditemui Bimasena, dirinya atau Reyna. Namun sejak sekarang, Nadia bukan hanya ingin memperkuat benteng pertahanan, namun menghindari Bimasena sejadi-jadinya.
Bimasena mengulum senyum kepada mereka berdua saat semakin dekat. Dan Nadia bisa melihat bagaimana perubahan ekspresi wajah Reyna yang mendadak berbinar-binar dengan kedatangan Bimasena. Reyna membalas senyum Bimasena selebar-lebarnya. Berbeda dengan Nadia yang hanya melirik tajam kepada Bimasena dengan wajah cemberut.
"Permisi, sebaiknya kalian ngobrol berdua saja," ucap Nadia begitu Bimasena tiba di dekat mereka. Ia lalu berjalan meninggalkan Bimasena dan Reyna begitu saja tanpa menunggu jawaban. Ia tidak tahu lagi bagaimana ekspresi Bimasena. Tapi ia tidak ingin melihat pria yang mengganggu ketenangannya akhir-akhir ini.
*****
Acara ulang tahun Mithalia dimulai. Semua acara berlangsung sebagaimana biasanya pesta ulang tahun. Namun mendadak riuh ketika potongan kue Mithalia diberikan kepada Bimasena setelah diberikan kepada Ayah dan Ibunya. Gemuruh, teriakan pun terdengar dari para undangan yang hadir. Bimasena yang tampak kaget, lalu menerima piring kecil dari Mithalia dengan tersenyum. Kue itu Mithalia bawa ke arah Bimasena yang sedang berdiri bersama Tristan, Alfredo, Angga dan teman-teman yang lain.
"Cium, cium, cium," terdengar sorak yang meminta Bimasena mencium Mithalia.
Nadia merasa wajahnya mendadak memanas. Ia yakin wajahnya sudah terbakar dan memerah. Entah mengapa pemandangan itu baginya sangat memuakkan.
Untung saja Bimasena hanya menyalami Mithalia, tidak menciumnya. Bila Bimasena menciumnya, maka.......... Loh mengapa ia harus marah dan gusar? Bukankah Bimasena bukan siapa-siapanya?
"Dasar ganjen," tiba-tiba saja Reyna sudah berada di sampingnya. Menatap ke arah Bimasena dan Mithalia dengan pandangan mendongkol. Rupanya ada yang senasib dirinya. Ia tidak perlu terlalu berkecil hati.
Beberapa kali bila mata Bimasena bertemu dengan matanya, dengan segera Nadia akan membuang muka. Tidak ada senyum dari bibirnya untuk Bimasena malam ini. Ia merasa sangat kecewa pada Bimasena sang pemain hati. Beberapa kali ia melihat Bimasena berjalan menghampiri, seketika itu juga ia melesat menjauh. Menjaga posisi berdirinya agar tetap berada pada jarak terjauh dari Bimasena.
Berapa kali bermain kucing tikus dengan Bimasena membuat ia kebelet buang air kecil. Ia pun segera menuju toilet yang terletak di belakang kolam renang. Namun ada dua orang yang antri membuat ia harus masuk ke dalam rumah Mithalia mencari toilet. Tepatnya di samping ruang keluarga. Tentu saja sebelumnya meminta izin pada tuan rumah.
Rasanya ingin berlama-lama di dalam toilet, agar terhindar dari Bimasena. Nadia merasa, mata Bimasena terus mengawasinya dengan tajam. Langkah Bimasena juga seolah-olah selalu bergerak mendekatinya. Atau itu hanya perasaannya saja? atau mungkin ia terlalu kegeeran?
Ternyata membosankan juga berlama-lama di dalam toilet. Toilet itu terlalu sempit, membuatnya sesak nafas bila terus berada di dalam. Akhirnya setelah menatap wajahnya di dalam cermin, ia pun bergerak membuka pintu toilet hendak keluar.
Namun yang ada malah ia memekik.
Saat seorang pria tengah berdiri di depan pintu toilet, bersandar pada dinding yang ada di depan toilet dengan kedua tangan pada saku celana. Menatap tajam ke arahnya. Dia....
Bimasena.
__ADS_1
Nadia hendak mengambil langkah seribu untuk kabur, namun pria itu keburu menghalangi jalannya. Toilet itu berada pada sebuah lorong yang sempit, sehingga ia harus menerjang Bimasena bila nekat keluar. Ia pun celingak celinguk khawatir jangan sampai ada yang melihat mereka berdua di lorong depan toilet. Namun Bimasena nampaknya tenang-tenang saja, sama sekali tidak peduli.
"Kenapa kamu menghindari aku?" tanya Bimasena.
"Menghindari bagaimana?" Nadia pura-pura tidak mengerti.
"Ada sikapku yang membuat kamu marah?" tanya Bimasena lagi.
"Tolong Bima, biarkan aku lewat. Nggak baik berduaan di sini." Nadia semakin gelisah. Bukan hanya cemas bila ada orang memergoki mereka berdua di tempat itu, tapi berdiri di depan Bimasena membuat jantungnya kembali melorot ke perut.
"Katakan dulu kenapa kamu marah!" ucap Bimasena dengan tenang.
"Kamu pemain hati," tanpa Nadia sadari kalimat itu meluncur begitu saja di bibirnya. Sehingga ia pun terkejut sendiri dengan ucapannya. Namun ternyata mengeluarkan sesuatu yang terpendam di hati membuatnya lega.
Bimasena malah tersenyum dan mengangguk-angguk. Membuat wajah Nadia berlipat-lipat kurang senang.
"Jadi kamu menganggap aku mempermainkan hati kamu. Begitu? Karena aku tiba-tiba datang dan menghilang begitu saja?" tanya Bimasena.
Entah mengapa Bimasena bisa menebak isi hatinya. Memang betul seperti itu, tapi Nadia tidak menjawabnya dengan mulut.
"Nadia, selama ini aku berusaha untuk mengendalikan diri agar tidak merusak rumah tanggamu."
"Namun bila kamu menganggap aku mempermainkan hatimu, beri aku satu kata yang bisa aku pegang, agar aku terus maju menerjang semua rintangan," lanjut Bimasena dengan serius seraya menatap lekat-lekat mata Nadia.
Nadia pun menjadi panik. Bukan hanya jengah dipandangi terus-terus oleh Bimasena. Ungkapan Bimasena membuat nyalinya menciut seketika.
Seberani itu kah Bimasena? Menerjang semua rintangan?.
Hatinya memang merindukan Bimasena, namun ia tidak memiliki keberanian dan nyali sama sekali untuk menjalin hubungan lebih dari sekedar teman.
"Katakan Nadia, kamu akan membuka jalan untukku?" Bimasena terus mendesak Nadia.
Membuat wajah Nadia pucat seketika, kakinya gemetar.
"Bima, biarkan aku lewat." Nadia mulai merengek. Ia takut kepergok orang bersama Bimasena. Tetapi ia lebih takut lagi menghadapi Bimasena yang menodongnya sekarang.
"Jawab dulu Nadia, boleh atau tidak? aku tidak ingin kamu berpikir aku mempermainkan hati kamu!"
"Bila kamu mengizinkan aku masuk ke ruang hidupmu, detik ini juga aku akan memulai langkahku."
Nadia semakin gelisah. Tidak tahu harus menjawab apa. Nadia merasa sebentar lagi ia akan pingsan. Beruntung otaknya masih mampu berkilah.
"Yang aku maksud bukan mempermainkan hatiku. Kamu mempermainkan hati Mithalia dan juga Reyna."
Bimasena mengernyit lalu tertawa seolah-olah tidak percaya dengan apa yang baru saja Nadia katakan.
"Nadia, aku tahu Mitha dan Reyna menaruh hati padaku, tapi aku tidak pernah memberi harapan kepada mereka, apalagi mau mempermainkan hati keduanya."
"Aku akan tanya Mitha dan Reyna sebentar, biar kamu bisa dengar sendiri selagi mereka berdua ada di sini. Agar tidak ada hal yang membuatmu khawatir."
"Jangan!" Nadia semakin shock dengan kenekatan Bimasena.
"Biar kamu bisa percaya padaku," ucap Bimasena lagi.
"Tidak usah!"
Namun sebuah suara menghentikan perdebatan keduanya.
"Bima, kok lama?" Mithalia tiba-tiba sudah berada di belakang Bimasena.
Wajah Nadia serta merta semakin pucat, ia merasa kegelisahan tingkat tinggi sekarang. Mithalia memergoki mereka berdua di lorong depan toilet. Ia tidak percaya melihat Bimasena malah tenang-tenang saja.
Bagaimana bila Mithalia mendengar perdebatan mereka? Bagaimana bila Mithalia mencurigai mereka? Atau menggosipkan mereka berdua pada teman-teman.
"Kebetulan kamu ada di sini Mitha, Nadia ingin mendengar sesuatu dari kamu," ucap Bimasena pada Mithalia tapi sorot matanya jatuh pada Nadia.
Nadia melongo tidak percaya ternyata Bimasena sungguh-sungguh ingin mengkonfirmasi kepada Mithalia.
"Mau dengar apa?" tanya Mithalia sambil mengernyit ke arah mereka.
"Nggak ada Mit," Nadia yang menjawab secepatnya sebelum Bimasena semakin jauh.
Dengan sekuat tenaga Nadia menerjang tubuh Bimasena agar bisa lolos keluar dari lorong depan toilet, dan mengabaikan tatapan penuh tanda tanya Mithalia padanya.
Dengan langkah tergesa Nadia segera kembali ke kolam renang berbaur dengan teman-temannya sambil menormalkan degup jantungnya yang memburu. Ia baru saja mengalami hal yang sangat mendebarkan dan menggelisahkan. Menghabiskan semua stok energinya. Sehingga ia merasa tubuhnya sangat lemas.
Bimasena hampir saja membuat Nadia mati berdiri.
********
Semalam Nadia tidak bisa tidur memikirkan ucapan Bimasena di lorong depan toilet rumah Mithalia.
Beri aku satu kata yang bisa aku pegang, agar aku terus maju menerjang semua rintangan
Ia tidak percaya, seberani itukah Bimasena?
Seharian ucapan Bimasena membuatnya kehilangan fokus. Di salon ia hanya bisa duduk terpaku, tanpa bisa mengerjakan apa-apa. Bahkan baru saja ia menghanguskan udang asam manis untuk makan malam, masakan kesukaan Tristan, hanya karena terus memikirkan ucapan Bimasena.
"Ini udang apa arang sih?" protes Tristan dengan wajah berkerut sembari mendorong udang yang sudah setengah hangus di depannya. Namun Nadia urung menjawab karena bel rumah berbunyi.
Bunyi bel menyelamatkan ia dari kemurkaan Tristan karena telah menghanguskan menu makan malamnya. Dengan segera ia melangkah ke ruang tamu dan membuka pintu.
Apakah dirinya tidak bermimpi atau sedang berhalusinasi karena terus memikirkan Bimasena?
Karena Bimasena sekarang berdiri di depannya. Benar, Bimasena.
Nadia betul-betul hendak mati saat itu. Bukan pingsan ataupun gugup lagi.
"Kenapa datang? Tristan ada di dalam," bisik Nadia dengan sangat panik pada Bimasena. Ekspresi ketakutan jelas-jelas terpancar dari wajahnya.
"Aku tahu Tristan ada di dalam," jawab Bimasena tenang. Mengulum senyum pula.
Mungkin bumi sudah kehilangan oksigennya karena Nadia tidak mampu bernafas lagi. Ataukah ini yang namanya sekarat? dimana tubuh sudah mempersiapkan diri untuk berhenti?
__ADS_1
Pria itu betul-betul akan membuatnya mati muda.