
Tristan sedang memasukkan laptop ke dalam ranselnya, bersiap untuk pulang begitu Hakimah mendekatinya.
"Kak, bisa bicara sebentar?" tanya Hakimah kepadanya.
Apa pun akan ia berikan untuk Hakimah, apalagi bila Hakimah hanya meminta waktu untuk berbicara.
"Kenapa tidak Imah. Silahkan duduk!" Ia menyilahkan Hakimah duduk di depan mejanya. Beruntung pegawai yang lain sudah lebih dahulu pulang, sehingga ia tidak perlu risih berbicara dengan Hakimah.
"Kak Tristan jangan tersinggung ya? Maaf Imah nggak bisa terima hadiah dari Kak Tristan." Hakimah menyodorkan kotak handphone yang sudah ia berikan kepada Hakimah saat hari ulang tahun wanita itu. "Hadiah ini terlalu mahal. Tidak pantas untuk Imah. Sebaiknya handphone ini untuk Kak Nadia saja."
"Kenapa kamu tidak pantas Ima? Kamu pantas sekali. Hadiah ini saya berikan dengan tulus. Lagian juga Nadia sudah memiliki handphone yang sama." Tristan berusaha meyakinkan.
"Maaf Kak, Ima nggak bisa terima. Kalau Kak Tristan tetap mau ngasih kado, kasih buku saja. Lebih bermanfaat. Tidak perlu yang mahal-mahal.
Tuh kan? Wanita yang diincarnya bukan wanita sembarangan. Bukan wanita yang gampang silau dengan materi. Sangat bernilai tinggi. Membuat dirinya semakin kagum kepada Hakimah.
*******
Sudah menjadi kebiasaan Alfredo, setiap minggu nge-gass dijalan raya lalu menerabas lintasan off road dengan mengendarai motor trail bersama klub motornya. Tetapi hari Sabtu ini sangat berbeda. Teman-teman klubnya menjadi lebih bersemangat. Karena dua orang pria, putera konglomerat Indonesia dan konglomerat Amerika turut bergabung.
Dan sebagai bentuk perkenalan mereka kepada anggota klub, mereka telah menyediakan hadiah doorprize yang nanti akan diundi setelah mereka sampai ke garis finish.
Tidak tanggung-tanggung, hadiah utamanya sebuah motor trail. Kulkas, TV LCD dan barang-barang elektronik lainnya hanya hadiah hiburan. Puluhan hadiah telah disiapkan. Sehingga hanya anggota klub yang rezekinya apes yang pulang tanpa membawa hadiah.
Alfredo yang meng-handle seluruh kebutuhan kedua pria tampan itu ketiban rezeki. Ia ditugaskan membeli motor trail beserta seluruh perlengkapannya, seperti helm, body protector, brace neck, sepatu boot, kacamata khusus, pakaian offroad dan perlengkapan lainnya.
Dua puluh persen keuntungan yang diberikan kepada Alfredo. Sehingga ia mengantongi puluhan juta hanya untuk mengurusi putra-putra konglo itu. Bukankah menyenangkan berteman dengan mereka?
Harga motor masing-masing bujangan yang belum laku itu sama dengan harga mobil. Satu unit motor harganya hampir dua ratus juta. Belum lagi perlengkapan trail, hadiah, konsumsi, jasa kameramen dan photographer untuk mendokumentasikan keduanya.
Sangat tidak masuk akal bagi Alfredo. Mereka berbelanja ratusan juta, seperti mengeluarkan uang untuk membeli permen saja.
"Beli motor trail dan perlengkapannya yang terbaik," pesan Bimasena kepadanya dari Australia.
Berbeda dengan yang diinginkan Danindra.
"Beli motor dan perlengkapan yang paling mahal," pesan Danindra. Danindra tentu paham, bila harga selalu berbanding lurus dengan kualitas.
Meskipun sangat senang, Alfredo juga sedikit cemas. Karena kedua pria rebutan wanita itu belum pernah sama sekali mengikuti trail adventure.
Mereka boleh jago adu cepat di sirkuit dengan mobil sport miliaran rupiah dan wanita cantik di samping mereka. Tetapi trail offroad sangat berbeda dengan keahlian mereka. Trail merupakan olahraga ekstrim karena pengendara harus melalui medan yang sulit
"Kalian bisa bawa motor?" tanya Alfredo mencemaskan Bimasena dan Danindra, saat motor trail keduanya diturunkan dari Jeep Wrangler Brute Double Cab. Mobil pick up kalangan ningrat yang membawa motor Bimasena dan Danindra dari Jakarta.
"Dia meragukan kita bro," ucap Bimasena kepada Danindra sambil tergelak.
"Gua sering mengendarai Kawasaki Ninja H2 Carbon, tapi ya di jalan raya," jawab Danindra terkekeh.
Alfredo langsung berdecak. Karena Danindra baru saja menyebutkan merk motor sport yang berharga delapan ratusan juta.
Gila, gimana cara orang-orang ini dapat duit.
"Trus kamu?" tanyanya kepada Bimasena.
"Yaaa, dulu zaman SMA kan aku naik motor bebek ngantar loundry ke langganan ibuku."
__ADS_1
Jawaban Bimasena itu justru membuat Alfredo melotot.
"Jadi terakhir kamu bawa motor saat SMA?"
Bimasena kembali tergelak.
Sebelum mulai berkendara, Alfredo mengirim foto-fotonya bersama Bimasena dan Danindra ke group alumni mereka dengan caption,
Trail Adventure with Mr. Bimasena and Mr. Danindra.
******
Untuk pertama kalinya ia mencoba salah satu olahraga ekstrim itu. Bermain motor trail bersama Danindra, Alfredo dan klub motor trail Alfredo.
Dan saat ini para rider sudah bersiap di atas motor masing-masing untuk melibas medan off road. Para rider mulai bergerak maju satu persatu. Ia berada di belakang Alfredo disusul Danindra.
Ia sempat mengumpat dalam hati. Mengapa hantu wanita itu mengikutinya sampai ke tempat seperti ini. Padahal ia ingin mecoba trail, hanya untuk mengalihkan pikirannya dari Nadia.
Awalnya mereka melalui jalur yang aman. Baginya lintasan ini masih sangat ringan.
Tidak lama kemudian mereka mulai melewati genangan. Rintangan pun mulai muncul satu persatu. Ia harus menjaga kendaraannya saat melewati genangan agar tidak bermanuver belok kanan atau belok kiri, untuk menghindari potensi tergelincir. Sangat menantang.
Tidak jauh dari genangan, dihadapan mereka sudah ada lubang yang berlumpur. Mereka menghentikan kendaraan sambil memperhatikan satu persatu pengendara melewati tantangan satu itu.
"Kurangi kecepatan, jangan mengerem atau membuka gas mendadak." Instruksi Alfredo kepada mereka berdua yang masih pemula.
Tentu saja sangat memalukan bila ia harus jatuh di lubang itu. Meskipun tidak sedikit pengendara yang terperosok dan jatuh. Sangat seru. Membuatnya sejenak mampu melupakan wajah yang selalu mengganggunya.
Agak tegang saat ia melewati lubang yang penuh lumpur itu. Ia mengikuti petunjuk Alfredo. Kakinya menjepit tangki. Akhirnya ia bisa melewati medan itu tanpa harus terjatuh ataupun menurukan kakinya.
Malang bagi Danindra. Motor yang dikendarainya tergelincir dan ia terjatuh ke dalam lumpur. Ia muncul dengan tubuh yang penuh dengan lumpur. Namun pria itu malah tertawa senang setelah terjatuh. Rider yang lain membantu mengangkat motor Danindra dari lumpur.
"Seru Bro," ucap Danindra penuh semangat.
Seru karena jatuh atau karena malu?
Dan saat mereka melewati sungai, Danindra beserta rider lain yang terjatuh di kolam lumpur berhenti sejenak untuk membersihkan tubuhnya.
Dan begitu mereka tiba di tanjakan ekstrim, nyalinya langsung menciut.
Bimasena hanya seorang pemula yang sangat jarang menyentuh kendaraan roda dua. Menaiki tanjangan maut seperti di depannya bukan hanya butuh keberanian, tetapi juga skill dan pengalaman. Sementara ia hanya memiliki keberanian.
"Wah, tanjakan maut ini. Gua mundur deh. Nggak bisa gua. Ngeri bro. Bisa ketemu malaikat maut di sini," desis Danindra.
Mereka berdua memandangi satu persatu rider yang mendaki ke tanjakan tersebut. Setiap tiga orang rider yang mendaki, hanya satu yang lolos sampai ke puncak tanjakan.
__ADS_1
"Kalian tidak usah naik. Lewat jalan sebelah sana saja, tidak terlalu nanjak di sini.," seru Alfredo.
"Aku naik," ucapnya mantap setelah mengumpulkan keberaniannya sampai betul-betul utuh.
Danindra membelalak ke arahnya.
"Yakin lu?"
"Iya, yakin." Adrenalinnya sudah terpacu.
*******
Alfredo sangat cemas ketika Bimasena berkata "Aku naik." Ia berusaha menghalangi tetapi Bimasena tidak bisa dicegah.
Akhirnya ia hanya berada di belakang Bimasena untuk menayangkan siaran langsung di group alumni, aksi Bimasena untuk menaklukkan tanjakan curam yang nyaris berdiri itu.
Sekarang Bimasena sudah bersiap di atas motor trailnya.
Motor Bimasena mulai melaju menaiki tanjakan terbawah. Posisi kakinya menjepit bodi motor agar motornya tetap stabil.
Semakin ke atas tanjakan semakin curam. Berbekal motor mahal, motor yang dikendarai Bimasena dengan mudah mendaki tanjakan itu.
Tepat di tengah, tanjakan mulai ekstrim, posisi Bimasena berdiri agar motor tidak terbalik. Posisi badannya melewati posisi setang.
Alfredo tidak percaya bagaimana Bimasena yang seorang pemula mampu melakukan itu.
Namun saat hampir mencapai puncak tanjakan, Bimasena melakukan blunder. Gas ia tarik terbuka penuh, entah sengaja atau tidak. Sehingga motornya jumping, melayang di udara, jatuh terbalik di tanah. Bimasena dan motornya berguling-guling dengan cepat dan keras meluncur ke bawah.
Alfredo pun bersama Danindra dan biker lain segera berlari ke arah Bimasena untuk memberikan pertolongan.
*******
Sedari pagi, Nadia terus memantau group alumni SMAnya pada sebuah aplikasi pesan. Alfredo terus mengirim video trail adventure mereka. Bukannya tertarik melihat aksi motor trail. Namun karena sangat mengkhawatirkan Bimasena.
Rasanya sangat ingin menelpon Bimasena dan memintanya untuk pulang saat itu juga.
Mengapa ia masih mengkhawatirkan Bimasena? Bukankah ia sendiri yang meminta kepada Bimasena untuk tidak berhubungan lagi dengannya?
Ia bergidik ngeri setiap menonton video aksi menantang Bimasena. Meskipun Bimasena berhasil menaklukan rintangan, tidak ada rasa bangga yang muncul di hatinya. Rasanya ingin kesana membawa sapu lidi untuk memukul Bimasena yang sudah bermain-main dengan nyawanya sendiri.
Dan saat ia menonton video terakhir, melihat bagaimana motor Bimasena terbang, melayang di udara, lalu Bimasena beserta motornya menghempas tanah dan berguling-guling begitu cepat, nyawa Nadia seperti tercabut dari tubuhnya.
Handphone-nya, hadiah dari Tristan itu juga ikut jatuh ke lantai, hingga layarnya retak seribu. Disusul tubuhnya yang ikut melorot ke lantai.
*******
Readersku tersayang,
Numpang promo ya 😁
Terima kasih atas segala dukungannya.
__ADS_1
Salam sayang dari Author Ina AS.
😘😘😘