
Nadia hanya bisa berbaring di dalam penjaranya, kamar sempit di rumah Bang Herial dengan hati yang menangis. Sejak kejadian tiga hari yang lalu, ia tidak tahu lagi bagaimana kabar Bimasena.
Tentu ia tidak akan lupa bagaimana wajah sang kekasih dihantam pukulan oleh tangan kekar Bang Herial. Ingin rasanya terbang ke sana mengobati luka sang kekasih. Tapi apalah dayanya, kaki dan sayapnya kini telah dipotong Bang Herial.
Dirinya tidak ubahnya narapidana yang diberi penjagaan ekstra oleh Bang Herial dan Mpok Nana agar tidak kabur. Sementara rasa rindunya pada sang idaman hati sudah meletup-letup.
Tapi bagaimana dengan Bimasena sendiri? Apakah tetap memperjuangkan kisah mereka? Atau memilih berhenti karena kejadian kemarin?
Entahlah.
Dari awal hubungan ini terasa begitu sulit. Karena jurang waktu menganga diantara mereka.
Bila Bimasena telah menyerah, biarlah ia tetap di sini memupuk rasa.
Awan yang berwarna gelap siang itu, disusul oleh tangisan dari langit semakin melengkapi perihnya rasa rindu yang menggores kalbu.
Apakah masih ada waktu untuknya bertemu dengan Bimasena bila pria itu telah mengaku kalah dan menyerah?
Semoga.
Cukup sekedar mengucapkan, aku sayang, aku cinta kamu. Bersama ataupun tidak, rasa itu akan abadi sepanjang masa. Lalu, biarlah waktu membunuhnya, agar ia bisa berjalan dengan tenang membawa rasa yang selalu bersemayam di dalam dada.
Duhai hujan, kabarkan rindu ini padanya.
"Papa dan mama mertuamu datang," Mpok Nana tiba-tiba muncul dari balik pintu mengagetkannya. Lebih kaget lagi mendengar siapa yang datang.
Ia tidak tahu bagaimana cara menyembunyikan wajah untuk menutupi rasa bersalah terhadap ayah dan ibu mertuanya. Terlebih lagi ibu mertuanya datang membawa soto lamongan, makanan kesukaannya. Mereka datang seperti membesuk orang sakit, bukan datang untuk menghakiminya.
Nadia, kedua mertuanya, Bang Herial dan Mpok Nana duduk melingkari meja makan. Awalnya mereka semua duduk diam, seolah membiarkan bunyi hujan di atas seng yang berbicara.
"Makanlah dulu soto ini Nak, selagi masih panas. Mama tadi masak soto lamongan untuk kamu sebelum datang kemari," ucap ibu mertuanya.
Ibu mertuanya mengambil piring dan sendok, mengisinya dengan soto, lalu menyodorkan kepadanya.
Perhatian ibu mertuanya justru membuat lara hatinya. Ia menemukan sosok kedua orang tuanya yang telah meninggal pada ayah dan ibu Tristan. Tetapi mengapa ia justru tega mengkhianati kedua orang yang sangat mulia itu?
"Makanlah dulu Nadia. Wanita hamil itu harus banyak makan. Biar janinnya sehat. Jangan terlalu banyak mikir, bila kamu stres, bisa berdampak terhadap kondisi janin." Giliran ayah mertuanya yang semakin memperdalam rasa bersalahnya.
Bukannya menerima piring berisi soto yang disodorkan mertuanya. Nadia malah menangis tersedu-sedu, lalu berdiri dari kursinya menghampiri ibu mertuanya. Ia lantas duduk bersimpuh, memeluk dan mencium lutut ibu mertuanya.
"Maafkan Nadia Ma, maafkan Nadia Pa. Nadia tidak pantas menerima kebaikan kalian. Nadia sudah berdosa, berkhianat dan menorehkan rasa malu kepada kalian. Maafkan Nadia Ma, Pa."
Dalam tangisnya, ia bisa merasakan bagaimana tangan ibu mertuanya membelai rambutnya dengan lembut. Justru menjadi pukulan telak baginya.
Bagaimana kedua orang tua itu bisa menyembunyikan secercah rasa kecewa yang telah ia goreskan ke hati mereka?
Dengan tangan yang tidak berhenti membelai rambutnya, kata-kata mengalir dengan lembut dari bibir ibu mertuanya. Tutur yang bukan hanya diperuntukkan bagi dirinya, tetapi bagi siapapun yang ada di ruang makan itu. Termasuk Bang Herial dan Mpok Nana.
"Selama ini, bukannya kami tidak tahu bila anak kami Tristan, memperlakukan Nadia dengan buruk. Tristan sering berkata kasar dan tidak peduli pada Nadia. Bahkan saat Nadia terserang cacar air, Tristan malah meninggalkannya. Kami sering menasehatinya, tapi Tristan ternyata tidak bisa merubah sikapnya."
"Justru kami sangat berterima kasih karena selama ini Nadia sudah mampu menghadapi sikap Tristan dengan sangat sabar. Tapi sikap Tristan mungkin sudah diluar batas kesabaran Nadia. Sehingga terjadilah hal yang tidak diinginkan bagi sebuah rumah tangga."
Penuturan ibu mertuanya semakin memperpanjang tangisnya. Karena merasa ibu mertuanya justru melindungi dirinya, sejahat apapun perbuatannya.
Bang Herial berdehem, sebelum berbicara.
"Om, Tante, kami atas nama keluarga kembali memohon maaf atas apa yang telah dilakukan adik kami. Sungguh kami malu atas perilaku Nadia. Maafkan adik kami yang tidak tahu diri ini."
Ia tidak perlu merasa sakit hati atas apa yang dikatakan oleh Bang Herial. Karena memang benar adanya. Apa yang telah dilakukannya memang sangat memalukan bagi keluarga. Bang Herial sebagai sosok tertua dalam keluarga yang memegang tanggung jawab atas keluarga.
Ayah mertuanya yang berhati malaikat itu, melontarkan kalimat yang sangat bijaksana.
"Segala sesuatu itu ada sebab dan akibatnya. Apa yang dilakukan Nadia itu berawal dari sikap Tristan juga. Biarlah kejadian ini menjadi pelajaran bagi mereka berdua. Tristan bisa merubah sikapnya dan Nadia kembali pada komitmennya saat pernikahan. Karena keharmonisan rumah tangga itu menjadi tanggung jawab berdua, suami dan istri."
Apa yang telah diutarakan kedua mertuanya, menjadi pertanda bahwa mereka telah memaafkan kesalahannya.
Apakah pantas dirinya yang pendosa ini menerima kebaikan mereka?
__ADS_1
Tidak, ia sangat tidak pantas.
Sehingga sekali lagi Nadia harus menyakiti hati kedua mertuanya. Ia tidak bisa memenuhi keinginan mertuanya lagi.
Dengan tangis yang masih tersedu-sedu, ia utarakan keinginannya,
"Nadia sungguh tidak pantas menerima kebaikan Papa dan Mama. Dosa yang dilakukan Nadia teramat besar, tidak pantas untuk dimaafkan. Nadia yang pengkhianat ini juga tidak pantas lagi untuk Tristan."
"Jadi Nadia mohon restu dan keikhlasan Papa dan Mama, Nadia hendak berpisah dengan Tristan."
Bukan hanya karena tidak pantas lagi menjadi menantu dari kedua mertua yang berhati malaikat itu.
Tapi karena langkahnya sudah tertuju pada Bimasena.
******
Maurika tidak akan pernah lupa, pesan papa dan mamanya begitu ia mulai tumbuh remaja.
"Jangan meladeni dan percaya bila didekati orang asing. Bisa jadi orang itu memiliki niat buruk padamu. Jadi anak perempuan itu harus pintar menjaga diri."
Tapi bagaimana bila ia tiba-tiba didekati pria tampan berkaca mata hitam dengan mobil keren?
Dari wajah dan kulitnya saja, ia bisa mengetahui bila pria tampan yang menghampirinya itu adalah pria berkelas.
Saat ia turun dari boncengan teman sekolahnya di mulut gang rumahnya, ia dihampiri seorang pria.
Meskipun ia masih remaja berbau kencur, bukan berarti ia tidak bisa mengenali barang bagus. Sehingga begitu pria berbadan atletis itu menghampirinya, ia memberi senyum termanisnya.
"Maurika?"
Bagaimana pria itu bisa mengetahui namanya? Di sekolah saja namanya kurang tenar.
"Iya Om." Om memang sebutan yang paling cocok untuk orang itu. Karena sangat jelas bila usia mereka terpaut jauh.
"Kenalin. Om Bimasena." Pria itu mengulurkan tangannya.
Nama 'Bimasena' sudah berkali-kali ia dengar sejak masalah menerpa rumah tangga Tante Nadia. Yang berujung Tante Nadia dikurung oleh Papa Herial di rumahnya.
Dan bila membandingkan om ramah yang berada di depannya sekarang dengan Om Tristan, maka bila dirinya yang menjadi Tante Nadia, jelas ia akan memilih om di depan mata.
Akhirnya ia menyambut jabatan tangan Om Bimasena. Tangannya kokoh dan besar. Menjabat tangannya dengan erat. Membuatnya berdebar-debar meskipun tahu, om itu milik Tante Nadia.
"Om boleh minta tolong sama Maurika nggak?"
Ia mengangguk, dengan pandangan yang tidak pernah berhenti menatap wajah rupawan di depannya. Meskipun beberapa lebam nampak di pipi om itu, tetap saja wajah itu ... ganteng.
Mimpi apa ia semalam tiba-tiba disamperin pria tampan seperti ini.
"Boleh nggak Om Bima berbicara dengan Tante Nadia lewat handphone Maurika?"
"Jangan Om. Ketahuan Papa, handphone Ika bisa disita oleh Papa."
"Kalau begitu berikan handphone ini pada Tante Nadia." Om Bimasena meraih sebuah handphone mahal dari saku celananya. Menyerahkan kepadanya. Tetapi ia kembali menggeleng.
"Jangan Om. Ketahuan Papa, Maurika ikut dihukum bersama Tante Nadia."
Om itu hanya tertawa, tidak marah meskipun ia sudah menolaknya dua kali.
"Kalau begitu om boleh kirim pesan pada Tante Nadia?"
Sekarang ia mengangguk, dan memberikan selembar kertas serta pulpen yang diminta oleh om itu. Om itu menulis sesuatu, lalu melipat kertasnya, dan berpesan kepadanya,
"Tolong berikan kepada Tante Nadia! Ini rahasia kita berdua ya?"
Ia kembali mengangguk. Namun sebelum beranjak masuk ke dalam Gang, om itu mencegahnya.
"Om Traktir Maurika dulu sebelum pulang."
__ADS_1
******
Nadia menyetrika pakaiannya yang sudah kering setelah dijemur.
Apa alat setrika Mpok Nana yang terlalu berat? Atau ia yang tidak memiliki cukup tenaga meskipun hanya untuk menggosok pakaian dengan alat setrika?
Empat hari berlalu sejak Bimasena datang ke rumah ini, tidak ada lagi tanda-tanda dari pria itu akan datang kembali mencarinya.
Membuatnya sudah kehilangan harapan.
Tidak mungkin melangkah kembali kepada Tristan. Apalagi semalam ia sudah mengucapkan kata perpisahan pada mertuanya. Meskipun ditentang oleh mertuanya, Bang Herial dan Mpok Nana. Tetapi tidak ada lagi keinginan hatinya untuk kembali kepada Tristan.
Bila Bimasena sudah menyerah, dan beranjak pergi meninggalkannya, maka ia akan menjalani hidup sendirian. Ia akan melahirkan dan membesarkan buah hatinya sendirian.
Bagaimana bila ia rindu pada Bimasena?
Ia hanya berharap, anak yang dilahirkannya nanti seorang laki-laki yang mirip ayahnya. Sehingga wajah puteranya nantilah yang menjadi pengobat rindu pada Bimasena.
Sampai Maurika masuk ke dalam kamarnya. Menyerahkan secarik kertas, yang membuat hatinya mekar kembali.
"Dari Om Bima," ucap Maurika dengan suara terendah, tapi tidak urung membuatnya terperanjat.
"Ketemu Om Bima dimana?" ia berbisik kepada Maurika.
"Minimarket, samping jalan masuk ke Gang," Maurika balik berbisik padanya.
Ia tersenyum pada ponakannya. Ternyata ponakan yang selama ini ia biayai sekolahnya sudah bisa diandalkan.
Tapi setelah itu ia melotot kepada Maurika, karena mendengar pengakuan polos dari anak itu.
"Tadi Om Bima Traktir Maurika makan sushi. Trus Om Bima juga ngasih uang ke Maurika untuk pembeli pulsa. Tapi pembeli pulsanya seharga handphone baru."
Bila uang pulsa seharga handphone baru, berapa nominal yang telah diberikan Bimasena pada ponakannya itu?
"Maurika, uang dari Om Bima ditabung buat kebutuhan sekolah Maurika. Tante Nadia gak punya uang lagi sekarang untuk membayar sekolah Maurika."
Ia hanya bisa menggelengkan kepala melihat wajah polos ponakannya.
Siapa yang mengajari Maurika menerima uang dari orang yang baru dikenalnya?
Meskipun diberikan oleh Bimasena, ia tidak menyukai sikap Maurika seperti itu. Tentu ia ingin melihat Maurika bisa mandiri, tidak memiliki mental seperti Bang Herial, yang selalu mengharapkan bantuan orang lain.
Dan matanya semakin melotot mendengar ucapan selanjutnya dari anak kecil itu.
"Tante Nadia pilih Om Bima saja. Om Bima tampan, kaya dan baik hati pula."
Ia baru menyadari, bila ponakan kecilnya itu sudah tumbuh remaja. Karena sudah bisa menilai seorang pria yang berwajah tampan.
Saat Maurika meninggalkan kamar, dengan hati berdebar ia segera membuka lipatan kertas dan membaca tulisan dari pria kesayangan hati.
Tetapi tulisan itu ternyata membuat wajahnya memanas dan pipinya bersemu merah.
Di atas mobil yang kita gunakan malam itu?
Tidak mungkin ia melupakan kejadian memalukan malam itu.
Kejadian di atas mobil Mercy hitam.
Saat Bimasena dengan enteng mengoyak underwear-nya, lalu ia menemukannya tersangkut pada tuas persneling kendaraan.
Juga bra renda cantik yang harus berakhir di tong sampah.
Pakaian dalam termahal yang pernah ia miliki.
Hanya digunakan sekali dan berakhir pada malam itu.
__ADS_1
Bim, tunggu aku. Aku akan datang.