
Tristan setengah berlari keluar dari bandara, Kemudian ia menaiki taxi online menuju rumah sakit bersalin tempat Nadia dirawat. Berharap masih bisa mendampingi Nadia melahirkan
Setelah menunggu sampai pagi hari, kondisi Hakimah belum juga stabil. Sehingga Hakimah batal dirujuk ke Jakarta hari itu.
Ia pun pamit pada orang tua Hakimah untuk pulang ke Jakarta dulu. Ia berjanji akan kembali ke Semarang bila Hakimah sudah siap dirujuk ke rumah sakit di Jakarta.
Ia pulang ke Jakarta menumpangi pesawat udara, berangkat pukul 11 siang dari bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang dan tiba di Bandara Soekarno Hatta pada pukul 12 siang.
Begitu tiba di rumah sakit ternyata istrinya sudah berada di ruang rawat inap. Berarti Nadia sudah melahirkan bayinya.
Ia batal menemani Hakimah ke Jakarta, juga gagal menjadi suami yang baik, suami yang bisa mendampingi istri saat melahirkan. Tidak ada nilai plus yang ia peroleh hari ini.
Dengan sungkan ia memasuki kamar perawatan Nadia. Ia sempat tertegun melihat kamar perawatan pasca bersalin Nadia.
President Suite.
Yang dilengkapi dengan sofa, bedside cabinet, TV LED 2 unit, lemari es, kitchen set, lemari pakaian, living room serta dinning room.
Sangat prestigious.
Nadia memang pernah memberitahu padanya, bila biaya persalinan akan ditanggung oleh kantor tempat Nadia bekerja. Tetapi ia tidak pernah menyangka bila Nadia akan memperoleh perawatan eksekutif. Karena jabatan istrinya di kantor itu hanya seorang staf administrasi.
Hal yang tidak masuk akal baginya. Membuatnya menaruh syak atas segala fasilitas yang diperoleh Nadia, bukan berasal dari kantor istrinya.
Tetapi dari ...
Ah sudahlah.
Bukan waktunya berprasangka buruk, karena ia memiliki kesalahan pada istrinya, sebab tidak berada di sisi Nadia saat melahirkan.
Di dalam kamar itu ada ayah dan ibunya, Bang Herial dan Mpok Nana, serta Lily tetangganya. Bagaimanapun perasaan tidak enak menyeruak saat semua mata di dalam kamar tertuju padanya.
"Nah tuh ayahnya datang," seru Lily begitu ia masuk ke dalam kamar.
Mpok Nana tersenyum padanya sementara Bang Herial diam memasang wajah menyeramkan. Mungkin Bang Herial sedang marah padanya karena baru pulang dari Semarang. Tidak mendampingi persalinan adik Bang Herial.
"Kok baru datang sih," protes Ibunya yang sedang menggendong bayi itu.
"Anakmu laki-laki Tris, bayinya masih kecil tapi sudah tampan," tutur Mpok Nana, berusaha menghangatkan suasana yang beku begitu ia muncul.
Ia tersenyum kepada Mpok Nana, lalu tersenyum pada Nadia. Namun ternyata Nadia tidak membalas senyum ataupun menyapanya. Nadia hanya memandanginya dengan sorot mata kecewa.
"Bagaimana keadaanmu? Kamu baik-baik saja?" Ia berjalan mendekati Nadia.
Nadia hanya mengangguk lemah lalu menutup matanya seolah enggan melihatnya.
Akhirnya ia menghampiri ibunya untuk melihat bayi yang baru dilahirkan istrinya lebih dekat.
Bayi yang masih memerah itu sedang cegukan. Sangat lucu.
Namun ia terhenyak begitu memperhatikan wajah bayi itu. Karena bayi itu memiliki hidung yang mancung, menyerupai hidung seseorang, tetapi bukan hidung mancung Nadia.
Dan bola mata bayi itu ... ternyata berwarna cokelat.
Baik mata maupun hidung bayi itu serupa dengan mata dan hidung ... orang yang paling dibencinya di dunia.
Begitupun dagu bayi itu. Persis sama dengan dagu orang itu.
Menyebabkan kepalanya mendadak pening, karena membayangkan apa yang diperbuat orang itu kepada istrinya, sehingga istrinya hamil dan melahirkan bayi itu.
Rasa nyeri membakar di dada kembali ia rasakan. Wajah pria pengkhianat itu menari-nari di pelupuk matanya.
Tiba-tiba perutnya terasa mual, perasaan ingin muntah. Dengan setengah berlari ia menuju toilet. Menumpahkan semua makanan yang telah masuk ke dalam perutnya. Sampai tidak ada yang tersisa.
__ADS_1
"Kamu kenapa Nak muntah-muntah?" tanya Ibunya cemas, memberikan bayi itu kepada Mpok Nana, lalu menghampirinya mengusap punggungnya.
"Asam lambung kumat Bu," jawabnya singkat.
Luapan emosi menyebabkan peningkatan asam lambungnya. Mungkin ibunya tidak tahu, bila ia muntah-muntah merupakan respon psikologis karena melihat bayi yang mirip orang itu.
Ia tidak ingin memandang ke arah bayi itu lagi. Bukan berarti ia benci. Tidak, ia sama sekali tidak membenci bayi itu, karena bayi itu tidak berdosa.
Namun wajah bayi itu menjadi stimulant munculnya emosi negatif dirinya. Mengingatkannya kepada sosok yang telah menikamnya dari belakang, yang ingin ia hilangkan dari hidupnya.
Sekarang sudah jelas siapa ayah bayi itu. Tidak perlu melakukan penyidikan genetik atau tes DNA untuk mengetahui informasi genetika dan mengungkapkan garis keturunan bayi tersebut.
"Kamu sudah punya nama untuk bayimu?" pertanyaan dengan intonasi riang dari Lily semakin membuat kepalanya pening. Dasar Lily yang tidak tahu apa-apa.
Seandainya tidak menghargai saudara iparnya dan menjaga perasaan Nadia, mungkin ia akan meninggalkan kamar itu sekarang. Sebelum ia menderita gangguan mental akibat pengalaman pahit hidupnya yang ternyata berkepanjangan.
********
Bertahun-tahun lamanya Nadia dalam penantian, untuk menyempurnakan dirinya sebagai perempuan seutuhnya.
Sembilan bulan lama berada dalam satu hembusan nafas dan berbagi kehidupan.
Melalui rasa sakitnya kontraksi, juga hati yang terkoyak karena terabai saat berjuang bertaruh nyawa melahirkan.
Puncaknya adalah saat suara tangisan menjadi dua. Tangisannya dan tangisan seorang bayi.
Segala rasa sakit yang ia rasakan hilang seketika.
Sesosok malaikat mungil telah lahir dari rahimnya.
Seseorang yang akan memanggilnya ibu.
Sekarang ia menemukan cinta barunya.
Selamat datang di dunia malaikat kecilku.
Amanat terindahku.
Bayi laki-laki itu dibawa oleh seorang tim medis ke perawatan bayi. Sementara dirinya masih harus melalui proses pengeluaran plasenta dan dokter menjahit va**na yang menjadi jalan keluar bayi.
Setelah melalui serangkaian proses melahirkan, Nadia dipindahkan dari ruang bersalin ke kamar perawatan. Tidak begitu lama berada di ruang perawatan, seorang bidan membawa bayinya masuk ke dalam kamarnya.
Ia menerima bayi yang baru saja terlahir dari rahimnya dengan penuh rasa haru. Air matanya jatuh karena bertahun-tahun lamanya ia menanti bayi itu. Bayi dengan warna kulit yang masih merah.
Begitu memperhatikan wajah bayi itu ia tercengang. Harunya menjadi berkali-kali lipat.
Seorang bayi laki-laki tampan.
Yang berhidung mancung dan bermata cokelat. Bayi yang menggemaskan.
Sangat mirip dengan ...
Ah.
Bayi yang menjadi penawar rindu.
Ia mengecup pipi bayi mungil itu sebelum memberinya asupan ASI pertama. Saat meng-ASI bayinya, tidak henti-hentinya memandang wajah bayi itu.
Karena wajah bayi itu membawa lamunannya kembali kepada dia. Pemilik wajah yang mempesona bak bintang benderang.
Anakmu telah lahir.
Ia menyentuh jemari tangan mungil nan lembut. Menimang dan membelai amanat terindahnya sampai terlelap.
__ADS_1
Kehadiran bayi itu membuatnya tidak menginginkan apa-apa lagi selain mendekap dengan penuh kasih sayang dan memeluk dengan penuh kehangatan.
Lara hatinya karena tidak didampingi suami saat melahirkan sudah terobati dengan hadirnya bayi menggemaskan itu.
Sekarang ia memiliki teman dan semangat untuk melanjutkan hidupnya. Menemukan alasan untuk berjuang menghadapi kenyataan. Kenyataan yang tidak selalu manis serta hidup yang seringkali sadis.
Ia tidak membutuhkan apa-apa lagi. Tidak juga Tristan. Karena setelah melihat wajah malaikat kecilnya, sungguh dirinya tidak beradab bila hidupnya dan hidup puteranya menjadi beban dan tanggung jawab Tristan.
Sekarang ia sudah tahu langkah apa yang hendak dilakukan selanjutnya.
Terlebih melihat reaksi Tristan begitu melihat puteranya. Tristan terkejut begitu melihat kemiripan bayi itu dengan ... pria yang bernama Bimasena. Sampai-sampai Tristan tidak mampu menahan emosinya, menyebabkan suaminya itu muntah-muntah di kamar mandi.
Pertanda bahwa, Tristan belum siap bila bayi yang ia lahirkan ternyata bukan darah daging sendiri.
Tidak mungkin dirinya akan menyiksa Tristan, membuat Tristan setiap hari melihat bayi, anak dari orang yang pernah mengecewakan Tristan.
Sehingga,
Ia memantapkan hati untuk ... melanjutkan hidup, berdua saja dengan puteranya. Bergandengan tangan dengan puteranya menapaki jalan menuju puncak harapan.
"Kamu sudah punya nama untuk bayimu?" Lily bertanya kepada Tristan.
Dengan cepat ia menyela untuk mendahului Tristan berbicara.
"Aku sudah menyiapkan nama untuknya," tegasnya pada Lily. Karena ia tidak ingin orang lain memberi nama untuk puteranya.
"Oh ya? Siapa?" tanya Lily kembali dengan ekspresi penasaran.
Semua mata di ruangan itu tertuju kepadanya sebelum ia mengucapkan sebuah Nama. Tidak terkecuali Tristan.
"Glor. Glor Gerardo."
"Glor artinya tombak. Gerardo artinya kemenangan. Glor Gerardo artinya tombak kemenangan."
Menangislah, tertawalah, terlelaplah anakku sayang, tombak kemenanganku. Esok kita berlari menyambut mimpi-mimpi indah berdua.
Ya, hanya berdua.
*******
Readersku tersayang,
Apa kabarnya hari ini? Semoga kalian tetap dalam keadaan sehat dan selalu di berikan kebahagiaan oleh Sang Pemilik Hidup.
Terima kasih atas kesabarannya menunggu UPnya novel ini.
Sekali lagi diingatkan, jangan mendekati selingkuh ya? π
Terima kasih atas segala apresiasinya.
Terima kasih telah bergabung dalam WAG dan Group Chat.
Terima kasih untuk readers kesayangan yang selalu memberi dukungan.
Semoga Tuhan memberi segala kebaikan untuk kalian.
Tetap dalam lindungan-Nya.
Salam sayang dari
Author Ina AS
πππ
__ADS_1