
BIMASENA
Entah pria macam apa aku, dengan tidak bermoralnya di depan sahabat sendiri aku mengirim pesan kepada istrinya yang sudah masuk ke dalam kamar.
Bimasena:
Entah mengapa aku merasa nyaman berada dalam jarak yang dekat denganmu, meskipun kamu memilih bersembunyi di dalam kamar. Kamu tahu aku datang ke rumah ini, hanya demi melihat kamu?
Gelisah menunggu jawaban dari dalam kamar membuat aku kehilangan fokus pada papan catur, sehingga Tristan berhasil mengeluarkan raja, bidak caturnya dari petak skak.
Ternyata pesanku hanya dibaca oleh Nadia, tanpa ada keinginan untuk membalasnya. Atau mungkin ucapanku padanya di depan toilet rumah Mithalia mengganggunya.
Aku kembali mengirimkan pesan kepada Nadia, sambil sekali-kali melirik suaminya yang duduk tepat di depanku.
Bimasena:
Kamu tidak perlu terbebani dengan ucapanku kemarin di depan toilet. Bila kamu masih ragu, biarlah waktu yang menjawabnya. Istirahatlah Nadia. Aku menjagamu dari luar sini.
Agak kecewa sih, dua pesanku tidak ada yang dibalas oleh Nadia. Tapi sebaiknya memang seperti itu. Karena Nadia adalah pertahanan terakhir. Sementara aku semakin tidak mampu mengendalikan diri.
Terkadang sulit rasanya mengendalikan desakan-desakan yang muncul dari dalam diri. Buktinya malam ini. Mengajak Tristan bermain catur sebenarnya hanya modus belaka.
Waktu yang kumiliki sangat terbatas bila hanya dihabiskan untuk bermain catur, ditengah desakan Pemerintah untuk percepatan transisi Blok Merangin.
Aku mengajak Tristan bermain catur dan tanpa menaruh curiga Tristan mengiyakan. Tristan tidak tahu bahwa pria di depannya sedang melakukan pengenalan medan operasi.
Aku malah menaruh iba pada Tristan, sama sekali ia tidak tahu bahwa sahabatnya merupakan ancaman dan gangguan bagi keutuhan rumah tangganya, sehingga ia tidak menjaga wilayah perbatasan dan objek vitalnya.
Yang sangat aku khawatirkan adalah bila kelak akan terjadi konflik lalu pecah perang antara aku dan Tristan. Namun sedapat mungkin aku akan menghindari dan meredam potensi ke arah itu.
Nadia adalah benteng terakhirku. Karena aku sudah meragukan diriku sendiri bila bisa menghindarinya. Aksi agresifku malam ini adalah bukti kelemahan pengendalian diriku.
__ADS_1
"Oh ya, siapa lagi nama cewek teman kamu di bandara kemarin? She's a smart woman. Menarik juga," ucapku kepada Tristan.
Raut wajah Tristan yang sebelumnya sangat serius memandang papan catur mendadak berbinar begitu menyinggung perempuan itu. Ia tidak menyadari bahwa pujian itu merupakan bagian dari strategi pengenalan medanku. Wanita itu yang aku puji malah Tristan yang besar kepala.
"Gimana keren kan? Asyik diajak ngobrol. High quality woman," jawabnya bangga.
"Siapa lagi namanya? aku lupa?" tanyaku kembali.
Tristan bukannya menjawab, malah memandangku dengan tatapan was-was dan curiga. Seolah ia khawatir aku akan merampas wanita itu dari Tristan. Aku semakin iba melihat sahabatku yang satu ini.
"Hakimah," jawabnya singkat. Lalu tangannya bergerak memindahkan bidak kuda.
"Boleh minta nomor handphonenya?"
Tristan lalu memandangku dengan tatapan kurang senang.
"Kamu jangan main-main dengannya Bro, ia perempuan baik-baik," tegas Tristan. Ia sangat serius mengatakan itu.
"Aku nggak main-main. Emang nggak boleh ya aku kenal Hakimah? Kami masih sama-sama single, dan sekarang aku sedang mencari calon istri," aku tidak berhenti menggoda Tristan.
Air mukanya sudah berubah. Rupanya perang akan pecah lebih awal. Buru-buru aku menormalkan situasi.
"Hakimah mimpi barumu Bro jadi kamu nggak senang aku kenal dia?" tanyaku dengan seringai menggoda kepada Tristan.
Tristan malah tergelak. Ia tidak menjawab namun dari tawanya secara tidak langsung menunjukkan bahwa ia mengiyakan.
"Lalu bagaimana dengan Nadia Bro?" tanyaku dengan wajah yang serius.
Yang ini baru intinya Tristan.
Tristan menghela nafas dan tersenyum.
__ADS_1
"Itulah Bro, sebelum menentukan pilihan wanita yang akan kamu jadikan istri, jangan hanya melihat dari kelebihan fisik saja. Perempuan masa kini tidak hanya dituntut untuk memiliki kelebihan secara fisik saja, tapi juga intelektual. Kelebihan fisik bisa saja membuat pria jatuh cinta. Tetapi agar hubungan itu bertahan lama, kecerdasan intelektual berperan penting. Ingat hati-hati memilih." Tristan malah memberi nasihat yang panjang padaku.
"Bro, jodoh itu campur tangan Sang Pemilik Kehidupan. Yang bisa kita lakukan, siapapun jodoh yang diberikan kepada kita, kita bisa menerima bahwa manusia merupakan makhluk yang tidak sempurna. Keutuhan rumah tangga adalah hal mutlak yang perlu dijaga. Jangan menyia-nyiakan rumah tangga karena terpikat oleh wanita lain. Jangan sampai mengharapkan Murai yang terbang tinggi, Punai di tangan dilepaskan. Tapi yang perlu kamu sadari, Istrimu itu bukan Punai Bro. Nadia seperti Merak yang memiliki ekor yang indah. Bisa menarik siapa pun dengan ekornya itu." Aku balas memberi nasihat padanya.
Namun yang ada malah kami tertawa bersama. Tentu saja sangat lucu bila aku yang belum memiliki pengalaman berumah tangga memberi nasihat sepanjang itu pada Tristan. Tristan malah tertawa meremehkan nasihatku.
"Sudah berapa lama kalian menikah?" tanyaku, aku kembali serius dan membiarkan Tristan mengurung pergerakan bidakku di papan catur.
"5 tahun," jawabnya singkat, dengan mata kembali berkonsentrasi pada papan catur.
"Apa karena belum memiliki, maaf.....'keturunan' sehingga kamu jadi jenuh dari Nadia?" Aku harap Tristan tidak akan tersinggung karena aku membahas soal 'keturunan', hal yang sangat sensitif bagi seorang pria yang belum memiliki keturunan.
"Mungkin kami belum diberi keturunan oleh Tuhan karena Nadia terlalu banyak tanggungan."
Jawaban Tristan membuatku mengernyit tidak mengerti ke arahnya sehingga ia lanjut menjelaskan.
"Kedua orang tua Nadia sudah meninggal. Sebenarnya banyak harta yang ditinggalkan. Namun Nadia memiliki seorang saudara, Kakak laki-laki."
"Kakaknya itu suka main judi dan main perempuan. Akhirnya usahanya bangkrut, dan harta orang tuanya habis dijual. Bahkan rumah yang jelas-jelas diwariskan mertuaku pada Nadia, dijadikan agunan di Bank. Kakaknya tidak mampu membayar utang di Bank lagi."
"Demi menyelamatkan rumah yang merupakan tanda mata dari orang tuanya, Nadia yang setiap bulan menalangi utang Kakaknya. Bukan hanya itu, Nadia juga membiayai sekolah dua anak Kakaknya yang terancam putus sekolah karena biaya."
"Apa yang diperoleh dari salon, habis hanya untuk membayar utang dan keperluan sekolah ponakannya. Tidak ada yang tersisa. Kadangkala aku kesalnya disitu."
Ternyata Nadia memiliki beban keluarga yang berat. Aku langsung teringat Ibuku, bagaimana ia banting tulang menghidupi kami setelah bercerai dari Ayah Kandungku. Sampai Ibuku bertemu dengan Ayah sambungku yang membuat hidup Ibuku bahagia dan sejahtera.
"Kamu harusnya membantu Nadia Bro, jangan biarkan wanita menanggung beban yang berat. Beban yang berat itu harusnya ada di pundak kita sebagai seorang pria." Entahlah mengapa hatiku trenyuh mendengar begitu berat beban yang dipikul Nadia.
"Loh, salon yang dikelola Nadia sekarang itu dimodali orang tuaku. Apa itu belum cukup membantu? Kehidupan Nadia sehari-hari kan aku yang menanggungnya. Aku harus bagaimana lagi? Mau tutupin utang Kakaknya? Berapa sih gajiku?" jawab Tristan dengan nada sinis.
Ah Nadia. Ingin rasanya menggantikan memikul bebannya. Tetapi siapalah diriku baginya?
__ADS_1
Semua yang aku dengar dari Tristan malam ini, semakin melengkapi rasa pada Nadia.