
Readersku tersayang,
Hayooo, pada nunggu kelanjutan part Daddy periksa Mami ya?
Ini bukan update novel Reuni. Apalagi double UP. Author hadir untuk memperkenalkan novel-novel yang telah ditulis oleh Author Ina AS.
Novel pertama adalah:
Aaliyah: Siapa Yang Kau Cinta?
(End)
Bercerita tentang seorang Perwira Polisi bernama Hadi, yang menikahi seorang gadis bernama Aaliyah. Mereka memiliki kisah cinta yang rumit dan berliku. Namun ujian berat yang telah mereka lalui, menguatkan rumah tangga mereka.
Novel kedua adalah:
Tak Bisa (Ke Lain Hati)
(End)
Novel ini bercerita tentang konflik percintaan di dalam lingkungan keluarga. Cinta segitiga antara Adhitama, Ayudia dan Adinda, yang ketiga tokoh masih memiliki hubungan keluarga. Lalu bagaimana akhir kisah mereka? Jangan lupa baca novelnya.
Novel ketiga adalah:
The Ring From Uncle Yasser
(On Going)
Novel ini merupakan kisah nyata Mbak Diwana dan seorang pria yang dipanggil Paman Yasser oleh Diwana. Sebuah kisah yang mengharu biru. Jangan lupa mengikuti love story yang satu ini.
Novel keempat adalah:
Pesona Nada
(On Going)
Novel ini mengisahkan seorang janda tiga anak yang bernama Nada. Wanita sholehah yang bertemu dengan seorang Pria yang memiliki dunia berbeda dengan dirinya, Abraham. Novel ini sedikit berbeda dengan novel sebelumnya karena mengandung unsur religi.
Novel kelima adalah:
Novel ini πππ
Novel yang beberapa kali ganti sampul.
__ADS_1
Novel yang baru saja dirilis selanjutnya adalah:
Perangkap Cinta Perayu Ulung
Prolog:
Sepagi ini Adam bersama pemuda desa sudah mangkal di depan sebuah Sekolah PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) pada suatu dusun. Sekolah dengan bangunan semi permanen berukuran kecil yang baginya lebih baik difungsikan menjadi kandang kambing ketimbang menampung anak kecil.
Ia berada di depan sekolah itu demi melihat Ibu Guru Jingga, guru honorer di sekolah tersebut. Kembang desa yang menjadi idaman dan rebutan para pemuda desa. Wanita yang menurut warga, tercantik di desa itu.
Rasa penasaran membuatnya melakukan hal bodoh. Belum mandi pagi ia sudah bergabung dengan empat orang pemuda desa yang menjadi kawan barunya. Rambut gondrongnya mekar seperti sarang burung, belum sempat tersentuh sisir.
"Ibu guru datang, ibu guru datang," seru Jusman. Salah satu kawan barunya yang bekerja sebagai penadah aren, yang akan dibuat menjadi tuak dan gula aren. Gula aren nantinya dijual ke pasar kecamatan. Tuak selain untuk dikonsumsi, juga dijual secara ilegal pada para pemabuk.
Mata jelinya turut melihat ke arah jalan setapak yang sering dilalui warga bila hendak ke kebun. Pada sisi kiri dan kanan jalan setapak itu, tutupan lahannya berupa semak belukar.
Lalu dari balik semak, muncul seorang gadis yang ditunggu-tunggu sedari tadi. Gadis tercantik di desa itu.
Seorang wanita yang mengenakan tunik batik longgar, rok panjang yang melebar dan jilbab berwarna kuning. Gadis itu menjinjing kantong kresek di tangan kirinya yang berisi sepatu, dan menyandang tas di bahu kanannya.
Ibu guru itu mengenakan sendal jepit yang dilengketi tanah liat jalan setapak yang dilalui. Mungkin ibu guru itu akan mengganti sandal jepit dengan sepatu sebelum masuk ke dalam sekolah.
"Assalamualaikum. Selamat pagi Ibu Guru Jingga." Hampir secara bersamaan Jusman, Ramli, Arsal dan Yunus dengan mata terpana menyapa ibu guru itu ketika lewat di hadapan mereka.
Matanya mengamati gadis itu dari atas ke bawah ketika lewat di depannya. Otaknya merespon dengan cepat informasi yang ditangkap matanya, spontan memberikan penilaian terhadap gadis itu.
Di bawah standar.
Begitulah hasil penilaiannya.
Tidak seperti kawan-kawan barunya yang terkesima memandang gadis itu lewat di depan mereka, sampai lidah menjulur tanpa mereka sadari. Hatinya justru mendongkol karena gadis yang ditunggunya ternyata jauh di bawah ekspektasinya.
Bagaimana tidak, tidurnya masih nyenyak di saung bambu setelah semalaman begadang bermain domino bersama orang desa, pagi-pagi ia sudah dibangunkan oleh empat bedebah itu. Demi memperlihatkan Ibu Guru Jingga, wanita idaman mereka.
Deretan wanita yang pernah jatuh ke dalam pelukannya, kelasnya jauh di atas wanita yang baru lewat tadi. Wanita itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Amel, Jovika, Laudya, dan yang terakhir Sophia.
"Jadi itu gadis paling cantik di desa ini yang kalian maksud?" Ia mendengus kesal. "Kalau yang seperti itu, di Bandung tiap melangkah pasti ketemu yang semacam itu," protesnya pada kawan-kawannya yang sudah mengganggu tidurnya demi melihat wanita itu.
Memang benar apa yang ia katakan. Bahkan pengemis wanita di Bandung pun, jauh lebih keren dari wanita tadi.
"Masa sih?" tanya Ramli yang belum pernah menginjakkan kaki di kota besar.
Bila Ibu Guru Jingga adalah gadis tercantik di desa itu, lantas bagaimana rupa gadis-gadis yang lain?
"Iya, gadis macam itu banyak hanyut di Sungai Citarum. Tinggal bawa kail, sekali mancing bisa bawa pulang sepuluh orang ke rumahmu. Mau diapain saja begitu tiba di kamarmu, bebas. Nggak perlu bayar," ujarnya pada Ramli pemuda usil namun cenderung polos itu.
Wajah ramli mendadak berbinar, membayangkan hal tabu di kepala.
"Kapan-kapan aku ikut kamu ke Bandung ya?" lontar Ramli penuh harap. Ternyata kawannya itu bukan hanya polos. Tetapi juga bodoh. Wajar bila Ramli yang berprofesi sebagai seorang buruh bangunan tidak pernah dipromosi menjadi tukang batu.
__ADS_1
Bila ia turut menggoda Ibu Guru Jingga seperti para pemuda desa, lantas berpacaran dengan gadis itu, maka akan menjadi pencapaian terburuk dalam sejarah percintaannya.
Ia yakin, dirinya akan menjadi bahan tertawaan dan bahan lolucon teman-teman gaulnya di Bandung.
Lalu apa kata Sophia nanti, wanita yang baru saja memutuskan cintanya, bila mengetahui ia menjalin hubungan dengan wanita desa?
Mantan pacarnya yang sedang melanjutkan pendidikannya di Amsterdam itu memutuskannya karena mendapat informasi bila ia tertangkap polisi saat sedang melakukan pesta narkoba. Dan terpaksa masuk ke dalam panti rehabilitasi narkotika.
Tentu derajatnya semakin rendah di mata Sophia bila ia berpacaran dengan wanita kampung juga kampungan.
Sekarang ia merasa hidupnya beberapa bulan kedepan akan menjadi suram. Tidak ada wajah-wajah cantik yang bisa membuat mata rabun namun membangkitkan gairah seperti di kota.
Teman gaulnya mulai dari teman kuliah, teman nge-band, teman nongkrong di cafe, juga teman-temannya di lapangan basket, berganti dengan empat pemuda pandir yang tidak bisa diharapkan oleh negara.
Belum lagi karena marah dan kecewa padanya, ayahnya memangkas uang bulanannya tanpa rasa prikemanusiaan. Jangankan untuk menghabur-hamburkan uang seperti sebelumnya, untuk membeli sebungkus rokokpun sekarang ia sudah kesulitan.
Karena kenakalannya, ayahnya mengirimnya untuk belajar agama di sebuah desa terpencil. Pada Ustadz Zaenal teman Ayahnya. Di desa itu ia menemui kehidupan yang jauh berbeda dari tempat asalnya.
Bisakah ia betah tinggal berbulan-bulan di tempat itu?
Novel lain yang juga sudah dirilis adalah:
Edelweiss Bunga Di Taman Hati
Prolog:
Ketika pandangan mata seorang gadis yang baru beranjak remaja, Edelweiss, tertuju kepada sosok pria berpostur sempurna, yang duduk di ujung meja saat jamuan makan malam, saat itu pula ia merasakan gelombang rasa yang luar biasa.Β
Inikah yang namanya jatuh cinta?
Sejak malam itu, Edelweiss terperangkap dalam perasaan dan penantian selama bertahun-bertahun. Melakukan berbagai cara demi mencuri secercah perhatian dari pria penuh kilatan pesona.
Dan ketika waktu itu tiba, ia memiliki kesempatan dan keberanian untuk mengungkapkan perasaan kepada pria itu, bagaimana sambutan pria yang bernama Fathansyah Putera Hadi?
Pria yang tidak banyak bicara itu tertawa terbahak-bahak, memandangnya dengan mata menyipit, seolah ungkapan perasaannya hanya sebuah lawakan semata.Β
"Del, Tidak mungkin pria dewasa menjalin hubungan dengan wanita berseragam putih biru, yang baru kemarin melepas seragam putih merahnya. Tidak mungkin juga Mas Fathan menunggu kamu dewasa. Pulanglah ke sekolah. Belajar baik-baik. Belum waktunya anak kecil seperti kamu mengenal pacaran."
Terima kasih telah membaca novel author. Terima kasih atas segala dukungannya.
Salam penuh cinta dari:
Author Ina AS
Facebook: Ina AS
Instagram : inaas.author
__ADS_1