REUNI INDAHNYA MENDUA

REUNI INDAHNYA MENDUA
107. Apa Yang Tidak Kuberikan?


__ADS_3

Danindra tidak habis pikir, mengapa Nadia menolak menjadi pemilik penthouse yang dibeli oleh Bimasena.


Begitulah Nadiaku, nggak matre seperti cewek-cewek yang mengerumuni kamu.


Seperti itu kata Bimasena melalu saluran telepon, saat ia mempertanyakan kewarasan Nadia kepada Bimasena.


Sama seperti Bimasena, ia pernah menyukai wanita yang sudah berkeluarga. Sampai-sampai berani bermain api dengan keluarga istana Wakil Presiden. Melakukan cara yang curang demi mendapatkan wanita idaman.


Tetapi ternyata setelah bercerai dengan putera wakil presiden, wanita itu malah jatuh ke pelukan pria lain. Takdir tidak berpihak kepadanya.


Bagaimanapun ia penasaran, apa yang membuat sahabatnya jatuh cinta kepada Nadia.


Nadia dan Adinda, wanita yang ditaksirnya, sama-sama memiliki kecantikan tersendiri. Tetapi Adinda adalah wanita yang cerdas dan seorang arsitektur. Alumni Universitas Indonesia dan The University Of Sydney. Sementara Nadia tidak sempat mengenyam bangku kuliah karena sibuk menjadi seorang model.


Yang membuatnya tidak habis pikir adalah Adinda yang memiliki potensi yang tinggi justru memutuskan menjadi ibu rumah tangga setelah memiliki suami kaya.


Berbeda dengan Nadia, yang memiliki potensi pas-pasan dalam dunia bisnis property, malah memiliki semangat yang besar untuk terlibat dalam bisnisnya. Padahal dengan mudah Nadia bisa menguras rekening sahabatnya, Bimasena, tanpa harus bekerja.


Dan yang tidak masuk akal baginya adalah, Nadia menolak penthouse yang akan dibeli Bimasena, calon suami Nadia sendiri. Cukup puas dengan komisi sepuluh persen yang diterima.


Apa Nadia masih normal? Atau terlalu menjaga harga diri?


Ia mengundang Nadia untuk makan siang. Tentu saja sebelumnya ia sudah meminta izin kepada Bimasena dengan dalih bisnis.


Bimasena memberi ultimatum kepadanya,


Boleh, terapi jangan macam-macam pada calon istriku, atau bom atom akan meledak di wajahmu.


"Bagaimana trainingnya, Nadia?" tanyanya begitu Nadia tiba di restoran. Wanita itu baru saja selesai mengikuti training marketing property yang diselenggarakan perusahaannya untuk para marketing pemula seperti Nadia.


"Bagus Mas. Kami dibekali pengetahuan di bidang properti. Mulai dari sisi penguasaan produk properti atau hunian yang akan dipasarkan, baik dari lokasi, kawasan, konsep hunian, perizinan, legalitas, proses pembayaran, pembiayaan, pembangunan hingga rumah di serah terimakan kepada konsumen. Ternyata kompleks banget. Banyak yang harus diketahui," sahut Nadia, entah menjelaskan kepadanya atau mengeluh.


"Siapa yang jaga Glor di rumah? Udah punya baby sitter ?"


"Nggak Mas. Yang jaga Glor saudara iparku, mpok Nana. Mpok Nana juga sedang cari pekerjaan. Begitu tahu aku mau mencari pengasuh untuk baby Glor, mpok Nana menawarkan diri."


"Kenapa sih kamu menolak atas nama di penthouse itu? Bimasena kan beli penthouse itu untuk kamu juga, untuk kalian tempati setelah menikah."


"Itukan urusan setelah menikah Mas. Kami belum menikah."


"Memang kamu ragu pada Bima?"


"Nggak juga. Hanya aku ingin hidup sesuai dengan batas kemampuanku aja Mas. Aku sudah terbiasa hidup seperti ini." Nadia tersenyum.


"Jadi setelah training kamu sudah tahu apa yang harus kamu lakukan?"


"Promosi?" sahut Nadia.


"Kamu sudah membuat strategi promosi?"


"Lewat sosial media?" jawab Nadia ragu.


"Digital marketing namanya Nadia. Salah satunya melalui sosial media, tetapi lewat sosial media terbatas untuk teman-teman kamu saja. Kamu harus kuasai pasar marketplace properti. Caranya dengan memasang iklan gratis dan berbayar pada marketplace itu," terangnya kepada Nadia.


Nadia mendengarkannya dengan antusias. Namun lebih terlihat bingung daripada memahami.


Ia kembali melanjutkan. "Nah, ada lagi satu cara pemasaran yang jitu. Aku yakin kamu bisa melakukannya."


Nadia menampakkan ekpresi tertarik dengan ucapan terakhirnya. Mendengarkan arahannya dengan sungguh-sungguh.


*********


Bimasena sedang berada di kilang minyak memantau proses pengolahan minyak bumi. Ia mulai merasa terganggu, dengan empat orang bodyguard yang mengikutinya kesana kemari.


Jasa keamanan yang disediakan oleh perusahaan. Untuk mengantisipasi gangguan keamanan.


Begitu panggilan video call dari Nadia masuk di handphone-nya, ia memberi isyarat kepada para bodyguard-nya agar menjauh darinya.


Bimasena: Halo Mi.


Nadia : Bim ...


Nadia terlihat di dalam layar handphone-nya mengenakan daster. Mungkin ibu puteranya itu sudah bersiap untuk tidur. Karena Jakarta lebih cepat sebelas jam dari Caracas.

__ADS_1


Bimasena : Glor sudah tidur, Mi?


Nadia mengangguk. Lalu memperlihatkan Glor yang sedang tertidur telentang dengan kedua tangan direntangkan ke atas. Sangat lucu. Membuatnya tertawa dan semakin menambah rasa kangennya terhadap bayi itu.


Nadia : Kamu di mana?


Bimasena : Di kilang.


Ia memperlihatkan kepada Nadia fasilitas industri yang terdapat pada pabrik pengolahan minyak tersebut. Agar Nadia tidak perlu mengucapkan kata Miss Venezuela lagi. Terbukti dengan senyum senang yang melengkung di bibir wanita itu.


Bimasena : Bagaimana trainingnya?


Nadia : Menyenangkan. Aku dapat banyak ilmu baru mengenai pemasaran property.


Bimasena : Jadi kamu sudah punya ide harus mulai dari mana pemasaran propertinya?


Nadia berdeham, lalu menjawab dengan serius.


Nadia : Jadi begini. Di FreddCo Energy kan banyak tenaga kerja asing. Bule.


Belum selesai ucapan Nadia ia sudah terbatuk. Sehingga Nadia berhenti menjelaskan.


Nadia : Kamu kenapa Bim?


Begitu Nadia menyebut FreddCo Energy, ia sudah tahu. Ide itu bukan datang dari Nadia. Tetapi Danindra yang kembali memperalat Nadia untuk mendapat akses ke FreddCo Energy.


Sialan.


Jelas ia tidak senang bila sebentar lagi akan melihat wajah Danindra di layar handphone-nya. Tertawa mengoloknya karena berhasil mengerjai dirinya melalui Nadia.


Bimasena : Nggak, di sini banyak asap. Lanjut sayang!


Ia sudah bisa menebak kemana arah pembicaraan Nadia. Tetapi berpura-pura mendengar dengan serius. Untuk menghargai usaha wanita itu. Juga agar tidak meruntuhkan semangat Nadia di awal langkah.


Nadia : Jadi begini. Di FreddCo Energy kan banyak tenaga kerja asing. Bule. Yang nyiapain tempat tinggal untuk mereka kan perusahaan.


Nadia selanjutnya merengek kepadanya.


Nadia : Bantu aku ya Bim ... Bantu aku bekerja sama dengan FreddCo Energy, biar aku yang bantu FreddCo Energy menyiapkan tempat tinggal, rumah atau apartemen untuk tenaga kerja asing itu.


Bimasena : Ide yang cemerlang sayang. Aku malah tidak pernah berpikir sampai kesana. Kamu hebat bisa memikirkannya.


Ia terpaksa berbohong memuji wanita di layar handphone itu, demi menumbuhkan rasa percaya diri Nadia.


Tetapi Nadia adalah wanita yang jujur. Tidak pandai berbohong. Atau mungkin itu yang namanya polos?


Nadia : Itu ide Mas Indra.


Bimasena : Hemm Mas Indra? Kamu panggil dia Mas Indra, sementara kamu panggil aku Bim?


Nadia : Itu ide Mas Indra, Daddy.


Seperti biasa, Nadia begitu risih memanggilnya Daddy.


Nadia : Kamu bisa bantu aku nggak Bim? Daddy?


Bimasena : Nadia apa yang tidak kuberikan kepadamu?


Bimasena : Aku akan menelpon Direktur Utama FreddCo Energy. Lalu Aurel akan mengantarmu bertemu dengannya.


Wajah Nadia mendadak berbinar gembira.


Padahal ia lebih senang Nadia meminta uang langsung padanya. Tidak usah dengan cara yang ribet seperti ini. Melibatkan dan menyusahkan banyak orang.


Nadia : Terima kasih, Daddy.


Bimasena : Trus apa yang diberikan Mommy kepada Daddy?


Di otaknya mulai muncul ide cemerlang. Tepatnya ide nakal.


Ia bersandar di dinding lalu menoleh ke depan, kiri dan kanan untuk memastikan keamanan privacy -nya. Ia lalu memberi isyarat kepada para bodyguard untuk memasang jarak yang lebih jauh darinya.


Nadia : Kalau rencana ini berhasil kita berbagi komisi, fifty-fifty.

__ADS_1


Tawaran Nadia membuatnya tergelak. Berbagi komisi? Sangat menggelikan.


Bimasena : Mi Amor. Di FreddCo Energy negara manapun, apalagi di Indonesia, bila Bimasena yang meminta, maka direktur utama wajib memenuhi permintaan pria yang bernama Bimasena. Jadi rencanamu sudah pasti berhasil.


Bimasena: Tapi aku nggak tertarik dengan ide berbagi komisi.


Nadia : Trus apa yang bisa kuberikan?


Nadia menampakkan ekspresi bingung.


Bimasena : Nadia, aku kangen. Aku ingin melihat kamu.


Nadia : Loh kan kamu sudah melihat aku sekarang? atau signal di sana kurang bagus ya Bim?


Yah, justru signal Nadia lah yang lemah. Tidak bisa menangkap apa yang diinginkannya.


Bimasena : Aku ingin melihat kamu polos. Seperti saat di sofa.


Mulut Nadia membulat, mata membelalak dan wajah menjadi merah padam.


Nadia : Biiiiiiiiiiiiiiim.


Pekikan Nadia nyaris memecahkan layar ponselnya.


*********


Danindra tertawa penuh kemenangan, melihat panggilan video call dari Bimasena. Ia yakin misinya telah berhasil karena Bimasena meneleponnya tengah malam.


Bimasena : **** you! (Sialan kamu!). I will beat the **** out of you (Aku akan menghajarmu).


Kalimat pembuka yang sangat manis dan sangat sopan dari sahabatnya.


Bimasena : Kamu mau membantu calon istriku atau memperalatnya?


Ia terbahak-bahak melihat ekspresi kesal Bimasena. Karena mampu memperdaya Bimasena merupakan capaian yang besar dalam hidupnya. Sangat menyenangkan.


Sekarang ia tahu dimana kelemahan sahabatnya yang lihai itu. Kelemahan Bimasena adalah ... Nadia.


Danindra : Jadi lu nggak ikhlas membantu Nadia? Gua sampaikan ke Nadia loh.


Ia ingin melihat bagaimana reaksi Bimasena atas ancamannya.


Bimasena : You’re such an ******* (Kamu berengsek)


Kemudian ia tergelak bersama dengan Bimasena. Ia jarang bisa mengalahkan Bimasena di atas sirkuit. Sekarang adalah saat yang tepat menghajar Bimasena.


Danindra : Sekarang gua tahu kenapa lu menggilai Nadia selain karena kecantikannya.


Bimasena : Karena apa?


Danindra : Karena memiliki wanita yang polos itu adalah hiburan tersendiri. Mainan yang menggemaskan dan menyenangkan.


Danindra : Juga Ngangenin.


Ia kembali memancing emosi sahabatnya.


Bimasena : Ngangenin? Go or I’ll kick your ***! (Pergi atau akan kuhajar kau !)


********


Readersku tersayang,


Apa kabarnya hari ini? Semoga selalu diberikan limpahan kesehatan dan rezeki dari Sang Pencipta.


Author mau sampaikan bahwa part ini adalah episode-episode akhir novel Reuni (Indahnya Mendua). Tersisa beberapa episode lagi untuk novel ini.


Belum rela berpisah dengan Bimasena? Doakan author diberikan kesehatan dan kesempatan untuk menulis season 2 novel ini.


Sebagai ucapan terimakasih kepada dukungan readers, author akan memberikan gift kepada tiga readers dengan dukungan tertinggi yang dilihat pada akhir episode.


Terima kasih atas segala dukungannya terhadap novel ini. Hanya Tuhan yang bisa membalas kebaikan readers.


Salam sayang dari

__ADS_1


Author Ina AS


😘😘😘


__ADS_2