
Kaos yang Bimasena kenakan basah oleh air mata Nadia. Setelah mengurung wanita itu selama tiga hari di Ramo Verde Prison bersamanya, tiba saat Nadia pulang ke Indonesia bersama Danindra.
Sejak tadi malam sikap Nadia seperti itu. Menangis di dadanya, lalu terlelap, bangun menangis lagi, terlelap lagi, berulang-ulang.
Nadia masih berat hati kembali ke Indonesia. Namun karena Glor yang membutuhkan ASI juga perlindungan dari seorang ibu, tidak ada pilihan bagi Nadia selain kembali ke Indonesia.
Ia baru merasakan, bagaimana menjadi pria yang sangat penting di hati seorang wanita. Ia merasa menjadi pria yang sangat berarti, begitu dibutuhkan.
Berbagai kalimat ia sudah keluarkan untuk menghibur Nadia, tetapi tidak ada yang ampuh meredakan tangis wanita tersebut. Sehingga ia memilih diam, hanya membelai rambut Nadia, membiarkan wanita itu larut dalam tangis.
"You’re the one girl that made me risk everything for a future worth having (Kau adalah satu-satunya perempuan yang membuatku mempertaruhkan segalanya demi masa depan berharga)."
"Jangan khawatir, Sayang. Aku sudah menyiapkan beberapa alternatif untuk mengantisipasi kemungkinan yang akan terjadi terkait proses hukumku." Ia kembali menyeka air mata Nadia untuk yang kesekian kalinya.
Bukan hanya Nadia yang merasa berat meninggalkannya. Ia pun berat hati ditinggalkan Nadia di tempat pengekangan itu.
Ingin rasanya menahan Nadia lebih lama lagi. Bahkan ingin rasanya membawa Glor ke tempat itu. Mereka bertiga di bilik itu sampai tiba waktunya keluar penjara.
Namun tidak mungkin ia membiarkan puteranya tumbuh di dalam penjara. Bukanlah sebuah pengalaman yang baik untuk anak sekecil Glor merasakan berada di balik jeruji. Meskipun Glor tidak mungkin mengingatnya nanti karena usianya yang baru memasuki satu tahun.
"Beneran Bim kamu bisa kembali ke Indonesia meskipun sedang ditahan?" tanya Nadia dengan suara lirih tak bertenaga, penuh harap.
"I promise I’ll come back for you and Glor (Aku janji akan kembali untukmu dan Glor)."
"Kemungkinan terburuknya adalah aku tidak bisa keluar dari penjara. Maka kamu yang datang kemari. Kita menikah di sini," paparnya. "Kamu mau menikah di dalam penjara?"
Nadia mengangguk mantap, lalu memejamkan mata, tidak lama kemudian kembali tertidur di dadanya.
Sudah berapa kali Nadia tertidur seperti itu. Bangun sebentar, lalu tertidur lagi.
Nadia seolah kehabisan tenaga.
Apa karena Nadia hendak pulang ke Indonesia sehingga menjadi tidak bersemangat?
Atau dirinya yang terlalu berlebihan menguras tenaga Nadia selama tiga hari ini tanpa peduli Nadia menolak atau mengeluh?
Mungkin faktor kedua-duanya.
Dan begitu Danindra telah berada di depan bilik, air mata Nadia semakin deras saja.
"Aku janji akan menikahimu segera. Nggak mungkin aku mengingkari janjiku karena kamu sungguh berarti bagi hidupku. Kamu ibu dari puteraku. Percayalah suatu saat kita akan bersama," janjinya untuk mengikatkan diri kepada Nadia.
"Janji, Bim," ucap Nadia penuh harap, mendongakkan kepala menatapnya.
"Iya, aku janji," sahutnya tanpa ragu, berusaha meyakinkan Nadia. "Jangan nangis, kita berpisah kan untuk bertemu kembali."
"Cium sayangku untuk Glor. Titip puteraku ya, Mi," pesannya kepada Nadia, sebelum memberi kecupan perpisahan untuk wanita yang selalu membayangi langkahnya.
*******
__ADS_1
"Kalian ngapain saja di dalam bilik?" pertanyaan Danindra yang duduk pada kursi sebelahnya di dalam kabin pesawat, memanaskan kuping Nadia.
Menorehkan semburat merah muda pada pipinya. Sungguh malu rasanya bila Danindra tahu apa yang terjadi antara ia dan Bimasena di dalam bilik itu.
Ataukah Danindra curiga?
"Ya, ka kami hanya ngobrol tentang Glor. Bima sibuk dengan pekerjaannya," terangnya, gelagapan. Tapi malah disambut dengan ledakan tawa oleh Danindra. Membuat wajahnya yang merah jambu menjadi merah padam.
*******
Sejak kapan Danindra menjadi orang yang 'kepo' (Knowing Every Particular Object), serba ingin tahu urusan orang. Tetapi daripada melihat Nadia terus-terusan terisak di sebelahnya, lebih baik menggoda wanita milik sahabatnya itu.
"Ya, ka kami ngobrol tentang Glor. Bima sibuk dengan pekerjaannya," terang Nadia gelagapan, membuat tawanya meledak.
Hanya ngobrol? Mustahil Nadia bisa lolos dari terkaman singa lapar, Bimasena. Apalagi bersama Bimasena dalam satu bilik selama tiga hari.
Nadia menjadi jengah dan salah tingkah karena tawanya.
"Serius nih, hanya ngobrol doang, nggak ada ... " Ia memberi bahasa isyarat dengan mempertemukan ujung jari kedua tangannya.
Membuat pipi Nadia bersemu merah. "Nggak ada. Idih Mas Indra otaknya traveling aja," sungut Nadia. Lalu menyembunyikan wajah dengan menoleh ke arah yang berlawanan.
"Kok mata lu sembab? Emang lu diapain oleh Bima sampai nangis gitu?"
Rona merah pipi Nadia membuat Nadia nampak semakin manis saja. Bulu mata lebat dan lentik wanita itu, natural bukan false eyelashes.
Kira-kira bagaimana rasa bibir wanita itu? Rasa strawberry kah? Atau rasa cherry ?
Namun yang paling menarik dari Nadia adalah leher jenjang lembut wanita tersebut. Yang kini dibungkus dengan syal. Ia yakin Nadia sedang menutupi kissmark yang ditinggalkan Bimasena.
Bila diperhatikan dengan seksama, Nadia memang lebih menarik dari Miss Venezuela yang menemaninya selama tiga malam di Caracas. Miss yang sudah menguras isi dompetnya. Namun menjadi hiburannya selama di Caracas karena ia dilarang keluar hotel.
Mending dompetnya dikuras oleh Daniela. Karena simbiosis mutualisme berlaku. Daripada dalam sekejap ia kehilangan rumah di Pantai Indah Kapuk, hanya karena taruhan dengan Bimasena. Taruhan tanpa memperhitungkan kemampuan sahabatnya tersebut.
Memang benar kata Nadia, otaknya jadi travelling. Matanya mencuri pandang bukan sampai di leher Nadia yang terbalut syal. Turun sedikit lebih ke bawah lagi.
Ia yakin sahabatnya di Caracas sedang sehat tingkat dewa. Karena baru saja mendapat asupan protein, lemak dan vitamin milik Glor.
Ada yang bisa menjelaskan padanya perbedaan rasa air susu ibu dengan susu sapi?
Jadi penasaran.
"Aku nggak diapa-apain sama Bima, Mas. Jelas aku nangis karena kami harus berpisah bertahun-tahun lamanya. Nggak tahu kapan bisa bertemu lagi," jawab Nadia dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
"Bertahun-tahun? Emang Bima mau dikurung selama itu?" Ia bertanya kepada Nadia, berpura-pura tidak mengerti perihal kasus hukum Bimasena.
"Kasusnya berat, Mas," keluh Nadia dengan bibir bergetar. "Bima diancam sepuluh sampai lima belas tahun penjara."
Ia harus menoleh ke arah lain agar Nadia tidak melihat tawanya. Karena wanita polos disampingnya tidak menyadari diri bila sedang diuji cinta dan kesetiaan oleh Bimasena.
__ADS_1
Toh Bimasena sudah mengaku padanya bila dia akan menjalani masa tahanan tidak sampai lima bulan. Semua telah diatur Tim Bimasena, dari jaksa sampai ke hakim. Tetapi pada Nadia, Bimasena mengatakan akan menjalani hukuman bertahun-tahun.
Kadang dalam menjalani sebuah hubungan, seseorang akan melakukan ujian atau tes-tes kecil pada pasangannya. Salah satu yang harus diuji adalah cinta, kesetiaan dan sifat materialistis pasangan.
"Nadia, kamu mau bertaruh? Gua yakin Bimasena bebas dalam lima bulan." Ia melihat sebuah peluang yang menguntungkan.
"Bertaruh itu judi, Mas. Nggak boleh," sahut Nadia menggelengkan kepala.
Ternyata ia dan Bimasena tidak sealiran dengan Nadia yang menganggap taruhan hanya sekedar permainan. Sayang.
Nadia melanjutkan kembali, "Memang Bima bisa kembali ke Indonesia dalam lima bulan, Mas. Tetapi hanya izin keluar penjara. Bukan bebas dari penjara."
Bagaimana ia tidak tergelak bila Nadia begitu polos? Mana ada izin-izinan dari penjara untuk keluar negeri?
"Nadia, gua sudah ngobrol dengan Bimasena. Dia dan tim kuasa hukumnya akan memaksimalkan upaya agar Bimasena dapat bebas. Apalagi dengan kehadiran lu di Caracas. Bimasena semakin gigih mendesak tim kuasa hukumnya. Tidak sabar segera bebas agar bisa menikahi lu," ujarnya sedikit berbohong. Berbohong untuk kebaikan, demi mengurai kesedihan Nadia.
"Bila Bimasena membutuhkan, gua akan membantu dengan dana dan jaringan ayah gua, agar Bimasena bisa bebas dan kalian segera menikah," tambahnya lagi.
Tentu saja Bimasena tidak mungkin membutuhkan bantuan dana darinya. Apalagi jaringan. Jaringan ayah tiri Bimasena lebih kuat.
"Makasih Mas Indra. Mas Indra sudah banyak membantu aku. Membantu dalam pekerjaan, perjalanan ke Venezuela semua digratisin, sekarang mau membantu Bima lagi. Aku nggak tahu bagaimana cara berterima kasih kepada Mas Indra. Makasih banyak ya, Mas," ucap Nadia, memandangnya dengan mata berkaca-kaca.
Seorang pebisnis harus pandai membaca peluang, atau menciptakan peluang.
"Kalau begitu kita jangan bertaruh bila bertaruh itu judi. Kalau Bimasena bebas dari penjara sebelum lima bulan, gua dapat hadiah apa?" selorohnya kepada Nadia. Mencari peluang dengan menggunakan metode trial and error (coba-coba).
"Memang Mas Indra mau hadiah apa?" Nadia malah balik bertanya kepadanya.
"Kalau gua minta sesuatu lu yakin bisa ngasih?"
"Aku pasti upayakan. Mas Indra udah banyak berjasa padaku."
Baiklah. Saatnya membalas kekalahan pada Bimasena.
"Jadi gini. Gua sebenarnya naksir mobil Audy R8 Bimasena. Harga bekasnya di pasaran 2,5 M. Gua ingin beli. Tapi tidak mungkin Bimasena ingin menjualnya pada gua. Siapa tahu lu bisa membantu gua, membujuk Bima agar melepas mobilnya 2,5 M. Kalau lu yang minta, pasti Bimasena menuruti, karena dia takut kehilangan lu Nadia," paparnya.
"Oh cuma itu." Nadia tersenyum. "Baik Mas, nanti aku yang minta sama Bima. Aku yakin Bima pasti melepasnya. Kalau Bima nggak mau, aku beli atas nama aku." Nadia seolah menggampangkan.
Ia bersorak dalam hati. Karena mobil bekas Bimasena masih bisa laku dengan harga 5 milyaran di pasaran. Selisihnya bisa menutupi nilai rumahnya yang melayang begitu saja hanya karena iseng-iseng berhadiahnya dengan Bimasena.
Gembiranya bukan karena yakin bisa memiliki mobil Bimasena dengan harga murah. Tetapi karena bisa membalas kekalahannya pada Bimasena.
Danindra jangan dilawan.
Ia sudah memegang kartu AS Bimasena. Ia sudah tahu dimana titik lemah sahabatnya itu.
Titik lemah Panglima yang Gagah Berani itu ada pada ...
Nadia Khumeerah.
__ADS_1