REUNI INDAHNYA MENDUA

REUNI INDAHNYA MENDUA
77. Mentari Berselimut Mendung


__ADS_3

Awalnya Bimasena masih tenang saat mengetahui Nadia meninggalkan apartemen. Begitupun saat ia mengetahui Nadia pulang ke rumah Bang Herial.


Namun saat mendengar laporan bahwa Nadia kembali ke rumah Tristan, ia sudah tidak bisa tenang lagi.


Ingin marah tapi pada siapa? Nadia? Ibunya jelaslah tidak mungkin.


Akhirnya ia menghubungi nomor seseorang dan meluapkan kekesalannya.


Bimasena : Kamu sekretarisku atau sekretaris ibuku? Apa niat kamu membocorkan masalah pribadiku kepada ibuku tanpa sepengetahuanku? Membawa ibuku pula menemui Nadia diam-diam? Apa yang kamu inginkan Aurel?


Seorang atasan marah kepada bawahan itu sudah biasa. Tetapi belum pernah sebelumnya ia membentak Aurel seperti ini.


Aurel : Ma maaf Pak. Aku tidak punya maksud apa-apa Pak. Tapi Ibu Imelda menghubungiku, bertanya soal Mbak Nadia. Aku nggak berani berbohong Pak. Jadi aku katakan apa adanya.


Aurel : Ternyata saat Pak Bima berangkat ke Dubai, Ibu Imelda datang dari Amerika. Beliau minta bertemu saudara Mbak Nadia, Mertua Mbak Nadia dan juga suami Mbak Nadia.


Suami Mbak Nadia? Kalimat yang membuat kupingnya memanas. Aurel seolah menegaskan status perkawinan Nadia kepadanya.


Namun informasi yang baru diketahuinya adalah ibunya bertemu dengan Bang Herial, orang tua Tristan, juga Tristan sendiri.


Baginya ibunya bukan masalah. Dengan teknik komunikasi tertentu, ia bisa meyakinkan ibunya. Tapi masalahnya sekarang adalah, karena Nadia sudah meninggalkannya, kembali pada Tristan.


*******


Cahaya keemasan mentari pagi menyusup masuk melalui tirai jendela. Memaksa Nadia untuk membuka matanya yang masih ingin terpejam. Padahal ia belum ingin bertemu dengan dunia. Ia masih ingin tidur dan menyepi menyembuhkan lembaran luka di hati.


Setelah mengirim pesan perpisahan pada sang bintang kejora, kini ia kembali berada di rumah Tristan. Meskipun ia masih menolak untuk sekamar dengan Tristan.


"Beri aku waktu agar bisa kembali seperti dulu," pintanya kepada Tristan semalam begitu mereka tiba di rumah itu.


"Tidak ada masalah Nadia, jangan jadikan ini suatu beban," jawab Tristan dengan sangat bijaksana.


Tristan juga menawarkan kamar utama padanya, tetapi ia memilih tidur di kamar depan yang berukuran kecil.


Apakah sikap Tristan sudah berubah?


Ia masih berbaring di atas tempat tidur, memalingkan wajah ke arah jendela. Dimana sesuatu ia letakkan di sana.


Bunga baby breath.


Sedang apa dia?


Tidak, ia tidak boleh mengingat pria itu lagi. Ia harus melupakan pria yang pernah datang memberi kesejukan ditengah gersangnya hati.


Tetapi berapa puluh tahun waktu yang butuhkan untuk melupakan Bimasena, bila di setiap kedipan mata yang terbayang hanyalah senyum pria itu? Membuat setiap tarikan nafas terasa pilu dan berat.


Pintu kamar yang tiba-tiba terbuka membuyarkan lamunannya. Di ambang pintu berdirilah suaminya, Tristan mengenakan pakaian batik. Sudah siap ke kantor.


"Aku mau berangkat ke kantor," pamit Tristan dengan wajah kaku.


Ia pun mengangguk lemah pada Tristan. Tristan yang kaku tidak mungkin berubah romantis. Ia bisa memaklumi itu. Setidak-tidaknya Tristan tidak menyakiti hatinya dengan kata-kata setajam sembilu.


Tristan kembali menutup pintu kamarnya. Beberapa saat kemudian ia mendengar deru mesin kendaraan Tristan meninggalkan rumah itu.


Harusnya ia bangun pagi-pagi untuk menyiapkan sarapan buat Tristan, seperti kebiasaannya sebelumnya. Tapi saat ini raganya seperti tidak bernyawa. Tubuhnya tidak memiliki tenaga untuk bergerak.


Tetapi karena didorong oleh hasrat untuk berkemih, akhirnya ia bangun. Keluar dari kamar dan melangkah menuju kamar mandi.


Namun begitu melewati ruang makan, ia melihat sesuatu di atas meja makan. Ia mendekat untuk melihat apa yang ada di dalam piring.


Nasi goreng dan telur mata sapi.

__ADS_1


Apa Tristan yang membuat sarapan untuknya? Tristan memasak sendiri?


Mungkin selama ia meninggalkan Tristan, Tristan sudah terbiasa masak sendiri. Rasa bersalah pun terhadap Tristan menderanya.


Ada yang membuatnya lebih penasaran lagi. Secarik kertas di dekat piring nasi goreng. Ia meraih kertas itu lalu membaca tulisan di atas kertas tersebut.


Tulisan tangan Tristan.


Hanya ini yang bisa aku sediakan untukmu.


Maaf tidak bisa memberikan kamu kemewahan seperti yang kamu peroleh darinya.


Tentang apa yang diucapkan oleh mulutku yang selalu menyakiti hatimu, mulai saat ini aku akan bicara sekedarnya. Karena aku tidak ingin lagi air matamu menetes karena kata-kataku.


Terima kasih sudah bersedia kembali ke rumah ini.


Deraan rasa bersalah semakin menyelimuti hatinya. Tak terasa air mata meleleh untuk Tristan.


Ia tidak memiliki nafsu makan, namun berusaha menghabiskan nasi goreng beserta telur mata sapi yang dibuat oleh Tristan untuknya.


Ia harus menghargai jerih payah Tristan. Sekaligus berupaya memperbaiki hubungan mereka berdua. Semoga hubungan mereka menjadi lebih baik ke depannya.


Lalu bagaimana dengan Bimasena?


Ia harus berhenti memikirkan pria itu.


Begitu selesai mandi, ia kembali ke kamar depan. Membuka tirai dan membuka jendela lebar-lebar. Untuk memasukkan udara dan cahaya matahari sebanyak-banyaknya.


Menyiram bunga baby breath dengan air, lalu mencium bunga itu serta menghirup wanginya dalam-dalam. Sekedar berbagi rindu dengan bunga itu. Rindu yang demikian berat untuk ditanggung.


Ia lalu meletakkan bunga itu di atas tempat tidur. Kemudian berbaring menghadap dinding, menatap bunga baby breath.


Aku kan sering bepergian keluar kota dan keluar negeri. Kamu tidak perlu kesepian karena ada bunga itu yang menemani.


Bahkan bunyi deru mesin mobil Audi R8 ia tidak bisa lupakan. Terus mendengung-dengung di telinganya.


Ia tidak bisa melupakan, bagaimana cara pria itu memanggil namanya.


"Nadia!"


Mungkin ia sudah hampir gila. Karena bayangan Bimasena menyebut namanya terdengar nyata.


"Nadia!"


Tapi ... ini terdengar nyata. Tidak seperti sebuah khayalan.


Dengan segera ia memalingkan wajahnya ke arah jendela.


Betapa terkejutnya, melihat siapa yang berdiri di luar jendela kamar, memandangnya ke dalam dan memanggil namanya.


Bimasena.


Tanpa sadar ia bangkit dari tempat tidur. Turun dari tempat tidur dan hendak menghambur ke arah pria itu. Terbawa oleh rindu yang tidak cukup untuk diungkapkan dengan kata-kata. Gerakan yang di luar kontrol otaknya.


"Biiiim," serunya.


Tapi ia tertahan teralis besi pengaman jendela. Barulah ia sadar, bahwa ia tidak boleh lagi. Ia pun mundur satu langkah dari jendela. Sehingga mereka berdiri berhadapan dibatasi oleh teralis besi pengaman jendela.


"Bim, kenapa kamu datang kemari?" sergahnya.


"Aku yang harus bertanya Nadia, kenapa kamu ada di sini. Bukannya tinggal di apartemen menungguku pulang?" jawab Bimasena.

__ADS_1


Ia mencoba memberi pengertian kepada Bimasena. "Bim, aku mohon. Berhentilah menemui aku. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki hubunganku dengan Tristan. Aku dan Tristan harus menyelamatkan pernikahan kami. Maafkan aku. Dan kamu harus menikah dengan wanita terbaik. Bukan wanita seperti aku."


"Ibuku bilang seperti itu? Bagaimana kalau bagiku kamu adalah wanita terbaik?"


Ia diam sejenak untuk memikirkan jawaban atas pertanyaan pria itu.


"Bim, bagaimana aku bisa menjadi wanita terbaik? Sementara kamu tahu sendiri aku hanya tamatan SMA. Aku gak pintar. Dan yang paling parah, aku istri orang."


Dengan cepat Bimasena menyela, "Nadia, bukankah kita sudah pernah mendiskusikan semua itu? Termasuk status kamu, sudah ada solusinya. Kamu sudah mengajukan cerai. Soal ibuku, itu urusanku. Sudah berkali-kali aku katakan, tidak ada yang akan mendukung hubungan kita."


"Kalau memang kamu mencintai aku, jangan biarkan aku berjuang sendiri Nadia. Bantu aku. Karena kekuatan apapun yang aku kerahkan tidak akan ada artinya bila tidak ada dukungan dari kamu," sambung Bimasena.


Ia bisa mendengar bunyi nafas pria itu.


"Aku sudah menghubungi Pak Novrianto untuk membatalkan pengajuan cerai itu Bim," terangnya lirih. "Aku juga masih menyayangi Tristan. Kami sudah sepakat, untuk memperbaiki hubungan kami. Aku mohon, pergilah dari hidupku Bim." Suaranya mulai serak yang disertai air mata yang menganak sungai di pipinya.


Bimasena mendengus dengan wajah yang penuh kekecewaan. Pria itu kemudian menatap ke samping sejenak, lalu berucap dengan pelan,


"Nadia, kita sudah jauh melangkah bersama. Mengapa malah kamu sendiri yang mematahkan langkahku? Atau kamu memang wanita yang tidak layak diberi kepercayaan?" Suara Bimasena mulai melemah.


"Kalau kamu nggak peduli dengan diriku, setidaknya pedulilah dengan anak yang kamu kandung. Kamu ingin memisahkannya dengan ayahnya?" lanjut Bimasena.


Ia buru-buru menampik ucapan Bimasena.


"Bim, saat kita melakukannya malam itu, aku masih sekamar dan seranjang dengan Tristan. Jadi anak yang kukandung belum tentu putramu."


Bimasena tersenyum hambar. Untuk pertama kalinya ia melihat wajah sendu pria nakal itu. Membuat air matanya semakin deras karena telah menyakiti hati pria yang sangat ia sayangi. Pria yang telah memberinya limpahan kebahagiaan meskipun hanya sejenak.


"Nadia, tidak perlu melakukan tes DNA untuk membuktikan siapa ayah anak yang kamu kandung. Kalau kamu ragu siapa ayahnya, tanya hatimu. Karena hatimu tidak akan membohongimu. Bahkan kamu tahu, kapan, di mana dan dengan siapa, sehingga kamu hamil. Bahkan tanggal, bulan dan tahunnya kamu ingat. Jangan mengingkari dirimu sendiri," tegas Bimasena. Suara pria itu diwarnai kesedihan dan kemarahan.


Jiwanya layu dalam tantangan mata Bimasena.


"Tapi bila selama ini kamu menganggapku hanya sebagai pengganggu rumah tanggamu, baiklah, aku akan berhenti menemuimu. Tapi aku beri kamu waktu dua minggu untuk berpikir. Setiap malam, selama dua minggu itu aku menunggumu di apartemenku. Bila kamu tidak datang dalam dua minggu itu, aku sudah mengerti apa yang harus aku lakukan," tambah Bimasena. Wajah menawan itu berubah dingin.


"Permisi." Setelah mengucapkan kata pamit, Bimasena menatap tajam padanya. Lalu berbalik meninggalkannya.


Hatinya hancur menatap Bimasena pergi. Berdiri terpaku di balik jendela, memandang rindu pada pria itu, sampai berlalu dengan mobil Audi R8 grey.


Ia menangis meratapi kepergian Bimasena. Rasa pedih yang tidak tertahan memeluki hatinya, berdarah-darah.


Ingin rasanya berlari, menghentikan langkah pria itu demi mengucapkan aku sayang kamu. Tapi bayang wajah Tante Imelda, mencegat kakinya. Sehingga ia menyerah pada bayang wajah ibu itu.


Perpisahan sungguh menyakitkan. Sekarang ia harus melepas sekaligus kehilangan seseorang yang paling berharga dalam hidupnya.


Setelah melalui jurang perjuangan dengan Bimasena, ia melepas pria itu pergi dan ia kembali ke tempat dimana asalnya.


Ia pernah membuka pintu hati untuk pria itu, sekarang ia harus menutupnya.


*******


Readersku tersayang,


Apa kabarnya hari ini?


Semoga tetap dalam curahan kesehatan dan kebahagiaan selalu.


Terima kasih atas segala apresiasi dan dukungan terhadap novel ini.


*Salam sayang dari


Author Ina AS*

__ADS_1


😘😘😘


__ADS_2