REUNI INDAHNYA MENDUA

REUNI INDAHNYA MENDUA
87. Hati Yang Telah Dicuri


__ADS_3

Tristan bisa memahami bila istrinya berat hati menghadiri resepsi pernikahan Alfredo.


Sebagai seorang pelaku perselingkuhan, Nadia sudah terkena konsekuensi psikologis yang hebat akibat perselingkuhan tersebut.


Malu bertemu orang. Mendapat cibiran maupun terasingkan dari orang-orang sekitar. Belum lagi kabar yang berhembus bila Nadia hamil oleh pria selingkuhan.


Dari kejadian itu ia bisa mengambil pelajaran, bahwa setelah ditilik lebih jauh aspek yang melatar belakangi perselingkuhan istrinya, Bimasena lebih merupakan bagian dari rangkaian permasalahan pernikahan yang sudah ada sebelumnya.


Penyebab utama ada pada dirinya sendiri sebagai seorang suami, juga Nadia sebagai seorang istri.


Tanpa sengaja ia sering menyakiti hati istrinya. Juga tanpa sengaja membuat istrinya menjadi wanita kesepian. Dan kesalahan Nadia karena tidak mampu menjaga marwahnya sebagai seorang istri hanya karena ketidak puasan padanya.


Mereka berdua harus menebalkan wajah begitu bertemu teman-teman di resepsi pernikahan Alfredo.


Awal bergabung dengan teman-teman alumni, dirinya lebih banyak bermain handphone, hanya sekali-kali menanggapi obrolan teman-teman.


Namun hal yang tidak disangkanya adalah, karena saat pesta hampir usai, Bimasena tiba-tiba hadir. Bukan hanya Nadia yang menghindari bertemu orang itu, bahkan dirinya juga enggan bertemu dengan Bimasena.


Rasa sakit dan amarah karena pernah diperdaya dan dikhianati oleh sahabat sendiri takkan bisa terlupa, bahkan hingga bumi dua kali kiamat.


Ia tidak akan lupa beberapa kali Bimasena bertandang dengan dalih bermain catur, ternyata sedang bermain mata dan hati dengan istrinya. Bagaimana ia bisa memaafkannya?


Dirinya tidak lebih dari keledai yang diberi reputasi sebagai hewan bodoh.


Mungkin ia menyambut jabat tangan orang itu di atas panggung saat hendak berfoto, namun tidak lain hanya karena ingin terlihat wajar, agar mereka berhenti menjadi bahan cemoohan orang.


Saat Bimasena lewat di depan Nadia di atas panggung, bukannya ia tidak memperhatikan bila Bimasena hendak berbicara kepada Nadia. Tetapi Nadia melihat ke arah lain, lalu menunduk, menghindari bertemu mata dengan orang itu.


Ia bisa menafsirkan dari tatapan mata Bimasena kepada Nadia, bila orang itu berusaha membangun koneksi dengan istrinya dan menyampaikan pesan tanpa komunikasi verbal. Bahwa dia masih menyimpan perasaan untuk istrinya.


Lalu bagaimana dengan istrinya?


Mata Nadia terlalu jujur. Tidak mampu menyamarkan jiwa yang menderita karena perpisahan dengan Bimasena.


Meskipun Nadia berkali-kali mengajaknya bercanda, namun ekspresi wajah istrinya penuh kehampaan. Tidak jarang ia mendapati Nadia termenung sendiri dengan pikiran yang menerawang jauh.


Sampai saat ini ia bisa menyimpulkan, bila Nadia masih menyimpan perasaan yang mendalam kepada orang itu.


Namun ia tidak boleh overthinking terhadap Nadia yang belum bisa move on dari Bimasena, karena bisa merusak kesehatan mentalnya sendiri.


Ia harus bisa memahami Nadia dari berbagai sudut pandang. Menghargai upaya keras Nadia untuk menjadi istri yang baik demi menebus dosa.


Ia tidak ingin jatuh pada situasi analysis paralysis, di mana terus memikirkan sesuatu secara berulang-ulang tanpa menemukan solusinya. Baginya saat ini adalah yang penting tidak terjalin komunikasi lagi antara istrinya dengan Bimasena.


Soal istrinya yang masih memendam perasaan terhadap orang itu, ia percaya bila waktu bisa mengabrasi rasa tersebut.


Tapi kehadiran Bimasena di resepsi pernikahan Alfredo sungguh membuatnya tidak nyaman. Karena istrinya dan orang itu kembali bertemu meskipun ia tidak terlihat komunikasi secara verbal.


Terlebih lagi begitu bucket bunga pengantin jatuh ke tangan Nadia.

__ADS_1


Baginya harapan yang dibawa oleh bucket bunga pengantin hanyalah sebuah mitos. Namun tidak urung membuatnya malu karena ia dan Nadia menjadi bahan tertawaan tamu undangan dan olokan teman-temannya.


"Jaga istrimu baik-baik Bro, jangan sampai mitos bunga pengantin itu benar," salah seorang teman menggodanya.


Mungkin ucapan itu hanyalah sebuah guyonan semata yang membuat orang-orang tertawa. Namun tidak sedikit yang mengaitkannya guyonan tersebut dengan Bimasena.


Saat acara lempar bucket bunga telah selesai, Nadia duduk menyendiri pada salah satu sisi ruangan. Ia tahu bila hal itu Nadia lakukan untuk menghindari Bimasena. Membuatnya senang dan terharu akan sikap istrinya yang teguh untuk menghindari Bimasena.


Namun ia tidak tahu kapan istrinya menghilang dari tempat itu. Ia baru menyadari saat istrinya menghubunginya dan mengatakan bila dia sedang berada di dalam toilet.


Nadia : Tris, kita pulang ya. Aku gak enak badan.


Ia yakin Nadia merasa kurang sehat karena kehadiran Bimasena tiba-tiba. Ia pun menyesal telah meyakinkan istrinya bila Bimasena tidak mungkin hadir. Padahal dari awal Nadia merasa berat untuk menghadiri resepsi Alfredo.


Tristan : Baiklah. Eh, kamu dimana?


Nadia : Aku di toilet, samping kiri ballroom.


Tristan : Tunggu aku di depan toilet saja, aku pamit pada Alfredo dan teman-teman dulu.


Setelah pamit pada Alfredo dan teman-temannya, ia pun berjalan menuju toilet yang dimaksud oleh Nadia, yang berada di samping kiri ballroom.


Belum juga ia mencapai koridor toilet, ia terkejut karena matanya menangkap sosok Bimasena keluar dari koridor toilet.


Seketika hatinya dihinggapi rasa gelisah dan tidak tenang.


Mungkinkah istrinya dan Bimasena bertemu di depan toilet? Karena tidak mungkin Bimasena memasuki toilet wanita dan begitupun sebaliknya Nadia.


"Kamu kenapa?" tanyanya kepada Nadia begitu mereka berjalan menuju basement, tempat memarkir kendaraan.


Ia menunggu kejujuran dari Nadia, bila baru saja bertemu dengan Bimasena.


"Kepalaku pusing," sahut Nadia singkat.


Sepanjang jalan pulang ke rumah, istrinya lebih banyak diam dengan sorot mata suram.


Nadia bahkan lebih banyak memejamkan mata meskipun tidak tidur. Bukannya ia tidak melihat, bila sekali-kali Nadia menoleh ke arah jendela, untuk menyeka air mata secara sembunyi-sembunyi.


Begitu tiba di rumah pun Nadia belum jujur padanya. Sehingga ketika mereka memasuki rumah, kesabarannya telah habis untuk menunggu kejujuran Nadia.


"Nadia, ada yang kamu sembunyikan dariku?" serunya sambil duduk di atas sofa.


Nadia tersentak mendengar pertanyaannya.


"Maksud kamu?" Nadia yang hendak melangkah ke kamar menghentikan langkahnya.


"Kamu bertemu dengan Bimasena kan?" Ia mulai menginterogasi.


"Aku tidak sengaja bertemu di depan toilet tadi Tris," dalih Nadia.

__ADS_1


"Peluang kalian tidak sengaja bertemu di depan toilet sangat kecil Nadia. Kecuali salah seorang diantara kalian mengikuti yang lainnya," sanggahnya.


Apa ia perlu menjelaskan rumus matematika 'peluang ' untuk mendapatkan perkiraan munculnya suatu kejadian kepada Nadia? Namun ia yakin berapa kalipun ia menjelaskan, Nadia tidak akan mengerti.


"Aku nggak bohong Tris, begitu aku keluar dari toilet, aku bertemu dengannya di depan toilet," Nadia memelas.


Istrinya bukan wanita yang pandai bersandiwara ataupun berbohong. Ia tahu apa yang dikatakan Nadia benar adanya.


"Kamu tidak sengaja bertemu Nadia, tetapi dia mengikuti dan menunggui kamu di depan toilet," hardiknya kepada Nadia.


Nadia tidak menjawab lagi, dia hanya menunduk.


"Lalu apa yang kalian bicarakan?"


"Dia hanya bertanya kabar. Aku juga bertanya kabar. Hanya itu."


"Hanya itu?" desisnya tidak percaya. "Aku kecewa dengan kamu Nadia. Kita sudah sepakat memulai kembali rumah tangga kita dari awal. Tapi kamu tidak berusaha mengeluarkan orang itu dari hidupmu," serunya dengan intonasi suara yang meninggi.


"Ma maksud kamu apa Tristan? Aku tidak pernah berkomunikasi lagi dengannya selama ini. Dari awal juga aku merasa berat datang ke resepsi Alfredo karena khawatir bertemu dengannya, tapi kamu meyakinkan bila dia tidak akan datang. Aku tidak pernah mengatur pertemuan itu Tristan," erang Nadia dengan suara bergetar disertai isak tangis.


Ia berdiri dari sofa menahan emosi.


"Tidak pernah berkomunikasi, tapi setiap saat kamu mengintip media sosialnya. Kamu pikir aku tidak tahu, kamu sering mengamati fotonya?"


Nadia tersentak.


"Kamu merawat bunga putih di kamar depan lebih telaten daripada merawat suamimu sendiri Nadia. Itu bunga dari dia kan?" ucapnya berapi-api. Menumpahkan emosi yang terpendam.


Nadia tidak menanggapinya lagi. Istrinya hanya merosotkan tubuh ke lantai, menangis sambil memegang lututnya.


"Setiap manusia punya kekhilafan pada dirinya, tapi kamu tidak berusaha memperbaikinya Nadia." Suaranya mulai melemah. Namun dadanya masih kembang kempis menahan emosi.


Ia pun meninggalkan Nadia di ruang tamu sendiri, melangkah masuk ke dalam kamar, lalu membanting pintu dengan keras.


Kemudian duduk merenung di atas tempat tidur tanpa mengganti pakaian batik dan tanpa membuka sepatunya.


Ia menelisik dari awal bagaimana Nadia bisa kembali ke rumahnya sekarang. Nadia kembali karena ia dan orang tuanya yang beberapa kali datang untuk menjemput Nadia di rumah Bang Herial.


Lalu mengapa Nadia meninggalkan Bimasena, pulang ke rumah Bang Herial?


Jawabannya bukan karena mereka tidak saling menyukai lagi. Tetapi karena terhalang restu Ibu Imelda, Ibu dari Bimasena.


Jadi wajar bila istrinya masih memendam rasa terhadap orang itu.


Tapi apakah ia akan terus-terusan hidup dengan wanita yang mengharapkan orang lain?


Nadia seperti mayat yang berpura-pura hidup. Penuh kepalsuan.


Ia sudah berusaha memperbaiki komunikasi dengan istrinya, berusaha menuruti segala kemauan istrinya. Tetapi apa yang ia lakukan tidak lantas bisa mematikan perasaan yang sudah terlanjur terajut antara istri dengan sahabatnya. Apa yang dilakukannya tidak berarti. Ia hanya mengurung jasad istrinya di rumahnya. Sementara hati Nadia, sudah terlanjur dicuri oleh Bimasena.

__ADS_1


Mungkinkah ia harus bersabar menunggu hingga hati istrinya kembali kepadanya?


__ADS_2