REUNI INDAHNYA MENDUA

REUNI INDAHNYA MENDUA
17. Ujian Terdahsyat


__ADS_3

Bima?


Oh Tuhan, memang benar aku rindu, tapi tidak seperti ini. Mendadak bertemu tanpa direncanakan. Mengapa selalu begini? Aku butuh persiapan bila hendak bertemu dengannya.


Seketika jantungnya kembali kepada mode on bila bertemu Bimasena.


Dengan sangat panik Nadia bergegas berdiri mematut dirinya di depan cermin. Oh tidak, rambutku sungguh berantakan. Sisir mana sisir? Tidak ada sisir di dalam ruangan ini. Terpaksa ia menyisir rambut menggunakan tangan.


Nadia mencari lipstik di dalam tas, namun ternyata ia tidak menemukan benda itu di sana. Kenapa selalu saja begini? Bagaimana ia bisa menemui Bimasena dengan percaya diri bila tidak didukung penampilan yang menarik?


Kaki lemasnya melangkah keluar ruangan menuju ruang tunggu. Jantung yang berdetak kencang tidak pernah berubah bila ia hendak menemui Bimasena.


Bimasena yang berdiri di ruang tunggu, menyambutnya dengan senyuman.


Tuhan, senyuman itu ...


"Hi Nadia!" seru Bimasena.


"Bim, bukannya tadi sudah jalan ke Bandara? Kenapa malah datang kemari? Nggak bakal ketinggalan pesawat?" Bukannya menyilahkan tamunya duduk, ia malah memberondongnya dengan pertanyaan. Tangan kanan dan tangan kirinya saling meremas, untuk menghangatkan tangan yang mulai membeku kedinginan.


"Aku cuman ingin melihat kamu Nadia walau hanya sebentar," ungkap Bimasena.


Ucapan itu tak urung membuat kaki Nadia serasa tidak menyentuh lantai, ia melayang entah kemana.


Sepasang mata Bimasena yang menatap lekat matanya, membuat Nadia segera menunduk.


Habis ... Tidak ada perbendaharaan kata lagi yang tersimpan di kepalanya dibawah tatapan itu. Padahal Bimasena sepertinya menunggunya mengucapkan sesuatu.


Tuhan, apa yang harus aku ucapkan ...


"Aku harap suatu saat aku bisa membawamu ke Amerika, bertemu keluargaku," gumam Bimasena.


Seketika itu juga Nadia mendongakkan kepalanya dengan mulut menganga, tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Bimasena.


Nadia lalu tertawa getir. "Itu sesuatu yang mustahil Bim ... "


Bimasena menjawab dengan suara lirih. "Nadia, aku adalah typical pejuang, yang tidak mengenal kata menyerah dalam mengejar impian. Meskipun banyak rintangan akan kuhadapi. Aku tidak punya banyak impian dalam hidupku. Tapi sekarang aku memiliki satu impian lagi. Aku tinggal menunggu lampu hijau dari kamu."


Sesaat dunia berhenti berotasi. Nadia melongo menatap Bimasena. Kalimat itu membuatnya terkesima. Lidahnya kelu otaknya buntu.


Secepat itu Bimasena mengungkapkannya? Ataukah dirinya yang salah menerjemahkan?


Tolong bantu, apa artinya ungkapan itu?

__ADS_1


"A-aku tidak bisa mengatakan apa-apa Bima," ucap Nadia dengan terbata-bata, lalu kepalanya menunduk sebelum ia jatuh lebih dalam lagi pada pesona indah mata Bimasena. Karena sekarang ia sudah jatuh.


"Kamu tidak perlu mengatakan apa-apa sekarang Nadia dan jangan terbebani," sela Bimasena.


"Aku harus berangkat ke Bandara Nadia. Terimakasih sudah bersedia menemuiku," tutur Bimasena sambil melihat jam tangannya.


Nadia kembali mengangkat wajahnya untuk melihat wajah bersih yang mampu meluluhkan hati itu. Belum rela bila bila Bimasena harus pergi sekarang. Ia masih ingin berlama-lama dengan Bimasena.


"Permisi Nadia," Mata Bimasena tidak berhenti menatap lekat mata Nadia.


Nadia mengangguk. Namun tanpa ia sadari ia berjalan mengekor Bimasena ke luar ruangan, sampai di tempat Audy R8 grey itu terparkir.


"Bim!" seru Nadia.


Bimasena pun menghentikan langkah dan berbalik. Mungkin ia baru menyadari Nadia mengekor di belakangnya.


"Jangan lama-lama!" ucap Nadia dengan pipi memerah. Entah keberanian dari mana datangnya sehingga ia mampu mengucapkan kalimat itu.


Terlebih lagi melihat senyum Bimasena merekah sempurna. Sepertinya sangat senang mendengar ucapannya itu. Pipi Nadia pun menjadi merah padam. Sangat memalukan.


"Aku berangkat ya." Bimasena pamit sembari menatapnya penuh arti.


Nadia hanya mengangguk, tidak ingin mengeluarkan kata-kata yang akan membuatnya malu kemudian lagi.


"Hati-hati!" seru mulut Nadia yang ternyata hanya menjadi perantara bagi hati yang tulus.


Bimasena tersenyum dan mengangguk, kemudian masuk ke dalam mobilnya. Nampaknya ada seorang sopir yang mengemudikan mobilnya.


Bimasena masih sempat menurunkan kaca jendela dan melambaikan tangan kepada Nadia, yang hanya dibalas senyuman oleh Nadia.


Nadia masih bergeming pada tempatnya. Terus memandangi Mobil Audy R8 grey itu sampai tidak terlihat.


Setelah itu Nadia menarik nafasnya panjang-panjang kemudian menghembuskannya, untuk menormalkan kembali degup jantungnya yang menghentak-hentak.


Bimasena, ujian terdahsyat dalam rumah tangganya.


**********


Jangan lama-lama.


Kalimat yang membuat Bimasena selalu tersenyum sendiri dari tadi. Membuat dirinya seolah-olah dibutuhkan oleh orang yang ia inginkan. Membuatnya ingin segera kembali pulang ke Indonesia.


Betapa besar pengaruh kalimat itu. Seakan-akan ia adalah lelaki kesepian yang hidup dalam kesunyian. Tiba-tiba mendapat secercah harapan.

__ADS_1


Nadia telah memabukkannya. Membuatnya bertindak diluar logika. Seolah wanita di bumi hanya istri Tristan saja. Sangat tidak masuk akal.


Seandainya Nadia mau, ia mampu untuk menantang badai. Bahkan menggilas gelombang pun ia sanggup. Tetapi ia tidak ingin memaksakan. Biarlah Nadia mengenali hatinya. Karena bila ia nekat, maka resiko terbesar akan ditanggung oleh Nadia. Dan ia tidak ingin melihat Nadia susah karenanya.


Sekarang ia kembali berada dalam kehangatan keluarga. Di sebuah ruang makan yang mewah. Sang Ibu telah menyiapkan berbagai makanan untuk menyambut putra tersayang.


Ia akan dimanjakan oleh Ibunya dengan makanan yang enak. Sebelum akhirnya menikamnya dengan pertanyaan, kapan menikah?


"Bima, kalau kamu sudah tidak mampu mencari calon istri sendiri, biar Ibu dan Daddy yang bantu carikan." Ibunya sudah mulai lagi saat ia masih menikmati Cheese fondue, makanan favoritnya yang berasal dari Swiss. Membuat makanan yang lembut itu begitu sulit melewati lehernya.


"Kakak sih nyarinya perempuan yang sempurna, makanya nggak dapat-dapat. Mana ada yang sempurna." Karenina adiknya ikut menimpali. Membuatnya segera memberi tatapan peringatan kepada Karenina. Bila tidak segera dicegah, mulut Karenina akan lebih cerewet dari Ibu.


"Daddy, Brother threatens me. (Ayah, kakak mengancamku)" Dengan manja Karenina mengadu pada Ayah.


Ayah menggeleng-geleng kemudian berkata, "Oh no Bima, love isn't finding a perfect person. It's seeing an imperfect person perfectly (Tidak Bima, cinta bukanlah menemukan orang yang sempurna. Tapi melihat orang yang tidak sempurna dengan sempurna)"


Ucapan Ayah berhasil memojokkanku. Membuat Karenina tertawa penuh kemenangan.


"Kalau Bima membawa wanita untuk diperkenalkan, apa Daddy dan Ibu akan merestui?" Tiba-tiba saja pertanyaan itu meluncur dari mulut Bimasena.


"Apa selama ini Ibu pernah mengintervensi pacar kalian? bukankah selama ini Ibu membebaskan kalian memilih kekasih sendiri?"


"Wanita bagaimanapun Ibu terima asal kamu suka, asal bukan istri orang" tangkas Ibunya.


Membuat Bimasena terbatuk-batuk seketika. Cheese fondue yang ia makan mendadak berubah menjadi batu. Tidak mampu lagi ia menelannya.


Asal bukan istri orang. Disitulah masalahku Bu. Yang lebih mengenaskan lagi, bahkan ia tidak pernah memberi harapan padaku. Sungguh kasihan anakmu Ibu. Teriak batinnya.


**********


Readersku tersayang,


Author mohon maaf karena jadwal UP nya Reuni selalu saja kelamaan.


Ini semata-mata karena keterbatasan waktu Author, mengingat tanggung jawab di dunia nyata sangat banyak.


Mohon pengertiannya.


Terimakasih atas segala dukungannya.


Semoga kalian diberi kesehatan dan kebahagiaan selalu.


Salam sayang dari Author

__ADS_1


😘😘😘


__ADS_2