REUNI INDAHNYA MENDUA

REUNI INDAHNYA MENDUA
123. Ahli Hipnotis


__ADS_3

"Mi, sedari tadi tiga kamera itu telah merekam. Jangan sampai merekam adegan kejar-kejaran dan pemaksaan. Mommy naik sendiri ke atas ranjang atau Daddy lempar?" ancam Bimasena, tersenyum licik padanya.


"Nggak mau," tolaknya.


Ia memimpikan ber cin ta dalam suasana yang nyaman dan damai. Seharusnya saat ini impiannya sudah dapat terwujud, karena sudah tidak dibebani dengan bayangan dosa lagi. Tetapi bagaimana bisa nyaman bila ia diintip kamera?


"Baik kalau tidak mau." Tiba-tiba saja tubuhnya diangkat oleh Bimasena. Bersiap untuk melemparnya.


"Dad jangaaaan!" serunya memejamkan mata, bersiap dilempar oleh suaminya ke ranjang.


Tetapi yang terjadi tidak sesuai ancaman. Bimasena hanya menggendongnya dan meletakkannya dengan perlahan di atas ranjang, lalu menciumnya keningnya lembut.


"Sayangku," bisik Bimasena seusai menciumnya.


Bukankah suaminya sangat manis?


Andaikan saja tidak ada tiga kamera bejat mengarah padanya, tentu dengan senang hati ia akan melayani suaminya. Ia bisa tampil lebih atraktif dan mendominasi seperti rencananya.


"Buka ini ya?" Bimasena meminta izin untuk membuka gaun tidurnya yang sudah koyak pada salah satu tali.


Sejak kapan suaminya mengenal sopan santun dalam urusan ini? Biasanya Bimasena main libas saja.


"Nggak mau!" ia menggeleng.


"Kenapa sayang?"


"Malu." Ia menunjuk kamera dengan dagunya.


"Matikan kameranya!" perintahnya, seperti seorang ratu.


"Kamera nggak usah dimatikan. Kalau malu, kita main dalam selimut aja ya?" tawar suaminya, membelai pipinya dengan lembut.


Ide yang bagus. Meskipun disorot kamera ia tidak perlu malu. Karena ber cin ta di dalam selimut, adegan dan tubuh bu gil tidak akan terekam kamera.


Ia pun mengangguk sembari tersenyum.


Bermain di dalam selimut merupakan jalan tengah untuk mereka berdua. Kamera tetap on seperti keinginan suaminya dan ia tidak perlu malu, karena kamera hanya mendokumentasikan selimut yang bergerak dan ranjang yang bergoyang.


Bimasena menarik selimut, menutupi tubuh mereka berdua sampai kepala. Mulai menggelitiknya dengan ciuman. Ciuman yang menyengat seperti lelehan lilin yang mengenai kulit. Membuat tubuhnya panas dan dingin. Meninggalkan bekas.


Ternyata bercumbu rayu di dalam selimut memiliki sensasi tersendiri. Apalagi kali ini suaminya teramat lembut dan sopan.


"Buka ya?" kembali Bimasena meminta izin sebelum menarik gaun tidurnya ke arah bawah.


Tidak tampak lagi keinginan menggebu-gebu pria itu. Bimasena begitu tenang dan halus mengecup dan membelainya.


Menjadikannya seorang ratu yang dilayani tanpa perlu melayani.


Ia tidak mengerti bagaimana cara pria itu mengendalikan hasrat. Padahal sebelumnya mata pria itu telah gelap hasrat.


Deru nafas bercampur di dalam selimut. Ia menggeliat, mende sah dan meracau tak jelas saat suaminya merayap liar.


Tetapi ternyata suaminya bukan hanya aktor tampan yang bermain dengan sangat manis. Bimasena adalah sutradara yang lihai dan penuh kejutan.


Sistem kerja otak suaminya selalu diluar dugaan.


Plot film biru mereka sudah direncanakan dan berjalan sesuai rencana Bimasena. Bermain dalam selimut hanya tipu daya sang sutradara.


Awalnya begitu manis, merayu dan mencumbunya di dalam selimut.


Setelah ia terbakar, tiba-tiba saja Bimasena menyibak selimut dan melempar ke lantai. Sehingga tiga kamera bersorak gembira merekam mereka, menghilangkan dahaga penasaran.


Tetapi terlambat. Hasrat yang begitu meluap-luap menekan saraf dan otaknya. Menyebabkan otak bekerja dengan sangat pelan. Membuatnya tidak bisa berpikir dengan jernih lagi.


Ia sudah terlanjur terbakar dan mabuk oleh gejolak gairah. Garis-garis keinginan untuk dipuaskan tergambar dengan jelas di wajahnya. Jangankan disorot kamera, dalam bidikan senjata api Barrett M82 seorang penembak jitu pun ia tidak peduli lagi.

__ADS_1


Keinginannya saat ini hanya satu ... mendapat pelepasan yang sempurna.


Ia wanita ceroboh yang melupakan kesopanan. Seperti itulah bila memiliki pasangan seorang lelaki ahli hipnotis. Menyerang di alam bawah sadar.


Dari seorang ratu yang berbaring dengan manis di dalam selimut, berubah menjadi seorang budak yang melayani segala fantasi suaminya. Disorot tiga kamera pula.


Semata-mata berharap mendapat mengakhiri pergulatan di puncak kenikmatan.


Ia begitu lapar dan mendamba karena sentuhan yang memabukkan. Ia adalah melati yang menunggu sang lebah menyesapnya.


Jalan yang ditempuh menuju puncak begitu lama dan panjang. Seolah sang lebah sengaja menyiksanya dalam kenikmatan. Hingga tiba saat dimana punggungnya melengkung, bibirnya mengerang.


Gelombang kemenangan dihadiahkan suaminya bersama dengan keringat yang membanjiri.


Sempurna.


*********


Begitu berat membuka mata. Merasa tidurnya belumlah cukup untuk mengistirahatkan tubuh yang letih, setelah menjadi tunggangan seorang yang ia panggil Dad, sejak matahari masih menyengat sampai matahari pergi bersembunyi.


Tetapi begitu mengingat bila ia memiliki bayi yang harus diberi asupan ASI, matanya terpaksa dibuka lebar. Begitu terkejutnya ia saat melihat jendela yang sudah gelap serta jam dinding, dimana jarum pendek menunjukkan angka sepuluh. Sudah berapa lama ia tidak menyusui bayinya?


Lalu kemana orang yang disebut suami yang tadi tidur di sampingnya?


Ia pun segera bangun dari tidurnya, namun belum sempat ia beranjak dari tempat tidur, matanya melihat pemandangan yang indah di sofa.


Suaminya, Bimasena, sedang memberikan susu dalam botol kepada baby Glor yang ditidurkan di atas sofa. Sambil mengusap-usap paha montok si bayi.


Secara perlahan ia kembali berbaring, agar suaminya tidak menyadari bila ia sudah terbangun.


Bukannya tidak ingin menyusui baby Glor. Tapi ia begitu haru dan bahagia melihat suaminya sedang berusaha menidurkan Glor. Berusaha melakukan sendiri, tanpa mengganggu dirinya yang sedang beristirahat. Padahal tugas itu bisa dilakukan oleh baby sitter.


Tontonan yang sangat menarik. Melihat bagaimana rasa kasih sayang terpancar dari sorot mata suaminya kepada Glor. Bagaimana sabarnya berusaha menidurkan Glor yang setengah hati meminum susu botol dan enggan tidur.


Setelah puas dengan tontonannya yang berjudul suami yang baik dan manis, ia pun bangun dari tidurnya.


"Daddy sudah makan?" tanyanya, berjalan menghampiri Glor dan suaminya.


Bimasena tersenyum padanya, meletakkan telunjuk di depan bibir yang berarti jangan berisik. Mata Glor tampaknya sudah terpejam.


"Sudah. Tadi kelaparan. Tapi nggak tega bangunin Mommy. Mommy makan aja dulu. Daddy yang jaga Glor," ucap suaminya dengan nada yang pelan.


Perhatian kecil atas dasar kepedulian yang diberikan suaminya membuatnya seakan merasa banyak kupu-kupu kecil yang mengumpul dan menggelitik perutnya. Merupakan aroma favorit yang menjadi candu.


Bagaimana ia bisa lapar? Bila sudah bersama dengan sumber energinya.


Melihat wajah rupawan pria yang sedang menidurkan bayi, merupakan makanan yang sangat lezat baginya.


Bukannya mencari makan, ia malah mendudukkan tubuhnya di atas paha suaminya. Sehingga ia berada di antara Bimasena dan Glor.


"Nggak lapar, Mi?" tanya suaminya, melingkarkan lengan pada pinggangnya.


"Nggak," ia menggeleng. Menyunggingkan senyum pada suaminya.


"Lagi?" pertanyaan nakal terlontar dari mulut suaminya. Membuat mulutnya membulat.


Melalui siang yang liar sebagai suami istri untuk pertama kalinya, membuat tubuhnya ditembus dua panah sekaligus. Panah kepuasan dan panah kebahagiaan.


Tetapi tubuhnya tidak sekuat suaminya. Eberginya telah terkuras. Sehingga ia menggelengkan kepala. "Capek, Dad," rengeknya manja.


Ia baru sadar, cara duduk serta pakaiannya yang setengah terbuka, membangkitkan kembali gairah suaminya. Sehingga ia harus segera meloloskan diri sebelum diterkam singa yang tidak pernah kenyang meskipun sudah makan.


"Dad, lapar. Aku makan dulu ya." Tanpa menunggu jawaban suaminya, ia buru-buru beranjak dari pangkuan suaminya. Padahal ia sudah terbiasa tidak makan malam demi menjaga tubuh tetap langsing.


Setelah makan malam dengan hidangan yang tersaji di ruang makan, membersihkan tubuh di kamar mandi pengantin, ia kembali ke kamar sebelah.

__ADS_1


Glor sudah tidur di atas ranjang, sementara Bimasena duduk di atas sofa panjang, menonton TV dengan kedua kaki direntangkan di atas sofa.


"Dad, malam ini kita istirahat dulu ya, capek," ujarnya menghampiri suaminya. Lebih baik ia mendahului menyampaikan, ketimbang menolak bila suaminya meminta.


Bimasena hanya tertawa kecil padanya, mengulurkan tangan padanya. Ia pun menyambut tangan suaminya dan kembali duduk di pangkuan serta bersandar di dada suaminya.


"Capek?" tanya Bimasena mengganti channel TV menggunakan remote control.


"Iya, Dad," jawabnya lirih.


"Oke. Kalau gitu kita nonton aja," ujar Bimasena.


Ia pun merasa lega, karena ia merasa tenaga yang tersisa pada tubuhnya sudah nyaris habis.


"Mau nonton apa, Mi?" tanya suaminya.


"Terserah, Dad."


"Movies or news ?"


"Terserah."


"Kita nonton film aja," tegas suaminya.


"Indonesia atau barat?" tanya suaminya kembali.


"Terserah."


Bukankah ia isteri yang penurut?


"Baiklah, Indonesia aja," sahut suaminya. Kembali memencet remote control.


Namun matanya membelalak begitu melihat film Indonesia yang dimaksud suaminya. Karena film itu memperlihatkan selimut yang sedang bergerak-gerak di atas ranjang.


Ranjang dan selimut yang sangat ia kenali.


"Bim, stop Bim. Matikan TVnya!" teriaknya panik.


Ia berusaha merebut remote control dari suaminya. Sementara suaminya menyembunyikan remote control di bawah tubuh. Bahkan mencegahnya bangkit mematikan TV dengan memeluknya sangat erat. Memaksanya untuk menonton film pada layar TV.


"Biiiim, matikan!" Ia berusaha melepaskan diri dari pelukan suaminya. Tetapi suaminya telah mengunci pergerakannya sembari terbahak-bahak menertawainya.


Ia harus mematikan TV.


Sebelum makhluk yang bergumul di bawah selimut di dalam TV, keluar dari persembunyian.


*********


Readersku tersayang,


Apa kabarnya hari ini? Semoga selalu diberikan limpahan kesehatan dan rezeki dari Sang Pencipta.


Sebagai ucapan terimakasih atas dukungan readers, author akan memberikan gift berupa bunga artificial cantik kepada sepuluh readers dengan dukungan tertinggi yang dilihat pada episode terakhir.


Terima kasih atas segala dukungannya terhadap novel ini. Hanya Tuhan yang bisa membalas kebaikan readers.


Terus dukung author dengan vote, like dan komen.


Salam sayang pada kesempatan yang baik ini.


Author Ina AS


😘😘


***********

__ADS_1



__ADS_2