
"Helikopter yang mau membawa kita ke Merangin sudah stand by di Jambi?" tanya Bimasena pada sekretarisnya yang duduk di samping agak kebelakangnya.
"Sudah Pak," jawab sekretarisnya sambil mengangguk.
Ia bersama dengan tiga orang stafnya dan seorang sekretaris, sedang berada pada sebuah Lounge di Bandara Soekarno Hatta, menunggu penerbangan ke Jambi.
Mereka akan meninjau Blok Merangin dalam rangka percepatan transisi Blok Merangin ke FreddCo Energy.
"Nanti bila semua proses transisi sudah selesai, kita persiapkan secepatnya pengeboran dua sumur untuk pengembangan Blok Merangin. Dua sumur itu bisa memproduksi 750 barel per hari," ujar Bimasena pada stafnya.
"Saya dengar informasi dari Deputi Operasi SKK Migas, ada 100 anjungan minyak dan gas yang dibangun berdasarkan kontrak kerjasama sebelum tahun 1994 di lepas pantai, yang tidak beroperasi. Masih ada beberapa anjungan yang belum akan dilakukan penutupan permanen karena masih memiliki potensi sumber daya di bawah laut. Sehingga bila FreddCo Energy bisa terlibat pada salah satu anjungan, kita bisa menghemat biaya investasi." Lanjut Bimasena lagi.
Ia masih hendak bicara, namun sepasang matanya tiba-tiba menangkap sesosok laki-laki bersama seorang perempuan yang menarik perhatiannya.
Matanya lekat mengawasi dua orang yang baru masuk ke dalam Lounge. Tidak ada hal istimewa yang ditunjukkan oleh kedua orang itu. Juga tidak menunjukkan ciri khas bilamana mereka merupakan pasangan kekasih.
Namun Bimasena mengenal sosok pria itu, yang rupanya adalah teman SMAnya dulu. Tristan. Bersama wanita yang ia tidak kenal.
Sebelum memutuskan untuk berdiri dan menyapa Tristan, sejenak ia mengamati interaksi kedua orang itu. Wanita itu terlihat biasa saja pada Tristan. Namun tatapan, cara berbicara dan sikap Tristan pada wanita itu, jelas menunjukkan kekaguman dan ketertarikan pada sosok di depannya.
Jatuh cinta atau sekedar kagum memang sangat mirip. Bimasena dapat memastikan bahwa Tristan tertarik pada wanita itu. Namun ia tidak yakin apakah Tristan jatuh cinta. Karena cinta adalah perasaan yang lebih dalam, kuat, penuh penerimaan dan besar. Dan hanya Tristan yang tahu bagaimana hatinya.
Bukan sifat Bimasena yang kepo terhadap urusan orang lain. Namun mengapa terhadap Tristan rasa ingin tahunya sangat besar?.
Ya, ia sudah tahu kenapa, karena sangat terkait dengan seseorang.
"Sebentar ya, saya menyapa temanku dulu," ucap Bimasena pada stafnya, lalu ia berdiri melangkah ke arah Tristan.
Ia menepuk bahu Tristan yang sama sekali tidak peduli dengan keadaan sekitar, saking begitu menariknya sosok yang berada di depannya. Sehingga Tristan sama sekali tidak menyadari bila ada Bimasena yang duduk tidak jauh dari mejanya.
"Bro!," sapa Bimasena, lalu mengulurkan tangan ke arah Tristan.
Tristan menoleh ke arahnya, dan sangat terkejut melihat Bimasena.
"Eh Bima," kemudian Tristan menjabat tangan Bimasena. "Mau ke mana Bro?"
"Jambi, kamu?" tanya Bimasena, lalu ia menoleh ke arah wanita di depan Tristan, mengangguk dan tersenyum yang juga dibalas dengan anggukan dan senyuman dari wanita itu.
"Sama, ke Jambi juga. Kenalin, ini teman kantor aku, Hakimah," seru Tristan.
Bimasena menjabat tangan wanita yang bernama Hakimah itu, lalu ia duduk di kursi tanpa dipersilahkan.
Mungkin keberadaannya di meja itu tidak diinginkan oleh Tristan, namun rasa keingintahuannya yang besar membuatnya tidak memedulikan Tristan.
Mereka bertiga pun terlibat obrolan. Gadis muda teman Tristan adalah wanita yang seru dan komunikatif, sehingga tidak ada kekakuan yang tercipta.
Beberapa saat berkomunikasi dengan keduanya, Bimasena sudah dapat menarik kesimpulan.
Hakimah memang tidak secantik Nadia, namun masuk dalam kriteria wanita cerdas yang merupakan kriteria calon Istri yang baik, yang pernah didengungkan Tristan kepadanya saat acara di rumah Angga.
Secara tidak langsung saat itu di rumah Angga, Tristan sebenarnya sedang memuji, atau menceritakan Hakimah padanya tanpa menyebutkan nama.
***********
Sudah lima hari sejak Bimasena datang ke salonnya, selama itu pula tidak pernah ada kabar dari pria itu.
Loh mengapa ia berharap mendapat kabar dari Bimasena?
__ADS_1
Nadia memukul-mukul kepalanya yang beberapa hari belakangan ini sedang mengalami trouble.
Tidak bisa dipungkiri, sejak kedatangan Bimasena di salonnya, ia selalu menoleh ke arah ruang tunggu, berpikir Bimasena akan kembali duduk di sofa itu.
Atau setiap bunyi telepon maupun pesan masuk di ponselnya, ia berpikir itu dari Bimasena. Namun ternyata bukan.
Sejak hari itu Bimasena tidak pernah datang ataupun menghubunginya lagi.
Apa ia berharap dikunjungi kembali?
Sungguh malu mengatakannya. Bahkan ia malu pada dirinya sendiri. Namun hati tidak dapat berdusta.
Ya, ia berharap Bimasena datang kembali, atau setidak-tidaknya menghubunginya.
Ah sungguh dirinya adalah wanita pendosa. Sudah memiliki suami masih memikirkan pria lain.
Dirinya juga wanita tidak tahu malu. Mengharapkan Bimasena? Memang dirinya siapa? berani-berani berharap Bimasena.
Apa yang bisa dibanggakan dari dirinya? Kecantikan? Dengan mudah pria sekelas Bimasena bisa mendapat wanita yang lebih cantik dari dirinya di luar sana. Tentu saja wanita cantik yang berpendidikan tinggi serta memiliki pekerjaan yang bagus.
Bukan wanita seperti dirinya, model gagal, tamatan SMA dan hanya memiliki salon receh untuk kelas ekonomi menengah ke bawah. Salon untuk orang-orang yang ingin merawat kecantikan namun memiliki keterbatasan financial.
Ia segera masuk ke kamar mandi mengguyur kepalanya dengan air. Berharap setelah ia melakukan itu kepalanya tidak akan disibukkan lagi dengan bayangan Bimasena.
Namun ternyata jari jemarinya mengkhianatinya. Jari jemari itu mengirim pesan Whats App kepada Mithalia, dengan tujuan menyelidiki Bimasena.
Ia tidak punya nyali untuk menghubungi atau mengirim pesan langsung kepada Bimasena.
Nadia:
Mit, jadi ya acara kamu minggu ini?
Mithalia:
Tuh kan, acara dibuat hanya karena Bimasena. Tapi dari pesan Mithalia, tampaknya hubungannya sudah akrab dengan Bimasena. Atau jangan-jangan......?
Loh kok, mengapa ia harus kurang senang bila Bimasena memiliki keakraban tersendiri dengan Mithalia?
Dasar bodddoooh
Nadia:
Memang Bimasena kemana?
Mithalia:
Jambi. Saya sudah chat, menanyakan posisi ia sekarang dimana. Tapi chat ku belum ia balas.
Jambi? Tristan ke Jambi, Bimasena ke Jambi juga.
Nadia:
Bagaimana perkembangan hubungan kalian? Sudah pernah jalan bareng?
Entah mengapa dirinya berdebar menunggu balasan chat Mithalia atas pertanyaannya itu. ia takut....kecewa.
Mithalia:
__ADS_1
Ih Nadia...Bimasena itu pria yang susah ditaklukkan. Sibuk banget. Jangankan bertemu dengannya. Ngobrol di telepon saja susah. Pesan aja dibalas, tapi dalam waktu yang cukup lama. Pokoknya ia susah Nadia. Tidak seperti pria kebanyakan π
Nadia:
Jadi kamu belum pernah bertemu dengan Bimasena selain pada acara reunian kita?
Mithalia:
Belooom πππ
Nadia:
Sabar say πππ
Sekarang ia pula berubah menjadi sahabat yang jahat, bersenang-senang di atas penderitaan sahabatnya sendiri, yang kurang mendapat respon dari Bimasena.
Lengkap sudah, istri pendosa, wanita tidak tahu malu dan sahabat yang jahat.
Dan tidur merupakan solusi terbaik untuk mengistirahatkan kepalanya yang sudah error yang terus-terus melakukan kesalahan di luar batas toleransi. Tidur sampai pagi.
**********
Hari Sabtu ini Nadia memilih tinggal di rumah, dan istirahat dari aktivitas salonnya. Pagi ini ia menjadwalkan untuk membersihkan kamar mandi dan menata kembali taman pada halaman rumahnya.
Ia tidak memiliki Asisten Rumah Tangga sehingga segala sesuatu harus ia kerjakan sendiri. Lagian rumah yang ia tempati juga lumayan kecil, hanya 72 M2 dengan tiga kamar tidur dan sebuah kamar mandi. Untuk urusan dapur dan kebersihan rumah bisa ia handle semua. Hanya pakaiannya dan pakaian suaminya, ia menggunakan jasa Loundry.
Nadia mengganti pakaiannya dengan kaos casual yang lumayan kumal dan celana selutut paling tuanya, sebelum ia beraksi di kamar mandi. Ngapain juga ia harus berdandan untuk menjalankan tugas menjadi babu. Rambut ia cepol tinggi ke atas, lalu ia menggunakan bandana, melengkapi dandanan ala babunya.
Nadia mulai membersihkan toilet, sisa-sisa sabun, mengambil sisa kotoran di saluran air. Ia lalu menyikat lantai kamar mandi lalu mengelap dindingnya. Setelah kamar mandinya nampak baru kembali, dengan baju yang setengah basah oleh air kamar mandi, bercampur keringat belum mandinya ia pindah ke taman depan rumahnya.
Tamannya hanya berukuran 3x3 meter, ditanami rumput, sebuah pohon bonsai dan beberapa pot bunga yang menghiasi teras rumah tanpa pagar itu.
Ia dan Tristan tinggal dalam sebuah perumahan, sehingga semua unit rumah di dalam perumahan itu mirip, bahkan warna catnya pun sama, serta tidak memiliki pagar.
Sebelum ia menggunting rumput, ia menggemburkan kembali dulu tanah tanamannya yang di dalam pot, agar tanaman itu tumbuh subur. Ia lalu memberi pupuk dan menyiram semua tanaman koleksinya itu.
Menyeka keringat pada wajah dengan tangan yang kotor bekas memegang tanah, membuat tanah juga menempel pada wajahnya. Bukan hanya wajah, baju dan celananya pun penuh bekas tanah.
Masa bodoh, sebentar juga ia mandi. Lagian tidak ada Tristan yang akan menghinanya dengan tampilan seperti itu. Sekarang ia merdeka melakukan apa saja di rumahnya, tanpa perlu mengkhawatirkan sindiran-sindiran dari Tristan.
Nadia tersenyum puas setelah ia selesai dengan seluruh tanamannya. Sekarang saatnya ia memotong rumput yang mulai tumbuh tidak merata sehingga kurang rapi dipandang.
Ia mengambil gunting rumput dan mulai memotong rumput. Namun sudut matanya menangkap sebuah kendaraan bergerak pelan-pelan dan berhenti tepat di depan tamannya. Tempat ia memotong rumput dengan wajah dekil dan pakaian kumal yang sudah kotor.
Ia melongo memandangi kendaraan yang sudah parkir tepat di depannya.
Tangannya mendadak berhenti memotong rumput.
Jantungnya seketika melorot ke perut.
Oh tidak, jangan sekarang!
Waktunya sangat tidak tepat.
Aku tidak mau sekarang.
Tidak mau!
__ADS_1
Adakah yang bisa membantu Nadia cara menghilang?