REUNI INDAHNYA MENDUA

REUNI INDAHNYA MENDUA
32. Membenahi Semua Perasaan


__ADS_3

Nadia segera mengunci pintu rumah, mematikan lampu di ruang tamu dan masuk ke dalam kamar. Barulah ia mendengar deru mesin mobil Bimasena meninggalkan rumahnya.


Sebegitu konsistenkah pria itu dengan ucapannya?


Ia lalu berdiri mematut tubuh polosnya di depan cermin, membenahi semua perasaannya setelah pulangnya Bimasena.


Mencari jangan sampai Bimasena meninggalkan jejak di atas kulitnya. Yang bisa menimbulkan petaka bila terlihat Tristan. Namun ia tidak menemukan bekas apapun pada kulitnya.


Yang ada hanyalah noda bekas cacar air, yang telah membuatnya kehilangan percaya diri pada Bimasena.


Jejak yang tersisa dari Bimasena hanyalah rasa nyeri di bawah sana. Seolah ia adalah wanita yang baru mengenal hubungan intim.


Namun soal rasa, tidak ada yang bisa Nadia lupakan setiap detikpun apa yang dilakukan Bimasena. Mulai ketika mereka berdiri di belakang pintu sampai berpindah ke sofa.


Bimasena sangat memabukkan. Mengecup dan menyentuh setiap senti kulitnya. Bergerak liar menyerangnya. Membuatnya berdebar, menegang, terbakar dan meleleh menjadi rapuh tidak berdaya.


Ia tidak bisa melupakan bagimana mata cokelat itu berkobar penuh damba.


Ia tidak bisa melupakan bagaimana hangatnya hembusan nafas Bimasena di kulitnya.


Ia tidak bisa melupakan wangi tubuh yang sangat menggoda dari pria itu.


Apa ada pria yang nyaris sempurna seperti Bimasena?


Mengingat semua pergumulan tadi, sungguh ia malu menampakkan lagi wajahnya pada Bimasena.


Sungguh malu ia mengingat desahan dan erangan yang lolos dari mulutnya.


Sungguh malu ia mengingat bila tidak ada permukaan tubuh yang tidak tertangkap netra Bimasena.


Sungguh malu ia mengingat jika ia sudah menjatuhkan harga diri di kaki Bimasena.


Tetapi ia mengakui, ia baru merasakan sentuhan dan gairah penuh cinta, bukan sekedar hanya pelepasan hasrat semata.


Ia mengakui, ia belum pernah merasakan hal terhebat dan terpanas seperti yang ia rasakan dari Bimasena tadi.


Namun saat ia melangkah menuju lemari untuk mengambil pakaian tidur, tanpa sengaja matanya tertuju pada sebuah foto yang terpasang pada dinding kamar.


Foto pernikahannya dengan Tristan.


Kedua pasang mata itu menatap marah kepadanya seolah menghakimi.


Kamu sudah mengkhianati janji suci pernikahan.


Dan yang lebih membuatnya terkesiap adalah,


Tanggal yang tertera di bawah foto itu, sama dengan tanggal sekarang.


Berarti hari ini adalah ... ulang tahun pernikahannya yang kelima dengan Tristan.


Tristan tidak pernah memberinya hadiah. Begitupun dirinya, tidak pernah memberi Tristan hadiah.


Tapi apa yang sudah ia berikan pada Tristan malam ini?


Pengkhianatan terbesar.


Deraan rasa bersalah perlahan-lahan mencambuk dirinya.


Berkali-kali Tristan menyakiti hatinya, tetapi tidak sebanding dengan pengkhianatan yang baru ia lakukan.


Ia sudah menodai sucinya pernikahan dengan kemungkaran. Ia sudah mengotori pertalian yang tiada duanya. Di dalam rumah yang ia tinggali bersama Tristan. Betapa bejat dirinya.


Ia melihat wajah penuh maksiat di dalam cermin. Tubuhnya bergetar.


Begitu rapuhnya iman, dengan mudah ia jatuh ke lembah nista. Dan saat berdiri, ia sudah bermandi lumpur dosa. Semua air menolak menyucikannya. Karena ia adalah pendosa.


Maafkan aku Tristan.


Tubuhnya merosot turun ke lantai, tidak mampu menahan begitu beratnya penyesalan yang menghimpit dadanya.


Ia tidak mampu lagi menahan tangisnya. Meratapi dosa besar yang sudah tercipta. Membayangkan api neraka yang berkobar-kobar menunggunya.


Di hari ulang tahun pernikahannya dengan Tristan. Ia telah menusuk Tristan dari belakang. Bercinta dengan teman suaminya sendiri.


Adakah seorang istri yang lebih durjana dari dirinya?


******

__ADS_1


"Kenapa belum tidur?" tanya Tristan saat ia kembali dari acara reuni dan melihat dirinya masih duduk di atas tempat tidur.


"Aku menunggu kamu Tristan," ucapnya dengan suara lirih.


Tristan mengernyit, tentu karena ia tidak terbiasa menunggu Tristan pulang sampai hampir pagi seperti ini.


"Hari ini hari ulang tahun pernikahan kita. Maaf aku lupa."


Tristan malah tertawa. "Kitakan tidak pernah merayakan hari ulang tahun pernikahan. Kenapa tiba-tiba jadi romantis begini?"


Tristan membuka pakaiannya lalu berjalan menuju kamar mandi yang terdapat di luar kamar.


Ia pun merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Bagaimana cara menutupi rasa bersalahnya kepada Tristan?


Bila ia jujur dan meminta maaf kepada Tristan, yakin Tristan akan membunuhnya. Ia tidak akan melihat matahari bersinar lagi esok.


Dengan mata terpejam ia bisa merasakan Tristan rebah di sampingnya, dan mendengar ucapan Tristan,


"Jangan ganggu aku besok pagi, aku mau tidur sepanjang hari. Ngantuk berat, semalaman main catur."


"Iya," jawabnya, lantas membuka mata dan melirik ke samping. Memandang wajah Tristan dengan penuh rasa bersalah.


Tiba-tiba matanya melihat sebuah kotak dipegang Tristan, disodorkan ke arahnya, diletakkan di atas perutnya.


"Apa ini?" Ia meraih kotak itu.


"Tadi caturnya dapat juara satu. Hadiahnya untukmu, sebagai hadiah ulang tahun pernikahan kita, karena kamu sudah mengingatnya." Tristan lalu berbalik memunggunginya.


Ucapan Tristan tepat menohok ke jantungnya. Membuat rasa bersalahnya semakin dalam. Tak mampu menahan bulir-bulir air yang menetes di sudut matanya.


Ia berjuang keras agar tidak terisak. Agar Tristan tidak menyadari bila ia menangis.


Nadia memegangi dan menatap kotak handphone itu dengan lidah yang keluh. Hadiah pertama yang ia peroleh dari Tristan sejak menikah.


Mengapa semua serba bertepatan? Bertepatan saat ia melakukan pengkhianatan, ulang tahun pernikahan dan mendapat hadiah dari Tristan.


Terlebih lagi, skill tingkat tinggi yang ditunjukkan Bimasena kepadanya, menjadi bukti bahwa Bimasena seorang bujang tapi bukan pemula, apalagi perjaka. Jelas ia memiliki jam terbang yang tinggi untuk seorang lajang dalam hal itu.


Menandakan bahwa Bimasena sudah sering melakukan itu kepada wanita. Bisa jadi kepada banyak wanita. Termasuk dirinya.


Lalu apakah Bimasena bisa dipercaya?


Bagaimana caranya bertobat? Ia ingin menghapus dosa.


Bagaimana cara menghapus jejak kotor, yang sudah terlanjur tertoreh? Sungguh ia sangat takut akan hukuman laknat.


Rasa bersalah semakin lengkap menghantui jiwanya, manakala saat pagi tiba, ibu mertunya datang membawa makanan kesukaannya. Makanan yang sering dimasak almarhum ibunya.


"Mama buatkan Soto Lamongan kesukaanmu Nadia." Ibu mertuanya meletakkannya di atas meja makan. "Panasi dulu sebelum dimakan! Jangan terlalu banyak sambel, nanti maag-mu kambuh lagi!"


Ia bukan hanya mengkhianati Tristan. Tetapi juga mengkhianati mertuanya, yang sudah menjadi pengganti Ayah dan Ibunya. Padahal ia tahu bagaimana Ayah dan Ibu mertuanya sangat menyayanginya. Sama seperti mereka menyayangi anak-anak sendiri.


Sehingga yang harus ia lakukan, agar tidak terus-terusan berkubang dalam khianat dan dosa adalah ... menjauhkan Bimasena dari hidupnya.


Bimasena hanyalah ujian keimanannya.


Bimasena hanyalah ujian rumah tangganya.


*********


Pagi-pagi meskipun hari itu adalah hari minggu, Bimasena dan Direktur Hulu sudah berada di kantor, di ruangan Direktur Utama, untuk melaporkan volume minyak yang sudah ditambang dari hasil open pit oil mining di Merangin.


Wajahnya tidak lepas mengurai senyum. Seolah tidak ada lelah pada wajahnya, padahal tidurnya tidak lebih dari dua jam. Karena teman-teman prianya baru pulang dari rooftop pukul tiga dini hari.


Bagaimana ia tidak sebersemangat ini. Tadi malam ia habis membakar kalori, tetapi mendapat suntikan energi full dari Nadia.


Dan yang paling utama membuat harinya berwarna, seolah masa depannya sudah terpampan di depan mata, adalah anggukan malu-malu dari Nadia, yang mengizinkan ia memasuki kehidupan wanita itu.


"Segar banget kamu Bim, ceria bener hari ini. Nggak biasanya. Biasanya wajahmu selalu serius kalau masuk ke ruanganku," seloroh Direktur Utama FreddCo Energy Cabang Indonesia yang ia panggil dengan sebutan Pak Dirut.


Bimasena tertawa mendengar ucapan Pak Dirut.


Apa benar kebahagiaannya hari ini terpancar di wajah?


Memang, ia sangat bahagia hari ini. Wajah wanita semalam tidak berhenti membayang. Sayang, ia tidak bisa menghubunginya. Karena yang memilikinya sudah kembali ke rumah.


Kebahagiaan yang penuh batasan.

__ADS_1


"Bagaimana tidak senang Pak, sudah siap-siap mau ngapelin pacar, tiba-tiba ada perintah masuk kantor di hari minggu. Bagaimana pacar naik status jadi istri kalau begini?" canda Bimasena yang ditanggapi gelak tawa oleh Pak Dirut dan Direktur Hulu.


Siapapun di perusahaan itu tahu, bila Direktur Utama mereka adalah pria type pekerja keras. Tidak mengenal waktu. Yang sudah tentu berdampak kepada bawahannya yang harus bisa menyesuaikan jam kerja.


Tidak ada yang berani bercanda seperti itu pada Pak Dirut yang terkenal galak. Hanya Bimasena.


Bukan karena Bimasena sumber daya manusia yang berkualitas tinggi di perusahaan itu. Tetapi karena Bimasena adalah putra dari Presiden Direktur FreddCo Energy pusat di Amerika, yang membawahi semua Freddco Energy yang tersebar di beberapa negara termasuk di Indonesia.


Nama, Albert Johannes, Ayah tiri Bimasena, juga tercatat di jajaran pemegang saham FreddCo Energy. Bahkan nama ibunyapun ikut tercatat sebagai pemegang saham, sebagai hadiah Ulang tahun dari Ayahnya.


Jadi apa yang perlu ia takutkan pada Direktur Utama di depannya?


Tetapi pribadinya sudah terbentuk menjadi pekerja yang loyal pada atasan. Atas bentukan dan didikan Ayahnya, Albert Johannes.


Ayahnya mengajari dirinya berkarir mulai dari bawah. Mulai dari karyawan biasa pada lokasi tambang di Texas. Lalu menjadi supervisor. Dan terakhir menjadi SVP Exploration di Indonesia.


Bahkan ia sudah digadang-gadang menjadi calon pengganti Direktur Utama Indonesia melangkahi jabatan Direktur Hulu.


Sampai siang hari, ia masih berada di kantor bersama Direktur Hulu dan Direktur Utama. Membahas rencana lokasi eksplorasi selanjutnya. Berakhir dengan ajakan makan siang Direktur Utama di sebuah restoran Jepang yang tidak jauh dari kantornya.


Ia memesan karaage, ayam goreng khas Jepang. Ayam yang dibumbui kecap, garam dan rempah-rempah, ditaburi tepung dan digoreng dalam minyak.


Ia juga memesan udon dan tempura. Sangat rakus bukan? Jangan salah, tadi pagi ia hanya menyambar sepotong roti yang ia makan sambil mengemudi. Ia tidak menyukai orang yang terlambat, sehingga ia tidak boleh datang terlambat di kantor.


Bimasena juga harus mengganti kalori yang terbakar, setelah semalam membombardir Nadia sampai Nadia mengangkat bendera putih pertanda menyerah.


Ia selalu tersenyum sendiri mengingat wanita itu semalam.


Wajah Nadia merona sepanjang waktu. Berkali-kali mata Nadia membelalak dan mulut memekik menyebut namanya 'Bim' bila ia memberinya cumbuan yang penuh kejutan.


Mungkin Nadia belum pernah mendapatkan hal demikian dari Tristan. Nadia sangat amatir, padahal sudah berumah tangga selama lima tahun.


"Bima dari tadi senyum-senyum sendiri nih." Ternyata Direktur Hulu memperhatikan dirinya.


Benar Pak, Nadia sudah membuatku nyaris gila. Kadang kacau, kadang senyum sendiri.


"Ingat calon istri Pak," seloroh Bimasena.


"Bukti mana bukti? Kemana-mana sama sekretarisnya melulu. Memang Aurel itu calon istrimu?" ujar Pak Dirut.


"Oh tidak Pak, bukan Aurel, bukan orang kantor." Bimasena buru-buru mengklarifikasi agar tidak berhembus gosip miring.


Nadia memang benar-benar hendak membuatnya gila. Baru saja matahari bersinar cerah, tiba-tiba saja tertutup awan kelabu yang entah datang dari mana.


Bimasena seketika kehilangan selera pada makanan yang tersaji di depannya. Padahal tadinya ia lapar bukan main.


Ternyata tidak mudah menaklukan Nadia. Padahal ia berpikir wanita itu sudah ada dalam genggaman. Saat ia membaca pesan dari Nadia,


Nadia:


Apa yang kita lakukan merupakan kesalahan, sangat memalukan dan dosa besar. Aku sudah menjadi istri yang berkhianat dan berdosa kepada suami.


Nadia:


Bila kamu benar-benar menyayangiku Bim, tolong berhenti hubungi aku lagi. Jangan dekati aku lagi.


Nadia:


Aku tidak menyalahkan kamu Bim. Ini kesalahanku sendiri yang tidak bisa menjaga kehormatan sebagai seorang istri. Oleh karena itu, aku mohon, tinggalkan aku. Lupakan aku. Carilah wanita yang lebih pantas untukmu.


Bimasena kembali kacau.


********


Hi readersku tersayang,


Apa kabarnya?


Ada yang baru dari novel ini, karena Noveltoon mengganti covernya. Terima kasih untuk Noveltoon. Semoga kalian suka cover barunya.


Author rasanya ngos-ngosan, melihat permintaan UP untuk beberapa novel. Jadi mohon maaf bila UP novel ini sangat slow. Karena kemampuan author menulis sangat terbatas.


Terima kasih atas segala dukungannya.


Salam sayang dari Bimasena untuk kalian.


Author Ina AS gak penting ya? πŸ˜„

__ADS_1


😘😘😘


__ADS_2