REUNI INDAHNYA MENDUA

REUNI INDAHNYA MENDUA
103. Hopefully You Will Become My Future


__ADS_3

Sepertinya Bimasena ingin menarik tawarannya pada Nadia. Menjadi independent marketing pada perusahaan developer Danindra. Tetapi wajah berseri-seri yang dinampakkan Nadia begitu mendapat tawarannya, membuatnya tidak tega menorehkan kekecewaan pada kekasih hatinya.


Mengapa ia tidak berpikir dahulu sebelum melempar tawaran itu. Sekarang hatinya diliputi kecemasan. Bukan karena mengkhawatirkan Nadia tidak akan mampu menjalankan pekerjaan menjembatani pembeli dengan developer.


Bukan itu.


Tetapi yang dikhawatirkan adalah ...


Sahabatnya sendiri.


Danindra.


Danindra memiliki track record yang buruk. Bukan soal hobi Danindra mengoleksi mobil mewah. Tetapi Danindra memiliki hobi mengoleksi wanita cantik.


Bahkan Danindra berani bermain api, mengganggu istri orang (sebelas dua belas dirinya). Menantu wakil presiden pula. Tetapi Danindra tidak berhasil menaklukkan buruan. Dalam hal ini memang dirinya di atas Danindra.


Yang ia khawatirkan bila ... Danindra terpesona pada Nadia. Bukan tidak mungkin hal itu bisa terjadi, karena Danindra seperti dirinya. Sama-sama menyukai tantangan.


Perlombaannya dengan Danindra untuk saling mengungguli satu sama lain tidak pernah selesai. Bukan hanya di atas sirkuit. Tetapi dalam segala hal.


Mempekerjakan Nadia pada Danindra sama saja dengan mengumpan Nadia pada buaya.


Yang ia takutkan adalah ...


Bila hukum karma berlaku.


Ia pernah merebut pasangan sahabatnya. Bagaimana bila hal itu terjadi pada dirinya, sahabatnya merebut pasangannya?


Sial.


Jelas perang saudara akan kembali pecah. Namun akan lebih dahsyat, karena dirinya dan Danindra memiliki power yang setara.


Bila dirinya memiliki jet tempur F-35 maka Danindra memiliki Sukhoi SU-57.


Bila ia memiliki rudal hipersonik yang mampu melesat 5 kali kecepatan suara, Danindra memiliki Zircon, rudal jelajah hipersonik yang sulit dilacak dan dicegat.


Bila dirinya memiliki kapal selam nuklir Seawolf yang memiliki sistem tempur tercanggih di dunia, Danindra memiliki Kapal selam bertenaga nuklir kelas Yasen-M yang didesain mampu mengandaskan kapal selam dan kapal perang musuh.


Bila dirinya merupakan raja minyak, Danindra merupakan raja properti, tuan tanah dimana-mana.


Lawan yang sepadan bukan?


"Bim, minggu depan Glor udah bisa diberi makanan pendamping ASI. Aku mau coba Puree Pisang dan Alpukat dulu. Mudah-mudahan Glor suka," cakap Nadia sambil menyu sui baby Glor, dengam posisi membelakanginya.


Nadia tidak membolehkan dirinya melihat wanita itu meng-ASI baby Glor. Tentu saja karena Nadia tidak ingin memperlihatkan dada padanya. Sangat pelit.


Padahal dari belakang Nadia, dari kursi tempatnya duduk, matanya asyik menonton pinggul Nadia yang semakin berlekuk, serta bo kong yang semakin berisi.


Nadia bukan type penggoda, tetapi memiliki tubuh yang sangat menggoda.


Apa Nadia tahu bila otak kotornya sudah berfantasi, membuat wanita itu terengah-engah kembali?


Apa Nadia tahu bila ia rindu mendengar desa han tertahan wanita itu saat merasakan ledakan gairah?


Mampukah ia menahan diri agar tidak tersesat dalam diri Nadia malam ini?


Tidak janji.


"Untuk sayurnya, aku mau coba puree Kabocha, Wortel dan Bayam. Gimana Bim?"


"Bim!"


"Bim! Kamu nggak dengar aku?" Nadia menoleh ke belakang, ke arahnya.


Membuatnya terhenyak, segera mengalihkan mata nakalnya dari pinggul ke wajah indah Nadia.


"Kamu ngantuk Bim?"


Belum juga ia memberi alasan, Nadia sudah mendahuluinya, membantunya menyiapkan jawaban tanpa harus berpikir.


Apa ia berterus terang saja kepada Nadia bila saat ini ia sedang ingin ber ...


"Kamu jangan pulang dulu. Aku mau masak suki untukmu kalau baby Glor udah tidur," sambung Nadia.


Tidak ada tawaran yang paling membahagiakan daripada tawaran Nadia. Wanita yang sudah mampu meruntuhkan akal sehatnya. Bahkan ia lebih memilih semangkok suki buatan Nadia daripada seribu barel minyak di Venezuela.


Ia suka cara Nadia berbicara kepadanya. Topik yang sangat ringan, sangat menyejukkan otaknya, yang sudah sarat beban pekerjaan yang berat.


Kecuali ucapan Nadia selanjutnya. Kurang ia sukai.


"Kalau sudah makan baru boleh pulang," lanjut Nadia.

__ADS_1


"Aku nggak mau pulang. Aku mau nginap di sini," lontarnya, tetapi membuat Nadia tersentak.


"Biiim, jangan. Nggak enak sama tetangga. Baru jadi janda sudah membawa lelaki tinggal di rumah. Apa kata tetangga?" protes Nadia.


"Masa bodoh sama tetangga."


"Jangan Bim, nanti kita khilaf lagi." Nadia mengucapkan kalimat yang membuat dia malu sendiri setelah mengucapkannya.


Mengapa Nadia begitu polos?


Bukankah kekhilafan yang disengaja itu yang ia butuhkan saat ini?


Mengapa Nadia kurang peka?


Ia tidak mengenal kata khilaf. Karena apa yang pernah terjadi antara dirinya dan Nadia memang terencana dan disengaja. Sejak Nadia datang mengetuk pintu hatinya.


"Aku tidak ingin menghabiskan waktu di Indonesia tanpa kalian berdua. Soal khilaf, diupayakan tidak. Tetapi bila terjadi lagi, ya namanya juga khilaf," kilahnya.


"Menghabiskan waktu di Indonesia? Memang kamu mau kemana?" Nadia berhenti meng-ASI baby Glor yang sudah tertidur serta merapikan pakaian.


"Ya kembali ke Venezuela."


"Kembali ke Venezuela? Memangnya kamu masih tinggal di sana?" Nadia bangkit dari tidurnya, dan duduk di tepi tempat tidur menghadapnya sambil mengikat rambut tinggi ke atas.


"Aku masih ditugaskan di sana Nadia."


Cuaca yang sudah cerah setelah hujan semalam, berubah mendung lagi. Wajah yang tadinya sudah berbinar, sendu kembali. Air mata berkumpul di mata si jelita.


"Kamu mau meninggalkan aku dengan Glor?" rintih Nadia.


"Aku harus menyelesaikan pekerjaan di Venezuela dulu Nadia. Bila target ekspor minyak sudah tercapai, aku kembali lagi kesini."


Nadia termenung dengan wajah sendu sejenak. Kemudian tiba-tiba beranjak meninggalkannya keluar dari kamar.


Namun netranya masih sempat menangkap tetes pada kedua mata Nadia yang jatuh serentak.


Hujan kembali turun. Dan ia hanya bisa menghembuskan nafas tanpa bisa mencegah.


Ia pun segera mengikuti Nadia setelah meletakkan guling besar di sisi baby Glor untuk mencegah Glor jatuh dari tempat tidur, bila Glor berguling-guling saat tidur.


"Kenapa kamu menangis lagi Nadia?"


Rupanya Nadia tetap akan memasak suki untuknya meskipun sedang menangis.


Ia segera memeluk Nadia sebelum wanita itu menyalakan api kompor.


"Jangan ganggu aku Bim, aku mau masak." Air mata semakin membanjiri pipi wanita itu. Nadia berusaha membebaskan diri dari pelukannya.


Ia mengangkat tubuh Nadia. Mendudukkan Nadia di atas meja dapur dan kembali memeluk wanita tersebut.


"Kamu menangis karena aku mau kembali Venezuela?"


Ia setengah membungkuk, untuk mendekatkan wajahnya dengan wajah Nadia. Tetapi Nadia menutup wajah dengan kedua tangan untuk menghindarinya. Air mata wanita itu tidak berhenti bercucuran.


Nadia, Nadia.


Meresahkan sesuatu, tetapi memilih bungkam dan menyimpan sendiri. Membiarkan gulana merajai diri. Sifat yang belum berubah sejak ia memasuki kehidupan wanita di hadapannya. Pemendam, perasa.


"My beloved, stop crying." Tangannya bergerak melepas tangan Nadia yang menutupi wajah, lalu menghapus air mata wanita itu.


Nadia tidak bisa menghindarinya lagi, karena ia sudah melabuhkan bibirnya pada pipi kenyal Nadia.


Nikmat. Sama nikmatnya dengan mencium pipi baby Glor. Bedanya? Mencium Nadia mampu membakar jiwa. Membuat sesuatu bergelora.


"Nadia, ada dua hal yang tidak bisa bercampur dengan baik di dalam hati. Keresahan dan kebahagiaan. Lepaskan keresahan itu bila kamu ingin bahagia. Caranya, katakan apa yang membuatmu resah!"


Setelah mengucapkan kalimat tersebut, ia memilih diam menunggu Nadia menyudahi tangis dan menjawabnya. Karena hati yang berat layaknya awan yang mendung. Hanya bisa diringankan dengan menurunkan hujan.


Akhirnya Nadia mengungkapkan isi hatinya. Meskipun masih disertai dengan sedu sedan.


"Kamu nggak care Bim. Kamu tega. Tega meninggalkan aku dan Glor. Kenapa kamu datang, bila akhirnya hanya akan pergi lagi?"


Ia melesatkan kembali ciuman pada pipi wanita itu sebelum menjawab. Pipi yang menjadi candu dan bisa membuat sakau.


"Sayangku, aku ke Venezuela hanya untuk menyelesaikan pekerjaan. Bukan hal mudah meninggalkan dua orang yang disayangi. Tetapi Venezuela negara yang berbahaya, tidak mungkin aku membawa kalian kesana."


Mungkin ia salah memilih kata, karena kalimatnya justru menumbuhkan kekhawatiran dalam hati Nadia. Terbukti dari pancaran kecemasan pada wajah wanita tersebut.


"Berbahaya bagaimana?" Nadia menyeka air mata.


"Tingkat kriminalitasnya lebih tinggi dari Jakarta. Banyak pencopet, perampok. Yang jelas di sana kurang aman." Hanya itu informasi yang perlu dibagikan kepada Nadia, agar tidak menambah masalah baru.

__ADS_1


Ia tidak mungkin menceritakan kepada Nadia, bila ia sedang terlibat konflik dengan pimpinan gangster The King di Caracas. Salah satu antek dari bos mafia yang menguasai sebagian besar ibukota Venezuela. Akibat keputusannya mengimpor naphta yang digunakan untuk melarutkan minyak mentah, langsung dari Peru tanpa melalui distributor lokal. Demi mengurangi tingginya biaya produksi.


Tetapi ucapan Nadia selanjutnya membuatnya tergelak dan mengerti apa yang dikhawatirkan wanita itu.


"Iya, Venezuela negara berbahaya. Ada pencopet, ada perampok, ada maling, juga ada Miss Venezuela."


Sambil tertawa, ia kembali mendaratkan ciuman pada pipi wanita yang masih sesenggukan itu. Entah mengapa rasanya bibirnya selalu ingin menempel pada pipi wanita itu. Seperti pada pipi Glor.


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan semua miss miss yang ada di Venezuela. Karena hatiku hanya ada di sini, di Indonesia." Berharap pernyataannya bisa menenangkan hati Nadia.


"Iya hati di sini. Tetapi aku yakin kamu mengajak miss-miss di sana ke tempat tidur," sungut Nadia.


Ia kembali tergelak mendengar ucapan Nadia.


Tempat tidur kata Nadia? Bila ia sedang ingin, di sofa, di mobil ataupun di belakang jendela pun bisa. Tidak mesti di tempat tidur.


"Kenapa tertawa? Nggak lucu," seru Nadia memasang wajah cemberut.


Seperti itukah wanita? Tega memutuskannya tetapi cemburu bila ia bersama wanita lain.


"Jauhkan prasangka bila aku meniduri semua wanita yang aku temui. Aku tidak senakal yang ada dalam pikiranmu."


"Jadi benar, kamu tidak tidur dengan Miss Venezuela itu?" Nadia memandang tegas ke arahnya. Meraba-raba adakah sesuatu yang ia sembunyikan.


"Jadi kamu cemburu kepada Daniela? Padahal belum jelas setelah makan malam yang kamu lihat fotonya berseliweran di media sosial itu, aku masih bersamanya atau tidak."


"Lantas apa kamu pernah memikirkan bagaimana keadaanku di Venezuela? Bagaimana rasa hatiku saat kamu memutuskan aku dan bagaimana rasanya memikirkan kamu siang dan malam tinggal dalam satu atap bersama Tristan? Apa yang kamu lakukan di dalam kamar bersama Tristan? Apa kamu berpikir aku tidak memiliki rasa cemburu?"


Nadia diam menunduk, menghindari tatapan matanya.


Cukup mudah membalikkan keadaan, untuk menghentikan segala perdebatan tidak penting mengenai Miss Venezuela.


Tetapi melihat Nadia tertunduk dengan rasa bersalah, mengundang rasa ibanya.


Ia mengangkat dagu Nadia, kemudian mengusap sudut mata basah wanita yang begitu perasa itu dengan jarinya.


Nadia menatapnya dengan tatapan sayu tidak berdaya.


"Mulai saat ini tidak ada yang perlu kamu khawatirkan lagi sayang. Karena yang ada di hatiku, hanya Nadia Humeerah dan Glor Gerardo."


"Setiap langkahku hanya tertuju pada kalian. Tidak peduli jalan yang aku lalui harus terjal dan berliku."


Melihat bibir indah Nadia yang setengah terbuka, membuatnya tidak mampu menahan diri untuk tidak menyesap bibir tersebut. Apalagi wanita itu memasrahkan bibir padanya.


Saat kedua bibir menyatu, perbuatan berbicara lebih keras daripada kata-kata. Meskipun dua bibir beradu dengan begitu lembutnya.


Ia menghentikan ciuman yang mampu memompa gairah. Sebelum situasi tidak dapat ia kendalikan.


Karena ada sesuatu yang perlu ia sampaikan kepada Nadia.


Wajah Nadia merona setelah ciuman itu.


Tidak kuasa terus dipandangi olehnya, Nadia menyembunyikan wajah di dadanya. Sehingga ia hanya bisa melihat rambut wanitanya.


"Nadia, my love for you through the darkness (Cintaku padamu menembus kegelapan)," bisiknya di telinga Nadia.


"You taught me how to love, but not how to stop (Kamu mengajarkanku cara mencintai, tapi tidak cara untuk berhenti)."


Kurang sempurna rasanya berbicara tanpa melihat mata Nadia. Sehingga ia merenggangkan jarak agar Nadia berhenti menyembunyikan wajah di dadanya. Dan ia dapat dengan leluasa memandang wajah indah Nadia.


"Aku janji, setelah ekspor minyak FreddCo Energy di Venezuela selesai, aku akan segera pulang ke Indonesia, datang kemari bersama orang tuaku. Untuk melamarmu."


"Percayalah, janjiku padamu, ditulis dengan tinta yang tidak terhapuskan."


*********


Readers kesayanganku,


Apa kabarnya hari ini? Berharap kalian semua selalu dalam keadaan sehat dan dipenuhi kebahagiaan.


Maafkan author yang satu ini begitu lalod dalam mengupdate novel Reuni. Selain kesibukan di RL, author memiliki banyak keterbatasan dalam menulis. Salah satunya, butuh waktu yang lama menyelesaikan satu episode.


Mohon maaf bila komentarnya tidak bisa dibalas satu persatu. Tetapi author membaca semua komentar kok. Komentar readers itu adalah hiburan dan sumber energi bagi author untuk tetap menulis.


Terimakasih untuk segala dukungannya baik itu berupa vote, like, comment, tips dan segala bentuk support yang lain seperti bantuan promosi, video-video. Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian semua.


Salam sayang dari


Author Ina AS


😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2