
Bagaimana kepala Danindra tidak pening, bila hampir setiap hari, tiga kali dalam sehari, Nadia datang menemuinya. Memohon-mohon kepadanya agar bisa difasilitasi menemui Bimasena di Venezuela.
"Mas Indra, tolong aku. Aku belum pernah keluar negeri sendirian. Aku nggak ngerti bahasa orang Venezuela. Aku butuh teman di sana yang memberi petunjuk arah dan membawaku bertemu Bima."
Nadia tidak sekedar berbicara. Namun mengiba dan menangis. Bagaimana ia tidak trenyuh?
Mengapa juga Nadia meminta ke Venezuela? Padahal negara itu semakin berbahaya akibat ulah Bimasena membunuh pimpinan sebuah gangster.
Seandainya Nadia meminta untuk dihangatkan karenaa kesepian, tentu ia tidak akan menolak. Dengan senang hati melayani Nadia. Karena masih penasaran bagaimana rasa wanita yang ada di depannya. Apa yang membuat Bimasena tergila-gila.
"Nadia, aku sudah mengonfirmasi ke keluarga Bimasena dan FreddCo Energy. Tidak ada yang mengizinkan kita ke sana. Situasi masih panas," tolaknya. "Jangan melakukan tindakan yang membahayakan keselamatan!"
Tapi Nadia yang terdiam menunduk dengan bahu terguncang, membuat ia kehilangan rasa tega dan angkuh.
"Baiklah, aku upayakan."
Ia tidak habis pikir. Kadangkala ia begitu tega menolak atau memutuskan wanita yang mengemis cintanya. Tetapi mengapa ia kalah dari Nadia? Padahal apa yang diminta Nadia sangat berisiko.
Ia belum pernah melihat perubahan wajah seorang wanita, dari wajah muram menjadi berbinar seperti wajah Nadia. Membuatnya terharu pada Nadia, sekaligus sewot pada Bimasena, yang telah menitip Nadia padanya.
"Makasih Mas. Boleh aku minta nomor rekeningnya, Mas?" Nadia menyeka air mata.
"Untuk apa?" tanyanya dengan kening berkerut.
"Aku mau transfer biaya ke Venezuela. Aku transfer berapa Mas?"
Ia menggeleng-gelengkan kepala, lalu tertawa mendengar jawaban Nadia.
"Nadia, aku jauh lebih kaya dari Bimasena. Dimana rasa maluku bila menemanimu ke sana lantas meminta ongkos padamu." Ia menyandarkan punggungnya pada kursi kerja.
"Mas yang mau ngantar aku ke sana?" Mata Nadia membulat.
"Siapa lagi? Bimasena menitip kamu padaku."
"Bila perlu setelah dari Venezuela kita ke Los Angeles, ke New York atau kemanapun kamu mau. Saldoku nggak bakal goyang."
Apa benar ia lebih kaya dari Bimasena? Ia sendiri tidak yakin dengan ungkapannya sendiri. Ia hanya ingin menyombongkan diri kepada Nadia.
Sebenarnya ia tidak bisa mengukur kekuatan ekonomi sahabat sekaligus rivalnya itu.
__ADS_1
Di Indonesia, secara visual ia nampak lebih di atas dari Bimasena.
Ia memiliki mobil sport, rumah, dengan jumlah yang lebih banyak dan harga yang lebih mahal dari Bimasena. Gaya hidupnya juga lebih mewah dari Bimasena.
Tetapi ia tidak bisa mengukur dengan jelas seberapa besar kekayaan Bimasena. Kemampuan ekonomi sahabatnya itu seperti fenomena gunung es. Hanya terlihat puncak gunung es, bagian kecilnya saja. Sedangkan badan dan kaki gunung es, bagian besarnya, tidak terlihat karena berada di bawah permukaan air laut.
Jaringan bisnis energi FreddCo Energy tersebar di seluruh dunia. Bimasena bukan hanya menjadi salah satu direksi di perusahaan Amerika tersebut. Tetapi juga menjadi salah satu pemilik saham. Saham FreddCo Energy sebagian besar dikuasai oleh keluarga sahabatnya itu.
Jadi? Siapa yang lebih kaya?
********
Air mata Nadia tumpah saat ia meninggalkan rumahnya. Melihat Glor yang melambaikan tangan kepadanya.
Perih hatinya tidak bisa terlukiskan saat meninggalkan Glor. Berharap Glor bisa memahami mengapa ia tega meninggalkan Glor, mentarinya dalam gulita. Bahwa bukan hanya dirinya yang kehilangan. Glor juga kehilangan sosok ayah.
Ia menitip Glor pada Mpok Nana. Sebelumnya ia sudah menyimpan ASI perah di dalam freezer karena ia berniat untuk memberi ASInya selama dua tahun penuh kepada Glor.
Ia juga sudah menitip sejumlah uang kepada Mpok Nana untuk kebutuhan Glor dan keluarga kakaknya selama ia pergi. Ia juga menitip salah satu kartu debit untuk hal-hal yang tidak terduga.
Sepanjang malam ia tidak pernah melepas pelukannya kepada Glor. Sentuhan lembut tangan Glor masih terasa di pipinya.
Begitu banyak rintangan yang ia dan Glor hadapi demi menggapai satu kata yang bernama bahagia. Ia dan Glor susah payah berjalan menapaki renda duka.
Danindra mengulurkan kotak tissue padanya. Pria itu lebih banyak diam selama perjalanan ke bandara. Mungkin memberikan waktu kepadanya untuk menangis dan menumpahkan kerinduannya kepada Glor.
Untuk pertama kalinya ia naik pesawat menggunakan first class. Menempati suite pribadi yang mewah. Dilengkapi sliding door untuk kenyamanan pribadi. Kursi ergonomis yang dilengkapi dengan matras, selimut, bantal, dan lengkap dengan ottoman. Serta menu makanan Internasional yang disiapkan oleh Chefs on Board.
Mungkin seandainya pengalaman terbangnya kali ini ia bersama Bimasena dan Glor, mungkin ia akan sangat bahagia. Ia tidak akan lupa mimpi-mimpinya ke luar negeri bersama Bimasena.
Entah berapa budget yang dikeluarkan Danindra membiayai perjalanan mereka. Ia tidak menyangka bila Danindra yang akan menemaninya sendiri berangkat ke Venezuela. Tidak tanggung-tanggung, Danindra membawa tiga orang pria yang bertubuh tinggi besar bersama mereka.
Apa pria-pria itu pengawal Danindra?
Entahlah.
Rindu telah mengalahkan rasa takutnya, sehingga ia nekat datang ke Venezuela menerjang bahaya.
********
__ADS_1
Bukan karena sayap kebebasannya dipenggal yang membuat Bimasena terkurung dalam sebuah kotak, terasing dari peradaban, lantas otaknya ikut terpasung. Bila raganya terkurung, maka akalnya harus terbang bebas, melanglang buana. Spektrum berpikirnya harus lebih terbuka dan lebih luas.
Ia tidak ingin menghabiskan waktu di dalam penjara untuk larut dalam penyesalan dan berputus asa. Meskipun dikungkung dan dibatasi oleh tembok penjara, kreativitas dan produktivitas tidak boleh padam.
Venezuela membuatnya ditimpa kesialan. Ia kehilangan zona nyamannya di negara tersebut. Apa yang terjadi padanya unpredictable. Namun ia harus cepat beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi. Cara pikir, cara pandang dan cara kerjanya harus berubah.
Kalah dari satu sisi, tetapi ia harus menang dari sisi yang lain.
Ia harus membalas dengan mengeksploitasi besar-besaran sumber daya alam negara tanah tumpah darah El Maro tersebut.
Dari balik jeruji, ia sudah menyusun strategi untuk memperluas jaringan bisnis energi FreddCo Energy ke seluruh pelosok Venezuela. Bukan hanya pada industri migas di sektor hulu saja. Ia juga ingin menguasai industri migas di sektor hilir, mulai dari depo Bahan Bakar Minyak sampai ke Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum.
Mengontrol semua bisnis dari dalam penjara.
Sistem hukum rimba berlaku di penjara Caracas. Narapidana yang terkuat menjadi penguasa. Tetapi bukan kuat secara fisik. Tetapi kuat dalam kemampuan keuangan. Ia memiliki gabungan keduanya. Sehingga menjadi salah satu penguasa dalam penjara itu.
Namun ia tetap harus berhati-hati terhadap kemungkinan penjara Caracas disusupi loyalis El Maro.
Cukup dengan memberi tunjangan kepada Kepala dan para pegawai penjara, ia sudah diperbolehkan membawa fasilitas masuk ke dalam penjara Caracas. Sehingga semua peralatan kerjanya dapat ia bawa masuk ke dalam bilik, kecuali alat komunikasi. Tetapi ia yakin, nanti ia bisa menggunakan alat komunikasi di dalam penjara tersebut. Bahkan bisa keluar masuk dari penjara.
Sebenarnya kondisi itu menunjukkan buruknya birokrasi hukum di negara tersebut. Tetapi membawa keuntungan tersendiri baginya.a
Di biliknya terdapat sebuah tempat tidur single bed, lemari pakaian beserta meja kerja yang ia bawa dari luar. TV, Macbook, penyejuk udara, lemari pendingin, buku-buku dan dokumen kantornya.
Ada satu benda favoritnya yang ia letakkan di atas meja. Foto seorang wanita cantik menggendong anak bayi yang berpipi lucu dan bermata cokelat dalam sebuah wood frame. Dua orang yang membuatnya tidak bisa menerima kenyataan akan dirinya yang terkekang oleh tembok dan jeruji. Yang membuat hatinya perih kala rasa rindu pada mereka menyergapnya.
Tangannya bergerak membalik frame itu, agar konsentrasinya bekerja tidak terganggu. Karena setiap netranya menangkap dua wajah di dalam foto, rindu memorakporandakan fokusnya.
Ia mulai menyusun rencana wilayah Venezuela yang akan menjadi lokasi pemboran eksplorasi selanjutnya berdasarkan hasil identifikasi prospek. Serta memetakan kota-kota Venezuela mulai dari Maracaibo, Maracay, Ciudad Guayana sampai San Cristobal menjadi lokasi pembangunan Depo BBM dan SPBU.
Selanjutnya tinggal membuat proposal kebutuhan anggaran untuk investasi dan pembiayaan operasi. Tugas ini akan diserahkan kepada asistennya.
Sejak ia dipindahkan dari sel kantor polisi ke penjara Caracas, asisten dan beberapa karyawannya, bekerja di atas mobil yang diparkir di parkiran penjara Caracas. Suatu bentuk Flexibel Working, mengikuti perubahan pola kerjanya karena ia menjadi tahanan. Hal itu dilakukan agar rantai komunikasi tidak terputus, karena ia belum diperbolehkan menggunakan alat komunikasi.
Saat ia sedang serius dengan pekerjaannya, ia berdecak kesal karena seorang mengetuk pintu. Membuat konsentrasinya buyar. Ia mengintip melalui jendela kecil sebelum membuka pintu bilik. Nampak wajah petugas penjara. Petugas itu menyampaikan padanya bila dua orang pengunjung hendak menemuinya.
Di penjara itu ia seolah mendapat fasilitas VVIP. Bisa menerima pengunjung meskipun bukan jam kunjungan. Juga bisa menerima pengunjung di dalam bilik tanpa harus ke ruang kunjungan, serta batas waktu kunjungan tidak berlaku baginya.
Tetapi yang membuatnya sangat terkejut adalah ketika petugas tersebut menyebutkan nama pengunjungnya, karena ia berpikir yang mengunjunginya hanya karyawannya saja.
__ADS_1
Mr. Danindra and Mrs. Humeerah.
Rasa senangnya mendadak melambung tinggi, setinggi rasa khawatirnya.