REUNI INDAHNYA MENDUA

REUNI INDAHNYA MENDUA
45. Hati Yang Telah Terkunci


__ADS_3

Nadia tidak menyangka efek Bimasena mampu meluluh lantakannya. Sejak pria itu berangkat ke Australia, setiap pagi tiba tubuhnya lemas tidak berdaya. Hanya memikirkan pria itu, ingin lekas bertemu dengan sang pemikat hati.


Setiap selesai menyiapkan sarapan pagi untuk Tristan, ia akan kembali ke tempat tidur untuk berbaring. Tidak peduli dengan teguran Tristan.


"Kamu tahu kamu mirip binatang apa? Keledai dan kuda nil. Sama bodohnya dengan keledai dan sama pemalasnya dengan kuda nil."


Hatinya sudah membatu terhadap Tristan. Tidak lagi merasa sakit meskipun ucapan suaminya setajam pisau. Asal tidak diucapkan di depan orang lain.


Karena waktu di Queensland, tempat Bimasena berada sekarang lebih cepat tiga jam dari Jakarta, Bimasena hanya bisa menghubunginya pada sore hari. Itupun tidak setiap hari, karena pria itu teramat sibuk. Memforsir waktu, pikiran dan tenaga agar bisa secepatnya kembali ke Indonesia.


Bukan hanya membawa semangatnya. Bimasena juga membawa tenaganya. Kakinya begitu lemah untuk berdiri. Bawaannya hanya mengantuk dan ingin tidur melulu.


Bagaimana ia bisa berenergi, bila nyaris dibunuh oleh rasa rindu. Mendamba, menunggu pria yang sangat memanjakan mata itu bukanlah hal yang mudah. Bagaimana tidak, sekedar mendengar suaranya saja begitu sulit. Mereka tidak hanya disulitkan oleh jarak, tetapi juga keadaan.


Sebenarnya ia bisa saja menghubungi Bimasena bila sedang berada di puncak rindu. Namun gengsi masih menguasai diri. Mencegah Bimasena berpikir bahwa ia wanita murahan. Yang begitu mudah ditaklukan. Meskipun memang kenyataannya seperti itulah adanya.


Sekarang ia merasa tidak sehat karena Bimasena. Energinya baru muncul ketika matahari hampir berada di atas kepala. Dan bila sore tiba, tubuhnya kembali lemas tanpa daya.


Energinya hanya bisa terisi full bila sudah mendengar suara Bimasena.


Sudah beberapa hari ia hanya masuk separuh hari di salonnya. Itupun ia hanya bermalas-malasan di dalam ruang kerjanya. Sama sekali tidak pernah melayani pelanggan.


Hari ini ia lebih parah lagi, dikalahkan oleh rasa malas. Begitu enggan beranjak dari rumah.


Ia memilih tinggal di rumah meskipun Tristan mengatainya kuda nil.


Rupanya rumah kosong di sebelah kiri rumah mulai ditinggali seseorang. Ia pun keluar ke teras sekedar berkenalan dan beramah tamah dengan calon tetangga.


Seorang wanita yang seusia dengannya. Lily nama wanita itu, masih lajang. Bekerja pada sebuah Firma Hukum.


Tidak butuh waktu lama mereka berdua jadi akrab. Mungkin karena mereka seusia.


********


Gurat lelah sudah nampak jelas pada wajah atasannya setelah hampir setiap hari, pergi pagi ke areal tambang petroleum, baru kembali ke hotel pada malam hari. Dan sudah tujuh hari berturut-turut atasannya Bimasena mengunjungi ladang minyak secara bergantian. Masalah pada empat sumur minyak membuat atasannya dilanda kelelahan secara fisik dan emosi.


"Tolong panggilkan layanan massage ke kamarku," seru Bimasena kepadanya, saat mereka berada di dalam lift hotel bersama dua orang tenaga ahli dari FreddCo Energy Indonesia yang menyertai Bimasena.


"Baik Pak," jawab Aurel. Ia berharap bila hotel yang mereka tempati tidak menyediakan layanan massage, agar ia bisa menawarkan diri untuk memijat atasannya.


Namun keinginannya tidak terwujud, karena pihak hotel menyediakan layanan massage.


Tetapi ia memilih sendiri therapist untuk atasannya. Ia menghindari wanita yang berwajah cantik dan memilih therapist yang paling tua usianya. Demi mencegah Bimasena meminta layanan massage plus-plus bila therapist-nya terlalu cantik.


Aurel mengetuk pintu kamar atasannya begitu tiba di depan kamar. Ia sudah bersama dengan therapist yang akan memijat Bimasena.

__ADS_1


Dan begitu pintu terbuka, pemandangan di depan mata membuatnya takjub. Bagaimana tidak, Bimasena membuka pintu hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggang.


Meskipun wajah pria itu kusut karena lelah, tetapi otot lengan, otot dada dan otot perut Bimasena sangat menggiurkan dirinya sebagai seorang wanita. Secara spontan otaknya berfantasi, memikirkan hal-hal tidak senonoh bersama pria itu.


Ia membuat alasan akan menyiapkan pakaian atasannya dan menyelesaikan laporan agar bisa tetap tinggal di kamar itu. Sambil menonton atasannya yang tidur tengkurap serta tangan therapist yang berseluncur pada kaki atasannya. Sungguh beruntung wanita itu. Tiba-tiba saja ia ingin menjadi therapist semalam.


Melihat otot-otot Bimasena yang mengkilap oleh minyak, membuat otak Aurel semakin menyimpang. Membayangkan bagaimana rasanya bercumbu dan beradu dengan pria itu.


Dari penampilan fisiknya, jelaslah Bimasena pria yang kuat di atas ranjang. Pria kuat membutuhkan lawan yang sepadan agar terpuaskan. Dan ia yakin, mampu menjadi lawan yang sepadan bagi pria itu.


Tetapi sampai sekarang ia masih menjaga image-nya di mata Bimasena. Ia baru menunjukkan performa dirinya sebagai seorang sekretaris. Dan ia harus membuat Bimasena bergantung dalam segala hal kepadanya. Termasuk dalam urusan ranjang. Agar Bimasena tidak mampu hidup tanpanya.


Saat therapist itu sudah selesai melaksanakan tugasnya, Bimasena sudah tertidur. Sekarang ia hanya berdua dengan pria penuh pesona itu di dalam kamar.


Aurel berdiri di sisi tempat tidur mengamati makhluk yang terpahat sempurna itu tidur dengan anggunnya. Memandangi tubuh pria itu mampu membangunkan hasrat melewati batas kendali.


Bila saja ia membuka pakaiannya lalu berbaring dengan tubuh polos di samping tuannya, bagaimana reaksi tuannya? Marah atau malah menyambutnya?


********


Tristan bukan type pria yang pantang menyerah dalam memperjuangkan apa yang diinginkannya. Bukan berarti ditolak Hakimah lantas ia akan menyerah begitu saja.


Ia mengetahui dimana letak keunggulan yang ia miliki yang bisa membuat Hakimah terpikat, serta kelemahan yang membuat Hakimah menolaknya.


Ia terus memotivasikan dirinya untuk memiliki sikap pantang menyerah dalam menaklukan Hakimah. Dan ia selalu optimis dengan kemampuannya. Karena keyakinan yang positif akan mempengaruhi mental dan fisik secara signifikan untuk mendapatkan apa yang diyakininya.Β 


Sebagai auditor yang lebih senior, Hakimah yang baru menjadi auditor masih memiliki ketergantungan kepadanya. Seperti malam ini, Hakimah sengaja datang ke rumahnya untuk berkonsultasi sekaligus meminta bantuannya menyelesaikan Laporan Hasil Pemeriksaan atas Laporan Keuangan yang membingungkan Hakimah.


"Gambaran umum pemeriksaan terdiri dari dasar hukum, tujuan, sasaran, standar, metode, jangka waktu, objek, dan batasan pemeriksaan," Tristan menjelaskan dan didengarkan dengan seksama oleh Hakimah.


"Apabila publik ingin melihat opini yang diberikan BPK pada laporan keuangan, dapat dilihat pada halaman-halaman awal Buku I," lanjut Tristan menatap lekat-lekat ke wajah Hakimah.


"Gambaran umum pemeriksaan pada Buku I akan memberikan pemahaman kepada publik yang membaca, tentang pelaksanaan pemeriksaan, yang dilakukan sesuai Standar Pemeriksaan Keuangan Negara."


Hakimah tidak pernah menyela setiap ia menjelaskan. Baru bertanya setelah penjelasannya selesai. Sangat beretika.


"Imah masih bingung mendeskripsikan temuan Kak. Kak Tristan bisa bantu Imah?" ujar Hakimah penuh harap kepadanya.


Tentu saja ia tidak akan melewatkan kesempatan ini. Sekarang ia sedang berada di atas angin.


"Apa yang tidak bisa kuberikan padamu Imah?"


*******


"Apa yang tidak bisa kuberikan padamu Imah?"

__ADS_1


Nadia membeliak mendengar ucapan suaminya kepada wanita yang selalu dibanding-bandingkan dengannya. Kalimat itu diucapkan Tristan saat ia membawa dua cangkir teh manis pula untuk menjamu wanita yang selalu diagungkan suaminya itu.


Tetapi ia memilih diam saja, tidak mengajukan protes atau apapun. Karena ia sadar diri, bahwa kesalahan yang ia lakukan dengan Bimasena jauh lebih besar daripada kalimat yang terlontar dari mulut Tristan tadi.


Sehingga setelah menjamu tamunya dengan teh dan kue kering, serta berbasa-basi sebentar, ia masuk ke dalam kamar. Mengamati aktivitas group alumni pada sebuah aplikasi pesan. Karena minggu depan, reuni akan diadakan di Kaliurang Yogyakarta. Disponsori oleh salah satu alumni mereka Afdal, yang menjadi seorang jaksa dan bertugas di Yogyakarta.


Nadia hanya berharap, Bimasena sudah kembali saat itu. Dan bisa hadir dalam acara reuni.


Ia teramat rindu.


Terlebih lagi mendengar ucapan Tristan pada Hakimah tadi.


Ia yakin, suaminya tidak hanya sekedar mengagumi wanita itu.


Tetapi juga jatuh cinta kepada wanita itu.


Ia bisa melihat dari tatapan mata Tristan kepada Hakimah. Sama dengan cara Bimasena menatapnya.


Sudah empat hari Bimasena tidak menghubunginya. Bahkan tidak menjawab sapaan teman-teman pada group alumni.


Ia selalu melihat wajah Bimasena. Dalam jarak yang paling dekat. Tetapi ia tidak ingin berteman hanya dengan bayangan.


Jiwanya tidak berhenti menguntai rindu. Hatinya sudah berkabut. Kesunyian selalu membawa sendu.


Apa Bimasena juga kangen kepadanya?


Bila pria itu kangen mengapa tidak pernah menghubunginya? Mengapa membiarkan dirinya menanggung rindu seperti ini?


Atau dirinya hanya mainan?


Atau mungkin sekedar pemuas hasrat pria itu?


Apalah daya. Hatinya sudah dikunci pria pencuri hati. Lalu dibawa berlari


******


Readersku tersayang,


Apa kabarnya hari ini?


Semoga tetap dalam limpahan kesehatan dan kebahagiaan bersama orang tercinta.


Terima kasih atas apresiasi dan segala dukungannya terhadap novel ini.


Salam sayang dari Author Ina AS

__ADS_1


😘😘😘


__ADS_2