
Kedua tubuh merosot ke lantai setelah menggapai kenikmatan. Bibir saling berpagut. Tubuh saling berdekapan.
Setelah ciuman panjang berhenti, Bimasena menyandarkan punggungnya pada jendela kaca. Mengeratkan dekapannya pada Nadia yang kini duduk dengan lunglai di pangkuannya. Wajah Nadia terbenam di lehernya.
Bimasena baru menyadari, karena hasrat yang menggebu, ia kehilangan pikiran rasional. Memaksakan gaya berhubungan intim seperti itu pada seorang wanita hamil.
Tetapi ia tahu, Nadia sangat menikmati permainannya. Walaupun Nadia sedikit kesulitan dengan variasi gaya tersebut karena belum pernah sebelumnya.
Nadia tidak dapat menyembunyikan bila sangat menikmati permainan itu. Desah an dan leguhan wanita itu tidak dapat berbohong. Terlebih lagi saat Nadia mengejang, yang berarti telah sampai pada puncak kenikmatan.
Mungkin Nadia hanya mengenal posisi misionaris ataupun spooning, karena terlihat bagaimana kakunya wanita itu setiap kali mereka bercinta. Mereka tidak bertempur, karena Nadia sepenuhnya hanya menunggu serangan. Selalu seperti itu.
Seharusnya dari usia pernikahan yang telah Nadia lewati bersama Tristan, jam terbangnya sudah tinggi. Ia tidak perlu sekaku itu lagi.
Mengapa memikirkan hal seperti itu? Toh bagaimanapun keadaan Nadia, ia sangat sayang terhadap wanita yang berada dalam dekapannya ini.
"Biiiim," rengek Nadia yang ia pikir sudah tertidur.
"Kenapa sayang?" Ia menoleh ke bawah, untuk melihat wajah Nadia. Tetapi Nadia tetap menyembunyikan wajahnya.
Seperti biasa, Nadia selalu merasa malu bila habis bercinta dengannya.
"Kamu kok nakal gitu sih?" protes Nadia, suaranya nyaris tidak terdengar.
"Tapi enak kan? Mau lagi?" godanya. Ia ingin melihat wajah cantik itu merona.
"Iiiiiih. Capek tau." Suara Nadia menjadi sangat manja.
Masih ingin menggoda Nadia, mereka berdua dikejutkan oleh pekikan salah seorang maid, yang tanpa sengaja mendapati mereka di ruang tengah masih dalam keadaan polos tanpa busana.
Seketika itu juga Nadia melepaskan diri dari dekapannya. Sambil mengomel padanya Nadia mengenakan pakaian, lalu bergegas masuk ke dalam kamar.
Ia pun melakukan hal yang sama, mengenakan drawstring pants-nya, lalu menyusul Nadia.
Wanita terkadang membingungkan.
Baru saja bermanja padanya, tiba-tiba sudah marah.
Tapi seperti itulah sejatinya wanita, selalu ingin dimengerti dan dipahami.
Sekarang Bimasena berdiri di depan pintu kamar Nadia yang terkunci dari dalam. Membujuk wanita yang sedang marah dan merajuk itu.
Hanya karena mereka terciduk salah seorang pelayan, membuat Nadia yang baru saja mendapat kepuasan darinya menjadi marah padanya.
"Kamu sih nakal banget Bim. Gak ada orang yang nakalnya seperti kamu di dunia ini. Tuh kan orang sudah melihat kita seperti itu," semprot Nadia dari balik pintu.
Ia hanya bisa tertawa, sambil bersandar pada dinding di depan pintu kamar.
Hal sepele bisa mempengaruhi mood wanita itu. Nadia yang biasanya pendiam, tiba-tiba jadi bawel. Namun malah terasa lucu dan menggemaskan baginya.
"Santai aja Nadia, yang lihat kita cuman Erna."
"Apa? Cuman Erna? Memang Erna bukan manusia? Urat malumu sudah putus ya? Atau kamu sudah biasa melakukan hal itu pada wanita lain sambil mempertontonkan pada orang?"
Ia tidak percaya, Nadia semakin bawel saja. Seandainya wanita itu tidak bersembunyi di dalam kamar, ia akan menyumbat mulut Nadia dengan ciuman. Sampai Nadia lemas.
"Nadia, buka pintunya. Masa kita saling teriak begini dari balik pintu." Ia tidak ingin meladeni pertanyaan Nadia, karena bisa melebar kemana-mana.
"CCTV juga sudah merekam kita Bim." Teriak Nadia dari dalam kamar. Ternyata Nadia belum berhenti.
"Hanya aku sendiri yang mengakses CCTV nya. Nggak usah dikhawatirkan. Buka pintunya sayang, kita nonton bareng yang terekam oleh CCTV tadi."
Ia yakin di balik pintu Nadia bertambah kesal. Tetapi justru itu yang membuatnya semakin ingin mengisengin Nadia.
"Biiiiim hapus videonya!" Suara Nadia semakin meninggi.
"Keluarlah. Kamu hapus sendiri."
__ADS_1
"Nggak mau." Nadia bersikukuh tetap tidak ingin membuka pintu kamar.
Masih menolak membuka pintu kamar? Lihatlah, dalam setengah menit, Nadia pasti membukanya.
"Ya udah, kalau kamu nggak mau hapus, rekaman CCTV itu aku upload ke group alumni."
3 ... 2 ... 1. Tuh kan Pintu kamar terbuka.
"Biiiiiiiiiim. Kamu kok ngeselin banget sih. Kamu pikir rekaman CCTV itu mainan ya. Hapus!"
Seperti itulah wajah Nadia yang sedang kesal. Tetapi semakin membuatnya gereget.
"Baik bu. Kok jadi bawel sekarang?" Ia tertawa memandangi wajah Nadia, sambil melipat tangannya.
"Semua orang di tower sebelah juga melihat kita Bim." Nadia belum berhenti juga.
Baiklah, mari menghentikan kebawelan wanita ini.
"Memang itu tujuannya kita lakukan di jendela. Biar mereka bisa menonton kita. Kapan-kapan kita outdoor ya?"
Hal yang paling ia sukai adalah ketika melihat wajah Nadia memerah seperti sekarang. Merah membara begitu mendengar kata outdoor.
"Biiiiiiim." Mulut wanita itu sudah berhenti berbicara. Tetapi tangan kanan Nadia bergerak memukul dadanya. Bergantian dengan cubitan. Berkali-kali.
Kalian tahu cara meluluhkan hati wanita yang sedang marah?
"Apa kamu belum puas melihat Tristan dan Bang Herial memukuliku? Atau mau lihat aku mati?"
Seketika itu juga Nadia berhenti menyerangnya. Wajah kesal berubah mendung, pertanda tidak lama lagi hujan akan turun.
"Bim, kamu jangan ngomong begitu. Apa kamu pikir aku tega melihat Bang Herial memukulimu seperti itu? Hatiku jauh lebih sakit," lirih Nadia disusul dengan air mata yang mulai menetes satu persatu di pipinya.
Betapa mudahnya suasana hati wanita berubah. Tidak sampai sejam, tiga kali mood Nadia berubah secara drastis.
Mungkin perubahan kadar hormon karena Nadia yang sedang hamil, menyebabkan cepatnya perubahan emosi dan suasana hati wanita itu.
Pelukan. Iya pelukan.
Ia pun membawa Nadia ke dalam dekapan. Membiarkan Nadia menangis di dadanya.
Mungkin ia masih harus belajar, bagaimana bisa mengerti wanita. Karena wanita itu seringkali membingungkan.
*******
Akhirnya Tristan bersedia bertemu dengannya.
Setelah memarkir mobil di depan rumah Tristan, Bimasena tidak langsung masuk ke dalam rumah. Ia membakar rokok terlebih dahulu, mengisapnya sambil memikirkan kalimat terbaik yang hendak ia sampaikan kepada Tristan.
Bagaimanapun Bimasena harus memosisikan diri sebagai pihak yang bersalah. Juga sebagai orang yang telah mengkhianati persahabatan.
Setelah menghabiskan sebatang rokok, ia pun melangkah masuk ke rumah Tristan. Bermaksud mengetuk pintu yang sudah terbuka, tetapi ternyata Tristan sudah duduk di atas sofa di ruang tamu. Menatapnya dengan tajam dan dingin.
"Masuk," tegas Tristan padanya.
Ia pun masuk ke ruang tamu. Duduk di depan Tristan.
Dua pria bertemu karena satu wanita.
Ia tidak pernah menyangka, akan mengalami hal seperti ini. Menjadi pemeran antagonis yang merusak rumah tangga sepasang suami istri. Sementara di luar sana begitu banyak wanita single yang mengincar dirinya.
Seperti itulah cinta, tidak mengenal logika.
"Di mana Nadia?" Tak ada keramahan lagi pada wajah Tristan. Ia tahu, pria itu sedang berjuang keras menahan emosi agar tidak menikamnya dengan belati.
"Maaf Tristan, Nadia bersamaku sekarang," gumamnya.
Tristan tersenyum sinis, memasang wajah jijik padanya.
__ADS_1
"Aku minta maaf. Aku sadar, apa yang aku lakukan salah. Sudah merusak rumah tangga kalian," ucapnya dengan nada datar.
"Jadi kamu sadar? Kalau kamu sadar mengapa tetap kamu lakukan itu?" berang Tristan. Suaranya meninggi.
Ia menatap Tristan dalam-dalam, sebelum menjawab.
"Ini persoalan hati Tristan. Aku menyukai Nadia sejak kita masih SMA. Sebenarnya rasa itu sudah hilang, saat aku pindah ke Amerika. Ternyata tumbuh kembali saat reuni di Saung Pesona Alam. Sejak saat itu, aku sering menghubungi Nadia. Jadi jangan salahkan Nadia. Karena aku yang menggoda Nadia."
Tristan menyeringai. Menatapnya dengan pandangan penuh kebencian.
"Aku tidak menyangka, orang yang aku anggap seperti saudara, tega menikam aku dari belakang."
"Maafkan aku sekali lagi Tristan. Tapi bukankah kamu sudah memiliki wanita idaman lain? Hakimah. Lepaskanlah Nadia, carilah kebahagianmu dengan wanita itu."
Kalimat yang sudah dipersiapkan lebih awal itu ternyata malah membuat Tristan tersinggung.
"Bima! Aku mengagumi wanita itu, bukan berarti aku ingin mengganti Nadia dengannya," hardik Tristan padanya.
"Tapi selama ini kamu tidak pernah menganggap Nadia. Kamu anggap Nadia itu wanita bodoh. Kamu ingat, beberapa kali kamu menyakiti Nadia di depan mataku? Bahkan aku pernah melihatnya menitikkan air mata Tristan," sanggahnya.
"Kamu ingat saat Nadia terserang cacar air, kamu malah meninggalkannya ke rumah orang tuamu, karena takut tertular. Aku yang membawanya ke dokter," tambahnya.
Tristan merasa tersudut, sehingga mencari senjata untuk menyerangnya.
"Jadi Nadia mengatakan padamu bila ia tidak bahagia bersamaku?"
"Nadia tidak pernah menceritakan masalah rumah tangga kalian. Dia bukan type wanita pengumbar aib rumah tangganya, Tristan. Tapi aku bisa membacanya. Seorang istri tidak akan berpaling dari suaminya, bila suaminya bisa mengerti istrinya," ungkapnya. Balas menatap tajam mata Tristan.
"Baiklah kalau Nadia tidak bahagia denganku karena aku tidak memiliki harta yang banyak seperti kamu. Tapi apa kamu yakin bisa membahagiakan Nadia seterusnya dengan harta yang kamu miliki?"
"Ternyata kamu belum mengenal Nadia bila kamu menganggap Nadia materialistis. Padahal kalian sudah lama hidup bersama. Aku akan berusaha membahagiakan Nadia, Tristan. Tapi harta tidak cukup untuk membahagiakan seorang wanita."
Tristan tertawa sinis, lalu menggelengkan kepala.
"Bimasena. Apa kamu pikir aku tidak tahu bagaimana gaya hidupmu? Apa Nadia sudah tahu kalau kamu hidup bebas? Tidur dengan wanita mana saja yang kamu sukai? Apa kamu sudah pernah mengajak Nadia ke pesta se ks dan narkoba yang sering kamu dan teman-temanmu lakukan?" berondong Tristan.
"Awalnya mungkin Nadia akan bahagia. Tetapi tidak beberapa lama, dia akan melihat neraka dunia. Kamu dan Nadia memiliki kehidupan yang berbeda," lanjut Tristan.
Ia merasa Tristan sangat berlebihan men-judge dirinya. Tetapi ia tetap tersenyum. Karena ia datang menemui Tristan bukan untuk berdebat tentang siapa dirinya. Tetapi bagaimana cara agar Tristan bersedia melepaskan Nadia secara baik-baik.
"Tristan, jangan men-judge orang lain menggunakan perasaan. Tapi gak masalah kalau memang kamu menilai aku seperti itu. Setiap orang bisa berubah bukan?"
"Berapa lama kamu bisa membahagiakan Nadia sebelum kamu bosan? Kamu pikir aku percaya bila hubungan kalian akan bertahan lama? Syukur kalau bisa bertahan satu tahun," tantang Tristan, menyangsikan keseriusannya terhadap Nadia. Seolah mengajaknya bertaruh dengan waktu.
"Biarlah waktu yang bicara. Jadi aku mohon, lepaskanlah Nadia. Berpisahlah secara baik-baik."
Wajah Tristan semakin suram.
"Nadia yang menginginkan aku melepaskannya atau kamu yang meminta Nadia untuk mengajukan gugatan cerai?" Tuduh Tristan.
"Nadia akan mengajukan gugatan cerai. Tetapi dokumen pribadinya masih ada di rumah ini. Aku harap kamu mau memberikan dokumen itu pada Nadia."
Rahang Tristan mengeras, pertanda pria itu menahan emosi.
"Baiklah kalau memang Nadia menginginkan kami bercerai. Maka wajib hukumnya aku mengabulkan. Buat apa mempertahankan wanita yang mengumbar *****, tidur dengan pria lain sementara ia sudah memiliki suami."
"Aku akan mengumpulkan semua dokumen dan barang milik pribadi Nadia," lanjut Tristan.
"Tetapi katakan pada Nadia, sebelum proses perceraian dimulai, aku ingin bertemu dengannya sekali saja. Ada yang hendak aku bicarakan. Sekaligus saat itu aku akan berikan dokumen dan barang milik pribadi Nadia," tambah Tristan lagi.
Ucapan terakhir Tristan membuatnya merasa lega. Mudah-mudahan sikap Tristan tidak berubah
"Baiklah. Aku akan sampaikan kepada Nadia. Terima kasih Tristan. Sekali lagi maafkan aku."
"Aku pamit."
*******
__ADS_1