REUNI INDAHNYA MENDUA

REUNI INDAHNYA MENDUA
81. Tidak Ada Kata Terlambat


__ADS_3

Nadia dan Lily bersama dengan dua orang senior Lawyer mendampingi Ibu Titi mendatangi Bareskrim Polri, sebagai tim kuasa hukum salah satu bank milik pemerintah untuk melaporkan perkara dugaan pemalsuan bilyet deposito di salah satu kantor cabang.


Tugasnya dan Lily hanyalah membawa folder yang berisi bukti-bukti pemalsuan. Folder itu berisi beberapa bilyet deposito yang diklaim oleh beberapa orang nasabah. Bilyet itu hanya berupa cetakan hasil scan print scanned di kertas biasa dan bukan blanko deposito sah yang dikeluarkan oleh Bank.


"Jangan asal ikut saja. Jangan tahunya hanya membawa dokumen. Kamu harus belajar bagaimana prosedur membuat laporan polisi. Sebelum ke kantor polisi, lengkapi terlebih dahulu bukti-bukti yang berkaitan dengan kasus yang sedang dihadapi." Ibu Titi selalu membimbingnya untuk belajar dunia hukum. Pengetahuan yang baru baginya.


"Selain bilyet depositonya merupakan hasil scan print scanned di kertas biasa, apa lagi kejanggalan yang bisa kamu lihat?" lanjut Ibu Titi saat mereka duduk di ruang tunggu Bareskrim Polri.


Dengan agak gugup, ia pun membolak-balik beberapa bilyet deposito yang setiap bilyetnya mencantumkan angka puluhan milyar, tapi ia tidak menemukan kejanggalan apa-apa.


"Aku nggak menemukan apa-apa Bu," jawabnya dengan malu hati.


"Kita harus jeli melihat celah hukum. Empat bilyet deposito yang kamu pegang sekarang memiliki nomor seri bilyet deposito yang sama," terang Ibu Titi.


Ia pun mengamati kembali bilyet deposito tersebut, dan memang benar, semua nomor serinya sama. Mengapa hal semudah itu saja ia tidak bisa menemukannya? Dasar bodoh. Ia merutuki dirinya sendiri.


Namun yang ia herankan, mengapa Ibu Titi hanya membimbingnya sendiri, sementara Ibu Titi membiarkan Lily di sampingnya sibuk dengan handphone berseluncur di dunia maya melalui aplikasi sosial media.


Setelah beberapa lama ia bergabung di kantor Ibu Titi, ia bisa menilai bahwa Lily sepertinya mendapat keistimewaan dari Ibu Titi. Ia belum pernah melihat Ibu Tity memarahi Lily yang hanya seorang staf administrasi seperti dirinya. Sementara beberapa junior lawyer saja kadang-kadang mendapat marah dari Ibu Tity.


"Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan kualitas kehidupan. Salah satunya dengan meningkatkan kecerdasan fikiran dan juga emosional kita. Cerdas itu dinilai dari kemampuan kita dalam mengolah informasi, menyerap perintah dan menyelesaikan sebuah masalah," nasihat Ibu Titi saat ia makan siang bersama Ibu Titi dan juga Lily di sebuah restoran Padang sepulang dari Bareskrim Polri.


"Hidup harus dibuat terencana beserta target jangka panjangnya. Seperti saat ini, kamu bekerja di sebuah firma hukum. Kamu harus memikirkan jenjang karir, jangan selamanya hanya menjadi staf administrasi," lanjut Ibu Titi.


"Tapi kamu harus melanjutkan pendidikan. Karena kamu bekerja di firma hukum, alangkah baiknya kamu kuliah jurusan hukum. Biaya pendidikan akan ditanggung oleh kantor."


"Kamu bisa mengambil kelas Non Reguler. Jadi bisa bekerja sambil kuliah," tambah Ibu Titi.


Ia termangu memandang wajah Ibu Titi. Tidak menyangka Ibu Titi akan memintanya melanjutkan kuliah, dibiayai oleh firma pula.


"Tapi usiaku sudah 31 tahun Bu, lagian sebentar lagi aku melahirkan. Aku khawatir tidak bisa membagi waktu," keluhnya.


Ia sangat menghargai dorongan semangat yang diberikan oleh Ibu Titi. Tapi kondisinya dimana ia harus bekerja, melahirkan, merawat anak dan suami, mungkin agak sulit baginya bila ia harus kuliah lagi.

__ADS_1


Ia tahu kemana arah pembicaraan Ibu Titi. Ibu Titi menginginkan suatu saat bisa menjadi seorang advokat seperti Ibu Titi. Padahal bermimpi sejauh itu saja ia tidak berani.


Menjadi staf administrasi di firma hukum milik Ibu Titi sudah membuatnya bangga. Ia sudah bersyukur berkantor di sebuah gedung perkantoran top di Jakarta dan mendapat gaji bulanan dengan nilai diatas Upah Minimun Regional untuk DKI Jakarta.


"Tidak ada kata terlambat untuk belajar dan mengenyam pendidikan. Yang penting kamu memiliki kemauan dan tekad, Nadia. Seseorang itu harus bergerak maju." Ibu Titi tidak pernah berhenti memberi dorongan.


Tidak mungkin ia akan menang bila ia beradu argumen dengan Ibu Titi, sehingga ia mengeluarkan kalimat pamungkasnya.


"Kalau begitu, aku diskusikan dulu dengan suamiku Bu."


Setelah selesai makan malam, ia pun mendiskusikan dengan Tristan, saran dari Ibu Titi agar ia melanjutkan pendidikan dan mengambil jurusan hukum.


"Kamu memiliki atasan yang baik, karena memperhatikan pengembangan diri bawahannya. Apa yang disarankan oleh Ibu Titi merupakan peluang untuk meningkatkan kompetensimu. Sayang kalau nggak dimanfaatkan," imbuh Tristan, membuatnya terperangah, sangat diluar dugaannya.


"Bila kamu kuliah, kamu bukan hanya akan mendapatkan ilmu baru. Tetapi kamu juga akan mendapat kesempatan karir yang lebih baik," sambung Tristan.


Ia memandang mata Tristan lekat-lekat. Karena masih tidak percaya dengan perubahan Tristan terhadap dirinya. Namun ia akui, meskipun sebelumnya Tristan sering menyakitinya secara verbal, di luar sana orang-orang mengenal Tristan sebagai sosok pria yang baik.


Mata mereka bertemu. Dan Tristan tersenyum padanya. Membuat sesuatu dalam dirinya menghangat. Semoga sikap Tristan tidak kembali seperti sebelumnya.


"Kita titip saja pada Mama. Mama pasti akan senang memiliki aktivitas baru," sahut Tristan memberi solusi untuk masalah yang akan dihadapinya nanti.


Malam harinya, Tristan memenuhi permintaannya untuk berbelanja perlengkapan melahirkan. Ibu Titi memang sudah banyak membeli untuknya perlengkapan bayi yang baru lahir. Tetapi perlengkapan pribadinya saat persalinan masih belum lengkap.


"Kamar depan kita buat jadi kamar bayi aja ya?" tanyanya saat berjalan di samping Tristan di sebuah toko ibu dan bayi.


"Iya," sahut Tristan singkat.


Suaminya itu memilih duduk di sebuah bangku bermain handphone sambil menunggu ia berbelanja. Sebenarnya ia ingin Tristan ikut berjalan di sampingnya membantu mendorong trolley, menemaninya memilih barang yang hendak dibeli. Karena ia butuh teman diskusi.


Namun ia juga sudah mensyukuri bila Tristan bersedia menunggunya berbelanja. Tristan sudah menunjukkan kemajuan pesat, dari yang sebelumnya jarang menemaninya berbelanja seperti ini.


Tristan baru berdiri menghampirinya saat ia sudah berada di depan kasir. Pria itu mengeluarkan kartu debet untuk membayar barang-barang yang berada di dalam trolley-nya. Kemudian mengangkat seluruh kantong belanjaannya menuju kendaraan mereka yang terparkir tepat di depan toko.

__ADS_1


*******


Hari Sabtu adalah kesempatan Nadia membersihkan rumah sekaligus memasak untuk Tristan yang sedang bersepeda bersama teman-teman. Sedangkan Lily di samping rumahnya, pulang ke Bandung untuk menengok orang tua.


Saat ia sedang menyapu ruang tamu, seseorang membunyikan bel.


"Maaf mengganggu Teh, saya petugas pemungut PBB," seru pria yang mengenakan pakaian khusus dan tanda pengenal. "Benar ini rumah Bapak Tristan Atmaja?"


"Iya benar, silahkan masuk Mas," Nadia menyilahkan petugas tersebut duduk di sofa barunya di ruang tamu. "Berapa yang harus kami bayar PBBnya?"


Petugas tersebut menyebutkan sejumlah nilai sambil menyodorkan bukti pembayaran PBB.


Nadia masuk ke dalam kamar untuk mengambil sejumlah uang, kemudian keluar dan menyerahkan kepada petugas tersebut.


"Kembaliannya buat Mas aja deh," seru Nadia.


"Terima kasih banyak Teh," ujar Bapak itu menunjukkan wajah yang senang. "Oh ya, mau nanya Teh, Ibu Nadia Humeerah tinggal di sebelah kanan atau sebelah kiri rumah ini?" lanjut Petugas tersebut menunjuk ke arah samping kanan dan kiri rumah.


"Nadia Humeerah? Nadia Humeerah saya sendiri Pak," jawabnya dengan perasaan heran.


"Oh, jadi Teteh toh yang punya rumah di samping kanan dan samping kiri rumah ini. Banyak bener rumahnya." Pemuda tersebut manggut-manggut. "Kalau begitu sekalian dibayar aja PBBnya Teh."


Keningnya berkerut menatap pemuda tersebut.


"Iya benar, aku Nadia Humeerah Mas. Tapi yang punya rumah di samping kiri dan kanan bukan aku. Di samping kanan udah lama kosong. Dan di samping kiri pemilik rumah namanya Lily, bukan Nadia Humeerah," ia mengklarifikasi secepatnya kesalahan data wajib pajak yang dipegang oleh pemuda tersebut agar data tersebut segera diperbaiki.


Demi mencegah jangan sampai tetangganya mengira ia hendak menyerobot rumah mereka. Tentu saja ia harus menjaga kerukunan dengan tetangganya, terutama Lily yang sudah seperti saudaranya saat ini.


"Tapi di data yang saya miliki Teh, tertulis nama nama wajib pajak pemilik rumah nomor 34 dan nomor 36, Nadia Humeerah," kata petugas tersebut menunjukkan wajah bingung.


"Datanya salah Pak, perlu diperbaiki," ujarnya dengan yakin.


Petugas pemungut pajak itu pun pamit keluar rumah dengan wajah bingung.

__ADS_1


"Jangan lupa Mas, perbaiki data wajib pajaknya ya. Aku tidak ingin berbenturan dengan tetangga karena kesalahan data pemerintah," pesannya kepada petugas tersebut, saat petugas tersebut sudah berada di luar rumah.


__ADS_2