
Nadia termangu menatap taman kecil dengan bonsai adenium berada di tengahnya. Ia kini menempati kamar depan, karena sejak tragedi Kaliurang, ia tidak pernah lagi tidur sekamar dengan Tristan. Juga tidak pernah bertegur sapa dengan Tristan. Dan sekarang ia hanya menunggu waktu, kapan Tristan akan menceraikannya.
Hanya tinggal di rumah tanpa melakukan apa-apa, membuatnya diselubungi rindu pada Bimasena. Rindu yang begitu pekat dan kian membukit. Wajah menawan itu muncul di antara rumput dan bunga adenium yang berseri.
Dalam kondisi seperti ini, ia sangat mengharapkan kehadiran Bimasena di sisinya. Ia ingin berada dalam rengkuhan lengan kokoh dan menyembunyikan wajah pada dada Bimasena.
Namun begitu mengetahui Aurel sang sekretaris cantik, turut serta dalam perjalanan Bimasena, rasa rindunya saling mengikat dengan rasa cemburu.
Ia sudah berusaha berdamai dengan rasa cemburu. Menghibur diri bahwasanya Bimasena bersikap profesional pada sekretarisnya. Namun rasa cemburu dan takut kehilangan terlanjur memenuhi rongga-rongga dadanya. Sehingga ia kehilangan sifat dewasa pada Bimasena dan melakukan hal yang merendahkan diri sebagai seorang wanita.
Berkali-kali menghubungi Bimasena lewat video call, untuk mengetahui pria idaman hati sedang apa dengan siapa. Jumlah panggilan video call-nya bahkan tidak memberi ruang bagi Bimasena untuk bernafas.
******
Pagi itu Bimasena sedang dalam perjalanan, menuju Bandara Tampa Padang Mamuju. Untuk melanjutkan perjalanan ke Maluku.
Ada hal yang ia lakukan dan di luar kebiasaannya. Sepanjang waktu terhubung melalui sambungan video call dengan Nadia. Bukan ia yang menghubungi Nadia. Namun Nadia lah yang menghubunginya. Berkali-kali.
Padahal sepanjang malam mereka sudah menghabiskan waktu untuk mengobrol. Baru berhenti ketika Nadia tertidur saat ia masih ingin berbicara dari hati ke hati. Pertanda wanita itu tidak terbiasa begadang seperti dirinya.
Apa karena hamil sehingga Nadia berubah sifat, tiba-tiba menjadi sangat manja dan cemburuan? Atau sifat asli Nadia memang seperti itu?
Ahh entahlah.
Tapi ia sangat menikmati Nadia yang tiba-tiba berubah seperti itu. Karena selama ini, Nadia tidak pernah menghubunginya lebih dahulu. Sehingga kadang-kadang ia merasa menjadi pria yang tidak dibutuhkan oleh Nadia.
Ia tahu wanita itu sedang ingin perhatian dan sedang ingin dimanja. Sehingga menghubunginya berkali-kali. Apa sih yang tidak bisa ia berikan untuk Nadia?
"Sudah sarapan sayang?" tanyanya pada Nadia, yang masih berwajah bantal dan berguling di atas tempat tidur.
Ia menggunakan handsfree agar suara Nadia tidak terdengar staf dan sekretaris yang sedang bersamanya di atas mobil. Meskipun ia tahu, para bawahannya itu menahan tawa, karena obrolannya dengan Nadia begitu menggelikan. Penuh rayuan. Seperti orang yang baru mengenal cinta.
"Belum," jawab Nadia singkat.
"Kenapa belum? Ini sudah jam berapa? Jangan sampai bayiku lapar loh."
"Kamu cuman peduli pada bayimu. Aku nggak dipeduliin," ucap Nadia dengan suara manja, memasang wajah merajuk.
Menggelikan.
Haruskah seorang wanita cemburu pada anak yang dikandungnya? Tapi ia menahan dirinya agar tidak tertawa. Karena ia tahu apa yang diinginkan oleh Nadia. Ingin di sayang-sayang. Karena ia tahu, Nadia wanita yang haus kasih sayang.
"Baiklah, kalau selama ini aku dianggap nggak peduli, katakan apa yang diinginkan oleh ibu dari anakku? Aku akan turuti semua."
Senyum otomatis terurai dari wajah cemberut itu. Padahal dengan wajah cemberut saja Nadia tetap manis. Apalagi bila tersenyum.
"Aku nggak ingin kamu pergi jauh-jauh Bim," rengek Nadia.
"Besok aku sudah balik sayang. Kamu sabar ya?"
"Tapi setelah besok pergi lagi kan?"
__ADS_1
"Ke Amerika maksudnya? Minggu depan. Tapi kalau kamu nggak izinkan, aku pending dulu."
"Emang ada urusan penting?" Nadia malah bertanya.
"Aku harus menyelesaikan peralihan saham FreddCo Energy sebelum Rapat Umum Pemegang Saham."
"Kalau kamu nggak datang, peralihannya batal ya?"
"Saham akan dialihkan ke aku, jadi aku yang harus datang sendiri sayang."
"Ya udah kalau begitu." Nadia akhirnya mengalah.
"Aku tetap lihat kondisi kita. Kalau keadaan tidak memungkinkan, aku tidak mungkin meninggalkanmu."
"Bagaimana Tristan? Apa belum ada tanda-tanda akan menceraikanmu?" Lanjutnya lagi.
Nadia menggeleng.
"Kalau begitu kita tunggu dua minggu kemudian. Kalau Tristan belum juga mengajukan cerai, kamu yang mengajukan cerai."
Wanita itu mengangguk dengan sangat manis. Tidak tampak lagi keraguan pada wajahnya. Ingin rasa hati mencium bibir lembut nan manis itu.
Dasar otak.
Namun ucapan Nadia selanjutnya membuat ia tidak mampu menahan tawanya.
"Bim, kamu jangan dekat-dekat wanita lain!"
"Mana tau."
"Kamu nggak usah khawatir mengenai hal itu."
Dan kini ia banyak tertawa. Karena wanita itu cemburu tapi tidak mengakuinya. Terutama terhadap Aurel, yang memang hampir setiap waktu menemaninya.
Sekarang ia berada di Bandara Tampa Padang Mamuju, berjalan melintasi apron menuju sebuah medium jet yang bertulis FreddCo Energy yang terparkir di apron bandara. Pesawat operasional perusahaan yang hanya digunakan oleh orang-orang tertentu di perusahaan.
Jet berukuran sedang itu memiliki ruang untuk 9 hingga 12 penumpang. Biasanya pesawat itu berada di Amerika, untuk melayani penerbangan para direksi perusahaan FreddCo Energy pusat. Namun kali ini berada di Indonesia atas permintaan putera dari Presiden Direktur FreddCo Energy, yang rencana akan digunakan ke Amerika minggu depan. Karena jet itu sangat ideal melintasi benua atau samudera.
"Sekarang aku mau naik pesawat sayang, terbang menuju Maluku."
"Duduknya bareng siapa?"
Sekali lagi Bimasena menahan tawanya.
"Kursinya tunggal, tidak seperti pesawat komersil, jadi gak bisa duduk sama siapa-siapa," ucapnya sambil menaiki tangga pesawat. "Emang aku nggak boleh duduk sama siapa?" ia tertawa kecil berusaha memancing Nadia agar mengakui cemburu pada siapa. Meskipun ia sudah tahu, Nadia cemburu pada Aurel.
"Hus jangan ribut! Kamu udah di pesawat. Nanti di dengar orang lain." Nadia memasang wajah cemberut padanya.
"Dari tadi juga di dengar orang kok, saat di mobil."
"Kamu mandi dulu ya? Habis mandi, sarapan yang banyak. Begitu tiba di Maluku, kita teleponan lagi.
__ADS_1
Nadia tersenyum, lalu mengangguk.
Satu kalimat penutup untuk Nadia, sebelum ia memutus percakapan mereka melalui video call.
"Believe me (percayalah padaku), you are the one (kamu adalah satu-satunya), whom my mind reminds me of, whom my destiny wants, whom I love the most (yang selalu aku ingat, yang selalu aku harapakan dalam takdir dan seseorang yang paling aku cinta)."
*******
Dari Bandara Tampa Padang, jet yang ditumpangi Bimasena beserta rombongannya terbang ke Bandara Rar Gwamar, Kepulauan Aru. Selanjutnya mereka menaiki speed boat menuju Blok Aru yang terdapat di perairan Aru, di mana tim riset sedang melakukan eksplorasi atau pencarian minyak bumi.
Perusahaannya telah menempatkan RIG (alat pengeboran) di perairan Aru. Pengeboran akan dilakukan untuk memastikan ada atau tidaknya kandungan minyak bumi di dalam area yang yang mereka teliti tersebut.
Bimasena mengunjungi Blok Aru untuk meninjau secara langsung jalannya pengeboran offshore.
Sebelum dilaksanakan pengeboran, tim riset Bimasena telah melakukan studi geologi berupa pemetaan geologi dan studi geofisika untuk mengetahui karakteristik batuan.
Tim riset juga telah melakukan survey seismik, dengan menembakkan gelombang suara ke bawah laut. Dari hasil seismik, data jenis dan lapisan batuan diolah, dan diketahui keberadaan minyak dan gas bumi di perairan Aru.
Begitu tiba di RIG, pengeboran telah berlangsung. Sepanjang hari, dibawah terik matahari ia mengawasi jalannya pengeboran.
Bagi seorang yang bekerja di bidang eksplorasi seperti dirinya, pengeboran seperti ini sangat mendebarkan. Karena tim riset belum tentu menemukan adanya cadangan migas yang sebelumnya sudah disurvei. Jika tak ada cadangan migas padahal sudah dilakukan pengeboran, hal ini disebut sebagai risiko dry hole.
Semua tim riset bersorak gembira begitu menemukan cadangan minyak setelah melakukan pengeboran untuk yang ketiga kalinya. Senyum Bimasena melengkung sempurna. Disinilah tantangan pekerjaannya. Menemukan minyak atau pulang dengan tangan hampa setelah menghabiskan anggaran ekplorasi yang tidak sedikit.
Karena cadangan migas telah ditemukan, tahap eksplorasi masih akan dilanjutkan dengan membuat sumur-sumur di beberapa tempat di sekitar lokasi pengeboran eksplorasi.
Bukannya ia lupa untuk menghubungi Nadia begitu tiba di Maluku. Namun kondisi yang tidak memungkinkan. Sepanjang hari ia hanya berada di atas pesawat, di atas speed boat dan di lokasi pengeboran dimana bunyi mesin bor sangat berisik.
Bimasena merusaha menghubungi Nadia yang tidak mudah dilakukan dari tempat pengeboran itu, karena signal yang timbul tenggelam. Namun panggilannya tidak pernah berhasil karena nomor Nadia sedang tidak aktif.
Apa Nadia marah padanya karena terlambat menghubungi? Tapi ia yakin Nadia tidak akan marah hanya karena hal demikian.
Beberapa jam kemudian ia kembali menghubungi Nadia, namun nomor yang ia hubungi masih tidak aktif. Ia pun mulai gelisah. Khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan pada Nadia.
Ia pun segera menghubungi orang yang ia beri tugas khusus untuk mengawasi Nadia.
Namun jawaban orang kepercayaannya itu hanya bisa membuatnya menghebuskan nafas berat sambil meremas kertas yang berisi data-data pengeboran di tangannya.
Hatinya diliputi kegelisahan dan kecemasan.
Bagaimana keadaan Nadiaku di sana?
******
Hi readers kesayangan!
Apa kabarnya? Semoga tetap dalam curahan kesehatan dan kebahagiaan, serta tetap dalam lindungan Tuhan.
Terima kasih atas segala apresiasi dan dukungan terhadap novel ini.
Salam sayang dari Author Ina AS
__ADS_1
😘😘😘