REUNI INDAHNYA MENDUA

REUNI INDAHNYA MENDUA
61. Keadaan Yang Tidak Berpihak


__ADS_3

Dengan langkah tergesa, Tristan menghampiri Hakimah yang sudah menunggu pada salah satu meja di sebuah restoran. Kesalahannya adalah, mengapa membuat Hakimah menunggu. Sementara dirinya yang meminta waktu bertemu malam ini, dan dikabulkan oleh wanita itu.


Padahal ia sudah berupaya datang lebih awal. Tapi tetap saja, Hakimah sudah tiba lebih dahulu.


Keseharian di kantor, Hakimah merupakan aparatur yang sangat disiplin waktu serta pandai me-manage waktunya.


"Maaf sudah terlambat. Udah lama ya?" sapanya pada Hakimah, yang menggunakan waktu dengan membaca buku sembari menunggu.


"Baru selesai lima halaman, Kak Tristan udah datang," jawab wanita itu dengan senyum khasnya.


Setelah berbasa basi dengan obrolan ringan dan memesan makanan, Hakimah mulai menodongnya dengan pertanyaan yang begitu sulit untuk dijawab.


"Ada apa Kak Tristan ingin bertemu denganku malam-malam begini?"


Tristan menarik nafas panjang-panjang, lalu menghembuskannya dengan berat. Seberat beban hidup yang dipikulnya sekarang. Ia memperbaiki posisi kacamatanya sebelum mulai berbicara.


"Aku ingin meminta pendapat kamu, Imah. Apa yang sebaiknya harus aku lakukan. Aku memiliki masalah yang begitu berat. Tapi kamu bisa jaga rahasia kan?"


"Kalau nggak percaya Imah, mengapa mengajak Imah kak?" balas wanita itu.


"Aku percaya padamu Imah, sangat percaya."


"Kamu tahu, istriku, Nadia." Ia memberi jeda sejenak. "Dia berselingkuh. Dengan sahabatku sendiri," ungkapnya dengan wajah sendu kepada pada Hakimah.


Mata Hakimah membelalak, begitu terkejut mendengar ungkapannya.


Ia membuka aibnya sendiri pada orang lain, bukan tanpa sebab. Namun karena ingin melihat bagaimana reaksi Hakimah. Apa wanita itu senang bila mengetahui ia akan segera berpisah dengan Nadia atau tidak. Boleh jadi, masalahnya dengan Nadia yang menjadi jalan untuknya dan Hakimah bisa bersatu.


"Yang benar Kak? Imah nggak percaya kalau wanita sebaik Kak Nadia akan berselingkuh. Sama sahabat Kak Tristan sendiri pula. Apa Kak Tristan sudah pernah membuktikannya? Atau hanya mendengar desas-desus serta gosip miring?"


Ternyata Hakimah masih menyangsikan ungkapannya, sehingga ia berusaha untuk meyakinkan.


"Aku melihat dengan mata kepala sendiri, mereka bersama di sebuah kamar hotel. Mereka berdua juga mengakuinya, Imah. Sesungguhnya aku malu mengatakan ini padamu. Tetapi kamu bukan orang lain bagiku, Imah."


Satu hal yang enggan ia ungkapkan kepada Hakimah tentang pengakuan kehamilan Nadia, buah perselingkuhan dengan Bimasena, semua mencegah prasangka negatif Hakimah tentang dirinya.


Hakimah kembali membelalak, lalu tatapan wanita itu berubah menjadi tatapan prihatin. Wanita itu menyodorkan jus jeruk padanya. "Minum dulu Kak."


Ia menerima gelas yang berisi jus jeruk dari Hakimah. Meminumnya seteguk, lalu melanjutkan kembali.


"Menurutmu apa yang harus aku lakukan? Apa sebaiknya aku berpisah dengan Nadia?" Saat inilah ia ingin melihat reaksi dari Hakimah.


Sekarang Hakimah yang mendesah. Seolah pertanyaannya begitu berat untuk dijawab wanita itu. Terlebih Hakimah belum pernah berumah tangga, belum mengetahui seluk-beluk, pahit manisnya berumah tangga. Tetapi Hakimah adalah makhluk cerdas, pasti ada solusi yang terlontar dari wanita itu.


"Kak, bila betul adanya, apa yang dilakukan oleh Kak Nadia itu salah. Salah besar."


Ia tersenyum dalam hati mendengar penuturan Hakimah.


Wanita itu melanjutkan kembali.

__ADS_1


"Tetapi Kak Tristan jangan melimpahkan kesalahan itu pada Kak Nadia sendiri. Seorang istri berselingkuh, pasti ada sebabnya."


Ia mengernyit menatap Hakimah. Merasa Hakimah justru hendak menyerangnya.


"Hal yang paling utama bila seorang istri berselingkuh adalah karena kebutuhannya tidak terpenuhi. Kebutuhan yang dimaksud itu bukan sekedar kebutuhan materi saja. Tetapi juga kebutuhan emosional."


"Boleh jadi seorang istri berselingkuh karena dilatarbelakangi oleh sikap suaminya sendiri. Mungkin suaminya egois, kurang peduli ataupun kurang perhatian."


"Mungkin juga kepuasan seksualnya tidak terpenuhi."


Ucapan Hakimah yang satu ini membuat telinga dan wajahnya serasa memanas. Jangan-jangan Hakimah menganggap dirinya tidak mampu memberikan kepuasan seksual pada Nadia? Sehingga Nadia mencari kepuasan pada pria lain.


"Bila suami kurang perhatian, bisa jadi istri akan mencari perhatian pada orang lain. Atau mungkin seorang suami pernah menyakiti hati istrinya dengan bermain hati dengan wanita lain, sehingga istrinya menaruh dendam dan membalas berselingkuh."


"Meskipun kebutuhan materi istri terpenuhi, tetapi seorang wanita itu butuh kehangatan emosional. Butuh perhatian dan kemesraan. Ciuman, pelukan, dan bisikan-bisikan cinta."


"Jadi Kak Tristan harus introspeksi diri terlebih dahulu. Cari tahu dimana letak kesalahannya. Dan perbaiki hubungan dengan Kak Nadia."


Sungguh, bukan jawaban seperti itu yang ia harapkan dari Hakimah. Yang ia butuhkan dari Hakimah adalah dukungan, dukungan yang bisa meringankan langkahnya untuk berpisah dengan Nadia.


Tetapi diluar dugaan Hakimah malah membela Nadia, dan memintanya memperbaiki hubungan. Sama dengan permintaan orang tuanya sendiri.


"Jadi maksud kamu, aku maafkan Nadia yang telah menginjak-nginjak harga diriku sebagai seorang suami?" Ia menatap Hakimah dengan penuh rasa tidak percaya atas solusi yang diutarakan wanita itu.


"Iya Kak. Bukankah setiap rumah tangga akan menghadapi ujian. Kali ini rumah tangga Kak Tristan dan Kak Nadia sedang menghadapi ujian. Dan kalian harus bisa melalui ujian ini."


Wanita yang baru kemarin lahir di dunia ini malah memberinya nasihat perkawinan.


Sekarang ia menyesali mengapa membongkar aib rumah tangganya sendiri pada Hakimah. Sementara reaksi Hakimah tidak seperti yang ia harapkan.


Dan yang lebih mengenaskan lagi, Hakimah mengambil sesuatu dari mini backpack-nya, lalu menyerahkan kepadanya.


"Kak, undangan ini rencana Imah bawa ke rumah Kak Tristan, tapi karena Kak Tristan ada masalah dengan Kak Nadia, Imah berikan disini aja ya?"


"Undangan apa?" tanyanya, meraih undangan yang disodorkan Hakimah. Entah mengapa ia merasa ada sesuatu yang buruk akan terjadi.


Ia membuka undangan itu dengan hati berdebar. Dan begitu membaca nama yang tertera di dalamnya, maka sempurnalah penderitaaanya sebagai seorang pria.



******


Herial hanya memandangi teman-temannya bermain domino, di sebuah warteg yang dibangun di atas saluran drainase kota.


Warteg itu merupakan tempat nongkrong anak buah penguasa jalanan, Julius Bora. Tempatnya menghabiskan waktu bila sedang tidak ada pekerjaan.


Permainan domino mereka disertai judi pula. Ia tidak bergabung, selain karena penat memikirkan masalah adiknya, dompetnya sedang kosong.


Ia tidak habis pikir, mengapa Nadia melakukan hal yang mempermalukan keluarga. Apa hutang yang ia bebankan pada Nadia terlalu berat? Sehingga Nadia membutuhkan uluran tangan orang lain dan bersedia memberikan tubuhnya? Bila memang seperti itu adanya, maka kesalahan terletak pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Namun bila melihat pria yang dengan gagah berani, tanpa rasa takut, datang untuk menemuinya, wanita mana yang tidak akan tertarik?


Wajah dan postur tubuh yang dimiliki pria itu merupakan magnet bagi kaum wanita. Belum lagi kata Tristan, Bimasena adalah pria kaya. Paket komplit untuk membuat adiknya kehilangan akal sehat.


Aktivitas orang-orang di dalam warteg terhenti sejenak saat sebuah mobil sport mewah menepi tepat di depan warteg. Mereka saling berpandangan, karena merupakan hal yang langkah bila seseorang memarkir mobil sebagus itu di tempat seperti ini.


"Dapat orderan lagi kita," seru Johan dengan wajah gembira.


Biasanya orang-orang berduit menyewa jasa mereka untuk menagih hutang, untuk pengamanan ataupun untuk melakukan teror.


Namun ia terkesiap begitu melihat siapa yang turun dari mobil berwarna abu-abu itu. Pria yang kemarin dihajarnya di dalam rumahnya.


Sekaya itukah pacar adiknya, sampai memiliki mobil sport yang hanya dimiliki orang-orang tertentu?


Lalu apa motivasi pria itu pada adiknya?


Berani betul pria itu datang ke tempatnya sekarang. Apa dia tidak tahu bila tempat ini adalah sarang serigala?


"Silahkan duduk Pak!" Johan menyambut tamu dengan ramah, karena berpikir tamunya adalah sarang duit.


"Berani sekali kamu datang kemari! Kamu mau mati di tempat ini?" ia menggertak untuk menjatuhkan nyali pemuda di yang baru masuk ke dalam warteg.


Tetapi tidak ada ekspresi takut sama sekali pada wajah pemuda itu. Malah tanpa diminta menarik kursi dan duduk tepat di depannya.


"Apa maumu?" berangnya melihat pemuda yang terlalu berani padanya. Padahal wajahnya masih bengkak dan lebam sehabis dihajar olehnya.


"Aku mau bicara dengan Bang Herial. Mohon waktunya." Pria itu tidak sesopan dan seramah kemarin lagi.


"Baiklah, kamu dengar baik-baik. Jangan pernah menemui adikku lagi. Jangan pernah mengganggu rumah tangga mereka. Bila kamu masih melakukannya, maka nyawamu akan berakhir di tanganku." Ia tidak akan membuka ruang negosiasi pada pria itu.


"Bang, Nadia sekarang hamil. Oleh karena itu aku datang, karena ingin mempertanggung jawabkannya," sela pria berkemeja abu-abu itu.


"Nadia hamil? Jadi kamu berpikir Tristan mandul lantas tidak bisa membuat Nadia hamil?"


"Bukan seperti itu, tapi ... "


Ia tidak memberikan waktu kepada Bimasena untuk berbicara.


"Keluar sekarang." Dengan geram ia berdiri dari kursinya mengusir pria itu.


Semua teman-temannya ikut berdiri menebar ancaman pada Bimasena.


Bimasena akhirnya berdiri, mengangguk hormat kepadanya "Permisi Bang!"


Tetapi sebelum Bimasena keluar, pria itu balas menatap dengan tajam satu persatu wajah kawannya. Menunjukkan bahwasanya dia tidak gentar terhadap gertakan kawan-kawannya.


"Kurang ajar, apa kita sikat saja lelaki itu? Berani-berani menatapku seperti itu," sembur Johan, tersulut emosi.


Tapi ia mencegah dengan tangannya, "Jangan!"

__ADS_1


Karena ia sudah menyadari, Bimasena bukan lawan yang sepadan.


__ADS_2