
Saat Nadia masih berdiri terpaku, bingung dengan apa yang terjadi, entah darimana datangnya Mpok Nana yang sudah mengambil Glor dari gendongannya. Lalu tangannya ditarik oleh seseorang, yang kemudian ia ketahui adalah Lily.
Berjalan dengan cepat meninggalkan hall menuju sebuah kamar di hotel tersebut. Di dalam kamar itu sudah terdapat pakaian andalannya, gaun karya Mr. HT. Seorang Make-Up Artist beserta beberapa asisten juga telah menunggunya.
Menanggalkan kerisauan hatinya akibat ketidaksiapan terhadap acara pertunangan yang terjadi secara dadakan.
Ia serupa orang yang mengalami pseudobulbar affect. Menangis sambil tertawa terhadap sesuatu yang tidak lucu dan bukan sesuatu yang menyedihkan.
Menangis karena terharu. Tertawa karena bahagia. Juga kesal karena ia ingin persiapan yang matang pada hari istimewanya. Bukan dadakan seperti ini.
Mengapa Bimasena tidak menyusul datang ke kamar ini? Karena ia ingin memeluk untuk melepas rasa rindu, lalu menghantam dada pria itu dengan tinjunya berkali-kali.
Bagaimana tidak, dari awal berhubungan dengan Bimasena, pria itu selalu membuat jantungnya nyaris copot. Bagaimana bila ia sudah menikah dengan pria tersebut? Mungkin ia akan mati karena serangan jantung.
Huft !
"Berhenti nangis dong Kak! Susah make-up in kalau pipi dan mata basah melulu," bujuk MUA yang mendandaninya. Kesulitan memakaikan eyeliner kepadanya.
Ada hal yang memalukan dan mendebarkan baginya. Yaitu gaun pertunangan yang akan dikenakan nyaris tidak muat. Dengan susah payah ia mengenakan gaun itu. Akhirnya bisa juga ia kenakan meskipun membuatnya sesak nafas.
"Berat badannya naik banget ya, Mbak?" tanya Aurel memandangi perutnya dengan kening mengerut, padahal ia sudah menahan nafas agar perutnya terlihat langsing.
*********
Keluarga Bimasena dan keluarga Nadia sudah duduk di kursi yang telah disiapkan untuk acara lamaran. Kursi masing-masing keluarga berhadapan dengan jarak sekitar tiga meter. Bimasena duduk di depan memangku Glor.
Di sebelah kirinya duduk ibunya beserta ayah tiri. Dan di sebelah kanan, duduk ayahnya beserta ibu tiri.
Momen pertama pertemuan ayah dan ibu kandungnya setelah sekian lama.
Sebelumnya ia merasa khawatir. Khawatir terjadi perang dingin antara kedua pasangan tersebut. Tetapi kekhawatirannya ternyata tidak terbukti. Karena Ayah kandung dan ibu kandungnya dapat berbincang seolah tidak pernah ada persoalan sebelumnya.
Butuh beberapa menit membujuk Glor agar bersedia digendong olehnya. Hampir delapan bulan ia meninggalkan Glor, membuat wajahnya tidak familiar bagi puteranya itu. Membuat Glor menolak saat pertama kali ia mendekatinya.
Sudah banyak perkembangan puteranya begitu ia kembai. Begitu banyak momen lucu serta tahapan tumbuh kembang Glor yang terlewatkan olehnya.
Saat ia memegangi Glor yang berdiri di kedua pahanya, melompat-lompat, perhatiannya teralih ke salah satu pintu masuk hall. Dimana seorang wanita cantik mengenakan gaun yang indah masuk diiringi beberapa orang.
Nadia, ibu dari puteranya.
Kursi yang disiapkan untuk Nadia tepat berada di depannya. Sehingga ia duduk berhadapan dengan Nadia dalam jarak 3 meter.
Begitu Nadia duduk pada kursi, ia melempar senyum pada Nadia dari balik punggung Glor. Wanita itu membalas dengan tersipu lalu melihat ke arah lain.
Ia hanya bisa tertawa tertahan melihat Nadia di depannya yang duduk dengan salah tingkah karena terus-terus ia pandangi. Mengalihkan pandangan darinya dengan memutar kepala ke arah lain. Tetapi sesekali mencuri pandang kepadanya melalui ekor mata.
*******
Prosesi lamaran sebagai pintu awal niat baik keluarga Bimasena menikahkan puteranya dengan Nadia dimulai dengan pembukaan oleh MC.
Setelah itu perwakilan keluarga Bimasena mulai menyampaikan permintaan resmi kepada pihak keluarganya untuk menyampaikan sebuah niat baik.
Tetapi lamaran ternyata langsung disampaikan oleh Bimasena, bukan perwakilan keluarga. Pria itu berdiri dari kursi untuk menyampaikan niatnya.
Sambil menggendong Glor, dengan tegap dan penuh percaya diri pria itu langsung menghujamkan tatapan kepadanya. Menyampaikan lamaran romantis menggunakan microphone, sehingga terdengar ke seluruh penjuru ruangan.
__ADS_1
Aku adalah seorang petualang dan penjelajah yang buruk, sampai aku bertemu dengan wanita yang bernama Nadia Humeerah, yang mampu menghentikan langkah kakiku dan membuatku bertekuk lutut.
Sejak saat itu Nadia adalah mimpi yang aku kejar.
Bimasena mengedarkan pandangannya kepada orang-orang yang berada di dalam ruangan.
Kemudian pandangan pria itu tertuju kepadanya, membuat jantungnya berhenti berdenyut oleh hujaman tatapan mata cokelat yang begitu romantis.
Ia tak mampu membalas tatapan mata itu, sehingga ia hanya tersenyum dan menunduk malu.
Nadia Humeerah,
Ketika aku melihat ke dalam hatiku, aku hanya melihatmu. Hatiku adalah gurun sampai kamu datang menyirami dengan hujan cinta.
Saat aku memikirkan masa depan, aku membayangkan sebuah rumah dengan dirimu dan anak-anakku berada di dalamnya.
Bimasena menjeda sesaat. Tapi pandangan pria itu tidak pernah lepas darinya.
Aku pernah mendengar sebuah ungkapan. Mencintai seseorang itu adalah penyakit. Hanya bisa diobati dengan pernikahan.
Aku tidak ingin berlama-lama sakit karena mencintaimu.
Bimasena berhenti sejenak mencium Glor, karena Glor berusaha merebut microphone dari tangan pria itu.
Kemudian Bimasena melanjutkan lagi.
Nadia Humeerah,
Aku telah kembali seperti janjiku.
Lamaran Bimasena disambut riuh dan tepuk tangan oleh hadirin di ruangan. Membuatnya melambung tinggi ke awan-awan. Semua perasaannya bercampur aduk jadi satu.
Tetapi kemudian ia gemetar, tidak tahu merangkai kata indah untuk menjawab Bimasena. Otaknya buntu, pikirannya tidak kreatif.
Begitu microphone diserahkan kepadanya, dengan tersipu-sipu ia hanya menjawab dengan tiga kata,
"Iya aku bersedia." Lalu kembali tertunduk malu.
Bila acara ini dipersiapkan dengan matang olehnya, tentu ia akan memiliki kosakata yang indah untuk dihafal lalu diucapkan.
Acara selanjutnya adalah pemberian seserahan.
Seserahan yang diberikan keluarga Bimasena berupa sebuah cake cantik, pakaian yang diletakkan di dalam kotak eksklusif, sepatu, peralatan make up dari brand mewah, buah-buahan, roti-rotian. Tidak ketinggalan hadiah untuk Glor.
Setelah pemberian seserahan, dilanjutkan dengan pemberian perhiasan.
Ibu Imelda bersama seorang wanita yang membawa kotak perhiasan berdiri menghampirinya. Ia pun berdiri dari kursi untuk menyambut calon mertuanya.
"Kamu cantik sekali, Nadia," sapa Ibu Imelda kepadanya. Wanita yang berdiri di samping Ibu Imelda membuka kotak perhiasan yang isinya menyilaukan mata.
Sebuah kalung dengan permata bening dan indah, terlihat bercahaya. Kalung berlian emas putih. Sangat menarik dan menawan untuk digunakan. Memiliki cita rasa seni yang tinggi.
Di dalam kotak itu juga terdapat sebuah sertifikat resmi yang isinya berupa ukuran karat pada kalung, warna belian, potongan berlian, karakteristik sebagai penanda keaslian berlian.
Ibu Imelda mengambil kalung itu lalu memasangkan pada lehernya.
__ADS_1
"Makasih, Bu," ucapnya, mencium tangan Ibu Imelda, lalu mereka berdua saling berciuman pipi kiri dan kanan.
Lalu tiba giliran Bimasena memasangkan cincin pada jarinya.
Bimasena menyerahkan Glor pada Ibu Imelda, lalu berjalan lima langkah menghampirinya. Tersenyum penuh arti sembari menatapnya dalam dengan tatapan berbalut rindu.
Ia pun membalas senyuman dan tatapan itu. Namun hanya sejenak. Karena ia begitu malu menantang panorama mata cokelat tersebut. Matanya hanya sanggup menatap dada pria itu.
Tangannya yang mendingin seperti es diraih oleh Bimasena. Lalu dengan perlahan memasangkan sebuah cincin dengan permata yang mirip dengan kalung yang dipasangkan Ibu Imelda sebelumnya.
"Terima kasih telah menerima pinanganku," bisik pria itu. Hanya didengar olehnya. Yang kembali ia tanggapi hanya dengan senyum sambil mendongak menatap wajah rupawan tersebut. Sebab tak tahu harus berucap apa.
Tetapi seketika matanya membelalak dan wajahnya merah padam. Karena saat ia mendongak, Bimasena mencuri satu ciuman pada bibirnya. Yang membuat seisi ruangan menjadi riuh karena sorak para keluarga dan undangan.
"Biiiim, ini Indonesia," protesnya dengan volume suara rendah.
Bagaimana bisa pria itu tanpa malu mencium bibirnya saat semua mata dan kamera tersorot kepada mereka berdua. Bukan budaya Indonesia berciuman dengan calon saat bertunangan. Cium bibir pula.
Tetapi pria itu hanya tersenyum nakal seraya berucap, "Masa bodoh."
Selepas prosesi pertunangan ditutup oleh MC, dilanjutkan dengan acara menyantap hidangan, Bimasena menggendong Glor dengan satu tangan dan tangan yang lain menggenggam tangannya, menyapa para undangan.
Meskipun ada satu tahapan lagi yang harus mereka lalui, tetapi kebahagiaan begitu sempurna di hatinya. Seolah mereka sudah merupakan pasangan pengantin.
Purnama tersenyum di hatinya. Bintang-bintang turun ke bumi berkerlipan di dalam ruangan yang penuh bahagia itu.
Betapa banyak senyum dan doa yang mengiringi langkah mereka.
Selangkah lagi jiwa yang terlilit cinta memulai bahtera. Janji telah terikat dalam binaran hati yang berseri.
********
Readersku tersayang,
Apa kabarnya hari ini? Semoga selalu diberikan limpahan kesehatan dan rezeki dari Sang Pencipta.
Selamat menunaikan ibadah puasa untuk umat Muslim beserta orang-orang tercinta.
Sebelumnya author sampaikan, bila minggu depan telah masuk pada saat-saat sibuk menyiapkan hari raya. Mohon maaf bila author tidak sempat mengupdate novel secara reguler 🙏
Sebagai ucapan terimakasih kepada dukungan readers, author akan memberikan gift berupa bunga artificial cantik kepada sepuluh readers dengan dukungan tertinggi yang dilihat pada episode terakhir.
Terima kasih atas segala dukungannya terhadap novel ini. Hanya Tuhan yang bisa membalas kebaikan readers.
Terus dukung author dengan vote, like dan komen.
Salam sayang pada kesempatan yang baik ini, bulan Ramadhan ini, untuk readers dari,
Author Ina AS
😘😘😘
FB: ina as
ig : inaas.author
__ADS_1