
Siang itu, Nadia kedatangan tamu di salonnya. Harusnya ia tidak menyebut kakaknya sebagai tamu. Bang Herial datang membawa istrinya Mpok Nana dan dua anaknya, Maurika yang duduk di bangku kelas dua Sekolah Menengah Pertama dan Natalaya yang masih Sekolah Dasar.
Setiap kakaknya datang, hatinya selaku was-was. Karena hampir setiap kakaknya datang, Bang Herial hanya membawa masalah keuangannya yang tidak pernah selesai.
"Nadia, kamu punya uang lima belas juta? Kalau kamu punya Abang pinjam dulu. Bulan depan bila arisan Mpok mu naik baru dibalikin."
Tuh kan? Tidak ada yang lain selain masalah keuangan.
"Bang, abang kan tau sendiri, setiap bulan Nadia harus membayar angsuran utang kakak di bank dan angsuran mobil. Nadia juga harus membayar SPP Maurika dan Natalaya."
"Yang tersisa tinggal gaji dari Tristan. Itupun cukup untuk hidup kami setiap bulan."
"Memang uang sebanyak itu untuk apa Bang?"
Sebenarnya ia sudah bisa menebak alasan yang hendak dikemukakan kakaknya.
"Mpokmu, pengen buka usaha nasi kuning. Uang itu buat modal usaha. Sewa lahan, beli gerobak, tenda, gaji karyawan dan lain-lainnya."
Nadia tidak mengerti, sudah berapa usaha yang coba dibuka oleh Bang Herial. Tetapi usaha yang dibangun tidak pernah ada yang berkembang. Ujung-ujungnya ditutup karena selalu merugi.
"Maaf Nadia cuma bisa bantu lima juta saja."
Bagi wanita yang syarat angsuran dan tanggungan sepertinya, menabung lima juta bukanlah hal yang mudah. Terlebih Tristan memberikan jatah bulanan yang sangat pas padanya.
Tristan merupakan ahli matematika dalam menghitung kebutuhan bulanan keluarga. Sehingga jatah bulanan yang diberikan Tristan pas tidak bersisa.
Mengagumkan memiliki suami ahli matematika.
"Kalau begitu kami titip Maurika dan Natalaya ya Nadia. Kami keluar dulu mencari pinjaman," ujar Mpok Nana saudara iparnya.
Selama Bang Herial dan Mpok Nana pergi, ia menghabiskan waktu di salon mengobrol dengan kedua ponakannya.
"Kalian belajar yang tekun ya, biar bisa mengubah kehidupan Ayah dan Ibu. Kalau ada masalah jangan lupa beritahu Bibi Nadia," nasehat Nadia pada dua ponakannya.
Tetapi begitu kakak dan iparnya kembali untuk menjemput Maurika dan Natalaya, ia harus menahan kesalnya.
"Dapat pinjamannya Bang?" tanya Nadia penasaran.
Yang menjawab bukan Bang Herial, tetapi Mpok Nana. "Alhamdulillah dapat. Dari mertua kamu. Mereka baik banget Nadia. Beruntung kamu dapat mertua."
Mengapa meminta pinjaman pada mertuanya tanpa sepengetahuannya terlebih dahulu? Kedua mertuanya memang sangat baik, tapi Tristan bagaimana? Bila Tristan tahu, suaminya pasti tidak akan berhenti mencemooh keluarganya yang selalu merepotkan.
__ADS_1
*****
Ketegangan yang ia rasakan tidak ubahnya seorang tentara yang berangkat bertempur ke medan perang. Tetapi Tristan harus mengambil langkah berani. Setelah sekian lama melakukan pendekatan pada Hakimah, sudah saatnya ia menyatakan perasaannya pada Hakimah.
Jantungnya mengeluarkan bunyi dag dig dug. Debaran-debaran yang sudah lama ia tidak rasakan. Bahkan lebih berdebar saat ini daripada saat bersama Nadia dulu. Karena Nadia sangat mudah ditebak.
Debaran itu bertambah kencang kala ia menepikan kendaraannya dan melangkah masuk ke rumah kost Hakimah. Sehingga ia harus berhenti sejenak menetralkan debaran di dadanya sebelum mengetuk pintu.
"Eh Kak Tristan, kok nggak ngomong sih mau datang?" sapa Hakimah dengan ramah kepadanya.
Ya, ia menyesali mengapa tidak memberi kabar terlebih dahulu pada Hakimah. Karena begitu tiba di rumah kost Hakimah, Hakimah ternyata sudah kedatangan seorang tamu pria. Yang dari roman wajahnya ia bisa tebak, memiliki maksud yang sama dengannya.
Ternyata ia tidak sendiri menjadi penggemar Hakimah. Dengan sabar ia menunggu sampai pria yang memperkenalkan diri sebagai Donny itu, lebih dahulu berpamitan pulang. Ia tidak ingin lagi mengulur waktu, karena ia yakin, ada banyak Donny yang lain di luar sana.
Sebagai ahli strategi, ia tentu sudah mempersiapkan segala kemungkinan.
Alternatif satu, bila ia ditolak.
Alternatif dua, bila ia digantung.
Alternatif tiga, bila ia diterima.
Dan begitu Donny sudah pamit pulang, ia segera menggelongsorkan segala sesuatu yang memenuhi rongga hatinya. Tentu saja pilihan katanya ia sudah siapkan terlebih dahulu. Bahkan ia sudah siapkan selama berhari-hari.
Aku yakin kamu bisa membaca dari tatapan mataku bagaimana perasaanku padamu. Karena tatapan mataku sangat mewakili hatiku."
Tetapi tatapan serius Hakimah padanya, menciutkan jiwa kesatria yang sudah ia bawa dari rumah. Tetapi ia memerlukan jawaban, jawaban atas rasa penasaran yang telah lama menyelimuti dirinya. Hakimah menyukainya atau tidak?
Kalimat yang sudah tertata sempurna dari rumah, memenuhi kaidah unsur kalimat efektif, menjadi yang awut-awutan di dalam otaknya.
Tristan menghela nafas panjang demi mengembalikan fokusnya pada tujuan kedatangannya.
Tetapi bagaimana ia bisa fokus, sementara tatapan Hakimah membutakan mata hatinya mengacaukan otaknya?
"Kata hatiku membawaku kepadamu."
"Aku menyukai kamu Ima, apa adanya."
"Kamu telah membuat hari-hariku jadi menarik, penuh semangat."
"Kamu ... adalah wanita impianku."
__ADS_1
Hakimah tersenyum datar melihat wajah penuh harapnya. Setelah beberapa kali menarik dan menghembuskan nafas, wanita itu bersuara.
"Kak, tidak ada yang salah dengan perasaan yang Kak Tristan rasakan. Perasaan suka itu muncul karena seringnya kita bersama dalam urusan pekerjaan. Kita menghabiskan banyak waktu bersama."
"Tetapi yang salah bila Kak Tristan menginginkan sesuatu yang lebih dari sekedar menyukai. Tanpa Ima jelaskan, Kak Tristan tahu sendiri kenapa."
"Karena Kak Tristan sudah punya Kak Nadia. Kak Tristan dan Kak Nadia bukan sekedar memiliki hubungan pacaran, tetapi terikat sah secara hukum agama dan hukum negara."
Meskipun sudah menyiapkan berbagai alternatif, termasuk kemungkinan gagal, tetapi jawaban Hakimah tidak urung membuatnya terjatuh ke dalam lubang yang dalam.
Ia mencoba menyusun kata-kata dalam otaknya, lalu diungkapkan.
"Mungkin waktu yang tidak berpihak. Tetapi tidak ada salahnya meskipun terlambat untuk dimulai. Tidak adakah penawaran yang bisa kamu berikan kepadaku Hakimah? Misalnya kamu bisa menerimaku bila ... " Tristan tidak melanjutkan. Karena ia yakin Hakimah paham apa yang ia maksud.
"I’m sorry I can’t (Maaf, aku tidak bisa)."
"Dalam keluarga kami terdapat norma etika yang berlaku, jangan merusak rumah tangga orang lain. Dan norma etika itu sudah menjadi dasar dan prasyarat dalam lingkungan keluarga kami dalam memilih pasangan."
"Dan aku adalah seseorang yang selalu berusaha untuk berperilaku baik dengan tidak melanggar etika Kak."
"Lagian Ima juga mau lanjut sekolah Kak. I would like to concentrate on a career (Aku ingin berkonsentrasi pada karir). Just be friends (Jadi teman saja)."
Kemana raib mental bajanya? Baginya, siap jatuh cinta satu paket dengan siap patah hati hanya teori saja. Karena ia tidak siap patah hati. Tetapi malam ini Hakimah sudah mematahkan hatinya.
Padahal sebelumnya ia sudah membuat analisis risiko bila ia mengungkapkan perasaan. Ternyata ia tidak siap dengan kemungkinan risikonya.
Mengapa juga ia terlalu cepat mengambil keputusan penting, menikah dengan Nadia. Seandainya saat itu ia tidak gegabah, maka kalimat yang didengar malam ini dari Hakimah, akan berbeda.
Tristan terkulai oleh hati yang nelangsa. Mengemudikan kendaraannya membelah padatnya kendaraan di ibu kota.
Sebaris kata penuh pengharapan ia bawa berlari kepada Hakimah. Tetapi ia pulang membawa harapan yang tidak berkesudahan. Karena impiannya tidak bersambut.
Apakah impiannya pada Hakimah hanya sebatas mimpi saja?
*******
Readersku tersayang,
Apa kabarnya? Yang lagi galau karena Adinda lihat dulu kegalauan Tristan.
Terima kasih atas segala dukungannya. Mohon maaf bila jadwal UP nya tidak sesuai dengan keinginan readers.
__ADS_1
Salam sayang dari Author Ina AS
😘😘😘