
Abu dan puntung rokok sudah memenuhi asbak. Asap rokok mengepul di ruang tengah apartemen.
Bimasena berusaha tetap fokus pada pekerjaannya di dalam laptop yang dipangkunya, sembari sekali-kali mengisap batang rokok. Tidak peduli kandungan nikotin yang tidak baik untuk tubuh. Karena yang ia butuhkan adalah efek relaksasi dari kandungan senyawa tersebut. Toh tidak ada Nadia lagi yang melarangnya merokok.
Tapi ia gagal fokus.
Ia merutuki dirinya sekaligus malu atas kebodohan dirinya. Mengapa seorang wanita bisa membuatnya galau?
Breng sek.
Padahal bukan kali ini saja hubungannya kandas dengan seorang wanita. Beberapa kali ia putus cinta. Namun dalam memory -nya, ia tidak pernah segalau dan segelisah saat ini.
Sudah dua minggu ia menunggu Nadia. Berharap Nadia berubah dan datang kembali menemuinya. Tapi bermalam-malam ia menunggu, Nadia tidak kunjung datang.
Malam ini adalah malam terakhir dari dua minggu kesempatan yang diberikan kepada Nadia. Sampai dua jarum jam yang panjang dan pendek tegak ke atas, wanita yang ditunggu-tunggu tidak kunjung nampak di apartemennya.
Nadia tidak mungkin datang lagi.
Dengan rasa kecewa ia menutup laptop tanpa mematikannya. Menyimpannya di atas meja lalu melangkah masuk ke dalam kamar.
Di dalam kamar ia berdiri terpaku menatap lukisan Nadia.
Sesungguhnya ia kecewa terhadap Nadia yang tidak teguh memegang sebuah komitmen. Tapi ia bisa memahami langkah yang diambil Nadia.
Nadia tidak ingin merusak kebahagiaan keluarganya karena ibunya tidak bisa menerima status Nadia dan juga Nadia memberikan kesempatan baginya untuk mendapatkan wanita terbaik.
Wanita terbaik?
Ia hanya bisa menggeleng-geleng kepala. Karena siapa yang ia pilih bersamanya saat itu, itulah wanita yang terbaik. Buat apa ia bersusah payah mengejar Nadia bila ia tidak menganggap Nadia wanita terbaik untuk hidupnya.
Bimasena lalu menurunkan lukisan Nadia, mengeluarkannya dari dalam pigura kemudian mengambil gunting dan menggunting-gunting lukisan itu menjadi potongan kecil.
Ia menggunting lukisan itu seperti menggunting-gunting hatinya sendiri. Rasa perih menjangkit hati tiap dua mata pisau gunting bertemu dan memotong kain kanvas.
Potongan lukisan itu berakhir di dalam tempat sampah menandakan berakhirnya hubungannya dengan Nadia.
Ia harus memotong-motong lukisan itu, untuk menjamin bahwa tidak ada mata yang bisa melihat lukisan wanita setengah telanjang tersebut.
Satu lagi benda yang menyusul masuk ke dalam tempat sampah. Selimut rajut berwarna abu-abu. Karena ia harus membunuh segala kenangan bersama perajut selimut tersebut.
Ia tertawa getir, menertawai dirinya sendiri.
Jadi seperti ini rasanya patah hati?
Breng sek. Ia kembali mengumpat.
Mungkin langkah yang diambil oleh Nadia adalah langkah bijaksana, meskipun sangat mengecewakan dirinya. Tapi apakah Nadia bahagia kembali bersama Tristan?
Mengapa ia harus peduli dengan bahagia atau tidaknya wanita itu lagi?
Mengapa juga ia harus jatuh cinta pada Nadia. Cinta tumbuh tidak terkendali dari bibit rasa yang tersisa saat masih SMA. Membuatnya mampu melakukan hal-hal di luar batas nalar.
Mulai sekarang ia harus mengubah arah. Menghilangkan Nadia dari batas pandang dan tujuan hidupnya. Menjauhkan bayang-bayang Nadia dan segala kegilaan yang ia lakukan pada Nadia. Mungkin malam ini ia akan tidur diiringi lagu simphony yang kelabu. Tapi esok, matahari akan kembali bersinar cerah.
__ADS_1
Esoknya, bukan matahari bersinar cerah yang dilihatnya. Tetapi Tristan yang datang menemuinya di kantor. Ia melihat pria itu dalam layar monitor CCTV, sedang berada di ruang tunggu bersama tamu lain yang hendak menemuinya.
Di kantor itu, ia bisa saja menolak tamu yang ingin menemuinya. Tetapi terhadap Tristan, ia malah memberi prioritas.
"Lama tidak bertemu, apa kabar?" Ia menerima Tristan di sofa tamu, bukan di meja kerja, untuk menghilangkan kesan formal. Meskipun pilihan tempatnya ternyata tidak membawa suasana santai.
Dua pria bertemu karena satu wanita.
"Baik," jawab Tristan datar, tanpa senyum. Suasana sangat dingin dan kaku.
"Bagaimana kabar Nadia?" Hatinya bergetar kala menyebut nama wanita itu.
"Baik," sahut Tristan kaku. "Bima, aku langsung saja. Aku mohon, berhentilah mengganggu rumah tangga kami. Berhentilah datang menemui dan merayu Nadia ataupun meminta Nadia datang ke apartemenmu."
"Tolong hargai aku. Hargai pertemanan kita. Bagaimana bila kamu yang jadi aku? Apa kamu mau istrimu dirayu dan dibawa pergi oleh pria lain? Tolong berhentilah berupaya memisahkan kami," sambung Tristan.
"Kamu bukan hanya nyaris merusak rumah tanggaku. Tapi juga telah mencoreng malu di wajahku. Sampai sekarang aku bahkan malu bertemu orang karena ulahmu. Terlebih lagi teman-teman SMA kita."
"Memisahkan pasangan suami istri dan merusak rumah tangga mereka hanya perbuatan iblis, Bima," erang Tristan penuh emosi.
Sementara ia hanya diam memberi kesempatan kepada Tristan untuk meluapkan emosinya. Menahan desakan untuk berdebat dan membela diri. Sampai akhirnya ia memiliki kesempatan untuk berbicara.
"Maafkan aku Teman, telah mencintai istrimu. Aku tidak pernah punya niat untuk merusak rumah tangga orang lain terlebih lagi rumah tangga kalian. Tapi ternyata aku gagal untuk membendung perasaan ingin memiliki istrimu."
"Sekarang karena Nadia telah memilih kembali kepadamu, maka aku janji, tidak akan mengganggu rumah tangga kalian lagi." Ia memberi penekanan pada kalimat terakhir.
"Kamu tidak perlu khawatir Tristan, dalam waktu dekat aku akan kembali ke Amerika. Agar aku tidak membayangi rumah tangga kalian lagi," lanjutnya. "Hidup bahagialah bersama Nadia."
"Namun ada satu yang aku minta darimu. Tentang anak yang dikandung oleh Nadia," tambahnya.
"Bimasena, kamu jangan mengklaim anak yang dikandung Nadia itu sebagai anakmu. Saat itu kamu memang pernah meni duri istriku, tapi yang perlu kamu tahu, kami setiap malam tidur bersama," sela Tristan dengan kilatan amarah pada matanya.
"Permisi." Tristan berdiri bangkit dari duduknya dan meninggalkannya tanpa menunggu jawaban darinya.
Menyinggung persoalan anak yang dikandung oleh Nadia, ternyata merupakan hal sensitif bagi Tristan.
*******
Ternyata hidup masih memberi Nadia kesempatan kedua untuk melanjutkan hubungannya bersama Tristan. Tentu saja, kesempatan pertama menjadi pelajaram yang berharga dan tidak boleh ada kesempatan ketiga lagi. Karena mereka tidak boleh lagi menyia-nyiakan kesempatan kedua.
Mereka layaknya pengantin baru, yang menikah karena perjodohan. Kaku dan sangat canggung satu sama lain.
Namun kondisi ini masih lebih baik dari sebelumnya. Dimana acap kali ia mendapat bentakan dari Tristan.
Sudah sebulan ia kembali hidup bersama dengan Tristan. Aktivitasnya sudah berubah dari sebelumnya. Ia tidak lagi ke salon. Rumah tempatnya membuka salon telah dijual oleh Tristan. Mobilnya telah ditarik oleh debt collector dan rumah orang tuanya yang jatuh bangun dipertahankannya akhirnya pun disita oleh bank.
Kini setiap hari yang dilakukannya hanya membersihkan rumah, merawat taman dan memasak untuk Tristan.
Hal penting yang dilakukannya setiap hari adalah, menjaga bunga baby breath agar tidak layu dan tetap hidup.
Dia, apa kabarnya?
Pria yang selalu muncul dalam doanya, agar segera diberi jodoh terbaik.
__ADS_1
Mereka adalah dua hati yang saling mencintai, tetapi tidak bisa saling memiliki.
Pernah merasakan bagaimana memilikinya, adalah salah satu anugerah terindah yang pernah ia memiliki. Tapi merasakan bagaimana kehilangannya, adalah luka terperih yang pernah menggores hatinya.
"Kamu nggak bosan Nad, tinggal di rumah mulu?" Lily membuyarkan lamunannya pada seorang. Lily tetangganya sekaligus menjadi teman berbaginya akhir-akhir ini.
"Mau apa lagi Ly, mau kerja nggak tau kerja apa?" sahutnya sambil memangkas cabang bunga Adenium di tamannya. Cabang bunga Adeniumnya sudah menjulur dan tidak proporsional dengan ukuran tanaman secara keseluruhan, karena lama tidak terawat.
"Mau berbisnis nggak ada modal. Ada modal pun gak tau berbisnis apa. Taunya aku hanya salon. Cari kerja dalam keadaan perut seperti ini juga, siapa yang mau terima," keluhnya dengan nada sedikit frustasi.
"Aku punya hubungan yang bagus dengan bos di tempat kerjaku. Kalau kamu berminat, aku bisa membujuk bos ku untuk menerima kamu," tawar Lily yang membuat matanya melotot.
"Ly, mana ada tamatan SMA kerja di Firma Hukum. Di sana Sarjana Hukum semua seperti kamu, bukan seperti aku," serunya mengibaskan tangan ke udara.
"Law Firm ku sekarang butuh tenaga administrasi dan arsiparis. Pekerjaannya gak sulit-sulit amat kok," imbuh Lily.
Namun ia tidak tertarik sama sekali. Bukan karena meremehkan pekerjaan itu. Tetapi karena ia menyadari kemampuan dirinya. Bekerja di sebuah firma hukum tanpa pendidikan yang sesuai, tidak ubahnya orang kota tersesat di hutan belantara.
Ia harus mengakhiri obrolannya dengan Lily, karena Tristan telah pulang dari bersepeda bersama anggota club-nya. Olahraga yang kadang-kadang Tristan lakukan bersama beberapa teman kantornya setiap hari Sabtu.
Ia pun segera masuk ke dalam rumah untuk menyiapkan sarapan buat Tristan.
"Berapa kilometer?" tanyanya kepada Tristan saat sarapan bersama untuk menghangatkan suasana.
"Tiga puluh," seperti biasa, Tristan sangat irit bicara. Tapi ia mengerti, karena Tristan tidak ingin menyakitinya lagi dengan lidah.
"Lebih pendek dari minggu lalu ya?" Ia menyodorkan segelas susu berikut mie ayam yang telah ia masak sebelumnya.
"Yang penting olahraga kardionya udah dapat." Tristan meraih gelas yang berisi susu, lalu meminumnya, menyisahkan separuh isi.
Baru saja Nadia hendak menikmati mie ayam, bel pintu berbunyi, sehingga harus berdiri melangkah ke ruang tamu dan membuka pintu.
Namun alangkah terkejutnya ia melihat siapa yang berdiri di hadapannya begitu membuka pintu.
Kaki dan seluru sendi-sendi tubuhnya mendadak lemas. Jantungnya memompa darah lebih cepat, namun tak ada aliran darah yang sampai ke wajahnya yang berubah pucat laksana rembulan kesiangan.
Nafasnya terhenti oleh tikaman mata cokelat tegas itu.
Apa yang akan terjadi lagi?
********
Readersku tersayang,
Apa kabarnya hari ini?
Semoga tetap dalam curahan kesehatan dan kebahagiaan selalu.
Terima kasih atas segala apresiasi dan dukungan terhadap novel ini.
Salam sayang dari
Author Ina AS
__ADS_1
😘😘😘