
Nadia merutuki dirinya, yang tidak bisa duduk dengan rileks di samping Bimasena. Badannya serasa lemas tidak bertenaga. Kaki dan telapak tangannya terasa sangat dingin.
Sepertinya pasokan oksigen di dalam mobil Bimasena sangat terbatas. Sehingga ia menjadi kesulitan bernafas. Sejak kulitnya bersentuhan dengan kulit Bimasena, ketika Bimasena memasangkan jam tangan padanya, saat itu pula Nadia semakin tidak karuan.
Beruntung pria di sampingnya sedang sibuk menerima telepon sambil mengemudi. Sehingga ia bisa berusaha menenangkan dirinya. Merilekskan semua syaraf-syaraf yang tegang.
Dirinya diliputi banyak kekhawatiran.
Bagaimana bila Bimasena mengajaknya mengobrol dengan topik yang tidak bisa ia jangkau? Karena wawasan yang ia miliki sangat terbatas.
Sementara orang seperti Bimasena, jelaslah wawasan dan pengalamannya lebih tinggi dari Tristan.
Terhadap Tristan saja ia jadi bodoh, apalagi pada Bimasena. Maka ia akan nampak semakin bodoh karena adanya gap pendidikan dan pengalaman yang sangat lebar.
Oh Tuhan, mengapa saya terjebak di sini ?
Topik apa yang akan diomongkan dengan Bimasena nanti?
Politik?
Nadia nol besar.
Iptek?
Ia tidak tahu menahu.
Saham dan investasi?
Sangat tidak mengerti.
Energi dan perminyakan? lebih-lebih.
Film terbaru?
Ia bukan penggemar bioskop lagi, masanya sudah lewat. Sekarang ia lebih senang nonton sinetron di rumah.
Tidak mungkin mereka membicarakan sinetron di TV atau gosip artis kan?
Nadia teringat pembicaraan Tristan dan Hakimah di dalam mobil. Ia hanya bisa jadi pendengar. Karena level pembicaraan mereka terlalu tinggi bagi Nadia.
Oh Tuhan.
Mengapa dulu ia harus bercita-cita menjadi seorang model atau artis?
Sehingga ia mengesampingkan pendidikan.
Akhirnya hasilnya seperti sekarang.
Ia selalu kehilangan kepercayaan diri karena itu.
"Maaf Nadia, jangan merasa diabaikan karena telepon masuk yang tidak berhenti," ucap Bimasena saat ia sudah berhenti berbicara lewat telepon.
"Nggak kok, nggak apa-apa," jawab Nadia tersenyum kaku.
Ia mengambil nafas panjang dan memejamkan mata. Bimasena sebentar lagi mengajaknya mengobrol. Mudah-mudahan ia bisa mengimbangi obrolan Bimasena.
Belum sempat juga mereka mengobrol, Bimasena sudah membelokkan kendaraannya masuk ke sebuah hotel di kawasan Rasuna Said.
Setelah memarkir kendaraan, dengan segera Bimasena turun membukakan pintu untuk Nadia.
Apakah Bimasena selalu seperti itu? Sangat kebarat-baratan. Wajar, kan ia lama tinggal di Amerika.
Karena bila bersama Tristan, Tristan tidak perlu membukakan pintu mobil untuknya. Ia akan masuk dan turun sendiri dari mobil.
Rasanya seperti Cinderella yang turun dari kereta kencana, ditunggui oleh Sang Pangeran.
Mimpi apa ini?
Mereka kemudian berjalan beriringan masuk ke dalam lobby hotel. Menunggu lift beberapa saat dan masuk ke dalam lift.
Di dalam lift, Nadia berdiri tepat di pojok belakang. Bukan ia yang memilih posisi, tetapi Bimasena yang mengarahkan.
Sepertinya Bimasena sengaja membuatnya berdiri di pojok paling dalam agar ia tidak tersentuh orang lain yang ikut masuk ke dalam lift.
__ADS_1
Bimasena sendiri berdiri di sampingnya, sedikit ke depan sehingga sebagian badan Nadia terlindung oleh badan Bimasena.
Lihat! bagaimana melindunginya pria itu.
Membuat Nadia merasa aman. Dilindungi.
Untuk pertama kalinya ia berdiri sedekat ini dengan Bimasena. Tanpa jarak karena pakaian mereka saling melekat. Sampai aroma parfum berkelas pria itu tercium olehnya.
Bima, kamu sangat memabukkan.
Ia pun mengkhawatirkan aroma parfum murah yang digunakan olehnya tercium oleh Bimasena. Meskipun baginya sudah mahal, namun pasti bagi Bimasena tidak ada artinya. Tidak berkelas.
Kasihan kamu Nadia.
Saat mereka sampai di lantai yang dituju, Bimasena membiarkan orang lain keluar lift terlebih dahulu. Bimasena lalu menyilahkan Nadia duluan keluar lift, Bimasena menyusul di belakangnya. Bimasena memberikan keleluasaan bergerak, tidak membiarkannya berdesakan dengan orang lain.
Siapa coba yang tidak mabuk bila diperhatikan seperti ini? Sampai hal-hal kecil begitu? Padahal ia sudah terbiasa berdesakan.
Ternyata restaurant yang dimaksud Bimasena terletak di rooftop hotel. Menyajikan pemandangan nan indah kota Jakarta dari ketinggian pada malam hari. Sangat spektakuler.
Di rooftop juga terdapat sebuah kolam renang. Suasana sangat nyaman dan membuat betah para pengunjungnya.
Destinasi nomor satu untuk makan malam romantis bersama pasangan.
Pasangan? Bagaimana ia dan Bimasena? Apa bisa disebut pasangan?
Bukan ... mereka hanya teman.
Meja sudah Bimasena reservasi sebelumnya.
Bimasena menarik sebuah kursi, mempersilahkan Nadia untuk duduk.
Nadia pun duduk dengan canggung. Semua perlakuan Bimasena membuatnya semakin canggung.
Setelah Nadia duduk, barulah Bimasena duduk di depan Nadia.
Duduk berhadapan dengan Bimasena membuat detak jantung Nadia kembali meningkat. Ia menghela nafas dalam-dalam.
Mungkin baru seperempat perjalanan, makan malamnya dengan Bimasena selesai, tapi Nadia merasa diperlakukan seperti seorang ratu.
Kalian tahu bagaimana rasanya duduk di depan pria maksimal? Menyenangkan? Bagiku Bimasena adalah beban yang berat. Kalian tidak tahu bagaimana meletup-letupnya jantungku. Aku seperti sebatang kayu nan kaku, tidak bisa rileks dibawah tatapan mematikan Bimasena.
"Tempatnya bagus banget Bim," ucap Nadia seraya mengedarkan pandangan dengan ekspresi kagum. Untuk mengusir kecanggungan dirinya.
"Kamu suka?" tanya Bimasena menatapnya sambil tersenyum.
Nadia mengangguk dan berpura-pura sibuk mengagumi pemandangan agar tidak saling bertemu mata dengan Bimasena.
Karena tatapan mata cokelat nan tegas itu, bisa menghentikan detak jantung secara tiba-tiba orang yang memandangnya.
"Maafkan aku lupa mengatakan kalau kita akan makan malam di rooftop. Pakaianmu kurang cocok untuk kondisi angin yang berhembus seperti sekarang. Bisa-bisa kamu masuk angin," ujar Bimasena.
Tahu apa yang Bimasena lakukan?
Pria itu berdiri melepas jasnya, berjalan mendekati Nadia, dan memasangkan jasnya pada bahu Nadia.
Tanpa sadar mulut Nadia menganga, begitu kain jas menyentuh bahu dan punggungnya dengan lembut. Menghangatkan tubuhnya yang menggigil. Darahnya pun berpacu. Karena Bimasena memperbaiki letak jas di bahunya.
Nadia menahan nafasnya dan memejamkan matanya. Sampai Bimasena mengakhiri aktivitasnya.
Godaan apa lagi ini Tuhan?
Bimasena memasangkan jas itu tanpa menyentuhnya sama sekali. Sangat sopan.
Jadi begini rasanya?
Seumur hidup belum pernah ia diperlakukan seperti ini. Ia hanya melihatnya dalam film barat yang ditontonnya. Sekarang ia merasakan sesuatu yang nyata.
Ia tidak mengerti mengapa tubuhnya bereaksi seperti itu, begitu jas itu dipasangkan. Tubuhnya sangat sensitif terhadap Bimasena.
Ia menggigil bukan karena angin dingin yang bertiup agak kencang. Tetapi karena berada di dekat Bimasena. Ia sudah menggigil sejak berada di mobil bersama Bimasena
Pria itu kembali duduk di kursinya. Tinggal mengenakan kemeja slim fit. Yang tidak bisa menyembunyikan bahu dan dadanya yang bidang. Jelas merupakan hasil latihan keras dan teratur di tempat gym.
__ADS_1
Sungguh seksi makhluk Tuhan yang satu ini. Mengapa dia begitu menarik?
Bagaimana rasanya menyandarkan kepala di dada itu?
Nadia, otak Nadia. Jaga otak.
Ia mendesah, mengapa ia melamunkan hal yang erotis.
"Kamu nggak kedinginan Bim?" tanya Nadia antara khawatir dan kurang enak hati. Sekaligus untuk mengalihkan lamunan erotisnya.
Bimasena malah tertawa.
"Nadia, aku sudah terbiasa hidup di tambang. Lokasi pengeboran minyak itu kalau bukan hutan, gurun ya laut lepas."
"Sampai nginap di sana?" Jelas Nadia penasaran. Bagaimana orang yang bekerja di tambang kulitnya bisa secerah Bimasena.
"Dulu aku lebih banyak tinggal di tambang. Karena selalu ditempatkan di eksplorasi." Bimasena sepertinya tidak ingin membahas terlalu jauh pekerjaannya.
"Nadia," suara Bimasena memanggil namanya.
Sungguh sangat seksi terdengar di telinganya.
Mereka kemudian saling menautkan pandangan. Lalu bersamaan tersenyum. Namun Nadia segera mengalihkan pandangannya tanpa menghentikan senyum.
Mata ini tidak mampu menatap mata itu.
"Kamu tahu, waktu pertama kali aku datang reuni di Saung Pesona Alam. Begitu mendengar Tristan menikah denganmu, aku sangat kaget, tidak percaya," ungkap Bimasena.
"Kenapa bisa?"
"Soalnya dulu kalian beda dunia. Satu kutu buku. Satunya lagi seorang model. Nggak ada interkoneksitasnya sama sekali."
Nadia ikut tertawa dengan Bimasena. Kehidupannya dan Tristan memang sangat jauh berbeda dulu.
"Kamu ingat saat aku ketahuan sama Ibu Salma, guru matematika kita? Ketahuan menggambar perempuan berbikini saat ia sedang mengajar?" tanya Bimasena.
Nadia mengernyit. "Oh itu kamu ya Bim, yang dihukum membersihkan toilet?"
"Kamu bahkan tidak ingat aku," ucap Bimasena terkekeh.
"Aku cuma ingat ada teman yang dihukum karena menggambar seorang wanita dengan vulgar. Tapi lupa kalau itu kamu." jawab Nadia.
Bagaimana ia bisa ingat orangnya, dulu ia tidak pernah memperhatikan Bimasena.
"Kamu tertawa kenapa?"
"Lucu aja ngebayangin kamu membersihkan toilet," jawab Nadia.
"Kamu tertawa karena aku membersihkan toilet?" Bimasena tergelak. "Tau nggak, siapa wanita yang saya gambar itu? Itu kamu Nadia."
Kontan wajah Nadia merona.
"Untung saja aku nggak pintar menggambar. Jadi gambarnya nggak mirip dengan orangnya. Coba bayangkan seandainya mirip, tentu aku akan semakin malu. Dan kamu akan marah padaku karena digambar hanya menggunakan two pieces."
Wajah Nadia semakin memerah.
"Ih Bima ... kamu usil deh."
Bimasena kembali tergelak. Lalu diam menatap Nadia dengan serius.
"Dulu aku adalah pemujamu dalam diam. Sekarang kembali jadi pemujamu. Tapi tidak tinggal diam lagi."
***********
Readersku tersayang,
Semoga Novel ini bisa menormalkan aliran darah para readers, yang dibuat berpacu oleh kisruh rumah tangga Adinda dan Adit.
Jangan lupa dukung Author.
Salam sayang dari Author
ππππ
__ADS_1