
Setelah mandi dan berpakaian, Nadia kembali ke kamar depan. Ia menyiram bunga baby breath yang diberikan Bimasena kepadanya.
Tersenyum melihat bunga yang mekar indah dengan manjanya itu. Lalu meletakkan bunga itu di dekat jendela. Agar bisa merajut kasih dengan cahaya sang mentari. Karena hidup bahagia itu adalah hidup yang penuh kasih.
Ia kemudian membuka kiriman sarapan paginya dari Bimasena. Menu sarapan paginya kali ini berupa sereal, telur, alpukat, yoghurt, dan salad buah. Sangat lezat, apalagi makan sambil melihat foto-foto yang dikirim Bimasena.
Foto aktivitas pekerja di anjungan minyak. Bukan foto Bimasena. Karena pria itu tidak hobby berfoto. Meskipun memiliki wajah yang lebih dari seorang model.
Pada akun sosial media Bimasena sendiri, pria itu sering meng-upload aktivitasnya. Tetapi sangat jarang foto yang menampilkan wajahnya sendiri. Kecuali foto yang diambil secara beramai-ramai.
Ia baru tahu, bila makanan yang dikirim Bimasena disiapkan oleh seorang nutritionist. Tiga kali sehari ia akan menerima kiriman makanan khusus ibu hamil. Padahal ia bisa menyiapkan makanan seperti itu, cukup membaca resep saja.
Apa Bimasena tidak percaya padanya? Pria itu sangat mengkhawatirkan janin dalam kandungannya kekurangan nutrisi, sehingga makanan harus disiapkan oleh ahli nutrisi segala.
Dasar orang kaya. Ada-ada saja cara menghabiskan uang.
Ia menunggu telepon dari Bimasena sepanjang hari. Ia juga sudah menghubungi Bimasena, tetapi tidak dapat tersambung. Namun pria itu sudah menyampaikan sebelumnya kepadanya, bila di lokasi pengeboran, sangat susah mendapatkan signal telepon seluler.
Nanti malam ia sudah bertekad untuk membicarakan perpisahan dengan Tristan. Bila Tristan tidak ingin bercerai, maka ia yang akan mengajukannya. Bagaimanapun bila harus berpisah dengan Tristan, ia harus berpisah secara baik-baik. Agar tidak menimbulkan dendam yang bisa menjadi penyakit.
Tetapi keinginannya tersebut mungkin tidak dapat terwujud. Karena saat sore tiba, Tristan pulang tidak sendiri. Tetapi bersama Bang Herial. Ia menduga hal buruk akan terjadi. Karena wajah sangar Bang Herial semakin sangar, saat melalui jendela kamar depan ia melihat Bang Herial turun dari mobil Tristan.
********
Tristan membuka kunci ruang tamu, tanpa menunggu Nadia yang membuka pintu. Ia lalu mempersilahkan Bang Herial masuk ke ruang tamu. Bersamaan dengan Nadia yang keluar dari pintu kamar depan.
Ekspresi ketakutan sangat jelas tergambar pada wajah istrinya melihat Bang Herial datang.
Sebelum pulang, ia datang ke rumah Bang Herial, meminta tolong pada Bang Herial. Ia ingin menitip Nadia di rumah Bang Herial, agar Nadia berhenti bertemu dengan Bimasena. Juga sebagai upaya memutus komunikasi Nadia dengan Bimasena. Karena dalam kondisi saat ini, hanya Bang Herial yang bisa menciutkan nyali Nadia, yang hatinya telah buta karena termakan rayuan.
Belum juga Nadia menyapa Bang Herial, Bang Herial sudah lebih dahulu menyapa Nadia dengan tamparan pada pipi kiri Nadia. Ia tidak tega melihat Nadia terhuyung karena tamparan yang begitu keras untuk seorang perempuan.
"Kamu sudah membuat malu keluarga," hardik Bang Herial pada Nadia yang mulai terisak sambil memegang pipinya yang memerah, bekas tangan Bang Herial.
"Apa kamu sadar, kamu sudah memberi aib pada dirimu sendiri, pada suamimu dan pada keluarga?" Suara Bang Herial semakin lantang.
"Kalau Ayah dan Ibu bisa bangkit dari kuburnya, mereka akan bangun hanya untuk menguburmu hidup-hidup, telah merusak nama baik mereka."
"Wanita yang sudah memiliki keluarga, berzina dengan pria lain, laku mengaku hamil. Kamu pantas dihukum rajam."
"Kenapa dengan mudah kamu ingin ditiduri? Kamu menjual tubuh pada pria kaya itu?"
"Sekarang kamu ikut aku pulang ke rumah. Kamu tinggal di rumahku saja dulu."
"Ingat baik-baik Nadia, kamu tahu kan bagaimana berandalnya abangmu ini? Semua perbuatan buruk sudah pernah abang lakukan. Tinggal satu yang belum pernah Abang lakukan. Yaitu membunuh orang."
__ADS_1
"Bila kamu masih bertemu dengan pria itu, maka kamu akan melihat Abang memotong-motong tubuh pria itu. Dengar baik-baik Nadia. Jangan sepelekan abang."
Tangis istrinya meledak. Nadia tersedu-sedu duduk di lantai dengan wajah penuh keputus-asaan. Biarkan saja, Nadia harus merasakan dampak dari perbuatannya.
"Tristan, kumpulkan beberapa pakaian Nadia. Handphone, kartu-kartu dan semua yang Nadia dapat dari pria itu, bakar saja." Bang Herial memberi instruksi kepadanya.
Kemarin ia memeriksa dompet Nadia, dan ia menemukan black card dan debit card platinum. Kartu yang tidak sembarang orang miliki. Dari mana lagi bila bukan dari Bimasena. Ia melaporkan hal itu pada Bang Herial.
Dengan segera ia masuk ke dalam kamar depan, mengambil handphone, jam tangan dan dompet milik Nadia. Ia akan mengembalikan jam dan kartu-kartu itu pada Bimasena.
Namun begitu pandangannya tertuju pada sebuah pot kecil yang berisi bunga putih yang kecil-kecil pula, dengan segera ia menyambar bunga itu, dan membantingnya ke permukaan lantai. Potnya pecah menjadi beberapa keping. Tanahnya berhamburan.
Tidak cukup sampai disitu, ia menginjak-injak bunga itu dengan sepatu. Karena ia yakin, bunga itu Nadia peroleh dari Bimasena. Salah satu cara pria itu merayu Nadia, yang membuat istrinya tergila-gila pada pria itu.
Di ruang tamu, ia melihat Nadia hanya bisa menangis tersedu-sedu. Bahkan untuk membela diri di depan Bang Herial, Nadia tidak mampu.
Sejak usaha Bang Herial bangkrut, Bang Herial dekat dengan salah satu pimpinan preman ibu kota. Lingkungan pergaulan saudara iparnya itu, adalah orang-orang yang selalu terlibat dalam aksi premanisme.
Sehingga ancamannya terhadap Nadia, membunuh Bimasena, bukan sekedar ancaman semata. Bang Herial bisa membuktikannya. Dan istrinya tahu persis bagaimana kakaknya. Sehingga Nadia hanya bisa menangis frustasi dan putus asa.
*******
Sudah dua malam Nadia terkurung di rumah Bang Herial. Sama sekali tidak bisa berkomunikasi dengan Bimasena, karena ia tidak memiliki alat komunikasi lagi. Bahkan uang satu rupiah pun ia tidak miliki. Semua miliknya disita oleh Tristan. Termasuk kartu-kartu dari Bimasena.
Bunga baby breath yang sangat disayangnya, sudah layu tak terselamatkan lagi setelah diinjak-injak oleh Tristan. Padahal ia ingin membawa bunga itu ke rumah Bang Herial. Sekedar pengobat rindu pada Bimasena.
Ia sudah frustasi. Langkahnya sudah terhenti. Tidak mungkin ia bisa melewati rintangan yang dibuat oleh Bang Herial. Karena bila ia lakukan maka akan terjadi pertumpahan darah.
Tentu saja ia tidak ingin orang yang dikasihinya meregang nyawa, terlebih dari saudaranya sendiri. Suatu saat melihat Bimasena bahagia dengan wanita lain, jauh lebih baik daripada melihat pria itu terbunuh oleh abangnya sendiri.
Sehingga sekarang ia harus belajar ... merelakan Bimasena.
Cinta itu tidak berarti harus saling memiliki. Biarlah nama itu terpatri indah di sanubari, tanpa harus memeluk raga pemilik nama.
Mungkin juga ia tidak akan bisa hidup lama. Karena rasa rindu sudah menggerogoti hati dan jantungnya, mulai membunuhnya secara pelan-pelan.
Justru ia berharap, Tuhan segera mengirim malaikat menjemputnya. Untuk menghentikan segala kekacauan yang timbul karena perbuatannya. Dunia akan kembali berputar pada porosnya, bila ia sudah terbaring di bawah permukaan tanah.
Biarlah dari alamnya, ia memandang wajah memukau pria yang selalu dirindukannya. Tidak akan ada yang marah lagi padanya. Tidak akan ada yang tersakiti lagi.
"Nadia, ayo makan malam," dari balik pintu Mpok Nana tiba-tiba muncul.
"Aku nggak lapar Mpok. Mpok makan aja dulu. Kalau aku lapar, aku akan ke dapur cari makan sendiri," kilahnya.
"Nadia, kamu sudah dua malam tidak makan malam, bukannya kamu hamil?"
__ADS_1
Mungkin bila tidak memikirkan janin yang selalu mendapat perhatian dari Bimasena itu, ia tidak butuh makanan, karena ia tidak merasakan lapar lagi.
Ia tidak menanggapi saudara iparnya. Memilih menghanyutkan pikiran, yang membawa khayalannya pada Bimasena. Mungkin ia tidak akan pernah berjumpa lagi dengan pria itu. Bimasena tidak akan menemukannya bila ia berada di sini. Atau mungkin Bimasena tidak akan pernah mencarinya.
Karena tidak ditanggapi olehnya, Mpok Nana malah duduk di sisi tempat tidur. Sepertinya Mpok Nana ingin berbicara dari hati ke hati dengannya.
"Nadia. Kamu jangan terlalu percaya dengan rayuan seorang pria. Pria baik-baik itu tidak akan menggoda wanita yang telah beristri. Terlebih lagi meniduri istri orang. Pria gak benar itu."
"Jangan karena lebih kaya, lebih tampan, lantas kamu akan melupakan suamimu, dan jatuh ke pelukan pria lain. Seorang wanita itu harus bisa menjaga martabat dan harga dirinya."
"Kamu lihat abangmu sendiri. Berapa kali ia mempermainkan wanita. Lelaki seperti itu Nadia, hanya datang untuk bersenang-senang. Begitu rasa penasarannya usai, maka ia akan pergi begitu saja."
"Kamu memiliki suami yang baik. Meskipun kamu sudah melukai hatinya, Tristan tetap memaafkanmu dan menerima kamu kembali."
"Sudahilah Dik semua kegilaan yang kamu lakukan. Kembalilah ke kehidupan sebelum kamu dengan pria itu. Hidup normallah. Jangan melanggar norma-norma yang berlaku."
"Abangmu melakukan ini karena sayang padamu. Karena tidak ingin melihat adik satu-satunya jadi mainan seorang pria. Terlebih lagi jadi pelampiasan naf su seorang pria."
Sekali lagi benar apa yang dikatakan Bimasena padanya. Tidak akan ada yang mendukung hubungan mereka.
"Abangmu juga sudah menemui mertua kamu. Meminta maaf atas nama keluarga kita kepada kedua mertua kamu."
Ucapan terakhir Mpok Nana baru membuatnya bersuara.
"Orang tua Tristan sudah tahu?" ia bangun dari posisi berbaring. Duduk menghadap Mpok Nana.
"Iya mereka sudah tahu. Tapi mereka meminta Tristan memaafkan kamu. Serta menerima kehamilan kamu. Entah itu anak Tristan ataupun anak pria itu. Lihatlah bagaimana kemuliaan hati mertuamu. Pantaskah kamu menyakitinya?"
Hidupnya semakin pelik. Sekarang ia hidup dalam keputus-asaan. Tidak memiliki kekuatan untuk melangkah. Bagaimana caranya ia bisa keluar dari jeratan masalah dan gelapnya hidup? Jalan apa yang harus ia tempuh? Entahlah. Ia hanya perempuan lemah yang begitu mudah diombang-ambingkan oleh keadaan.
Dengan langkah lemah tanpa tenaga, ia berjalan keluar menuju kamar mandi. Ia ingin mencuci wajah sendu dan mata sembabnya. Mungkin merasakan air bisa menyegarkan pikirannya.
Namun begitu berada di kamar mandi, wajahnya kembali basah oleh air mata. Air mata karena merindukan pria bernama Bimasena itu.
Apapun yang dikatakan orang tentang Bimasena, ia tetap percaya pada pria itu. Ia yakin Bimasena merindukan dirinya, seperti hatinya yang merindukan Bimasena.
Dan ia sangat yakin bila ... Bimasena akan mencarinya.
Ia keluar ke kamar mandi dengan kaki lemahnya. Tapi suara lantang Bang Herial dari ruang tamu membuatnya penasaran.
"Jadi kamu pria laknat itu?" suara Bang Herial.
Dengan segera ia mengintip melalui tirai yang membatasi ruang tamu dan ruang makan.
Tetapi ia malah nyaris terjatuh, karena jantungnya tiba-tiba dihantam martil dengan sangat keras. Nyawanya sudah berada di ubun-ubun, sebentar lagi meninggalkan tubuhnya.
__ADS_1
Saat melihat di ruang tamu,
Abangnya berdiri berhadapan dengan pria bernama ... Bimasena.