
Bimasena berusaha menenangkan Nadia. Dengan bahasa isyarat ia menggeleng kepada Nadia dengan maksud bahwa tidak akan terjadi apa-apa. Karena wanita di depannya teramat panik. Wajah yang sudah pucat semakin memucat. Keringat dingin membanjiri keningnya. Tangan dan kakinya gemetar. Hanya karena diluar bilik ada Tristan.
Harusnya ia tidak perlu sepanik itu. Karena Tristan bukan orang kurang kerjaan yang akan mengintip isi bilik. Toh dari percakapannya dengan Tristan mereka sedang bercanda.
Tapi seperti itulah Nadia. Wanita penakut yang tidak berani keluar dari zona nyaman. Tidak seperti dirinya yang menyukai tantangan dan bermain-main dengan risiko atau sesuatu yang membahayakan.
Seandainya tidak merasa kasihan dengan Nadia yang ketakutan sepanjang waktu, maka ia akan menuntaskan hasratnya pada Nadia, di tempat itu juga, sambil berdiri.
Tetapi begitu Glen dan Tristan keluar dari toilet Nadia sudah shock. Tubuhnya melorot ke lantai dan mengeluh kepalanya pusing serta sesak nafas.
Ia pun segera mengangkat tubuh Nadia dan memeluknya.
"Tidak apa-apa sayang, jangan takut." Bisiknya kembali menenangkan wanita itu.
Ada sesuatu yang aneh pada Nadia. Wajahnya pucat tidak seperti biasanya. Tadi ia juga mendapati Nadia muntah-muntah di toilet wanita.
Apa ... ? Ya, ia harus memastikannya.
Begitu situasi sudah aman, ia meminta Nadia keluar dari toilet terlebih dahulu. Bukannya berjalan dengan langkah tenang, Nadia malah setengah berlari menuju lift. Sehingga bisa mengundang perhatian orang yang tidak perlu memperhatikannya.
Ia hanya menggeleng kepala melihat tingkah Nadia.
*******
Saat Bimasena datang, lalu Mithalia dengan begitu genit bergelayut pada lengan Bimasena, maka pandangan Reyna otomatis tertuju kepada Nadia. Ia ingin melihat bagaimana reaksi Nadia.
Meski tersenyum, Nadia tidak bisa menyembunyikan wajah kesalnya. Dan puncaknya saat ia melangkah menjauhi teman-teman menuju toilet. Tidak lama kemudian Bimasena mengikutinya.
Terbawa rasa penasaran ia mengikuti keduanya menuju toilet. Betul saja, ia mendapati Bimasena sedang memegang lengan Nadia di depan toilet. Mungkin mereka sedang bertengkar.
Saat Reyna keluar dari toilet, Bimasena dan Nadia sudah tidak ada di depan toilet. Juga tidak ada bersama teman-teman di kolam renang. Sehingga ia yakin, keduanya sudah berada dalam salah satu kamar hotel di bawah.
Tetapi beberapa saat kemudian tiba-tiba Nadia muncul setengah berlari dari arah toilet dan langsung masuk ke dalam lift. Tidak lama berselang, Bimasena juga muncul dari arah toilet dan langsung bergabung bersama teman-teman.
Berarti mereka baru saja bersama di dalam ... toilet pria tentunya. Apa yang mereka lakukan di dalam toilet pria? Apalagi kalau bukan berbuat mesum.
Bimasena kembali bergabung bersama mereka. Menikmati senja Kaliurang dari atas rooftop. Mithalia kembali seperti tadi. Memepet Bimasena dimanapun pria itu berada. Sehingga Mithalia perlu tahu sesuatu.
"Mit, aku mau bicara sesuatu dengan kamu."
*******
"Mit, aku mau bicara sesuatu dengan kamu," ucap Reyna kepadanya. Ia pun menyisihkan diri dari teman-temannya berdua dengan Reyna.
"Ada apa Reyna?"
"Kamu bisa menyimpan rahasia?"
Ia mengernyit. Lalu mengangguk karena penasaran apa yang hendak disampaikan Reyna kepadanya.
"Tentang Bima. Sebaiknya kamu berhenti mendekatinya. Karena Bima sudah menjalin hubungan dengan seseorang."
Apa yang baru ia dengar dari Reyna tidak urung memupuskan semangatnya. Tetapi sebelum Bimasena terikat pernikahan, ia percaya kesempatan masih terbuka lebar.
Tetapi dengan siapa Bimasena menjalin hubungan?
"Dengan siapa?" tanyanya kepada Reyna.
"Salah satu diantara teman alumni kita."
Jawaban Reyna serta merta membuatnya tersentak. Tidak mungkin Bimasena menjalin hubungan dengan teman alumni bila bukan dirinya. Siapa yang melebihi dirinya dalam hal kekayaan dan kecantikan?
"Kamila? Janah? Atau kamu?" Ia menyebut semua nama teman wanitanya yang masih berstatus lajang.
"Jangan batasi pada teman kita yang masih gadis."
__ADS_1
Ia pun kembali terkesiap. Dan dengan mata membulat ia pun berucap.
"Nadia?"
Bila tidak memandang status perkawinan, maka hanya Nadia yang kemungkinan bisa membuat Bimasena tertarik. Karena ia akui, Nadia adalah wanita paling cantik diantara mereka.
Nadia tidak ubahnya seorang gadis dan bisa mempesona siapa saja. Tetapi ia tidak percaya dengan selera Bimasena yang menyukai barang milik orang lain. Bekas pria lain. Sementara yang masih free dan berkualitas bertebaran dimana-mana.
"Kamu cari tahu sendiri deh."
Reyna meninggalkan dirinya yang sekarang diselimuti rasa penasaran, patah hati dan rasa tidak percaya.
********
"Kamu nggak mau makan malam?" tanya Tristan kepadanya yang hanya bermalas-malasan di atas tempat tidur di dalam selimut.
"Entar," jawab Nadia singkat.
"Dasar pemalas," sungut Tristan meninggalkannya sendiri di kamar.
Bukannya ia tidak ingin bergabung dengan teman-teman. Tetapi ia masih shock atas kejadian tadi sore di dalam toilet pria. Hampir saja dunianya kiamat seandainya Glen dan Tristan mengetahui ia dan Bimasena berada di dalam salah satu bilik.
Mengapa pria itu selalu melakukan hal-hal yang membuat ia hampir mati? Berapa lama jantungnya akan kuat bertahan dengan kejutan-kejutan yang datang dari pria itu?
Sejak mengenal Bimasena ia sudah merasa mengalami gangguan pada irama jantungnya. Jantungnya berdetak secara berantakan. Bila kejadian semacam ini terulang kembali, bisa saja ia henti jantung lalu mengalami kematian secara mendadak.
Tapi yang salah adalah dirinya sendiri. Begitu mendapat ciuman dari Bimasena, ia sudah terbang, melayang kemana-mana. Lupa ia sedang berada dimana. Tidak ingin berhenti dipeluk. Tidak ingin berhenti dicium.
Tidak adakah cara lain yang lebih aman untuk melepas kerinduan? Ataukah karena status pernikahannya sehingga tidak ada cara yang aman untuknya.
Dering handphone-nya membuyarkan lamunan. Dan hatinya selalu saja berdebar bila melihat nama itu di layar ponselnya.
Nadia : Halo!
Ia sendiri tidak mengerti, mengucapkan kata halo pun harus dengan suara semanja itu pada Bimasena.
Nadia : Apa?
Ia tersentak begitu saja, langsung terduduk dari posisi tidurnya.
Nadia : Jangan Bim!
Apa Bimasena hendak membunuhnya? Datang ke kamarnya? Bagaimana bila Tristan tiba-tiba kembali?
Dimana Bimasena menaruh otaknya? Menurut teman-temannya pria itu cerdas, memiliki segalanya, tapi dalam hal ini mengapa ia begitu bodoh?
Bimasena : Hanya sebentar Nad. Nggak sampai lima menit. Atau kamu yang ke kamarku?
Ke kamar Bimasena?
Nadia : Bagaimana bila ada yang melihat?
Ia segera bangun, membersihkan tubuhnya di kamar mandi. Memakai pakaian dalam terbaru dan termahal, lalu mengenakan celana denim, kaos dan sweater. Tidak lupa menggunakan wewangian yang harganya menguras isi dompet. Hanya digunakan bila hendak bertemu dengan Bimasena biar lebih hemat.
Mendatangi kamar Bimasena merupakan pilihan yang lebih baik daripada Bimasena yang datang ke kamarnya. Tidak lebih dari lima menit kok. Mereka tidak akan melakukan apa-apa. Meskipun ia tidak tahu mengapa Bimasena memanggilnya.
Tidak melakukan apa-apa?
Lalu mengapa menggunakan pakaian dalam terbaik?
Hanya untuk jaga-jaga saja.
Dengan cara mengendap-endap layaknya seorang maling, ia berjalan ke kamar Bimasena. Ya, seperti inilah rasanya menjadi maling. Dipenuhi kegelisahan dan ketakutan akan kepergok orang.
Betul kan? Mereka tidak akan melakukan apa-apa. Karena begitu tiba di kamar pria itu, Bimasena sudah mengenakan sepatu casual, jeans dan sweater. Sangat cool dan mengagumkan. Udara di atas rooftop tentu saja sangat dingin sehingga mereka harus menggunakan baju hangat.
__ADS_1
Tapi apa iya, ia tidak sampai lima menit di dalam kamar Bimasena? Tempat ini kan aman. Sayang kan?
Begitu Bimasena menutup pintu kamar, pria itu menuntunnya ke depan cermin lalu memeluknya dari belakang. Seketika jantungnya kembali hilang kendali.
Ia melihat bayangannya di dalam cermin dipeluk Bimasena.
Jangan tanya bagaimana rasanya! Jelaslah ia malu. Sehingga ia hendak berbalik menyembunyikan wajahnya pada dada Bimasena. Tetapi pria itu mencegahnya. Mempererat pelukannya dan mencium puncak kepalanya lalu pipinya.
"Lihatlah wajah di dalam cermin itu!" Perintah Bimasena kepadanya. Satu tangan melingkar di pinggangnya sementara tangan yang lain mengusap pipinya. Membuat rasa hangat menjalar melalui aliran darahnya.
Ada apa dengan wajahnya dan wajah Bimasena? Apa mereka tidak serasi?
"Kenapa wajah di dalam cermin itu begitu pucat?" Tanya Bimasena.
Ia bukannya melihat wajahnya di dalam cermin, tetapi malah mendongak ke belakang untuk memperhatikan wajah Bimasena.
"Wajahmu sayang, mengapa kamu pucat? Jangan sembunyikan apa-apa!" ucap pria itu lagi.
Ia pun kembali menatap wajahnya di dalam cermin. Ia baru menyadari bila memang wajahnya pucat.
"Entahlah, akhir-akhir ini aku sering merasa lemas Bim," keluhnya.
Bimasena tersenyum. Lalu ia berucap, "Baiklah."
Tanpa aba-aba pria itu menarik sweater-nya ke atas sehingga ia terkesiap dan melayangkan protes.
"Bim!"
Tetapi ia juga tidak mengerti, mengapa ia patuh saja saat Bimasena melepas sweater-nya. Sekarang ia tidak percaya, bila ia tidak sampai lima menit di dalam kamar Bimasena.
Ia menutup mata begitu Bimasena membuka celana denim yang ia gunakan. Tentu ia malu melihat dirinya di dalam cermin mulai ditelanjangi Bimasena. Untung saja ia mengenakan pakaian dalam yang layak.
Tetapi apa yang dilakukan Bimasena seakan membuatnya hilang keseimbangan. Seolah lupa bagaimana caranya berdiri.
Tuh kan, tadi juga dibilang apa? Ia harus jaga-jaga. Karena pria itu begitu tidak terduga.
Tetapi apakah Bimasena akan melakukannya di sini? Di depan cermin? Berdiri? Ia berusaha menormalkan nafasnya atas reaksi berlebihan dari otaknya.
Ternyata pria itu kembali memeluknya dari belakang. Padahal kaos dan underwear masih melekat di tubuhnya.
"Kamu cantik sekali sayang, sangat sempurna." Bisik pria itu.
Nadia sudah menutup matanya karena semakin malu melihat dirinya setengah telanjang di dalam cermin. Dan semakin malu lagi begitu tangan Bimasena sudah bergerak melepas underwear-nya. Ia jadi takut sendiri melihat dirinya. Seperti apa dirinya di dalam cermin sekarang?
Tetapi bukannya mengelus atau meremas seperti biasanya. Tangan pria itu meraih sesuatu di rak lemari, lalu memberikan kepadanya.
Sebuah tabung kecil plastik.
Ia pun mendongak ke belakang memberi pandangan tidak mengerti kepada Bimasena.
Bimasena memberi perintah, "Masuklah ke kamar mandi! Tampung urine di sini! Kita lakukan pregnancy test. Sepertinya kamu hamil."
Nadia pun membelalak seketika.
******
Readersku tersayang,
Apa kabarnya?
Terima kasih telah setia menunggu up nya novel ini. Maaf karena sampai sekarang updatenya belum berjadwal.
Ingin rasanya UP setiap hari seperti zaman Aaliyah Hadi dulu. Tetapi apa daya, kesibukan zaman Mas Hadi dan zaman Bimasena sudah berbeda.
Terima kasih atas segala dukungannya.
__ADS_1
Salam sayang dari Author Ina AS
πππ