
"Sial, Alfredo dan Danindra, mengapa juga Danindra saya kasih access card." Bimasena mengumpat, menyesali telah memberi kemudahan Danindra memasuki apartemennya. Padahal ia pun juga memegang access card apartemen Danindra.
Ia mendengus kesal, hasratnya sudah sampai di ubun-ubun, mencekik mengancam membunuh bila tidak dituntaskan. Tiba-tiba saja dikandaskan oleh dua bedebah tengil itu. Bagaimana kepalanya tidak pening bila seperti ini.
Ia segera menyambar handuk serta handphone, melilitkan handuk di pinggangnya dan hendak berjalan keluar.
Namun begitu melihat wajah pucat pasi Nadia yang berdiri merapat di dinding, ia berhenti sejenak, mencium pipinya.
"Jangan takut sayang. Aku keluar dulu. Kamu tunggu di dalam," bisiknya.
Ia harus segera keluar mengusir dua bajingan sial yang sudah menghempasnya dari awan-awan.
Saat membuka pintu, Alfredo dan Danindra sudah berdiri di depan pintu kamarnya. Dengan wajah tanpa dosa pula. Danindra malah mendongakkan kepalanya ke dalam kamar untuk mengetahui siapa yang bersamanya. Tetapi ia menghalangi kepala Danindra dan segera menutup pintu.
"Woi, Lu sembunyiin siapa di dalam?" seru Danindra meninju dadanya.
"Nggak ada siapa-siapa," jawabnya singkat lalu berjalan menuju sofa dengan maksud agar kedua bedebah itu mengikutinya.
"Nggak ada siapa-siapa? Maid Lu bilang kamu ada tamu wanita. Siapa?" desak Danindra.
Sejak kapan Danindra jadi makhluk mengesalkan seperti itu?
"Kamu lagi ngapain di dalam cuman pake handuk gitu keluar? making baby ya? Sedang di atas perut dan kami tiba-tiba datang?" Gelak Alfredo.
Bimasena pun ikut tergelak. "Brengsek kalian!" Ia menghempaskan tubuhnya dengan kasar di atas sofa.
Danindra dan Alfredo tertawa terbahak-bahak dan mengikutinya duduk di sofa.
"Jadi perkutut belum sempat masuk ke dalam sarang ya? Tampak dari wajahnya yang kesal dan merah, perkutut baru foreplay, masih ngintip, belum sempat masuk," seloroh Alfredo tidak berhenti menertawainya.
Danindra terpingkal-pingkal memegangi perutnya.
Ia hanya tertawa masam melihat dua bajingan itu. Sudah mengganggu momennya yang langkah dan sulit, sekarang menertawainya pula.
"Siapa sih cewek di dalam, si itu ... ," Danindra coba mengingat-ingat sebuah nama, "Nadia ya?"
Membuatnya tersentak seketika, bagaimana Danindra bisa mengingat nama Nadia sementara ia menyebut nama Nadia hanya sekali. Ketika Danindra menceritakan Adinda kepadanya. Saat mereka merasa senasib. Sama-sama menyukai bini orang.
"Yang sudah punya laki itu." Danindra melengkapkan informasinya, membuat Alfredo mengernyit meminta penjelasan kepadanya.
"Ngarang kamu, mana mungkin bini orang dibawa kemari," ia cepat berkilah sebelum Alfredo menaruh curiga.
"Jadi siapa di dalam?" Danindra semakin mendesaknya.
"Nggak ada siapa-siapa," jawabnya. "Ngapain sih kalian datang siang-siang begini? Nggak pada ngantor?"
"Ya mau besuk ellu, kirain lu sudah koma, tau-taunya sedang menggarap anak orang."
Gangguannya semakin lengkap manakala ia mendapat telepon dari sekretarisnya, Aurel.
"Kalau Pak Bima bisa, Pak Dirut meminta Pak Bima ikut rapat secara virtual. Rapat penting, agenda belum disampaikan."
"Kamu nggak bilang, saya masih diminta istirahat sama dokter?" protes Bimasena kepada Aurel.
"Sudah Pak, tapi rapatnya penting dan sangat bergantung kepada tugas Pak Bima."
Bimasena menghembuskan nafas kesal. Tidak mudah membuat wanita itu bisa datang ke apartemennya. Baru saja sempat menikmati bibir yang terpahat indah itu, situasi berubah tidak mendukung.
Mungkin Tuhan sengaja mengirim pengganggu untuk menyelamatkan Nadia dari dosa. Karena Nadia tidak akan mampu menghalangi ataupun menghindar dari hasratnya yang sudah memuncak.
Danindra kembali terbahak-bahak melihat ia mengumpat kesal.
Kini kedua bedebah itu telah pulang, tetapi ia harus mengikuti rapat secara virtual. Dan yang mengagetkannya, begitu ia masuk ke kamar, Nadia masih berdiri di tempat yang sama. Masih pucat dan gemetar.
Sehingga ia segera menghampiri Nadia, berusaha meredakan ketegangannya.
"Mereka sudah pulang sayang, kamu nggak usah ketakutan begitu."
"Alfredo nggak tahu kan aku di sini?" Nadia sudah hampir menangis.
"Nggak Nadia. Percayalah pada saya. Aku tidak akan membuatmu celaka."
Bimasena mengecup pipi Nadia, membersihkan rambut dari kening wanita itu lalu berucap,
"Aku mau rapat virtual dulu, kamu tunggu aku ya?" ucap Bimasena, membelai pipi Nadia yang sudah kehilangan darah.
"Tapi aku tunggu di luar," rengek Nadia, nampak sangat tertekan.
Akhirnya ia membuka pintu untuk Nadia demi mengurangi ketegangan dan perasaan tertekan wanita itu.
*******
Nadia bisa sedikit bernafas lega setelah duduk di sofa. Alfredo sudah pulang. Bimasena hendak rapat virtual, sehingga ia tidak perlu khawatir lagi Bimasena akan melanjutkan aksinya. Karena ia terlalu rapuh, dengan mudah Bimasena menguasainya. Ia tidak akan mampu menghentikan segala keinginan Bimasena.
Namun ia tidak dapat menahan dirinya untuk tidak tertawa, melihat Bimasena keluar dari kamar memegang IPad, berkemeja tetapi menggunakan celana pendek jenis baggy.
__ADS_1
"Kalau rapat virtual yang kelihatan bagian atas saja kan?" kilah Bimasena, mengerti mengapa ia menertawai Bimasena.
Namun yang membuat matanya membelalak dan jantungnya melonjak adalah, bukan karena Bimasena duduk di sampingnya. Namun begitu duduk, pria itu langsung merebahkan badan dengan kepala berada di pangkuannya. Menjadikan paha Nadia sebagai bantal.
"Orang di kantor kan tahunya aku sakit. Jadi rapat sambil baring," bisik Bimasena, mendahulu memberi alasan sebelum ia melayangkan protes.
Nadia hanya bisa menganga. Karena Tristan pun tidak pernah semanja ini padanya.
Ia jadi lupa bagaimana caranya bernafas.
Dengan badan kaku ia memandangi Bimasena yang tidur di pangkuannya menunggu tersambung dengan meeting-nya.
Ia tidak tahu bagaimana harus memposisikan tangannya.
Apa tangannya harus menyentuh Bimasena? Tidak. Ia sangat malu melakukan itu. Sehingga ia meletakkan tangannya di samping tubuhnya agak ke belakang.
"Bagaimana kabarnya Pak Bim? Sudah sehat?" Terdengar suara dari IPad Bimasena, begitu Bimasena sudah join meeting.
"Lumayan Pak, lusa sudah bisa masuk kantor," ujar Bimasena.
Hari ini juga bisa kok, gerutu Nadia di dalam hati.
"Bagaimana bisa, biasanya di sirkut pakai mobil sport kok tiba-tiba masuk hutan pakai trail lagi?" Suara yang berbeda dari sebelumnya terdengar melalui IPad.
"Patah hati Pak diputusin pacar, jadi cari olahraga yang berbeda biar nggak kepikiran terus."
Matanya melotot pada Bimasena, sementara Bimasena hanya tersenyum, balas memandangnya dengan nakal. Ia tidak percaya, bagaimana bisa Bimasena melempar lolucon seperti itu dalam rapat formal.
"Bodoh kali wanita itu, orang seperti kamu diputusin." Satu suara kembali terdengar membuat pipinya memanas. Ia yakin pipinya sudah merah padam.
Bimasena tergelak, memandangnya dengan menggoda. Tangan pria itu bergerak mengusap pipinya yang sudah memanas lalu jari-jarinya turun ke bibir. Tubuh Nadia menegang. Gerakan tangan Bimasena pada pipinya membuat fungsi kandung kemihnya bermasalah, menyebabkan tingginya dorongan untuk buang air kecil.
Memang rapat mereka hanya membahas hal receh seperti ini?
Dan satu suara lagi terdengar. "Eh Bima, kepala kamu itu di bantal apa di paha sih?"
Dan ia yakin pipinya sudah berasap, hangus terbakar. Karena panasnya melebihi panas alat seterika.
Dengan enteng Bimasena menjawab, "Bantal yang berbentuk paha. Tetapi bantalnya hidup." Bimasena tertawa geli dengan sangat licik menatapnya.
Ia tidak bisa mencegah lagi tangannya untuk tidak bergerak mencubit lengan Bimasena, namun dengan sigap tangan Bimasena menangkap tangannya. Menggenggam dengan erat lalu mengecup dengan bibir dingin pria itu.
Membuat aliran darahnya memanas. Ia kembali kesulitan bernafas. Perutnya mengejang. Mulutnya tiba-tiba kering. Sikap Bimasena sedari tadi membuatnya kehausan dan dehidrasi.
Dorongan untuk buang air kecil semakin tinggi manakala Bimasena menautkan jari tangan mereka, lalu mengurut satu persatu jari tangan Nadia.
Berapa lama ia bisa menahan rasa seperti ini. Menunggu sampai Bimasena selesai rapat? Mungkin ia tidak akan mampu menahannya bila tangan Bimasena sangat aktif seperti itu. Siksaan yang sangat manis.
Namun menyaksikan Bimasena yang berbicara dalam rapat membuat kekagumannya pada Bimasena meningkat berkali-kali lipat. Pria itu sangat cerdas, berwawasan dan berkualitas. Bagaimana Tuhan bisa menciptakan manusia nyaris sempurna seperti pria yang tengah berbaring di pahanya?
"Kalau Pemerintah menaikkan target produksi minyak menjadi menjadi 1 juta bph, Pemerintah harus membantu mengatasi permasalahan satu per satu, mulai dari perizinan, insentif fiskal, hambatan di daerah, hingga ketersediaan data."
"Beberapa strategi yang bisa ditempuh diantaranya meningkatkan nilai aset yang ada, akselerasi mengubah cadangan ke produksi atau reserves to production (R to P), Enhanced Oil Recovery (EOR), dan eksplorasi.
Nadia semakin tidak paham apa yang Bimasena ucapkan. Sehingga ia merasa semakin kerdil. Percaya dirinya tergerus, jatuh ke titik nadir. Terhadap Tristan pun ia merasa tidak sekerdil ini.
Ia dan Bimasena sangat tidak seimbang. Ia tidak akan bisa mengimbangi Bimasena dalam segala hal. Lalu mengapa ia bisa tersesat sejauh ini?
Kekerdilan hatinya semakin disempurnakan dengan pintu masuk yang tiba-tiba dibuka dari luar. Ia dan Bimasena sama-sama tersentak ketika seorang pria tampan masuk ke dalam. Seolah-olah ia sudah terbiasa keluar masuk di unit Bimasena.
"Sorry mengganggu Bro, handphone gua ketinggalan," ujar pria tampan itu berjalan ke meja makan dan mengambil sebuah handphone yang tergeletak di sana.
"Mana Alfredo?" seru Bimasena setengah bangun, menjauhkan IPad dari wajahnya.
"Nunggu di bawah," jawab pria itu tersenyum penuh arti kepadanya, membuat nafasnya tercekat di leher.
Bimasena menghembuskan nafas lega dan kembali menjatuhkan kepala di pahanya.
Mungkin pria itu yang bernama Danindra.
Ia dilanda rasa malu yang luar biasa karena mata pria itu terus menatapnya sambil mengurai senyum. Malunya seperti ia sedang bertelanjang bulat di tempat umum.
Ia ingin mendorong Bimasena dari pahanya tetapi ia tidak mampu melakukannya. Ia semakin tidak percaya melihat Bimasena begitu santainya menjadi pusat perhatian pria tampan itu.
"Manja banget lu Bim. Sudah lama gak merasakan kasih sayang ya?" olok pria itu. Tetapi Bimasena mengabaikan pria itu dan kembali mengikuti rapat lewat IPadnya.
"Mari Mbak, maaf mengganggu," pamit pria itu kepadanya. Ia hanya membalas mengangguk dengan senyum yang dipaksakan dan wajah yang sudah memanas.
Seperti inikah rasanya menjalin hubungan yang diluar kelaziman? Sama sekali tidak ada ketentraman yang dirasakan. Tidak ubahnya maling yang takut tertangkap basah.
Oh Tuhan. Mengapa ia sudah tersesat sejauh ini?
******
'Cantik' satu kesimpulan yang bisa ditarik Danindra begitu melihat wanita yang bersama Bimasena. Tetapi siapa wanita itu? Mengapa Bimasena tidak pernah mengatakan kepadanya bila ia punya kekasih?
__ADS_1
Dari wajah dan penampilannya, wanita itu jelas tidak termasuk dalam kategori wanita penggoda seperti wanita-wanita yang biasa mengelilinginya beserta Bimasena. Wanita-wanita yang mengumbar kemolekan tubuhnya.
Tetapi begitu menangkap raut cemas dalam wajah wanita itu ketika melihatnya, ia jadi curiga. Ada hal yang ganjil dalam hubungan mereka.
Mungkinkah wanita itu yang bernama Nadia? Wanita yang sudah bersuami yang dikagumi Bimasena? Dan sekarang Bimasena mampu menaklukannya.
Wajar kalau Bimasena dengan mudah memenangkan perang. Ia memiliki persenjataan yang super canggih. Dari wajah, otak sampai harta.
Namun rasa penasarannya akhirnya terjawab oleh Alfredo.
"Cakep juga pacarnya Bima," ujarnya pada Alfredo begitu kembali ke dalam mobil.
"Pacarnya namanya Nadia, sudah bersuami?" Alfredo mencercahnya dengan penasaran.
"Nggak tahu kalau Nadia namanya wanita yang di atas itu."
Alfredo lalu menunjukkan sebuah foto kepadanya.
"Iya, seperti itu wajahnya wanita yang bernama Bimasena."
Alfredo membelalak ke arahnya.
"Gila Bima, Nadia itu istri Tristan. Istri sahabat kami sendiri."
Sekarang Danindra yang membelalak ke Alfredo.
"Nekat benar si Bima. Sudah gila dia. Istri sahabat sendiri disikat. Lu simpan rahasia ini ya jangan sampai terdengar orang lain," Danindra memberi penekanan kepada Alfredo.
Danindra hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala kenekatan sahabatnya. Kalau sekedar melampiaskan syahwat bukankah banyak wanita cantik yang masih 'free' di luar sana?
Tetapi yang ia khawatirkan justru bila Bimasena serius. Lebih berbahaya lagi. Karena bisa memicu perang saudara.
Dan satu lagi, Bimasena mampu menaklukan Nadia sementara ia tidak mampu menaklukan Adinda. Jelaslah siapa yang lebih hebat diantara mereka berdua.
******
"Sudah sore Bim, aku harus pulang sebelum Tristan pulang," pamit Nadia kepada Bimasena, setelah mereka makan siang yang kesorean karena rapat Bimasena berlangsung lebih dari dua jam.
"Emang Tristan minta kamu pulang sebelum ia pulang?" Bimasena menghabiskan sisa air putihnya di dalam gelas lalu berdiri menghampiri Nadia.
"Nggak juga. Cuman sudah kebiasaan seperti itu."
"Istri yang baik. Beruntung banget Tristan."
"Justru Tristan sudah salah menikahiku. Kamu tahu sendiri kan ... Apa yang aku lakukan pada Tristan?" lirih Nadia.
"Nadia, jangan katakan setelah ini kamu akan memintaku menjauhi kamu lagi," Bimasena menunggu responnya.
"Aku tidak bisa menjanjikan apa-apa Bim."
"Aku belum memintamu untuk membuat komitmen Nadia, karena aku yakin kamu belum siap untuk saat ini, dan aku paksa pun tetap kamu akan memilih Tristan di saat sekarang. Aku tidak akan mendesak kamu mendedikasikan diri, waktu dan cinta kepadaku sampai semuanya muncul dari hatimu sendiri, dengan penuh keikhlasan."
"Tetapi tolong jangan minta aku menjauhi kamu dan jangan menghindari aku. Beri aku waktu menunjukkan siapa diriku. Persoalan pada akhirnya kamu ingin melanjutkan hidup denganku atau tidak, biarlah waktu dan jodoh yang berbicara."
Lidahnya kelu, tidak ada kosakata yang tersimpan dalam memorinya yang pantas untuk diucapkan. Hanya mata yang berkaca-kaca. Rasa haru menyelimuti hati, melihat betapa merendahnya Bimasena padanya. Padahal sungguh tidak layak pria itu merendah padanya.
"Jawab Nadia, kamu akan memberi aku kesempatan?"
Entah keberanian dari mana datangnya. Sekarang ia menengadah menatap Bimasena dalam-dalam.
"Aku beri kesempatan tapi ada syaratnya."
"Apa?" Bimasena balas menatap matanya dan semakin mendekatkan jaraknya.
"Aku tidak ingin melihat kamu merokok, aku tidak ingin kamu ikut balapan mobil sport dan aku tidak ingin mendengar kamu ikut off road naik motor trail lagi. Pokoknya aku tidak ingin kamu melakukan sesuatu yang membahayakan nyawamu," ucapnya menantang Bimasena.
Bimasena pun tertawa. Ia tidak mengerti malsud tawa Bimasena itu. Senang diberi perhatian atau merasa terkekang.
"Yang pertama dan kedua memang agak berat, tetapi akan kulakukan untukmu. Tapi apa kata-katamu bisa aku pegang? Apa kamu jamin, tidak akan berubah dengan tiba-tiba?"
Nadia mengangguk. Namun ucapan Bimasena selanjutnya seolah menjadi beban yang cukup berat baginya.
"Baik Nadia, aku pegang kata-katamu. Aku harap kamu bisa menjadi orang yang bisa dipegang kata-katanya."
********
Hi readersku tersayang,
Bagaimana kabarnya? Semoga kalian selalu diberikan oleh Tuhan nikmat kesehatan dan kebahagiaan.
Mohon maaf UP nya novel ini sangat terlambat. Karena Author memiliki kesibukan di dunia nyata yang tidak dapat ditinggalkan.
Salam sayang dari Author Ina AS
😘😘😘
__ADS_1