
Tristan melangkah dengan teramat berat, masuk ke sebuah gang sempit. Membawa beban pikiran yang menghimpit.
Kehidupan begitu misterius. Memang tidak selalu berjalan lurus dan mulus. Tetapi sungguh ia tidak pernah menyangka, bila dirinya akan menjadi korban dari sebuah pengkhianatan seorang istri dan sahabat.
Untuk kesekian kalinya ia menyesal menjatuhkan pilihan kepada Nadia, menjadi pendamping hidupnya. Nadia bukan hanya miskin ilmu dan wawasan. Tetapi juga miskin iman dan etika.
Dengan mudah tergelincir saat ujian rumah tangga datang menghampiri. Tidak mampu menjaga marwah sebagai seorang perempuan, terutama sebagai seorang istri.
Wajar bila selama ini ia menganggap istrinya bodoh. Tidak mampu mengendalikan hawa *****. Dengan mudah diperbodoh oleh naf su bira hi. Memberikan tubuh untuk menjadi pelampiasan ***** seorang pria. Lalu tanpa rasa malu mengatakan hamil dari pria itu dan meminta cerai.
Apakah ia akan menceraikan Nadia?
Ia mungkin sangat marah, sakit hati dan teramat benci juga jijik melihat wanita yang menjadi istrinya itu. Tetapi bukan berarti ia dengan suka rela akan mengikhlaskan istrinya kepada Bimasena.
Melepas Nadia, kemudian melihat Nadia dan Bimasena menari di atas penderitaannya? Tidak. Ia tidak akan memudahkan hal yang menjadi keinginan Nadia dan Bimasena itu terjadi. Ia tidak boleh dibodohi untuk kedua kalinya lagi.
Lagian ia tidak yakin Bimasena akan serius pada Nadia. Orang seperti Bimasena dikelilingi wanita cantik, Nadia tidak ada apa-apanya. Setelah merasa jenuh pada Nadia, Bimasena akan membuang Nadia seperti sampah.
Sehingga meskipun sakit hati pada Nadia, ia tetap harus melindungi Nadia dari Bimasena.
Dan salah satu upaya yang ia tempuh adalah mendatangi saudara iparnya, Bang Herial dan Mpok Nana.
"Sendiri Tris? Nadia di mana?" sapa Mpok Nana begitu ia tiba di rumah kontrakan Bang Herial.
Bang Herial, saudara laki-laki dari Nadia. Pria yang bangkrut karena kecanduan judi dan keseringannya bermain wanita. Saudara iparnya yang kini menjadi bebannya bersama Nadia. Mereka harus menanggung hutang Bang Herial di bank, dan membiayai sekolah dua anak Bang Herial.
"Iya sendiri Mpok. Nadia ada di rumah. Bang Heri ada di dalam ya?"
"Tuh nonton TV bareng Maurika dan Natalaya. Yuk masuk!" Mpok Nana bergeser untuk memberinya jalan masuk ke ruang tamu.
"Kamu ada masalah dengan Nadia?" Belum juga ia bercerita di hadapan Bang Heri, Mpok Nana sudah menebak. Mungkin hidup yang begitu malang tergambar di wajahnya. Ia aku, saat ini ia berwajah kelabu.
Ia tidak tahu bagaimana mengawali cerita, saat ia telah duduk di depan Bang Herial dan Mpok Nana.
"Begini Bang, Mpok. Aku mau minta tolong. Kalau Bang Herial dan Mpok Nana nggak keberatan, aku mau minta tolong sama Mpok Nana untuk mengambil alih dan mengelola Nadia Salon."
Ia harus bisa mengambil hati saudara iparnya sekarang. Demi mencegah saudara iparnya mendukung perselingkuhan Nadia dan Bimasena.
__ADS_1
Bang Herial saat ini mengalami kesulitan ekonomi. Selain tidak memiliki pekerjaan yang tetap, iparnya itu dililit hutang serta didesak kebutuhan hidup keluarga. Bisa jadi Bang Herial akan tergiur bila mengetahui siapa Bimasena. Bukan hanya mampu membebaskan Bang Herial dari jeratan hutang. Bahkan Bimasena mampu memberi Bang Herial modal usaha.
"Memang Nadia kenapa Tris?" Mpok Nana kembali bertanya.
Ia menunduk lalu menghembuskan nafas dengan berat. Suaranya tercekat karena deraan rasa sakit dan malu di hatinya untuk mengatakan yang sesungguhnya. Perilaku Nadia mungkin bisa membuatnya gila. Karena ia tidak terlatih untuk patah hati.
"Apa yang terjadi Tris?" Bang Herial bertanya dengan alis yang saling bertaut.
"Ada masalah besar antara aku dan Nadia, Bang. Hubungan kami merenggang saat ini." Mungkin ia lelaki yang cengeng. Karena ia tidak mampu mencegah air matanya. Air mata yang syarat akan amarah sekaligus ketidak berdayaan.
"Memang ada apa diantara kalian?" Bang Herial semakin penasaran.
"Nadia." Suaranya kembali tercekat. "Nadia menjalin hubungan spesial dengan temanku. Dia mengaku hamil dari pria itu, dan meminta aku menceraikannya." Air matanya semakin deras. Tetapi ia dikagetkan dengan bunyi asbak yang menghantam dinding, lalu pecah menjadi kepingan kecil di lantai.
Wajah Bang Herial yang sudah sangar sebelumnya semakin menyeramkan. Rahangnya menegang dan tangannya mengepal. Api amarah berkorbar di wajah Bang Herial.
"Siapa nama pria itu? Aku akan membunuhnya. Berani mengganggu rumah tangga adikku."
*******
Dari jendela kamar depan, Nadia menatap taman kecilnya yang ditumbuhi rumput gajah mini. Bonsai Adenium ditanam di tengah-tengahnya, dan sekarang sudah mengeluarkan beberapa kuntum bunga berwarna merah yang telah mekar.
Otaknya berpikir keras bagaimana mengatasi masalahnya.
Menggunakan debit card yang diberikan Bimasena? Tidak mungkin ia menggunakan untuk kepentingan pribadinya. Lagian nanti bila bertemu Bimasena, ia akan mengembalikan kedua kartu tersebut.
Ia belum menjadi istri Bimasena, sehingga Bimasena tidak memiliki kewajiban untuk menghidupinya. Soal bayi yang ia kandung, toh bayi itu belum membutuhkan apa-apa sekarang. Cukup menjaga asupan makanannya. Dengan tabungan yang tersisa, ia masih mampu membeli makanan bergizi, susu untuk ibu hamil serta suplemen ibu hamil.
Sejak memastikan kehamilannya di dokter obgyn, ia mulai mencari tahu makanan apa yang boleh dan tidak boleh dimakan, dan konsumsi makanan apa yang disarankan agar bayi sehat.
Begitupun skincare yang bisa digunakan dan yang tidak boleh digunakan untuk ibu hamil. Ia sudah menjauhkan skincare-nya yang mengandung retinol, AHA BHA, dan salicylic acid karena berbahaya untuk kehamilan.
Satu-satunya yang tidak bisa ia hindari adalah stres yang ditimbulkan oleh beban pikiran yang berat. Hubungan selanjutnya dengan Tristan dan Bimasena sangat mempengaruhi pikirannya.
Kapan Tristan akan menceraikannya? Atau ia yang harus mengajukan cerai? Bila ia yang akan mengajukan cerai pada Tristan, maka ia harus memohon izin pada mertua juga pada abangnya. Apa mertua dan abangnya akan mengizinkan? Dan merestui mereka bercerai?
Ia masih diam tak bergeming memandang keluar jendela. Selama ini, ia hanya berpikir bila hidupnya akan lebih bahagia bila hidup bersama Bimasena. Ternyata jalan yang harus ditapaki untuk bersama Bimasena tidaklah mudah. Ia merasa beban yang dipikul teramat berat. Mungkin Tuhan telah menghukumnya, karena ia adalah wanita yang penuh dosa.
__ADS_1
Sampai sebuah bunyi notifikasi handphone -nya berbunyi. Lalu ia tersenyum saat melihat nama pengirim pesan.
Baru melihat nama itu di layar ponselnya hatinya sudah berdebar dan diliputi kebahagiaan. Segala beban pikirannya meluruh. Bimasena selalu menjadi penenang hati.
Apalagi Bimasena mengirim foto selfie dimana dia bepakaian berwarna orange dan berhelm kuning, pakaian standar keselamatan perusahaan migas. Foto yang mampu mengobati rindunya. Padahal baru sehari pria itu berangkat ke Mamuju.
Bimasena:
Aku sedang berada di offshore oil rig lepas pantai Mamuju. Signal kurang bagus di sini. Tapi perusahaan menyediakan layanan internet.
Bimasena:
Menjadi pekerja offshore (wilayah kerja lepas laut) bukan pekerjaan mudah. High risk (risiko tinggi). Menantang maut. Bukan hanya risiko kebocoran, kebakaran, dan ledakan saja. Risiko lain seperti gempa bumi dan tsunami turut mengancam.
Tiba-tiba ia dilanda khawatir terhadap keselamatan Bimasena. Karena ia baru tahu risiko pekerjaan Bimasena. Segala kemungkinan bisa terjadi.
Sebelumnya yang ia khawatirkan keselamatan pria itu dalam penerbangan ke anjungan, atau terjatuh dari atas anjungan ke laut dan terbawa arus. Ternyata banyak risiko yang ia tidak ketahui.
Bimasena:
Tetapi kami sudah terbiasa. Dan menikmati pekerjaan ini. Tidak ada pekerjaan yang berat bagiku. Yang berat hanyalah ... rindu padamu saat terpisah jarak dan waktu.
Hatinya berdesir, bergejolak, begitu membaca ungkapan rindu itu.
Haruskah ia membalas ungkapan rindu Bimasena? Tidak, ia masih berstatus sebagai istri orang. Cukuplah hatinya yang berbisik, aku juga rindu kamu Bim. Aku sayang kamu Bim. Semoga Bimasena dapat memaknai bahasa hatinya.
Bimasena:
Suatu saat, aku akan membawa kamu dan anakku ke anjungan minyak. Agar istri dan anakku tahu seperti apa pekerjaan suami dan ayahnya. life at sea.
Ah, Bimasena. Lelaki yang penuh daya pikat. Ia kembali jatuh dalam buaian kata-kata yang meluluhkan segala keangkuhan hati. Sehingga tak sabar menanti kapan waktu untuk dapat berjumpa.
Betapa ingin mengirim pesan kepada pria itu, berisi rangkaian kata yang menggambarkan segenap perasaannya pada pria tersebut. Demi melepas aroma rindu. Tetapi ... ia malu.
Bimasena:
Oh ya, apa kabar calon istri dan anakku yang ada dalam kandungannya?
__ADS_1
Apa ada wanita yang jatuh cinta berkali-kali pada pria yang sama? Itulah dirinya, terhadap Bimasena.
Ia tidak akan bisa melangkah pergi lagi. Karena Bimasena telah mengunci hatinya.