REUNI INDAHNYA MENDUA

REUNI INDAHNYA MENDUA
86. Reuni: Impian Yang Tidak Kesampaian


__ADS_3

Dengan segera Nadia memberikan bucket bunga itu kepada seorang wanita lajang. Agar dirinya berhenti menjadi bahan tertawaan dan lolucon para tamu undangan.


Bucket itu diberikan kepada Reyna, bukan Mithalia. Entah mengapa ia kurang senang dengan kecentilan Mithalia terhadap pria itu.


Apa itu ... cemburu namanya?


Tidak, ia tidak boleh lagi.


Setelah itu ia berjalan ke sisi lain ballroom, memisahkan diri dari teman-temannya. Duduk bergabung dengan keluarga pengantin.


Buat apa?


Tentu saja buat menjauh dari ... dia.


Bila hati dipenuhi nyanyian rindu. Yang melantunkan namanya siang dan malam. Bagaimana rasanya bila berada di tempat yang sama dengan orang yang bertahta di hatimu, sementara kalian tidak saling tegur, seolah orang yang tidak saling kenal?


Melihatnya namun tiada lagi tegur sapa, hanya perasaan yang saling bersahutan. Tidak ada yang lebih menyiksa dari keadaan ini.


Mengapa harus ada temu, disaat dirinya sedang berjuang mengubur semua kenangan? Disaat ia sedang berjuang mengobati luka karena perpisahan?


Mengapa pria ilusi harapannya datang kembali?


Netranya tanpa diperintah selalu bergerak sendiri, mencari-cari dimana pria berkemeja navy itu. Tidak sulit menemukan pria tersebut. Karena dimana pun dia berdiri, akan menjadi bintang yang bercahaya. Sehingga kemilaunya membuat bintang-bintang lain akan kelam sinarnya.


Namun saat netranya menangkap bayangan pria itu yang sedang berdiri berbincang dengan beberapa temannya, disaat bersamaan pria itu juga menatap ke arahnya. Sehingga ia buru-buru menundukkan pandangannya dengan jantung yang berdegup kencang.


Ia pun mencari kesibukan dengan handphone-nya.


Mencari-cari nama bayi yang akan diberikan kepada puteranya nanti bila telah lahir. Ia sudah meminta kepada Tristan untuk mencari nama. Namun sampai saat ini Tristan belum pernah menyebut nama untuk bayi yang ditunggu kelahirannya.


Tanpa mendongakkan wajah, bola matanya kembali bergerak mencari-cari ... dia. Memergoki dia yang secara bergantian menatap lawan bicara dan menatap dirinya.


Beberapa kali ia mencuri-curi pandang pada pria berkemeja navy itu. Dan selalu saja di saat yang sama pria itu juga menatapnya. Seolah mengirim sinyal pesan melalui tatapan. Otaknya mampu menafsirkan pesan tersebut, tetapi lidahnya tidak bisa mendeskripsikan.


Berbagai rasa bercampur aduk, karena ia sangat tahu bahwa sepasang mata cokelat tegas mengintainya.


Kerinduan, rasa bersalah karena berubah di tengah jalan, kesedihan, hati yang galau, menjadi senjata yang membunuh secara perlahan.

__ADS_1


Malam yang tidak bersahabat. Resepsi pernikahan Alfredo menjadi telaga luka baginya dengan hadirnya pria yang pernah menumbuhkan bunga di taman hatinya. Karena dia adalah impian yang tidak kesampaian.


Sampai ia merasa tidak akan mampu lagi membendung air mata. Ia pun segera berdiri, berjalan dengan langkah tergesa menuju pintu keluar ballroom.


Bermaksud untuk menumpahkan tangisnya di dalam toilet. Tapi terlambat, air matanya sudah lebih dahulu tumpah saat ia masih berada di dalam ballroom. Sehingga ia berjalan sambil menyeka air matanya.


Di dalam salah satu bilik toilet wanita, ia menangis tertahan. Menangisi pria yang telah membuatnya kini kehilangan hasrat, seolah hidupnya saat ini hanya meniti jalan yang hampa.


Begitu puas menumpahkan tangisnya, ia keluar dari bilik. Lalu membasuh wajahnya di wastafel.


Setelah itu ia mengambil handphone dari dalam clutches-nya, kemudian menghubungi suaminya.


Nadia : Tris, kita pulang ya. Aku gak enak badan.


Tristan : Baiklah. Eh, kamu dimana?


Nadia : Aku di toilet, samping kiri ballroom.


Tristan : Tunggu aku di depan toilet saja. Aku pamit pada Alfredo dan teman-teman dulu.


Ia segera mengeringkan wajahnya menggunakan kertas tissue. Lalu melangkah keluar dari toilet wanita.


Mengapa dia berdiri di situ?


Kakinya mendadak gemetar. Telapak tangannya terasa dingin. Ia berdiri terpaku diam membisu menatap wajah pria itu.


Melihatnya muncul dari dalam toilet wanita, pria itu berdiri tegak menghadap ke arahnya dengan kedua tangan di dalam saku celana.


Mereka berdiri berhadapan dengan jarak terpaut lima langkah.


"Kamu baik-baik saja?" tanya pria yang telah membuatnya insomnia. Meskipun intonasi terdengar datar, namun ia bisa melihat kecemasan di dalam mata cokelat itu.


Bagaimana bisa menjawab bila tiba-tiba ia diliputi perasaan takut? Bukan takut terhadap pria di depannya, karena sesungguhnya ia teramat merindukannya. Namun khawatir jika mereka tertangkap mata seseorang bila mereka bertemu di depan toilet. Lalu berhembus kabar miring yang bisa merusak hubungannya kembali dengan Tristan.


"Bim, aku mohon jangan temui aku lagi. Aku mohon, jangan dekati aku!" serunya dengan suara bergetar, tanpa menjawab kecemasan pria itu. Matanya kembali berkaca-kaca.


"Tadi aku melihat kamu menangis saat keluar dari ballroom, aku khawatir, jadi mengikuti kamu," terang Bimasena.

__ADS_1


"Maafkan bila ternyata tindakanku mengganggu ketenanganmu," lanjut pria itu lagi.


"Pergilah Bim sebelum Tristan datang," ucapnya dengan suara lirih yang bergetar.


"Baiklah, aku akan pergi. Tapi kamu masih ingat kan nama yang aku berikan untuk bayi itu?" sahut Bimasena.


Membuatnya terkesiap, sehingga tidak mampu lagi menahan air mata yang mendesak keluar.


Ternyata Bimasena masih memikirkan anak yang dikandungnya.


Ia tidak akan pernah melupakan nama itu. Tapi sama sekali tidak berniat untuk memberi nama bayinya dengan nama itu. Tristan yang akan memberi nama untuk bayi itu. Bukankah ia harus membunuh perasaannya terhadap pria tersebut?


Namun bukannya menyampaikan penolakan. Ia malah mengangguk. Sehingga Bimasena tersenyum simpul padanya.


"Terimakasih Nadia. Jaga diri dan bayi itu baik-baik." Bimasena mengangguk hormat padanya lalu berbalik hendak melangkah meninggalkannya. "Permisi!"


Tetapi tanpa sadar mulutnya memanggil nama pria itu. "Bim!" serunya dengan tenggorokan yang nyaris tercekat.


Sehingga Bimasena kembali berbalik, berdiri menghadap ke arahnya.


"Kamu baik-baik saja?" Ia tidak percaya dengan pertanyaan yang terlontar begitu saja dari mulutnya.


Namun ia bisa mengerti, bila mulutnya bisa merasakan bagaimana ia selalu mengkhawatirkan keadaan pria itu. Bila ia ingin pria itu hidup sehat dan bahagia meskipun tanpa dirinya.


"Kamu tidak perlu menanyakan keadaanku Nadia. Karena keadaanku adalah cerminan dari keadaanmu."


"Bila kamu masih merindukan aku, maka begitupun aku. Bila kamu ternyata tidak mampu melupakanku, sama, aku juga kesulitan melupakanmu," tutur pria itu.


"Bila kamu merasa sepi karena aku masih terperangkap di dasar hatimu, begitupun sebaliknya diriku. Bila bayanganku belum bisa pergi, seperti itu pula bayanganmu. Terus menggangguku," tambah Bimasena.


Kalimat yang terucap dari bibir pria itu seakan membelainya. Laksana kidung harapan yang menyejukkan bilik hatinya yang berantakan.


Tetapi hanya harapan yang semu.


"Namun bila akhirnya kamu sudah bahagia dengan Tristan, maka aku turut bahagia untukmu. Dan maaf, aku akan selalu ada, untuk memastikan kamu bahagia. Tapi kamu tidak perlu khawatir, aku tidak akan mengganggu hubungan kalian."


"Permisi Nadia." Pria itu kembali tersenyum simpul, mengangguk hormat padanya, lalu melangkah pergi. Derap langkah terdengar sampai pria itu menghilang di ujung koridor.

__ADS_1


Sekarang ia semakin menderita oleh sakitnya cinta. Jatuh dalam duka derita yang tak tertahankan.


__ADS_2