
BIMASENA
"Heli sudah standby di Rooftop Pak!" Terdengar suara sekretarisku dari belakang. Akupun berbalik ke arahnya.
"Yang lain dimana?" tanyaku. Aku akan berangkat bersama Direktur Hulu dan SVP Development dan Technology. Beberapa staf teknis yang berangkat duluan sudah menunggu di Anjungan Minyak.
"Sudah naik ke atas Pak," jawabnya.
Akupun bergegas keluar ruangan disusul sekretarisku dan memasuki lift untuk menuju Rooftop.
Helikopter 505 Jet Ranger X sudah menunggu pada helipad di atap gedung FreedCo Energy Tower yang akan membawa kami ke Anjungan Minyak dan Gas lepas Pantai Karawang.
Getaran dari baling-baling terasa ketika pertama kali mesin menyala, saat helikopter masih berada di rooftop. Namun begitu helikopter tak lagi menjejak darat, getaran itu berkurang dan penerbangan pun terasa nyaman
Beruntung Nadia menolak ikut. Apa jadinya bila Nadia bersedia ikut ke anjungan minyak dan gas lepas pantai? Maka diriku menjadi damn boy (pria brengsek) berwatak maling, yang membawa istri orang, istri teman sendiri ke tempat yang ia tidak perlu ia kunjungi.
Tadi pagi tanpa rencana, setelah jogging di Kawasan Epicentrum, tiba-tiba saja saya mengarahkan kendaraan ke alamat rumah yang diberikan oleh Tristan saat bertemu di Bandara.
Mengikuti dorongan hati seorang lelaki, yang tanpa disadari memerintahkan untuk menemui seorang wanita dengan paras yang tidak pernah jemu untuk dipandangi.
Celakanya wanita itu adalah istri Tristan, temanku sendiri.
Mendapati Nadia sedang memotong rumput di halaman. Ia begitu gugup dengan kedatanganku yang tiba-tiba. Entah mengapa wanita itu selalu gugup dan tidak bisa rileks bila bertemu denganku.
Rasanya pembawaannya dulu tidak seperti itu. Dulu ia begitu anggun dan percaya diri. Sekarang sepertinya ia kehilangan kepercayaan diri dan lebih sedikit bicara.
Atau ia seperti itu hanya padaku saja?.
Saking gugupnya ia malah terjatuh saat melangkah dari taman ke teras rumah.
Nadia, Nadia.
Aku tidak mengerti dengan naluri yang muncul belakangan ini. Berawal sejak pertama kalinya aku menghadiri reuni SMA.
Dulu aku pernah mengagumi dan tertarik pada seorang gadis cantik teman sekelas, saat kelas 1 SMA. Namun hanya sampai mengaguminya saja. Aku tidak pernah punya keberanian untuk mendekati, apalagi mau menyampaikan ketertarikan.
Rasa itu akhirnya tergilas putaran waktu sejak aku meninggalkan Indonesia dan menetap di Amerika. Tidak ada rasa yang bersisa. Gadis itu terlupakan sama sekali.
Sampai ketika aku hadir di Reuni, dan melihat seorang wanita yang tak juga beranjak dari tempat duduknya sekedar menyapa ataupun berbasa-basi kepadaku seperti wanita yang lain.
Wanita itu adalah gadis yang aku kagumi dulu. Kecantikannya tetap sama, hanya saja sekarang ia lebih dewasa. Dan melihatnya, kembali membuat aku terkesan. Rasa yang sudah lama tenggelam muncul kembali ke permukaan.
Aku mengkhawatirkan naluri yang muncul belakangan ini. Entah hanya kecenderungan berpetualang seorang lelaki pada wanita yang good looking, atau dengan selipan perasaan tertentu.
Masalah besar akan muncul, bila aku ditundukkan oleh naluri itu. Naluri itu bisa menjerumuskan. Karena keadaan wanita itu sudah berbeda. Ia sudah terikat. Terlarang.
Dan kalaupun ada selipan perasaan, aku berharap perasaan itu easy come, easy go. Apa yang cepat datang, akan cepat pergi juga. Karena perasaan itu sangat beresiko. Bisa menghancurkan mahligai rumah tangga orang. Dan cap Perebut Bini Orang atau Teman Makan Teman akan melekat sempurna padaku.
Yang paling aku cemaskan adalah, Nadia akan menjadi korban.
Nadia, you make me confused (kamu membuat aku galau).
*********
"Ini untuk aku Kak?" tanya Hakimah, ketika Tristan menyerahkan sebuah kotak padanya.
"Iya, mudah-mudahan kamu suka dengan pilihanku," jawab Tristan dengan wajah menegang. Khawatir hadiahnya ditolak oleh Hakimah.
"Tapi ini dalam rangka apa ya Kak? Aku kan nggak ulang tahun?" tanya Hakimah keheranan.
"Bukan dalam rangka apa-apa. Aku hanya ingin memberimu hadiah saja," sekarang Hakimah betul-betul membuat Tristan gundah.
Hati wanita sedalam samudera, susah ditebak. Ia tidak tahu apa Hakimah senang atau tidak dengan hadiah yang ia berikan.
"Isinya apa ya Kak? Boleh aku buka?"
"Silahkan!" jawab Tristan berdebar. Ia tidak memiliki pengalaman yang banyak dalam mendekati kaum hawa. Ia baru dua kali menjalin hubungan dengan wanita. Cinta pertamanya dan pacar kedua yang menjadi istrinya sekarang.
Hakimah tersenyum, namun nampaknya ia tidak begitu gembira mendapat hadiah dari Tristan. Sebuah jam tangan merk ternama.
"Kamu nggak suka?" tanya Tristan sedikit kecewa denga reaksi Hakimah yang diluar ekspektasinya.
"Suka kok Kak, jam tangannya cantik, hanya bingung saja, kenapa Kak Tristan menghadiahkan jam mahal begini kepadaku. Kak Nadia tahu?"
__ADS_1
Pertanyaan Hakimah tak urung membuat Tristan gelagapan untuk menjawab.
"Ti..ti..dak. Nadia tidak perlu tahu. Syukurlah kalau kamu menyukai jam itu. Tidak percuma aku beli untukmu. Kalau kamu bertanya mengapa aku memberimu hadiah, kelak kamu akan tahu sendiri kenapa. Kamu cukup cerdas, kamu pasti bisa membaca tanpa aku harus katakan."
**********
Untuk ketiga kalinya Nadia mencoba menghubungi Tristan lewat telepon selulernya, hasilnya sama. Panggilannya tidak dijawab oleh Tristan.
Dari awal pernikahan memang Tristan seperti itu, jarang menghubunginya bila sedang berdinas keluar kota. Namun kali ini bagi Nadia sangat keterlaluan. Sudah seminggu lebih Tristan di Jambi, tidak pernah sekalipun Tristan menghubunginya.
Apa ia sama sekali tidak khawatir dengan keadaan istrianya? Atau apa ia sudah lupa bila punya istri di Jakarta yang menunggunya?
Mungkin seandainya Nadia tidak pernah menghubungi Tristan tiga kali selama Tristan di Jambi, maka suami istri itu tidak akan pernah saling mendengar suara.
Sangat menyedihkan.
Seperti itukah pernikahan? Tak perlu saling mengkhawatirkan? Tanpa saling merindukan?
Nadia menggigit bibirnya, ia tidak mengerti mengapa begitu dingin Tristan padanya. Tidak seperti awal pernikahan mereka. Masalahnya, pada orang lain Tristan tidak sekaku pada dirinya.
Apa karena ia belum memberikan keturunan pada Tristan setelah hampir lima tahun pernikahan?
Atau Tristan sudah jenuh dengannya?
Ia sudah menikah, namun selalu menjalani malam yang sepi. Sepi dan sunyi, dua perasaan yang paling tidak mengenakkan dalam hidup.
Namun dirinya sudah akrab dengan kesunyian. Atau mungkin bukan malam yang sunyi, namun hati yang sudah terlanjur sepi.
Tristan sering berdinas keluar kota, sehingga Nadia sudah terbiasa tanpa hadirnya. Atau meskipun tinggal di rumah, Tristan memilih menghabiskan waktu dengan pekerjaan atau game favoritnya.
Terkadang ada waktu dimana Nadia lelah dengan keadaan dan mulai berharap ada seseorang yang bisa diajak bicara mengenai masalahnya. Namun justru ia memilih memendam sendiri daripada harus membeberkan masalah rumah tangganya pada orang lain.
Mungkin karena itu, begitu ada seseorang yang datang menghampirinya meskipun sejenak dan juga belum jelas niatnya, jiwanya yang haus perhatian dengan cepat tergugah. Seperti yang dilakukan pria itu.
Bimasena.
Namun Nadia tidak mengerti dengan Bimasena.
Namun ternyata tidak demikian.
Bimasena sama sekali tidak pernah menghubunginya. Atau pun datang untuk menemuinya lagi sejak ia datang ke rumahnya hari itu.
Dan memang semestinya harus seperti itu. Interaksi mereka berdua tidak perlu ada sama sekali. Karena interaksi antara mereka berdua tidak ubahnya seperti bermain api, akan terbakar sendiri.
Namun mengapa sekarang jiwa kesepian Nadia gelisah memikirkan Bimasena?
Rasa hangat sentuhan tangan Bimasena pada lengannya saat membantunya berdiri ketika ia terjatuh di teras, masih terasa sampai sekarang.
Begitupun sentuhan Bimasena saat mengoles salep ke lututnya, masih membekas. Menggetarkan sukma bila mengingatnya.
Ia tidak bisa membohongi hatinya bila....
Ia ingin melihat Bimasena lagi.
Ia ingin mendengar suaranya lagi.
Kalaupun keduanya tidak bisa, cukup pesan singkatnya.
Apakah ini yang namanya rin..du?
Atau hanya karena kecewa dengan Tristan sehingga ia butuh pelarian?
Oh tidak, ini tidak boleh terjadi.
Tanpa sadar Nadia menggelengkan kepalanya.
Lalu menutup kepalanya dengan bantal. Berharap bayang-bayang Bimasena segera enyah.
Dan benar saja, bayang-bayang Bimasena seketika berganti dengan bayangan Tristan, saat ponselnya yang tersimpan di atas meja rias berdering.
Akhirnya Tristan menelpon balik. Namun ia begitu enggan untuk beranjak dari tempat tidur untuk menjawab telepon itu. Hati sudah terlanjur kecewa dan sakit.
Biarkan Tristan mengetahui bagaimana rasanya telepon tidak dijawab berkali-kali.
__ADS_1
Ponselnya berdering untuk kedua kalinya. Ia masih enggan menjawab panggilan Tristan. Hanya memandang ponsel yang bergetar di atas meja rias. Sampai ponsel itu kembali diam.
Untuk ketiga kalinya ponsel itu berbunyi, Nadia tetap bergeming di tempat tidur. Mendengar dering telepon dari Tristan cukup menghibur hatinya yang sudah terlalu lama diabaikan. Ia sudah kehilangan selera untuk berbicara dengan Tristan.
Nadia hanya akan menjawab telepon Tristan pada dering keempat, agar impas dengan kekesalan dan kekecewaan yang dirasakan karena Tristan tidak menjawab tiga panggilannya.
Dering ketiga berhenti. Nadia pun tersenyum puas sambil membayangkan wajah kesal Tristan.
Ia pun bangun dari tempat tidur meraih ponsel di atas meja rias. Bila Tristan menelpon untuk keempat kalinya, maka ia sudah akan menjawabnya.
Namun begitu melihat ponselnya, senyum puas Nadia mengabaikan panggilan Tristan memudar, berganti dengan mulut membulat karena deraan penyesalan.
Tiga panggilan tak terjawab di ponselnya bukan dari Tristan, tetapi dari ......
Bimasena.
Seketika itu pula ia menyesali kemalasannya untuk sekedar melihat siapa pemanggil saat ponselnya berdering.
Mengapa begitu yakinnya ia mendapat telepon dari Tristan yang jelas-jelas mengabaikannya.
Sekarang ia kembali kecewa karena melewatkan panggilan Bimasena.
Mau menelepon balik Bimasena? Ah malu.
Apa perlu ia berkirim pesan pada Bimasena?
Namun baru hendak mengetik pesan saja, jantungnya sudah berdebar tidak karuan.
Akhirnya ia pun kembali berbaring di atas ranjang merutuki kesialan dirinya malam ini.
Yang ditelepon mengabaikannya.
Yang ditunggu-tunggu teleponnya, malah terlewatkan.
Mungkin dirinya memang ditakdirkan terus berteman dengan sepi. Sekarang, sepi adalah sahabat yang paling mengerti. Terus mendampinginya.
Diam-diam Bimasena kembali hadir di kepala.
Terus mengganggu pikiran, begitu sulit dibunuh.
Ia sangat menyadari, Bimasena hanyalah mimpi-mimpi. Yang tak mungkin digapai, apalagi dimiliki.
**********
Bimasena mendengus kecewa sembari melempar ponselnya begitu saja ke atas tempat tidur, tiga panggilannya tidak ada yang dijawab oleh Nadia.
Ia lalu melihat jam dinding, masih pukul 9 malam ia yakin wanita itu belum tidur.
Ia sudah berusaha untuk mengendalikan nalurinya menghubungi wanita itu, istri Tristan. Dengan melarutkan diri dengan pekerjaan, namun malam ini ia tak mampu membendung keinginannya.
Ia membuka tirai jendela apartemennya, berharap wajah tak menjemukan itu berhenti mengganggu pikirannya, namun view yang disajikan apartemen yang terletak di Jalan Casablanca itu tidak banyak membantu. Ia masih gelisah karena telepon yang tidak dijawab itu.
Namun beberapa saat kemudian ia bernafas lega. Karena yang ia lakukan barusan merupakan tindakan tercela. Bahaya besar mengancam. Ia masih beruntung karena Nadia mematahkan langkahnya. Bagaimana bila Nadia malah terpikat padanya? Maka bisa dipastikan ....
Ia memiliki banyak pilihan wanita, namun mengapa malah istri teman sendiri yang mampu menggetarkan hatinya, membuatnya lebih berenergi dan membuat jiwa penakluknya bergelora.
Ah... Nadia..
Menyenangkan namun menyiksa. Dua perasaan ini membalut diri.
Menyenangkan, begitu merasakan deru di hati.
Tetapi menyiksa, menyadari Nadia terlarang untuknya, bukan untuk dimiliki.
Dan apa yang ia lakukan pada Nadia merupakan hal yang sia-sia. Atau mungkin biarkanlah waktu yang menjawab.
Sayang, ia memiliki sifat pantang menyerah. Ia adalah pria yang gigih dan memiliki kemauan yang keras dalam mencapai apa yang ditargetkannya.
Ternyata sifat itu tidak hanya berlaku untuk pekerjaannya semata. Namun juga berlaku malam ini.
Dan malam ini ia ingin mendengar suara Nadia.
Sekali lagi bila Nadia masih tidak menjawab teleponnya, maka ia akan mengunjungi rumahnya, malam ini juga.
__ADS_1