REUNI INDAHNYA MENDUA

REUNI INDAHNYA MENDUA
101. Hidup Dibawah Pengaruhnya


__ADS_3

Seperti kebiasaannya setiap pagi pada hari kerja, Nadia dan bayinya, baby Glor, sudah siap berangkat ke kantor. Menumpang mobil Lily tetangganya.


"Selamat pagi bayi tampan, ceria sekali pagi ini. Apa karena semalam ada yang apelin Glor ya?" sapa Lily kepada Glor, saat ia dan Glor naik ke atas mobil Lily dan duduk pada seat depan.


Lily menyapa baby Glor, tetapi mengapa ia yang merasa terusik? Ya, Lily pasti menyindir dirinya.


"Hari ini kamu beda deh Nadia. Keliatannya bahagia sekali. Berbunga-bunga. Padahal baru kemarin menangis di ruang sidang. Apa karena si Mr B datang semalam ya?" berondong Lily dibarengi rasa ingin tahu yang cukup besar.


Begitu pintu mobil ia tutup, Lily mulai melajukan kendaraan keluar dari garasi.


"Kalian ngapain saja?" pertanyaan kurang sopan dari Lily.


"Maksud kamu kami ngapain saja, kamu curiga kami ngapa-ngapain gitu?"


"Ih kok tersinggung? Aku kan cuma bertanya kalian ngapain saja? Makan malam bersama atau mengasuh Glor bersama misalnya," Lily menggantung ucapannya.


"Ly, bagaimana aku bisa berbunga-bunga? Bimasena itu mahluk paling nyebelin yang pernah aku temui," ungkapnya.


"Ha? Memang kamu diapa-apain sampai kamu jadi kesal gitu?" Lily kembali menggodanya.


"Diapa-apain? Dia nggak ngapa-ngapain sama sekali." Ia mendengus.


Karena tidak mungkin menceritakan kepada Lily kejadian memalukan semalam bersama Bimasena. Saat ia sudah menengadahkan wajah berharap mendapat ciuman, ternyata dirinya hanya menjadi bahan tertawaan Bimasena.


"Jadi kamu pengen diapa-apain?" Lily ternyata hampir sama menyebalkan dengan orang itu.


"Ih kamu kok sama ngeselinnya dengan orang itu?"


Hari ini ia membawa sebuah misi ke kantor firma hukum tempatnya bekerja. Untuk menjawab rasa penasarannya. Begitu banyak pertanyaan yang mengendap dalam benaknya.


Begitu ia selesai menidurkan Glor di atas box bayi, ia hendak menemui Ibu Titiana. Bertanya soal hubungan Ibu Titiana dengan Bimasena. Karena ia mencurigai Glor bertemu dengan ayah ... maksudnya Bimasena, melalui Ibu Titiana.


Namun di dalam ruangan, Ibu Titiana sementara menerima tamu. Sehingga ia duduk di luar ruangan Ibu Titiana di kursi Ibu Helmi yang kosong untuk menunggu.


Sambil mengobrol dengan ratna, tangannya lincah membuka buku yang berisi daftar klien firma hukum Titiana April & Partners, yang tergeletak di atas meja ibu Helmi.


Ia penasaran, apa namanya juga ikut tercantum dalam buku itu. Karena ia pernah menggunakan jasa salah satu advokat di kantor tersebut, yaitu Ibu Melanie. Bantuan jasa advokat gratis dari Ibu Titiana.


Dibalut rasa penasaran, iseng-iseng ia membaca satu persatu klien pengguna jasa firma hukum Ibu Titiana, yang diurut sejak tahun awal berdirinya firma tersebut.


Dalam buku daftar klien yang menggunakan penyedia bantuan hukum Titiana April & Partners, terdapat dua jenis klien. Yang pertama korporasi dan yang kedua individu.


Dan yang membuat ia tercengang karena ia menemukan nama sebuah perusahaan yang menjadi klien kantor advokat hukum tersebut.


FreddCo Energy.


Perusahaan penghasil dan pengecer minyak multinasional yang berpusat di Amerika Serikat.


Namun bukan informasi itu yang hendak ia sampaikan. Tetapi perusahaan itu adalah ...


Nama perusahaan tempat Bimasena bekerja dulu.


Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah, karena ia tidak menemukan namanya dalam buku itu, tetapi menemukan nama B i m a s e n a sebagai salah individu pengguna jasa.


Rasanya ia hendak berhenti bernafas. Lehernya seakan tercekik.


Tiba-tiba ia teringat ucapan Tristan kala itu.


Bimasena punya pengaruh yang kuat. Sampai sekarang ia tidak pernah melepaskan kamu Nadia. Mungkin kamu tidak menyadari, bila kamu berada di dalam lingkungannya dan dibawah pengaruhnya.


Sekarang ia baru mengerti maksud ucapan Tristan.

__ADS_1


Ibu Titiana adalah orang yang berada di bawah pengaruh Bimasena. Dan sekarang ia berada di dalam lingkungan Ibu Titiana. Secara tidak langsung ia berada di bawah pengaruh Bimasena.


Bimasena bisa bertemu dengan Glor tanpa sepengetahuannya melalui Ibu Titiana.


Ia tidak tahu harus merasa senang atau sedih.


Senang karena ternyata selama ini Bimasena tidak pernah melupakannya, serta dirinya tidak pernah luput dari perhatian Bimasena tanpa ia sadari.


Yang membuatnya sedih adalah karena bekerja pada sebuah kantor advokat top yang dijadikan kebanggaannya selama ini, ternyata tidak lepas dari campur tangan Bimasena. Padahal ia sudah membanggakan diri kepada pria itu bila ia sudah menjadi pegawai kantoran. Bukan pekerja salon lagi.


Kepalanya bekerja menaut-nautkan hal-hal yang ia alami di kantor itu.


Yang pertama, Ibu Titiana ternyata sering marah kepada karyawan. Tetapi Ibu Titiana tidak pernah marah kepadanya. Begitupun kepada Lily.


Yang kedua, mengapa ia menempati ruang arsip, tidak bergabung dengan staf administrasi yang lain?


Yang ketiga, mengapa ia bisa membawa bayi ke kantor, sementara staf lain tidak pernah membawa anak ke kantor?


Jangan-jangan?


Tanpa permisi ia mengacaki file-file milik Ibu Helmi di dalam komputer PC. File yang dibuka adalah daftar gaji karyawan bulan terakhir.


Ia ingin membandingkan jumlah gajinya dengan gaji karyawan yang lain. Wajarkah nilai gajinya atau tidak. Karena ia merasa gajinya terlalu tinggi untuk latar pendidikannya.


Namun yang terjadi kemudian adalah, ia seperti terjatuh dari atas awan. Karena berkali-kali mengulangi melihat daftar karyawan, ia tidak menemukan namanya tertera di sana.


Jadi selama ini dirinya hanya karyawan bayangan saja?


Rasa malu menyergap hatinya.


Bagaimana bisa ia tidak menyadari hal ini? Begitu mudahnya ia diperdaya. Diperdaya oleh Bimasena.


Satu lagi ...


Bukan hanya namanya yang tidak terdapat dalam daftar. Demikian juga Lily.


Jadi Lily sebenarnya siapa?


Begitu tamu meninggalkan ruangan ibu Titiana, tanpa mengambil jeda waktu, ia masuk ke dalam ruangan Ibu Titiana dan duduk di depan meja kerja Ibu Titiana.


Ibu Titiana tampak sibuk di depan laptop, namun tetap meladeninya.


"Boleh aku meminta waktu Ibu sebentar?"


"Ada apa Nadia?" Ibu Titiana menghentikan aktivitasnya dan fokus kepadanya.


Ia berpikir sejenak kalimat apa yang hendak dijadikan pembuka, karena apa yang baru diketahuinya sungguh sangat mengagetkannya.


"Bu, aku baru tahu bila ternyata selama ini aku ternyata bukan karyawan di kantor ini."


Ibu Titiana tersenyum kepadanya. "Jadi Pak Bimasena sudah menyampaikan kepadamu?"


"Bukan, bukan dia." Ia menggeleng. "Aku tahu sendiri. Karena namaku ternyata tidak terdapat dalam daftar gaji firma ini. Namaku dan Nama Lily."


"Baiklah bila kamu sudah tahu Nadia, meskipun harusnya kamu tahu lewat Bimasena sendiri. Karena ia yang menyusun semua skenarionya."


"Berarti aku tidak perlu masuk kantor lagi karena aku bukan karyawan di sini?" tanyanya dengan suara lirih.


Ibu Titiana mengangguk sambil tersenyum. Namun bukan seperti itu yang ia harapkan.


"Boleh aku minta tolong Bu?"

__ADS_1


"Apa yang bisa aku bantu Nadia?"


"Bolehkah aku bekerja di sini tanpa pengaruh Bimasena? Ibu boleh mengurangi gajiku," pintanya penuh harap.


Tetapi malah ditanggapi dengan tawa renyah oleh Ibu Titiana.


"Nadia, Ibu menyenangi pribadi kamu. Kamu wanita yang baik. Ibu bisa menerima kamu bekerja di sini menjadi karyawan sungguhan, Tapi atas izin Pak Bimasena."


"Bu, aku mohon. Aku ingin menjadi wanita yang mandiri. Kegagalan rumah tanggaku menjadi pelajaran bahwa wanita itu harus bisa berdiri di atas kaki sendiri." Mungkin bukan cara yang tepat mendesak Ibu Titiana.


"Ibu ngerti Nadia, tapi Ibu juga harus menjaga hubungan baik dengan Bimasena dan FreddCo Energy sebagai klien kami. Ibu pikir cukup mudah, kamu minta izin saja pada Pak Bimasena, apa yang tidak diberi olehnya?"


Minta izin pada Bimasena? Atas dasar apa? Toh hubungannya dengan Bimasena tidak jelas sekarang.


Suami? Jelas bukan. Pacar? Mereka belum membuat komitmen baru. Meskipun ia akui hati mereka saling bertaut dan mereka terikat karena Glor.


Dan begitu ia tiba di ruang arsip, tanpa kalimat pengantar, ia langsung menyerang Lily yang membuat Lily terhenyak,


"Ly, kamu ada hubungan apa dengan Bimasena?"


*******


Danindra begitu bersemangat menawarkan penthouse kepadanya.


Penthouse yang ditinjau Bimasena bersama Danindra merupakan proyek baru perusahaan developer milik ayah Danindra.


Danindra memamerkan kepadanya fasilitas lengkap kelas atas yang dimiliki dan fitur-fitur berkelas yang tampak sangat elegan dari penthouse tersebut.


Peralatan dapur modern, kamar mandi dengan spa, desain langit-langit tinggi, ruang tengah, ruang kerja, hingga ruang meeting tersendiri.


"Kalaupun istri lu nanti lebih memilih rumah daripada penthouse, lu gak perlu khawatir. Dilihat dari sudut investasi, penthouse adalah pilihan tepat. Segala keunggulan serta keeksklusifannya menjadikan unit satu ini mempunyai nilai tersendiri. Meski tergolong cukup mahal, penthouse tidak pernah kekurangan peminat."


Danindra mengeluarkan semua jurus-jurus marketing kepadanya dan menjadikannya target pasar.


"Gimana bisa tidak pernah kekurangan peminat, bila lingkup target pasar cukup kecil dan hanya kepada golongan tertentu? Kamu nggak perlu membual sama aku. Meskipun sehari-hari ngurus energy, bukan berarti aku nggak mengerti bisnis property," sanggahnya kepada Danindra.


"Bila harga property sangat tinggi, sudah pasti jumlah peminat juga lebih sedikit," sambungnya.


Meskipun ia tertarik dengan penthouse yang ditawarkan Danindra tersebut karena memiliki teras yang luas, pemandangan indah dari lantai paling atas, lift pribadi, dan juga kolam renang, tetapi ia tidak akan membuat Danindra begitu mudah menaklukannya.


Semboyan Kamu Raja, Akupun Raja, masih berlaku bagi ia dan Danindra.


"Bro, meskipun terdapat empat rooftop di apartemen ini, hanya ada dua penthouse di dalamnya. Coba lihat sistem keamanannya, masih terbatas apartemen yang menggunakan sistem keamanan seperti ini," papar Danindra.


Namun ia segera menyela Danindra agar berhenti berdongeng, "Banyak di Amerika. Rumah susun di sana juga sistem keamanannya sudah seperti ini."


Tetapi Danindra bukan pribadi yang pantang menyerah menunjukkan diri sebagai seorang marketing handal. Sekaligus marketing tanpa sopan santun dan sangat kurang ajar.


"Penthouse ini paling cocok buat pengantin baru. Apalagi buat pasangan yang sudah memiliki anak sebelum menikah. Kamu bisa making love dengan gaya ***** ***** sambil melihat pemandangan indah dari lantai tertinggi. Cobalah dan rasakan sensasi yang berbeda," kekeh Danindra kepadanya.


"Ngomong-ngomong mau nunggu adiknya Glor lahir dulu atau mau menikahi ibunya Glor dulu?" tambah Danindra semakin usil padanya.


Ia sudah menargetkan perut Danindra untuk menjadi sasaran tinjunya. Beruntung panggilan telepon dari nama yang tertulis Mami Glor pada handphone-nya, menyelamatkan bocah keparat itu.


Bimasena: Halo Mi!


Namun ia justru mengernyit, karena mendengar suara orang yang ia panggil dengan sebutan mami, terisak di seberang sana.


Nadia: Kamu jahat Bim. Kamu lebih jahat dari Tristan. Kalau Tristan sering mengatai aku bodoh, kamu lebih parah. Kamu membodoh-bodohi aku.


Apa yang terjadi?

__ADS_1


__ADS_2