REUNI INDAHNYA MENDUA

REUNI INDAHNYA MENDUA
75. Cerita Tentang Bulan Kesiangan


__ADS_3

Nama Bimasena sering bermain di otak. Sehingga bila pria itu tidak berada di samping Nadia, maka ia akan tenggelam dalam kesunyian.


Setiap saat ia menatap bunga baby breath, sebagai pengobat rindunya pada pria itu.


Sekali-kali ia merajut benang wol sambil menunggu pria itu menghubunginya lewat telepon.


Nadia : Biiiim, kangen. Cepat pulang.


Sejak kapan ia berani mengucapkan kata kangen?


Bimasena : Kamu sabar ya, begitu konferensi dan semua urusanku di Dubai selesai, aku segera kembali ke Jakarta. Kamu mau oleh-oleh apa sayang?


Nadia : Aku ingin kamu Bim, bukan oleh-oleh.


Bimasena : Tunggu aku lima hari lagi. Bila butuh sesuatu hubungi Aurel saja.


Nadia : Bim, Dubai itu seperti apa?


Bimasena : Dubai itu merupakan salah satu kota termewah di dunia. Salah satu kota terbesar di Uni Emirat Arab yang terkenal dengan gedung pencakar langitnya.


Bimasena : Sebagian gedung pencakar langit di Dubai merupakan bangunan tertinggi di dunia, salah satunya Burj Kalifa.


Bimasena : Selain memiliki bangunan tertinggi di dunia, Dubai juga memiliki pusat perbelanjaan terbesar di dunia, namanya Dubai Mall.


Bimasena : Dubai juga memiliki taman bunga terbesar di dunia, namanya Dubai Miracle Garden.


Bimasena : Bila putera kita telah lahir dan sudah bisa diajak bepergian, aku akan membawa kalian liburan keliling dunia. Yang pertama, kita ke Dubai.


Bimasena : Lalu aku akan membawa kalian melihat Staubbach Falls yang dikenal dengan Air Terjun Staubbach di Swiss. Kamu akan melihat pemandangan yang begitu indah dari lembah. Di bawah air terjun itu banyak rumah penduduk. Air terjunnya sangat indah.


Bimasena : Kemudian kita akan mencicipi makanan tradisional Swiss kesukaanku. Namanya Fondue. Fondue adalah hidangan khas Swiss berupa keju leleh yang disajikan di dalam panci. Rasanya sangat lezat.


Sekarang ia sudah larut dalam khayalan liburan keliling dunia bersama Bimasena dan puteranya nanti.


Mengapa tidak sabar rasanya menanti waktu itu tiba?


Tetapi Bunyi bel pintu apartemen mengagetkannya. Membuyarkan lamunannya tentang liburan.


Hanya ada tiga orang yang memiliki akses ke unitnya di apartemen. Bimasena, Lawyer Novrianto, dan Aurel.


Namun orang yang berdiri di depan pintu bukanlah salah satu dari ketiga orang tersebut.


Tetapi seorang wanita berusia lima puluh tahunan. Dengan wajah cantik, anggun dan penampilan yang sangat berkelas.


Wajah itu tidak asing baginya, meskipun mereka belum pernah bertemu sebelumnya. Ia sering melihat wajah itu pada foto keluarga Bimasena.


Tante Imelda, Ibu Bimasena.


Hatinya berdebar kencang begitu mengetahui siapa tamunya.


Tapi senyum ramah wanita itu sedikit mereduksi kegugupannya.


"Nadia, apa kabarmu?"


Nadia terhenyak oleh pertanyaan itu. Butuh beberapa waktu untuk menjawab pertanyaan simpel tersebut.


"Baik Tante. Si si lahkan masuk!" sambutnya dengan terbata.


"Kamu kenal aku?" Wanita itu malah bertanya.


"Tante Imelda? Ibunya Bimasena?" Ia sudah yakin, tapi tetap saja bertanya.


"Iya betul. Kamu sangat cantik Nadia," puji Tante Imelda kepadanya. Wanita itu penuh dengan senyum.


"Terima kasih, Tante," jawabnya dengan tersipu.


"Panggil aku Ibu, jangan panggil Tante."


Nadia pun mengangguk. Ucapan ibu dari Bimasena itu bagai seteguk air yang sejuk.


"Ibu membawa ini untuk kamu Nadia." Tante Imelda meletakkan sebuah bingkisan di atas meja sebelum duduk di sofa. "Dicoba bajunya. Mudah-mudahan kamu suka."

__ADS_1


"Terima kasih Bu. Ibu tidak perlu repot-repot. Nadia sudah senang bisa bertemu dengan Ibu. Oh ya, Ibu datang bersama siapa ke apartemen ini?" Nadia meraih bingkisan di atas meja, lalu membukanya.


Hatinya kesal pada Bimasena yang tidak memberitahu kedatangan calon mertuanya. Sehingga ia tidak bisa menyiapkan makanan untuk menjamu Tante Imelda.


"Ibu datang bersama Aurel, tetapi Aurel menunggu di lobby," jawab Tante Imelda.


Nadia mengeluarkan sebuah dress untuk ibu hamil. Gaun selutut dengan motif bunga-bunga kecil yang dirangkai cantik. Ia tercengang melihat brand baju itu. Desainnya tampak sederhana dan vintage, namun ia tahu harganya bukan main.


Beberapa saat kemudian ia larut dalam perbincangan yang akrab dengan calon mertuanya. Pembicaraan seputar kehamilannya dan hasil pemeriksaan dokter.


Betapa beruntungnya dirinya. Ia memiliki mertua yang baik dari Tristan. Ternyata calon mertuanya dari Bimasena juga wanita yang sangat baik dan perhatian.


Tidak semua menantu atau calon menantu yang seberuntung dirinya. Menemukan penghapus dahaga akan kasih sayang orang tuanya yang telah kembali ke pelukan Ilahi.


Tapi ucapan Tante Imelda selanjutnya membuatnya terperanjat. Tidak tahu harus berkata apa.


"Ibu sudah menemui kakakmu, mertuamu dan Tristan suamimu."


Dadanya seketika bergemuruh, menunggu kata selanjutnya yang hendak terucap dari bibir Tante Imelda.


"Kamu memiliki suami dan mertua yang baik Nadia," sambung Tante Imelda.


Dadanya semakin bergemuruh. Sementara ia hanya diam menatap wajah Tante Imelda yang juga menatapnya penuh keprihatinan.


"Mengapa kamu meninggalkan suamimu Nadia?"


Pertanyaan Tante Imelda menikam jantungnya. Ia tidak tahu harus menjawab apa, sehingga ia hanya menunduk.


"Apa Tristan tidak memberimu nafkah lahir dan batin?" Intonasi suara Tante Imelda begitu lembut, namun sangat menusuk.


Ia hanya menggeleng. Karena memang sampai ia memilih pergi, rekeningnya masih rutin setiap bulan mendapat transferan gaji Tristan.


"Apa Tristan memiliki wanita lain?"


Ia menggeleng tanpa berani menatap wajah Tante Imelda.


"Apa Tristan sering melakukan kekerasan fisik padamu?"


"Apa hubunganmu dengan mertuamu kurang baik?


Mertuanya sangat baik sehingga ia lagi-lagi menggeleng.


Ia merasakan setiap pertanyaan Tante Imelda menggiringnya ke suatu sisi yang akan membuatnya terpojok.


"Lalu atas dasar apa kamu meninggalkan Tristan?"


Kalimat yang dilontarkan Tante Imelda sangatlah lembut, namun tak ubahnya dikuliti hidup-hidup.


"Nadia, tidak ada rumah tangga yang tanpa ujian. Ibu yakin Bimasena sudah bercerita mengapa ibu memilih bercerai dari ayah Bimasena. Karena ayah Bimasena tidak menafkahi, melakukan kekerasan fisik dan memiliki wanita lain."


"Ketika kamu menemui godaan yang sangat menarik dari luar, jangan mudah untuk berpikir meninggalkan suamimu. Sebab itu pertanda lemahnya kesungguhan dalam menjaga keutuhan rumah tangga.”


"Bila kamu memiliki suami yang baik, pertahankan rumah tanggamu. Jangan mudah mabuk oleh keindahan yang kamu lihat dari pria lain. Karena keindahan itu hanya ujian pernikahanmu. Keindahan yang kamu lihat itu hanyalah fatamorgana. Pada akhirnya kamu tidak akan menemukan apa-apa."


Nasihat yang sangat berguna untuk seorang yang berumah tangga.


Namun apa arti nasihat itu bagi dirinya?


Ya ia tahu kemana arah pertanyaan dan nasihat dari Tante Imelda.


Tante Imelda kembali bertanya dengan pelan dan santun kepadanya.


"Apa saat kamu berhubungan dengan Bimasena kamu sudah pisah rumah dengan Tristan?"


Ia menggeleng.


"Apa kamu pisah ranjang dengan Tristan?"


Lagi-lagi ia menggeleng. Karena tidak mungkin ia berbohong.


"Lalu bagaimana kamu yakin bila janin dalam kandunganmu itu anak dari puteraku Bimasena sementara kamu masih tidur bersama Tristan?"

__ADS_1


Ia terhenyak mendengar pertanyaan terakhir Tante Imelda. Seperti tombak menikam ulu hatinya.


Air mata yang meleleh tidak terhindarkan lagi meskipun mulut membisu tanpa mampu berkata.


Ya, ia sudah tahu apa yang diinginkan Tante Imelda.


"Jangan egois. Nyala api cinta yang kalian rasakan, tidak seharusnya membakar orang-orang di sekeliling kalian. Apalagi menghancurkan rumah tanggamu. Karena nyala itu belum tentu nyala abadi," lanjut Tante Imelda.


"Ibu tidak pernah menyalahkan kamu. Tapi hati ibu sangat kecewa dan terluka begitu mengetahui putera yang ibu didik sebaik-baiknya, hingga dia bisa berdiri dan berjalan sendiri, malah menjadi perusak rumah tangga orang lain." Suara Tante Imelda mulai bergetar.


"Ibu ... Ibu gagal mendidik Bimasena." Tangis Tante Imelda pun pecah.


Mereka berdua larut dalam kesedihan dan tangis masing-masing.


Ya, mengapa ia begitu egois. Begitu gigih memperjuangkan cintanya pada Bimasena. Tapi mengabaikan perasaan orang-orang di sekelilingnya.


Apa yang dilakukannya bukan hanya menggoreskan luka pada Tristan, mertuanya juga saudaranya, tetapi sudah mengancam kehangatan dan kebahagiaan keluarga Bimasena.


Tentu ia tidak ingin menghancurkan kebahagiaan keluarga Bimasena yang sering diagung-agungkan oleh pria itu.


Sehingga,


"Maafkan Nadia Bu telah menghancurkan kebahagiaan keluarga Ibu. Ibu tidak perlu bersedih. Nadia akan pergi dari kehidupan Bimasena."


Tante Imelda tersenyum dengan penuh kelembutan lalu berujar,


"Pulanglah Nak ke suamimu. Kedua mertua dan kedua kakakmu mengharapkan kamu kembali pada Tristan. Dan Tristan masih menunggu kamu kembali."


"Berikanlah kesempatan kepada Bimasena untuk mendapatkan pendamping tanpa harus merusak rumah tangga orang lain. Tanpa harus menyakiti orang lain."


Mengapa selama ini ia tidak pernah menyadari, bila dirinya sangat tidak pantas terhadap seorang pria yang bernama Bimasena?


Dirinya hanyalah seorang wanita yang memiliki pendidikan yang dua strata lebih rendah dari Bimasena. Dari status sosial ia di bawah Bimasena. Dan yang lebih menyedihkan, ia masih berstatus istri orang lain.


Dirinya bukanlah siapa-siapa. Lalu mengapa ia begitu tidak tahu diri berdiri di samping Bimasena?


"Satu lagi, tolong jangan katakan kepada Bimasena bila ibu menemuimu," pungkas Tante Imelda.


Langkahnya harus terhenti sampai disini.


Segala perjuangan dan pengorbanannya harus diakhiri. Ia harus memberikan kesempatan kepada Bimasena untuk bersanding dengan wanita yang pantas.


Bagian terberat dari sebuah perjalanan adalah perpisahan. Kisah cinta yang terpahat di hati sanubari tiba pada bagian sedih dan menyakitkan.


Bertemu hanya untuk berpisah. Bunga-bunga yang telah mekar di lembah, layu sebelum waktunya tiba. Sejak detik itu, cerita cinta berubah menjadi kenangan.


Kepedihan sang rembulan yang terpisah dengan matahari karena garis waktu. Rembulan ditakdirkan di malam hari. Sementara sang terkasih merajai siang.


Ia hanya sebuah cerita tentang bulan kesiangan. Bertamu sesaat di siang hari. Lalu pamit dan tak pernah kembali.


Karena takdirnya adalah, terbit tepat saat matahari terbenam, dan akan menghilang saat matahari terbit.


Rembulan dan Matahari tidak akan pernah duduk bersanding.


Bila dipaksakan pun hanya akan membawa fenomena gerhana matahari. Sepintas indah untuk dipandang. Namun hanya sejenak, lalu rembulan dan matahari kembali pada garis edarnya masing-masing.


Mungkin terlalu banyak dosa yang menodai lembaran putih catatan hidupnya. Ia bukan hanya berselingkuh. Tetapi juga melakukan hubungan suami istri diluar pernikahan. Sehingga tiba masanya menjalani hukuman di dunia.


Mengapa ia mengabaikan petuah dari ibunya. Bila ganjaran terhadap dosa seseorang yang melampaui batas akan disegerakan di dunia.


Ia telah melepaskan semua yang dimilikinya dalam genggaman. Tetapi ia gagal mendapatkan apa yang diharapkan di masa depannya. Sekarang, ia tidak memiliki apa-apa lagi. Yang tersisa hanya hati yang pedih dan butiran air mata.


Kini waktu telah menjawab


Setelah melalui jalan yang berliku. Cerita cintanya dengan Bimasena tak akan berlanjut lagi. Dan diakhiri dengan kata yang menyesakkan ...


Perpisahan.


Maafkan aku Bima. Aku sayang kamu. Karena aku sayang kamu, maka aku harus pergi. Untuk memberi kamu kesempatan, bertemu wanita terbaik dalam hidupmu.


Ia akan membuat cerita tentang Nadia dan Bimasena.

__ADS_1


Untuk diwariskan ke anak cucunya. Karena meskipun tidak bersama, tetapi nyala api cinta itu abadi.


__ADS_2