REUNI INDAHNYA MENDUA

REUNI INDAHNYA MENDUA
6. Pelanggan Ngotot


__ADS_3

Persaingan merebut hati Bimasena antara Mithalia dan Reyna semakin seru saja. Mereka melakukan berbagai cara yang dijadikan dalih untuk dapat kembali bertemu dengan Bimasena. Mungkin Bimasena masih menerapkan batasan kepada mereka.


Seperti kali ini, pada WA group alumni SMA, tiba-tiba saja Reyna mengajak teman-teman Alumni untuk kumpul-kumpul besok malam di Macedonia Cafe yang ia sudah reservasi terlebih dahulu.


Nadia sangat paham bila ada niat tersembunyi dibalik undangan Reyna, atau peribahasanya ada udang dibalik batu.


Lalu apakah Nadia akan hadir?


Sejak kejadian minggu lalu di acara Aqiqah anak kedua Angga, hubungannya dengan Tristan masih beku. Saling diam tanpa ada yang berniat lebih dahulu mengalah. Tristan tidak peduli dengan hubungan mereka yang dingin, bahkan tidak pernah berniat untuk meminta maaf padanya.


"Bisa nggak kamu menghargai saya?, tidak menyindir saya seperti tadi di depan orang?. Aku sadar, aku nggak secerdas yang kamu mau, aku juga hanya tamatan SMA, tapi kamu yang lebih tinggi pendidikannya harusnya lebih tahu bagaimana menjaga lidah agar tidak menyakiti perasaan orang lain apalagi istri sendiri," protes Nadia pada Tristan saat perjalanan pulang dari rumah Angga kala itu.


"Loh siapa juga yang nyindir kamu? orang ngomongnya ke Bimasena, kok kamu yang tersinggung. Sensi banget sih," balas Tristan dengan acuh tak acuh, tanpa rasa bersalah sama sekali.


"Semua yang kamu katakan itu pada Bimasena itu berlawanan dengan aku, jadi wajar kalau aku tersinggung Tristan. Bukan cuman sekali ini kamu menyindir aku, bahkan berkali-kali, namun aku berusaha untuk memaklumi. Tapi sekarang kamu ucapkan di depan orang....." mulut Nadia tercekat, hanya air matanya yang tumpah.


"Ya sudah, kalau kamu tersinggung. Terserah, aku bisa apa?" Tristan mengangkat bahunya. Hanya melirik Nadia sekilas, kemudian kembali fokus ke depan dengan tangan memegang kemudi mobil.


Sudah menyakiti, mengesalkan pula. Membuat Nadia memilih mendiamkannya daripada harus berdebat dengan Tristan. Namun Tristan ternyata juga melakukan hal yang sama. Tidak pernah menyapanya. Bahkan lebih parah, karena Tristan tidak pernah menyentuh makanan yang telah ia siapkan.


Dan untuk undangan Reyna esok di Macedonia Cafe, ia memilih tidak hadir.


Karena hubungannya yang sedang tidak baik dengan Tristan. Akan menjadi pertanyaan teman-teman bila mereka harus berangkat dan pulang sendiri-sendiri.


Bukan hanya itu, ia juga semakin malu bertemu dengan Bimasena. Malu karena Bimasena sudah bisa membaca bila ia tidak berharga sama sekali di mata Tristan, dinilai dari parameter seorang perempuan yang layak dijadikan istri seperti yang dikemukakan Tristan pada Bimasena.


Apalagi Bimasena telah mendapatinya menangis di luar pagar rumah Angga. Semakin membuatnya tidak ingin bertemu Bimasena. Sangat memalukan, masalah rumah tangga yang harusnya menjadi konsumsi mereka berdua, malah diketahui orang lain. Bimasena pula. Mengapa harus Bimasena?


Namun ia penasaran apakah Tristan akan datang ke acara itu atau tidak. Apakah Tristan akan mengajaknya atau tidak. Meskipun Tristan mengajaknya, ia tetap tidak akan datang karena rasa malu pada Bimasena belum juga memudar.


Rupanya malam itu Tristan keluar. Dan Nadia yakin Tristan datang ke acara Reyna. Tristan tidak mengajaknya sama sekali. Terlebih lagi dari foto yang beredar di WA group dan di dunia maya, Tristan terlihat berada di antara teman-temannya.


Rasa kecewa pada Tristan yang kurang peduli kembali menyerang hatinya, yang mulai sembuh secara perlahan sejak insiden di rumah Angga. Ia hanya bisa menelan ludah dengan senyum lebar tanpa dosa Tristan di dalam foto yang sangat kontradiktif dengan suasana hatinya.


Namun ada yang menarik perhatiannya pada beberapa foto. Foto-foto itu jadi menarik untuk dipandang karena adanya satu objek yang lebih menonjol dari yang lain. Siapa lagi kalau bukan Bimasena.


Bimasena nampak sangat fresh dengan menggunakan polo shirt putih, yang begitu Pas di badannya dan celana denim. Untuk pertama kalinya ia melihat Bimasena dengan pakaian casual. Sebelumnya Bimasena selalu mengenakan kemeja, pakaian kantor yang tidak sempat ia ganti.


Tidak begitu banyak fotonya, mungkin ia bukan type makhluk yang hobby berfoto.


Beberapa fotonya pun diambil secara candid (Objek tidak tahu bahwa ia akan difoto), dan yang melakukannya bila bukan Reyna pasti Mithalia.

__ADS_1


Dalam WA group Mithalia mempertanyakan ketidak hadiran Nadia.


Reyna:


@Nadia, kok nggak datang sih?


Nadia:


Maaf reyn, aku kurang enak badan nih.


Mithalia:


Kurang enak badan? kok Tristan bilang kamu lagi sibuk di salon?


Ya semakin menampakkan tidak adanya komunikasi antara ia dan Tristan.


Mudah-mudahan Bimasena tidak membaca.


Ia pun berdalih.


Nadia:


Tadi sibuk di salon, pulang ke rumah jadi nggak enak badan karena kecapean.


Reyna:


Mithalia:


Minggu depan giliran aku yang buat acara, kamu datang ya?


Oh my God, acara ngumpul-ngumpul begini tidak akan ada habisnya hanya karena Bimasena?


Nadia:


Sip deh, diupayakan.


****************


"Ada yang ngantri ya?" tanya Nadia pada salah satu karyawannya.


"Satu orang Bu. Mau hair spa."

__ADS_1


"Laki atau perempuan?" Nadia memperjelas karena ia paling ogah melayani pelanggan pria sebab risih.


"Perempuan Bu."


"Udah biar aku yang layani," ucapnya agar pelanggannya tidak perlu menghabiskan waktu untuk mengantri.


"Mari Mbak!" Nadia meminta pelanggannya untuk berpindah ke kursi keramas dengan memasang senyum ramahnya.


Nadia memakaikan handuk di pundak pelanggan dan memintanya untuk meletakkan kepala di bak keramas. Setelah memastikan posisi kepala sudah tepat, dan posisi badan sudah nyaman, Nadia mulai membasahi rambut pelanggannya dengan air dari shower.


Nadia lalu mengoleskan shampo dengan merata pada bagian rambut, yang dilanjut dengan memberikan pijatan lembut pada bagian atas kedua telinga pelanggan. Pijatan ini untuk membuat pelanggan rileks.


Setelah satu menit, Nadia melakukan pijat seperti menggaruk bagian atas kepala pelanggan, kemudian dilanjutkan pijat menggaruk dibagian belakang kepala pelanggan.


Saat Nadia masih memijat kepala pelanggannya seorang karyawan mendekat dan berbisik padanya.


"Bu, di depan ada seorang pria yang meminta layanan creambath, tapi ia minta Ibu yang melayaninya langsung."


Kening Nadia langsung berkerut.


"Kamu tahu kan saya tidak melayani laki-laki?, minta Adriani saja, barusan ia free kan?" ucapnya setengah berbisik.


Memang bukan sekali ini saja pelanggan pria meminta layanan langsung dari Nadia, mungkin karena kecantikannya yang menjadi modus para pria. Namun sampai saat ini ia tetap teguh tidak melayani pelanggan pria.


"Iya Bu, tapi pelanggannya tidak mau kalau bukan Ibu yang melayaninya langsung."


Nadia hanya geleng-geleng, kemudian mengambil shower untuk membilas kepala pelanggan dari busa shampo.


"Katakan saya lagi melayani pelanggan," bisik Nadia kembali agar percakapan mereka tidak terdengar oleh pelanggan.


"Sudah Bu, tapi katanya ia bisa menunggu."


Nadia mendesah kesal karena pelanggan yang memaksa itu.


"Siapa sih?" Nadia jadi penasaran dengan pelanggan yang ngotot tersebut.


"Saya." Sebuah suara pria terdengar dari dari samping kirinya, membuat Nadia menoleh ke sumber suara.


Nadia terlonjak begitu melihat siapa pemilik suara tersebut, membuatnya tanpa sengaja menyiram muka pelanggannya dengan air. Sehingga pelanggan itu bangun dan memarahinya. Dan Pria ngotot itu menahan tawa karena keterkejutannya yang tidak perlu, membuat ia harus dimarahi pelanggan.


Nadia tidak masalah bila ia harus mendapat marah dari pelanggan. Apalagi memang salahnya yang menyiram air ke muka pelanggan hanya karena kehadiran seorang pria.

__ADS_1


Tapi masalahnya adalah, mengapa pria itu bisa berada di salonnya? meminta layanan langsung lagi kepadanya yang tidak pernah melayani pelanggan pria.


Sekarang, rasanya ia ingin menghilang saja.


__ADS_2